
Ahn Yoo seperti senja bagiku, datang terlambat di hati dan lama menempatkan perasaan. Namun, berakhir dengan indah meski tidak akan pernah muncul kemudian menemani malam yang sunyi. Aku hanya menginginkan seseorang yang selalu menemaniku. Bahkan Ahn Yoo bukan orang itu, dia hanya singgah sebentar dan tidak akan menetap.
"Jangan katakan seperti itu lagi," decakku lirih.
"Kau tidak bisa mengaturku," balas Ahn Yoo keras kepala.
Biarkan saja Ahn Yoo menikmati permainannya denganku. Mana mungkin kami bisa bersama, bahkan burung tahu dimana meletakkan sangkarnya. Begitu juga denganku, bagaimana pun ceritanya, aku akan kembali ke kehidupanku dulu, sebelum bertemu Ahn Yoo.
"Ya sudah, berarti kamu tidak marah lagi denganku, 'kan?"
"Kau tampak senang saat aku sedang marah," timpal Ahn Yoo ketus.
"Tidak, aku hanya takut kamu keterusan marah padaku, dan lupa memaafkan aku."
"Kesalahanmu banyak sekali padaku, tapi aku selalu sabar dan memaafkanmu,"sambung Ahn Yoo menyindirku.
"Kapan aku membuat masalah denganmu?" tanyaku penasaran.
Ahn Yoo kemudian berdiri dan pergi meninggalkanku sendiri di sini. Aku kira dia akan menyuruhku memasakkan makanan untuknya, ternyata tidak. Benar-benar membuat orang harus berpikir keras menghadapinya.
***
Aku menunggu Bu San memasak sarapan pagi di dapur sendiri. Untungnya saja, Bu San cepat menyiapkan dan langsung bisa makan pagi tanpa harus menunggu lama.
"Aku makan sendiri?" tanyaku bingungung pada Bu San yang sedang menghidangi.
Ahn Yoo belum juga datang untuk makan, mungkin dia tidak akan sarapan hari ini.
"Apa dia tidak makan?" sambungku kebingungan kepada Ahn Yoo.
"Bisa jadi, biasanya Tn. Ji cepat datang kalau ingin sarapan," sahut Bu San yang juga tidak mengerti situasi.
Bu San kemudian menanyai langsung kepada Ahn Yoo apa dia ikut sarapan pagi hari ini. Ternyata benar, dia tidak ikut sarapan denganku, alasannya karena ada rapat hari ini.
"Rapat? Alasan saja. Dia itu tidak mau bertemu denganku, kenapa jujur saja susah," gerutuku sesaat setelah Bu san mengatakan alasan Ahn Yoo tidak bisa ikut sarapan denganku.
"Tn. Ji sedang marah, Jane?" tanya Bu San yang tidak tahu sama sekali.
"Oh itu, iya Bu. Dia marah karena aku akan pindah dari sini, dia takut aku akan kabur dan tidak membayar hutangku," kataku lagi karena kesal.
"Oh, saya sedih kalau Jane pergi."
"Aku juga sedih berpisah dengan Bu San, tapi aku harus menjaga omongan orang lain. Tidak baik kalau orang lain tahu Ahn Yoo menyimpan seorang wanita yang tidak jelas asal usulnya," tukasku menjabarkan alasanku.
Bu San tersenyum dan menyuruhku untuk melakukan apa pun yang baik untukku. Tidak perlu memikirkan orang lain kalau tidak bisa bahagia melihat dan menjalankan sesuatu yang menurutku sesuai dengan espektasi.
"Bu San, aku sudah membayangkan kalau aku pindah, dan itu pilihan terbaik."
"Saya juga berpikir begitu," sahut Bu San setelah lama membayangkan aku pindah dari rumah Ahn Yoo.
"Tidak ada yang akan pindah," kata Ahn Yoo yang baru saja datang dan langsung menimpal pembahasanku dengan Bu San.
Aku dan Bu San terdiam sejenak karena terkejut dengan kedatangan Ahn Yoo tanpa kami sadari.
"Ahn Yoo? Kamu tidak makan bersamaku?" tanyaku menghilangkan ketegangan di ruangan ini.
"Tidak," sahutnya cepat.
