SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 42



"Aku khawatir kalau kau sudah lama mengincar wanita ini sampai bersitutu ingin mendapatkannya," sindir Ahn Yoo.


"Siapa pasanganmu?" tanyaku menimpal pada Ahn Yoo.


Tadi Ahn Yoo bersenang-senang dengan wanita lain, dan setelah melihatku bersama Ji Seon barulah dia datang menghampiriku.


"Aku rasa tadi kamu berdansa dengan wanita di sana," lanjutku menyinggung Ahn Yoo.


Ahn Yoo menampakkan raut tidak senang saat mendengar sindiranku padanya. Padahal memang benar dia tadi sedang berduaan dengan wanita lain. Dan aku sama sekali tidak melarangnya, lalu kenapa saat aku dekat dengan Ji Seon dia menggusari kami?


"Maksudmu Xia Len?" tanya Ahn Yoo memperjelas.


"Hmmm," jawabku singkat dengan nada tidak senang.


"Kau cemburu?" timpal Ahn Yoo mencoba menggodaku. Tapi itu tidak akan mampan padaku karena sudah terlanjur kesal melihatnya.


"Ji Seon, terima kasih sudah menemaniku yang selalu ditinggalkan ini. Tidak paman tidak teman, semua meninggalkanku," sambungku berniat menyindir Ahn Yoo.


"Tidak masalah, kamu bisa meminta bantuan padaku kalau ada yang perlu," ujar Ji Seon ramah.


"Dia tidak membutuhkanmu," sangkal Ahn Yoo gusar.


"Aku pergi dulu, Jane Soo," pamit Ji Seon dengan senyum lebar di wajahnya. Aku merasakan detakan jantung yang sekali mengeras dan berdentum. Aku seperti melihat senyuman itu, tapi entah dimana.


"Seharusnya kau pergi dari tadi," decak Ahn Yoo judes.


Kini tinggal kami berdua dengan Ahn Yoo di sini, Ji Seon sudah pergi. Aku masih jengkel melihatnya, tapi dia malah berlagak kalau aku adalah sumber masalah. Padahal jelas-jelas yang memulai lebih dulu adalah dia.


"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Ahn Yoo dengan serius.


"Aku ini sedang makan, dan tidak mau menelan omelan mu," jawabku ketus.


"Yang memulai lebih dulu adalah kau," serbu Ahn Yoo menggerutuiku.


"Wah ... hebat sekali. Yang lebih dulu jelalatan itu siapa? Asal melihat wanita bening sedikit matamu langsung menerkam," umpatku mengatai Ahn Yoo.


"Apa kau pernah dicium di depan umum? Kalau kau mau coba, teruslah mengumpatiku," kata Ahn Yoo sedikit mengancam.


Dia sama sekali tidak tahu malu berbicara seperti itu padaku. Sudah tahu membuat salah dan sekarang dia malah ingin membuatku tidak berkutik sama sekali.


Aku tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang. Apalagi dia Ahn Yoo, banyak wanita yang mendambakannya. Kalau dia menciumku di sini, bisa-bisa semua wanita yang ada di sini akan mencaciku habis-habisan.


"Aku ... aku ingin pulang," kataku sambil menundukkan kepala dan suara yang lirih.


"Jangan bertingkah."


"Tapi aku mau pulang," rengekku berpura-pura manis.


Ahn Yoo memegang telapak tanganku dengan lembut kemudian mengajakku keluar dari acara ini. Katanya dia akan mengajakku makan, tapi aku tidak tahu jelas tentang kebenarannya.


~Dalam Mobil~


"Kemana kita?" tanyaku heran.


"Ku beritahu pun tidak ada gunanya," decak Ahn Yoo memandang rendahku.


"Sesukamu saja," balasku tidak peduli.


Ahn Yoo memberhentikan mobilnya dan berbelok arah jalan menuju apartemenku. Mungkin dia sekarang memang marah padaku sampai tidak jadi membawaku pergi. Padahal tadi dia ingin membawaku entah kemana, tapi dia memutar arah mobilnya.


Di dalam mobil ini sangat hening, tidak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Dia juga dari tadi menampakkan ekspresi cemberut. Aku tidak perlu menghibur dirinya, karena yang seharusnya marah itu aku bukan dia.


