
Baru saja aku memikirkan nama Ahn Yoo, tiba-tiba aku melihatnya menggendong seorang anak laki-laki yang umurnya berkisar 5 atau 6 tahun. Dia dan Ahn Yoo tampak mirip sekali, apalagi raut wajah mereka. Sama-sama cemberut, tapi manis.
Aku sangat terkejut sampai mulutku ternganga dan makanan yang ada di tanganku terjatuh dari genggamanku. Seketika aku berubah menjadi wanita idiot saat melihat Ahn Yoo dan anak kecil yang digendongnya.
"Jangan katakan itu anak Ahn Yoo," gumamku pada diriku sendiri yang sudah memikirkan hal-hal aneh saat melihat Ahn Yoo dan anak kecil itu.
Aku mengikuti mereka secara diam-diam dan mengamati gerak-gerik mencurigakan dari mereka. Karena aku yakin sekali kalau anak yang digendong itu adalah anak kandung Ahn Yoo dari wanita lain. Dan itu artinya selama ini aku hanya mainannya saja. Selama ini dia tidak sama sekali mencintaiku. Semua yang dilakukannya tidak ada yang tulus.
Aku harus memberi pelajaran pada laki-laki sialan seperti Ahn Yoo ini agar tidak suka mempermainkan hati wanita yang lemah. Aku sudah memberikan semua rasa cintaku padanya dan mencurahkan semua isi hatiku padanya. Tapi apa? Dia ternyata hanya iseng berpura-pura menyukaiku.
"Dasar laki-laki durjana. Sukanya membuat wanita nyaman lalu ditinggalkan," umpatku dari balik pohon besar yang kujadikan tempat persembunyianku. Sehingga aku bisa dengan mudah melihat dan mendengarkan percakapan mereka.
"Hey ... aku sudah besar, turunkan aku," kata anak kecil yang digendong Ahn Yoo. Dia sangat mirip dengan Ahn Yoo, baik wajah maupun logat bicaranya yang kasar juga tampak sama.
"Anak setan ini bisa sopan sedikit tidak," senggak Ahn Yoo kemudian menurunkan anak kecil dari gendongan-nya.
Anak dan ayah sama-sama gila, mereka berdua sangat cocok dijadikan keluarga kecil yang hancur. Tapi aku sangat gemas melihat anak kecil itu. Ingin rasanya mencubit pipinya hingga merah.
"Aku tidak mau denganmu, kau sangat pelit," gerutu anak kecil itu pada Ahn Yoo. Kemudian dia berlari meninggalkan Ahn Yoo dengan isak tangis di wajahnya.
Aku yang mudah kasihan melihat orang ini, tidak tahan melihat anak kecil yang menangis. Apalagi dia menangis karena keluarganya yang tidak perduli.
Meskipun anak kecil ini adalah anak dari laki-laki biadab yang mempermainkanku. Aku tetap harus menenangkannya. Meskipun hatiku agak sedikit merasa tersakiti karena Ayah anak ini sudah mengkhianatiku.
Aku mengejar anak itu dan ingin memanggil Ahn Yoo. Tapi kalau aku memanggilnya, dia akan tahu kalau aku sudah memperhatikan mereka dari tadi. Lagi pula Ahn Yoo sedang sibuk dengan telepon yang dipegangnya. Dia tidak perduli dengan anak kecil yang malang ini. Dia membiarkannya pergi dengan tangis di pipinya. Selain itu Ahn Yoo juga sudah berkata kasar pada anak ini. Tentu saja dia akan menangis tersedu-sedu.
Syukurlah aku sudah tahu sekarang kalau Ahn Yoo itu tidak suka anak kecil. Dia suka bicara kasar pada anak kecil, berbanding terbalik denganku yang penyayang anak-anak. Sudah tahu begini, aku lebih baik mundur dari sisi Ahn Yoo saja. Aku takut nantinya dikatakan perusak hubungan orang. Aku harus mengubur rasaku padanya dalam-dalam. Aku tidak boleh memikirkan ego-ku saja. Ahn Yoo sudah memiliki anak dan dia sudah memiliki istri, tidak mungkin aku diam-diam masuk dan merusak hubungan keluarga mereka.
***
Aku melihat anak kecil yang digendong Ahn Yoo menangis di dekat pohon tempatku bersembunyi. Aku mendekatinya dan jongkok mengahadap anak kecil ini. Kemudian aku mengelus kepalanya hingga dia melepaskan tangannya dari wajahnya. Anak kecil ini sangat manis, dia menutupi air matanya dariku. Dia tidak mau aku melihatnya sedang menangis.