"Rasanya enak, apa kamu tidak lapar? Bekerja dengan perut kosong itu tidak bagus. Nanti tidak bisa fokus," rayuku dengan penuh usaha.
"Terserah," cetus Ahn Yoo tanpa perasaan.
Biarlah Ahn Yoo melakukan hal yang disukainya. Kalau tidak mau makan tidak usah, yang kelaparan bukan aku.
"Tidak masalah, pergi saja sana. Aku tidak peduli lagi denganmu," senggakku tidak acuh dan membiarkannya pergi bekerja dengan perut kosong.
Setelah Ahn Yoo pergi, aku menghibur diriku dengan bermain game online yang perang sederhana tapi menyenangkan. Sangat mudah, aku langsung bisa bermain dan membunuh semua musuh dengan cepat. Aku memiliki teman dari game ini, nama samarannya Zyen. Dia sangat ahli dalam permainan, dengan bersih membunuh semua musuh tanpa tersisa satu pun.
Dalam game ini juga bisa saling berkomunikasi satu sama lain, sehingga menambah keseruan saat bermain. Baru saja aku mengenal Zyen, dia sudah langsung merasa akrab denganku. Zyen orang yang humoris, jadi tidak perlu canggung saat berbincang denganmu.
"Jane Soo! Tembak di belakangmu!" teriak Zyen semangat saat kami sedang asyik bermain dalam dunia game.
"Awas! Tolong aku! Jangan, bukan itu. Monster itu kamu yang bunuh, aku tembak yang kecil-kecil saja," balasku teriak dengan semangat terbawa suasana.
"Enak saja, kenapa aku yang bunuh monster? Aku malas," jelas Zyen.
"Kalau tidak mau, lain kali aku tidak akan pilih kamu jadi partnerku," ancamku memaksanya membunuh monster dalam game.
Meski hanya berkenalan lewat game, aku merasa cocok dengan Zyen. Aku ingin sekali menanyakan nama aslinya, tapi kami masih terlalu awal untuk bisa lebih dekat lagi.
Waktu tidak terasa karena aku sibuk dengan game dan berbincang dengan Zyen. Sampai Ahn Yoo pulang pun aku tidak menyadari kedatangannya.
"Jane Soo!" panggil Bu San dari luar sambil mengetuk pintuku.
"Masuk saja, tidak dikunci!" sahutku mempersilahkan Bu San masuk.
Sesaat Bu San sudah masuk ke dalam, dia langsung menyuruhku turun dan menemui Ahn Yoo yang tengah menungguku.
"Untuk apa aku menemuinya?" tanyaku terheran mendengar Bu San.
"Lebih baik tanyakan langsung saja," tukas Bu San mengingatkanku.
Aku harap Ahn Yoo tidak sedang mengusiliku lagi. Aku turun dari kamar dan menemuinya yang sedang menungguku dengan wajah kusut ditekuk.
"Mukamu cemberut sekali," decakku setelah masuk ke dalam mobil.
Ahn Yoo hanya berdiam diri dan tidak menghiraukanku sama sekali. Aku juga bingung kenapa dia bersikap begini lagi terhapadapku. Susah dibaca maksud dan tujuannya. Dia memanggilku dan menyuruh aku naik ke dalam mobilnya. Tapi setelah itu dia bersikap dingin tak mengacuhkanku sama sekali.
Ternyata Ahn Yoo membawaku ke sebuah apartemen tempat yang terlihat seperti menara yang tegak menjulang ke atas. Kepala harus mendongak untuk menatap keseluruhan panjang apartemen.
"Masuk," suruh Ahn Yoo dengan nada terpaksa.
Aku mengikutinya dari belakang dan membiarkan dia yang menuntun jalan untukku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan membawaku ke sini.
Ahn Yoo berhenti di depan pintu salah satu kamar apartemen dan membukanya dengan memisat pin pada gagang.
"Wah ... kamu tahu passwordnya?" decakku kagum yang menigira Ahn Yoo adalah seorang hacker.
"Ini punyaku," balasnya.
Sekujur tubuhku terasa terpanggil saat memasuki apartemen milik Ahn Yoo. Sangat mewah dan tertata rapi. Tidak puas hanya memandang saja, harus memegang lembut setiap sudut apartemen yang cantik ini.