Setelah sampai di depan pintu tumpukan apartemen yang tinggi ini, dia menyuruhku turun.


"Tunggu apalagi? Turun," perintah Ahn Yoo tanpa menatap diriku sama sekali.


"Ok, tidak perlu dibentak aku sudah tahu," balasku dengan wajah ditekuk.


Dengan hentakan telapak kaki yang kuat, aku turun dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan kuat sampai mengeluarkan suara yang teramat keras.


"Aku menyumpahimu agar tidak bisa tidur nyenyak malam ini," gerutuku saat Ahn Yoo sudah pergi.


Aku berjalan ke apartemen milikku dan mendapati pesan dari Zyen yang berisikan kalau dia mendapat undangan ikut interview menjadi asisten direktur. Tapi karena dia masih di Cina, akhinrnya dia menolak tawaran itu. Otomatis aku bisa langsung menjadi asisten direktur.


Anehnya, kenapa dia tidak mengambil tawaran ini. Padahal menurutku gajinya di Cina lebih kecil dibanding dengan gaji PT. Nexcon. Tapi tidak masalah, yang penting aku jadi asisten direktur.


Malam yang dingin dan sunyi ini, aku membuka jendela apartemen yang apabila dipandang akan terasa sepi jika sendiri. Angin yang meniup tirai-tirai putih ini menusuk hingga dasar kulitku yang hangat. Sangat dingin, sampai aku tidak merasakan kalau aku ini hanya seorang gadis yang tidak memiliki apa pun dan tidak mempunyai siapa pun.


Nasibku memang terbilang sangat bagus karena aku bisa selamat dari tangan Paman tiriku yang kejam. Kemudian bisa mengenal Ahn Yoo dan mendapatkan perhatiannya meskipun aku tidak meminta. Dan yang paling membahagiakannya adalah aku bisa menjadi seorang asisten direktur tanpa menjatuhkan surat lamaran terlebih dahulu.


"Hidup kadang memang suka bercanda."


Aku menidurkan mataku di atas ranjang dan dengan jendela terbuka yang mengijinkan angin masuk membelai rambutku hingga aku pulas.


***


Keesokan harinya, aku mendapatkan pesan dari PT. Nexcon kalau hari ini aku bisa langsung interview dan setelah lulus akan menandatangani kontrak.


Dengan cepat aku mengganti pakaian dan mengenakan pakaian rapi bak seorang asisten. Kemudian aku dengan kilat memanggil taksi untuk mengantarkanku ke PT. Nexcon.


Bahkan perusahaannya saja aku tidak pernah lihat, tapi aku sudah mendapat undangan. Dan lebih lucunya lagi, aku langsung dijadikan sebagai asisten direktur, padahal skill ku dalam bidang perusahaan terbilang rendah.


"Nona, ini biayanya," ucap pengemudi taksi ini padaku.


Aku membayar taksi dan kemudian mengucapkan terima kasih padanya karena sudah mengantarkanku dengan selamat. Setelah itu aku berjalan dengan semangat memasuki perusahaan game yang termasuk terbesardi Asia.


"Permisi, saya mendapatkan persetujuan interview hari ini. Dan ini buktinya," kataku pada seorang reseptionis perusahaan yang besar ini dan menunjukkan pesan yang ada di ponselku.


Setelah ditanyakan reseptionis ini pada direktur melalui telepon, dia menyuruhku untuk langsung masuk ke ruangan direktur. Karena yang langsung turun tangan menanyakanku adalah direktur itu sendiri.


Mungkin karena reseptionis ini melihatku tampak bingung, dia juga menyuruh seseorang untuk menuntun jalan untukku sampai ke depan pintu ruangan direktur.


"Terima kasih sudah menunjukkan jalan padaku," kataku sambil membungkuk.


Aku mengetuk pintu kaca yang bening tapi tidak tembus terlihat ke dalam. Setelah dari dalam dmada sahutan yang menyuruhku masuk, barulah aku masuk.