"Tidak apa-apa, sini kakak peluk. Jangan menangis lagi," kataku sambil mengelus kepala dan kemudian memeluknya.
"Kakak ... kenapa kau peduli denganku. Ayah dan Ibuku ... mereka meninggalkanku," lirih anak kecil ini padaku dan menatap mataku dengan lugu.
Aku semakin merasakan sakit yang dialami anak kecil ini. Matanya yang sayu menggambarkan kesedihan, menggoreskan luka di hatiku. Aku ikut terjun merasakan kepedihan yang dialami anak ini. Dia memang dipenuhi materi dari Ayah dan Ibunya, tapi dia tidak diberi kasih sayang yang cukup.
"Ibumu kemana? Kenapa tidak terlihat?" tanyaku dengan nada ikut bersedih.
"Dia bekerja di luar negri, jadi meninggalkanku di sini."
"Ya ampun, anak yang malang. Kalau tidak mau tinggal dengan Ayahmu lagi, kamu bisa menginap dengan kakak, bagaimana?" tanyaku padanya.
Anak kecil yang semula menangis itu kemudian tersenyum dan mencium pipiku.
"Aku mau! Tapi Ibu bilang kalau satu rumah dengan wanita lain harus menikah dulu," ucap anak ini dengan model polos yang menggelikan hati.
"Pufft ... tidak masalah. Kita tidak perlu menikah," jawabku merasa lucu.
"Tidak, aku harus bertanggung jawab. Aku pasti akan menikahimu dan menjagamu. Ibu bilang aku tidak boleh seperti Ayah yang meninggalkanku dan tidak mau mengurusku. Aku harus menyayangi semua orang yang ada di sampingku. Dan aku harus menjaga istriku nanti," kata anak ini dengan tulus.
Dia sangat dewasa, tidak seperti anak kecil pada umunya yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Sedangkan anak ini, sudah harus dipaksa berpikir dewasa. Atau dia menjadi dewasa karena terlalu sakit saat Ayah dan Ibunya tidak lagi memperdulikan dia.
"Iya, kamu harus memegang kata-katamu itu. Kalau begitu kamu ikut pulang dengan kakak, bagaimana?"
"Baiklah. Aku pernah melihatmu di ponsel seseorang, foto mu ada di sana. Jadi aku yakin kau orang yang baik," ujar anak kecil ini. Dia memang benar sangat dewasa, dia berhati-hati kepada orang yang sedang mendekatinya.
"Oh ... benarkah? Dimana kamu melihatnya? Jadi kita pulang sekarang. Tapi kita beli makanan di mini market dekat sini. Biar kakak bisa masak makanan yang enak untukmu," kataku sambil memisat pelan hidungnya dengan jari telunjukku.
"Horeee! Kau memang calon istriku yang baik. Aku akan menciummu sebagai hadiah terima kasih," timpal anak itu girang.
Dia mencium pipiku kemudian mencubit pipiku dengan lembut. Aku sedikit tertawa melihat dia yang terlalu dewasa. Seharusnya aku yang mencium dan mencubit pipinya. Bukan dia yang mencubit pipiku, aku ragu siapa sekarang yang anak kecil . Aku 'kah atau dia?
Anak dengan Ayah sama saja, ingin menjadikanku istri mereka. Kalau tahu begini kenapa dari dulu Ahn Yoo tidak berpikir untuk meluncurkan film dengan tema anak dan ayah memperebutkan wanita yang sama.
***
"Kamu mau digendong atau tidak?" tanyaku padanya.
"Aku ini sudah besar, aku tidak akan mau. Lagi pula mana mungkin calon istriku menggendongku. Tunggu aku besar nanti pasti aku yang akan menggendongmu," jawab anak kecil ini sombong.
"Hahahahaha ... iya. Nama kamu siapa? Aku belum tahu," kataku.
"Hendry. Dan kau siapa namamu?" tanya anak kecil ini lagi padaku.
"Hmmm ... kakak Jane Soo. Panggil saja Jane," jawabku sambil menggandeng tangannya yang halus berjalan menuju mini market dekat taman ini berada.
Aku tersadar kemudian saat sudah sampai di depan pintu mini market ini. Bagaimana kalau Ahn Yoo mencari-cari anaknya nanti? Aku takut dia berpikiran sempit dan mengira anaknya diculik. Dan dia akan melakukan hal gila dengan membongkar semua isi kota ini untuk mencari anaknya.
"Ayahmu nanti mencarimu, lebih baik kita izin dulu," kataku mengingatkan Hendry.