"Kamu tinggalnya di rumah, kenapa harus punya apartemen?" tanyaku yang belum berhenti menatapi seisi ruangan.
"Bukan urusanmu," balas Ahn Yoo ketus.
Aku berhenti bergerak dan memelitoti Ahn Yoo sampai merasa risih denganku.
"Kenapa denganmu kali ini?" tanya Ahn Yoo agak merasa ngeri.
"Bicaralah dengan normal saat bersamaku, aku merasa kamu sangat tebal telinga menyahutku," sindirku sinis sambil menjegilkan mata.
"Kau tinggal di sini sekarang, pin pintunya 1357," sambung Ahn Yoo dengan wajah tidak ikhlas.
Aku sangat senang karena Ahn Yoo sudah membiarkanku tinggal sendiri lagi.
"Terima kasih, aku kira kamu tidak akan membiarkanku pindah dari rumahmu," sahutku kegirangan.
Ahn Yoo memasukan tangan ke dalam saku celana yang dikenakannya kemudian mengangkat bahunya ke atas berlagak sombong.
"Syaratnya aku akan bermalam setiap hari di sini," ujar Ahn Yoo tanpa merasa terbebani dengan kerisihan saat berbicara.
Aku merasa geli dengan sikap Ahn Yoo yang semakin hari semakin ingin selalu menggangguku dengan sikap dingin tak acuh miliknya.
"Dasar gila," decakku pelan mengatainya.
Dengan pelan aku mendorong bahu Ahn Yoo keluar dari apartemen yang sekarang menjadi milikku dan mengusirnya agar segera meninggalkanku sendiri di sini.
"Jangan datang kalau sudah lewat jam 10 malam," perintahku yang berlagak bak nyonya pemilik apartemen.
Belum sempat Ahn Yoo menimpal kalimatku, segera kututup pintu rapat-rapat hingga dia tidak bisa masuk ke dalam.
Teringat akan satu hal lagi, aku membuka pintu dan mencari Ahn Yoo yang sudah ku usir tadi.
"Cara mengganti password bagaimana?" tanyaku langsung sesaat setelah melihat Ahn Yoo masih berdiri meratapi pintu dengan murka.
"Tidak ada yang bisa diganti, ini masih milikku. Kau tidak boleh sembarangan mengutak atik passwordnya," balas Ahn Yoo yang tampak sudah meredakan kemarahan karena kelancanganku mengusirnya dengan sadis.
"Wah ... aku masih waswas kalau belum mengganti password pintu ini. Takutnya ada makhluk astral yang leluasa bisa masuk ke dalam apartemen ini," sindirku bercanda dengan Ahn Yoo.
"Kau sedang menyindirku," sambung Ahn Yoo menjegilkan mata.
Dengan lembut aku memerintahkannya untuk segera pulang dan berhenti mengajak ribut denganku. Tidak bisa dipungkiri kelancanganku kepada Ahn Yoo. Tidak satu pun orang yang berani mengaturnya layaknya seorang manusia biasa. Semua menyanjungnya dan mati-matian menyilat lidah dan merangkai kata manis untuk memenangkan hati Ahn Yoo yang nyatanya sudah membeku karena waktu.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai depan," ajakku agar Ahn Yoo mau pergi dari sini.
Aku bukannya ingin dia pergi meninggalkanku sendiri di sini. Tapi aku takut kalau aku tidak rela kalau harus berpisah atap dengan Ahn Yoo. Meski dia terkadang menindasku, tapi aku merindukan masa itu. Aku masih menginginkan waktu lebih lama berputar agar dia bisa bersamaku, tapi untuk menghindari nama baik yang menjadi kotor. Aku harus merelakannya dan membiarkan hati menjadi biru.
"Sudah, kapan-kapan aku akan menjenguk Bu san," lambaiku ketika Ahn Yoo sudah masuk ke dalam mobil.
"Jangan pernah menggaiti laki-laki di sana," perintah Ahn Yoo yang masih resah meninggalkanku sendiri tinggal di apartemen.