Saat pertama melihat ruangan ini, aku sudah langsung bisa beradaptasi dengan suasananya. Dengan ruangan yang berjendela kaca besar di sisi samping ruangan ini. Hingga apabila menatap ke bawah dari jendela ini, terlihat kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya. Lukisan yang tergantung di belakang meja direktur itu juga sangat indah, terlihat pemandangan pantai yang menyejukkan mata. Lukisan itu seperti impianku yang masih hanya sebatas gambaran semata, belum jadi kenyataan.


"Ruangannya benar ini? Tadi seperti ada yang mempersilahkanku masuk, tapi sebiji orang pun tidak ada di sini," decakku setelah masuk dan tidak mendapati ada orang di ruangan ini.


Aku mendekati meja yang ada di hadadapanku, kemudian melirik apakah ada seseorang yang duduk di bangku yang menutupi tubuh.


"Permisi," sapaku pelan.


Seketika kursi itu berputar mengarahku dan aku melihat Ji Seon. Dia sedang bertelepon dengan seseorang. Dia sangat berwibawa saat duduk di kursi itu, sampai aku segan untuk menyapanya.


"Ji ... Seon?" kataku kaget dan wajah tegang tidak menyangka dia adalah seorang direktur.


"Jane Soo? Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Aku ... maksudnya saya ingin wawancara langsung dengan Pak direktur," jawabku dengan bahasa baku.


Dia tersenyum melihatku kemudian menyuruhku untuk bersikap seperti biasa dengannya. Dia ingin aku tetap memperlakukannya seperti dia memperlakukan orang lain.


"Aku baru tahu kamu adalah direktur perusahaan sebesar ini," gumamku pelan.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Ji Seon menyadarkanku dari gumamku.


"Aku rasa ini bukan kesengajaan, bukan? Ini hanya sebuah kebetulan saja kalau aku menjadi asistenmu?" tanyaku polos kepada Ji Seon.


"Apa kamu yang akan jadi asistenku?"


"Hmmm ... sepertinya begitu. Aku juga tidak tahu akan hal itu, yang pasti aku datang ke sini karena diundang. Dan sebenarnya aku dan temanku akan wawancara hari ini, tapi karena dia masih di Cina, jadi hanya aku yang akan wawancara," jelasku.


"Aku tidak tahu akan hal itu. Bisa ceritakan lebih jelas?" suruh Ji Seon dengan mode bertanya serius.


Dengan bodohnya aku menceritakan semuanya hingga lupa kalau dia itu adalah direktur yang akan mewawancaraiku. Aku takut dia malah membatalkan undangannya untuk menjadikanku asistennya.


"Apa kamu tahu kalau partner ku itu orang yang hebat dalam bermain game yang kalian luncurkan, dan hebatnya dia tahu cheat untuk menaikkan level dalam permainan. Bayangkan saja dalam satu hari aku sudah bisa naik 20 level." Aku menceritakannya dengan serius dan dengan tangan yang sibuk menjelaskannya pada Ji Seon. Aku dengan bodohnya memperagakan tanganku saat bermain game yang diluncurkan PT. Nexcon.


"Benarkah begitu? Aku tidak tahu kalau wanita juga menyukai game sesadis ini," kata Ji Seon kemudian memajukan bangkunya ke depanku.


"Ho' ho' ho', aku sangat menyukai game itu. Tapi sekarang partnerku sibuk dengan urusannya. Aku tidak bermain lagi," ujarku dengan murung.


"Aku juga bisa bermain game itu. Kalau kamu mau, aku juga bisa jadi partnermu," ujar Ji Seon menyarankan.


"Benarkah? Aku merasa terhormat bisa menjadi partner seorang direktur. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan temanku karena sudah punya teman baru," sambungku.


Aku segan dengan Zyen, dia yang sudah membantuku bisa naik level dari satu sampai seperti ini.


"Siapa nama partner mu itu? Aku ingin melaporkannya karena sudah bermain curang," decak Ji Seon.


"Ehhh ... jangan laporkan, dia orang yang baik. Aku bisa menjaminnya. Lagi pula dia pemain pro, kalau dilaporkan bisa-bisa yang hebat seperti dia tidak ada lagi," saranku pada Ji Seon.


"Kalau begitu, kita duel saja. Itu persyaratan agar aku tidak jadi melaporkan dia."


"Oke itu permasalahan gampang. Besok juga kita masih bisa duel. Tapi aku kapan akan wawanranya? Sudah tidak sabar," timpalku.