"Tidak, dia tidak akan mencariku. Dia tidak pernah perduli denganku. Kita belanja saja untuk keperluan dapur, tidak perlu hiraukan dia," ucap Hendry kemudian menarik tanganku masuk ke dalam mini market.
Bukannya aku yang menginstrukai makanan yang akan dimasak, Hendry dengan bijak memperintahkanku untuk mengambil semua bahan yang cocok untuk memasak.
Dia tahu mana bahan untuk masakan ini, dan tahu apa yang perlu untuk menambah rasa lezat pada makanan. Dia seperti seorang ahli saja, bahkan aku saja tidak tahu kalau memasak makanan harus menggunakan bahan yang disebutkan Hendry.
"Kamu pintar sekali. Dari mana kamu tahu semua ini?" tanyaku sambil menunduk melihat Hendry.
"Ibuku ahli masak, dia terkenal hingga luar negri," jawab Hendry santai.
Pantas saja dia juga ahli bidang memasak, ternyata Ibunya jago saat memasak hingga terkenal sampai luar negri. Tidak heran kalau Ahn Yoo selalu mengatakan masakanku tidak enak, ternyata alasannya karena dia sudah sering dimasakkan makanan enak oleh Istrinya.
"Wah ... Ibumu sangt hebat, kamu harus bangga dengn itu," kataku memuji Ibunya meski hatiku sedikit sakit karena harus merasa kalah saing.
"Aku tidak akan bangga. Dia selalu menitipku di rumah kakek," jawab Hendry sedikit kesal.
"Sudahlah, kau tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun dia itu Ibumu. Kamu harus menghormatinya," kataku menasehatinya.
"Baiklah. Ini karena kau yang minta. Kalau tidak aku akan tetap membencinya," balas Hendry.
Kami berdua pun kemudian keluar dari mini market ini dan hendak memanggil taksi untuk pulang ke apartemenku. Tapi baru saja melangkah keluar dari pintu, Ahn Yoo sudah berada di samping pintu dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku.
"Ahn Yoo!" teriakku terkejut.
"Anak kurang ajar ini memang bikin masalah saja denganku," decak Ahn Yoo kepada Hendry.
"Ahhh ... Istriku! Tolong aku, dia akan memukulku dan mengurungku di kamar," jerit Hendry sambil bersembunyi di belakang kakiku.
"Ayah? Anak?" tanya Ahn Yoo kebingungan.
"Sudah ... intinya Hendry tidak mau pulang dengamu. Setelah Ibunya pulang suruh jemput di apartemenku. Dan kamu! Harusnya bersyukur bisa mempunyai anak manis seperti Hendry," jelasku padanya.
"Aku bukan Ayah anak nakal ini," sambung Ahn Yoo.
"Wah ... kamu memang ayah durhaka. Anak kandung sendiri tidak dianggap."
"Kenapa kau bisa bersamanya? Habis dari mana saja kau?" timpal Ahn Yoo menanyakanku.
"Tidak usah sok perduli. Aku dan kamu tidak ada hubungan apa pun. Jadi tidak perlu bersikap seperti seorang yang perhatian. Lebih baik kamu memikirkan Anak dan Istrimu saja," kataku kemudian menaril Hendry untuk pulang ke apartemenku.
Dengan sigap Ahn Yoo menarik tanganku dan kemudian membawa kami naik ke dalam mobilnya.
"Hey! Lepaskan aku! Jangan sampai aku teriak di sini," ancamku sambil mencoba melepaskan genggaman tangannya.
Ahn Yoo tetap menarik tanganku tapi tidak perduli dengan Ananknya sendiri. Dia meninggalkan Hendry sendiri di depan mini market. Ayah yang tega sekali terhadap anak.
Hendry kemudian berlari mengejar kami dan kemudian menggigit tangan Ahn Yoo dengan keras sampai dia melepaskan genggamannya dari tanganku. Dan Hendry mengajakku berlari dan meninggalkan Ahn Yoo yang sedang kesakitan itu.
Namun, aku tidak tega juga melihat Ahn Yoo kesakitan karena digigit oleh Hendry.
"Tunggu sebentar, kita urus dulu Ayahmu yang kesakitan sana," kataku kemudian mengajaknya mendekati Ahn Yoo.
"Dia bukan Ayahku!"
"Kamu jangan seperti dia, tidak mau mengakui hubungan kalian," nasehatku pada Hendry.
"Hadeeuuhh ... kau memang payah," decak Hendry pelan.
Aku memegang tangan Ahn Yoo dan memeriksa bekas gigitan Hendry yang membuatnya sampai menggenggam erat tangannya kesakitan.
"Apa masih sakit?" tanyaku perhatian pada Ahn Yoo.
"Ahhh! Jangan dipisat, sakit."