Ahn Yoo menutup kaca mobil yang semula terbuka, kemudian pergi. Kalau diingat rasanya sangat sedih kalau harus tinggal sendiri di tempat yang sepi.
Aku memasuki apartemen mewah yang lengakap dengan perabotan kelas kakap dengan wajah membungkuk tidak menentu.
Drtt-Drttt!
Ponselku bergetar karena me dapat notif dari Zyen partnerku saat bermain game. Dengan cekatan aku menggpai ponsel yang terbaring di atas ranjang dan memeriksanya.
Zyen:
Aku sudah senggang,
Kita lanjut perang.
Kami sempat berhenti sejenak saat bermain game online dikarenakan Zyen ada urusan mendadak yang begitu penting.
"Wah ... ini baru namanya keseruan," decakku semangat saat mendapat notifikasi dari Zyen.
Segera ku mainkan game dan masuk arena perang bersama Zyen. Aku menghabiskan malam bersama dengan Zyen menaklukkan dunia maya yang sedang kacau ini.
"Kamu sangat senggang Zyen. Sampai malam seperti ini masih bisa bermain denganku," kataku yang sedang sibuk membunuh semua monster di dalam game.
"Tidak, ini kusempatkan karena ingin bersamamu," goda Zyen.
Sudahlah, biarkan dia bicara asal-asalan. Zyen tidak kukenali sama sekali, dan dia hanya orang yang tidak akan pernah hadir dalam hidupku. Lebih baik aku tidak usah memperdulikan kata-kata Zyen.
"Hey hey hey! Aku ini akan mati, kamu dimana. Tugasmu melindungiku," senggakku yang masih terfokus bermain.
"Kamu cerewet sekali. Aku akan menemuinmu," ujar Zyen.
"Oh tidak masalah, datanglah kalau sempat."
"Aku akan datang ke kota Agra menjemputmu," sahut Zyen yang tampak serius.
Aku tersentak dan tidak sengaja membiarkan hero dalam gameku mati terbunuh monster.
"Kenapa kamu tahu aku tinggal di kota Agra?" tanyaku yang masih tertegun.
"Apa benar kamu tinggal di sana? Hahahah ... padahal aku hanya menebak saja."
"Dasar laki-laki sialan! Aku pikir benar kamu tahu aku tinggal di sini. Aku sudah menganggapmu sebagai seorang stalker, maafkan aku," timpalku merasa bersalah.
"Kita akan bertemu sebentar lagi, jadi bersiaplah."
Aku semakin merasa aneh dengan Zyen, dia seperti sedang bercanda denganku tapi terasa sangat serius. Aku tidak tahu apakah dia ini sedang menebak saja atau memang dia benar mengetahuinya.
"Aku semakin bingung denganmu," decakku merasa ada yang janggal.
"Aku serius mengatakannya," ulas Zyen menyahutku.
Aku berhenti bermain dan membiarkan kepalaku rehat sejenak agar bisa berpikir dengan jernih dulu. Supaya bisa menyimak apa yang baru saja dikatakan Zyen padaku.
Saat sedang merenung, aku mendapatkan pesan dari nomor seseorang yang tidak kukenali sama sekali. Hanya Ahn Yoo yang mengetahui nomor ponselku. Lalu ini siapa? Segera ku buka dan kubaca isi pesan yang baru saja masuk.
Nomor tidak dikenal:
Kim Jane Soo?
Bahkan yang membuatku semakin ketakutan adalah, dia mengetahui namaku.
Aku:
siapa?
Nomor tidak dikenal:
Zyen, aku dapat nomormu
dari pemberitahuan informasi
pemain dalam game.
Aku baru teringat akan hal itu, ternyata dalam game tertera nomor ponsel pemain. Sudah sempat aku menilai Zyen sebagai stalker. Ternyata tidak seperti yang kuduga, dia orang yang baik.
Aku:
Oh, aku kira kamu melacakku
Malam itu aku menghabiskan sisa waktuku dengan saling mengirim pesan kepada Zyen. Dia ternyata tinggal di Agra juga, tapi karena ada urusan pekerjaan di Cina, dia tinggal di sana sementara. Tapi tidak lama lagi dia akan kembali ke Agra, dan katanya dia akan menemuiku dan memberi souvenir dari Cina.