"Oh aku lupa. Kamu tidak usah diwawancara lagi, kamu sudah diterima," jawab Ji Seon enteng.


"Apa? Itu saja?" tanyaku memperjelas.


"Iya ... mau bagaimana lagi?"


"Wah ... ini keterlaluan. Aku sudah menghapal siang malam untuk interview dan perusahaan ini tidak mewawancarai aku? Hebat sekali," decakku cerewet.


"Aku sudah mewawancaraimu tadi. Syaratnya hanya perlu setia."


"Apa maksudnya?" tanyaku bingung.


"Bukannya kamu tidak mau meninggalkan partnermu dalam game, itu menandakan kamu itu orang setia dan jujur. Jadi hanya itu syaratnya," sambung Ji Seon.


"Oh ... kalau begitu aku sudah menjadi asisten direktur?"


"Hmmm ... iya."


"Wah ... nasibku memang sangat baik, aku juga heran dengan itu. Terima kasih, Ji Seon."


Aku tersenyum dan beribu kali mengucapkan terima kasih pada Ji Seon. Dengan murah hati dia menerima ku sebagai asisten direktur.


"Oh iya, kapan aku mulai bekerja?" tanyaku dengan senyum yang tidak bisa berhenti keluar dari bibirku.


"Besok kamu sudah bekerja. Jam 8 pagi on time datang ke kantorku. Besok aku akan ada rapat penting, jadi kamu harus ikut supaya bisa belajar kegiatanku sehari-hari," tukas Ji Seon yang berubah menjadi seorang direktur seketika.


"Baiklah Pak direktur," sahutku mengejek.


Aku berdiri dari dudukku dan permisi kepad Ji Seon untuk pamit pulang. Aku belum makan dari tadi pagi, perutku sudah mengemis-ngemis meminta nutrisi padaku.


Ji Seon menghentikanku dan menyuruhku untuk tidak pulang. Tapi karena perutku sudah melilit karena kelaparan, akhirnya aku tetap pulang.


"Biar aku mengantarmu," ajak Ji Seon.


"Tidak perlu, aku naik taksi."


"Biarku antar saja," lanjut Ji Seon.


"Belum satu hari menjadi asisten, kamu sudah ramah begini. Aku jadi curiga," kataku mencoba menghentikannya. Aku tahu kalau Ji Seon tidak mempunyai niat buruk sama sekali terhadapku. Tapi kalau tidak berbicara seperti itu dengannya, maka Ji Seon akan bersikeras memaksaku untuk mau diantarkan.


Sebenarnya aku dengan senang hati mau menerima tawarannya, hanya saja aku ingin makan makanan di pinggir jalan. Aku sangat merindukan makanan seperti itu. Terakhir kali makan dengan Ahn Yoo, itu pun tidak puas. Banyak sekali hujatan yang membumbui makanan yang ku makan.


"Pak direktur, aku permisi pulang. Besok aku akan datang dengan cepat, sebelum jam 8."


Aku keluar dari perusahaan Ji Seon kemudian mencari taksi untuk membawaku makan.


Tidak butuh waktu lama, taksi dengan sendirinya mengajukan diri dan menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Aku pun dengan senang hati menaiki taksinya dan menyuruh supir mengantarkan ku ke taman pinggir kota yang ramai dengan camilan.


"Pak, aku turun di sini saja," ujarku pada Supir ini sambil menunjuk taman yang ramai para pedagang.


Dia meminggirkan mobilnya dan menurunkanku di pinggir taman. Dengan riang aku menjajali semua dagangan dan kemudian mencari tempat duduk untuk menikmati makanan di tanganku.


"Wahh! Ini namanya kenikmatan yang datangnya tidak setiap hari," decak kagumku saat duduk di tangga tangga taman yang lebar dan di penuhi pemandangan yang hijau karena rumput kecil yang menutupi dasar tanah yang basah.


Tanganku yang penuh kanan-kiri dengan makanan, membuatku bingung harus makan yang mana terlebih dahulu. Semua tampak lezat, apalagi karena harganya murah. Menambah selera makanku yang hilang semalam saat bertengkar dengan Ahn Yoo.