"Diamlah, ini karena ulahmu sendiri. Kamu menjahili Anakmu, dan akibatnya seperti ini," umpatku sambil meniup tangannya pelan.
"Dia bukan Anakku," decak Ahn Yoo datar.
Aku sengaja memukul tangannya hingga dia kesakitan, "Mungkin Hendry menyesal punya ayah sepertimu."
"Kakak, kita biarkan saja Pamanku di sini. Aku tidak mau dia ikut masak di rumahmu," timpal Hendry.
Aku menatap Hendry yang kala itu sedang menarik bajuku untuk segera pergi dari sini.
"Paman?" tanyaku memperjelas pada Hendry.
"Kenapa? Dia memang Paman yang jahat," umpat Hendry menyindir Ahn Yoo.
"Dia Pamanmu? Bukan Ayahmu?"
"Ayah? Dia Pamanku."
"Untunglah," decakku lega.
Aku merasa lapang sedikit saat tahu kalau Hendry bukan anak Ahn Yoo. Lalu kenapa wajah anak kecil ini sangat mirip dengan Ahn Yoo?
"Tapi kenapa wajah kalian mirip?" tanyaku lagi kepada mereka secara bergntian.
"Jangan bahas lagi, aku sudah lapar. Kita pulang," kata Ahn Yoo kemudian menarikku masuk ke dalam mobil.
Dia menempatkanku tepat di sampingnya. Tapi Hendry yang pintar itu menyuruh Ahn Yoo duduk di belakang dan menyuruh aku yang membawa mobil.
"Paman, kau duduk di belakang. Agar aku dan calon Istriku ini bisa bersebelahan. Aku tidak bisa bawa mobil ini, jadi biarkan saja dia yang bawa," suruh Hendry tegas.
Aku terkikik saat mendengar Hendry yang wajarnya adalah anak polos malah mengatakan hal yang belum cukup umurnya. Dia sangat dewasa sampai bisa berpikir sejauh itu.
"Kau diam saja. Duduk di belakang," sambung Ahn Yoo ketus.
"Aku tidak mau!" sambung Hendry keras.
"Jangan membantah, dia duduk di depan bersamaku" kata Ahn Yoo memperingatkan.
Mendengar mereka yang bertengkar seperti ini membuatku sakit kepala saja. Ahn Yoo seharusnya bisa memikirkan cara agar Hendry bisa terima. Tapi dia malah memarahi Hendry.
"Husssttt! Tidak ada yang duduk di belakang. Hendry biar kakak pangku saja," ucapku menengahkan perdebatan mereke yang pelik.
"Yeeee! Aku duduk di pangku calon Istriku. Paman sangat payah," ejek Hendry pada Ahn Yoo.
"Tidak boleh. Anak genit tidak boleh mendekatinya. Kau duduk di belakang," timpal Ahn Yoo lagi.
Hendry menampakkan raut memelas padaku sampai hatiku meleleh seketika saat menatapnya. Tidak tega melihat anak kecil yang berparas manis meminta sampai seperti itu.
"Dia biar di depan saja, kalau tidak boleh kami naik taksi saja," ancamku.
Mau-tidak mau Ahn Yoo membiarkan Hendry duduk di pangkuanku meski dengan wajah yang tidak ikhlas membolehkannya. Dia bahkan menjegilkan matanya melirik Hendry, dia bertingkah seperti anak kecil.
***
Di dalam mobil sesekali Ahn Yoo menatap kami dan mengerucutkan pinggir bibirnya untuk mengumpati Hendry. Dia ini sangat lucu, dengan anak kecil saja cemburu. Bagaimana nantinya dengan orang dewasa?
"Hendry minta makanan apa? Biar kakak masakkan nanti," tanyaku sambil mengelus kepalanya pelan.
"Aku yang akan masak, kakak duduk saja nanti. Aku tidak mau calon Istriku terluka karena aku," jawab Hendry.
"Anak sialan ini sangat pandai bicara. Dia bukan calon Istrimu. Dia calon Bibimu," timpal Ahn Yoo kesal.
"Tidak! Kakak hanya akan menikah denganku," tukas Hendry marah.
Mereka mulai lagi, saling bertengkar padahal karena hal yang sepele. Masalah kecil mereka perbesar, tentu saja akan terjadi perkelahian.
"Diamlah, kalian jangan bertengkar. Kalian itu satu keluarga, jadi sedikit berdamailah," suruhku sambil memijat pelipisku lembut.
♡♡♡Maaf yah, beberapa hari kedepan author gak bisa up date ♡♡♡
Gomenne🤧🤧😢😔😕😭