
"Huuhuu ... huuu."
Aku mendengar suara rintihan anak kecil dari luar apartemen ku. Terdengar seperti Hendry. Tapi aku ragu kalau itu dia. Mungkin itu hanyalah bunga tidur karena aku memikirkan Ahn Yoo sebelum terlelap.
Namun, suara itu berulang kali terdengar sampai ke telingaku. Hingga aku terbangun karena mendengar rintihan itu. Aku berjalan dengan langkah sempoyongan karena memang kakiku belum sembuh seutuhnya. Bahkan sekarang lebih sakit lagi, aku naik bitis gara-gara jalan dari tangga darurat tadi pagi.
Saat kubuka pintu ini, aku melihat Hendry sedang menagis tersedu-sedu. Aku melihat sekeliling kalau Ahn Yoo tidak ada di sini. Tidak mungkin juga dia meninggalkan Hendry sendiri di sini, lalu pergi kemudian.
"Hendry?? Kamu kenapa? Dimana pamanmu?" tanyaku padanya sambil menghapus air mata yang mengalir deras di wajahnya.
"Kakak ... paman pergi lebih dulu," jawab Hendry dengan tangan yang menggosok matanya berkali-kali.
"Apa dia bodoh berani meninggalkanmu di sini? Kenapa tidak memukul kepalanya tadi? Paman yang jahat, dia tidak ada bedanya dengan paman kakak di kampung," gerutuku kesal.
"Waktu paman pulang bekerja, aku memintanya mengantarkan aku ke sini. Tapi dia tidak mau, paman bilang kalau aku tidak boleh lagi menemui kakak. Karena aku menangis terus-menerus paman mengantarkan aku ke sini, lalu pergi kemudian," tukas Hendry menjelaskan secara detail.
"Kenapa dia jahat sekali. Kalau tidak mau antar, dia tidak perlu repot-repot melakukannya," ucapku dengan kekesalan yang sudah bertumpuk di dalam hati.
"Tapi paman pergi setelah mendengar kakak sudah membuka pintu. Sebelum kakak membuka pintu, paman menemaniku di sini," kata Hendry padaku.
Ahn Yoo kurang kerjaan sekali. Kenapa harus menghindari ku tapi masih saja datang mendekati ku. Kita lihat saja bagaimana dia akan mengakhiri permaian ini.
Aku mencari Ahn Yoo di lorong apartemen ini, aku yakin dia masih belum terlalu jauh pergi. Sekali pun dia sudah jalan, aku harus mengejarnya.
"Hendry, pamanmu baru saja pergi, kan? Biar Kakak mengejarnya. Kamu masuk ke dalam dan jangan keluar sebelum Kakak datang," kataku terburu-buru kepada Hendry lalu berlari. Baru tiga langkah saja kakiku meninggalkan Hendry di sana. Aku berbalik lagi dan mengingatkannya, "Jangan buka pintu kalau bukan Kakak yang datang, apa kamu mengerti?"
"Kakak, aku ini sudah besar. Jangan ingatkan lagi," tukas Hendry yang bak seorang yang sudah dewasa.
"Besar bagaimana? Baru saja kamu merengek meminta untuk diantarkan ke sini. Tidak-tahu-malu," ucapku dalam benak dan memandang Hendry dengan mata datar tidak terima dia berlagak sok dewasa di depanku.
Aku menggiring Hendry masuk ke dalam apartemenku lalu menutup pintu rapat dan memastikan dia aman. Memang aku terlalu berlebihan mengkhawatirkan Hendry.
***
Aku mencari-cari dimana Ahn Yoo, apakah dia masih berada di sini atau sudah pergi? Aku berharap dia masih berada di sekitar sini. Kalau dia sudah mengendarai mobilnya, aku tak 'kan bisa menghampirinya lagi atau mengejarnya. Tidak mungkin aku meninggalkan Hendry di sana sendiri hanya karena meladeni sikap Ahn Yoo yang menyebalkan dan terlalu manja.
Aku menemukan Ahn Yoo, dia berjalan menuju lift dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Apa dia selalu begitu saat berjalan? Dari dulu sampai sekarang, tangannya selalu berada di saku celananya.
"Ahn Yoo!!!" Aku memanggilnya dengan nada emosi yang sudah ingin ku lontarkan padanya. Aku marah padanya karena berpura-pura tidak mengenaliku saat di parkiran tadi. Aku kesal padanya karena tidak mengangkat telepon dariku. Dan aku benci karena dia tidak mau menemuiku.
Dia berhenti tapi tidak berbalik menolehku. Dia melepaskan tangannya dari saku lalu memegang kancing kerah bajunya yang terbuka dua buah, hingga sedikit dadanya terlihat.
Dia berpura-pura tidak mendengarku? Apa dia benar ingin mengajak perang gadis liar sepertiku? Dia berjalan lagi dan memisat tombol lift di hadapanku.
Ting!
Pintu lift itu terbuka, Ahn Yoo masuk ke dalam dan terus menekan tombol untuk turun ke bawah. Aku berlari agar sempat masuk ke dalam juga.
Sebegitu tidak ingin nya Ahn Yoo bertemu denganku, sampai sedetik saja dia tidak bisa meluangkan waktunya untukku.
Disaat-saat pintu lift itu akan tertutup, langsung ku masukkan kakiku sebelah agar pintu ini terbuka kembali.
"Keluar," perintahku dengan nafas yang tersengal-sengal. Namun dia tidak mendengarkannya dan tetap bersikap tidak peduli padaku. Apa kalau aku terus di sini pintu lift ini akan rusak? Aku langsung masuk ke dalam karena tampaknya pintunya akan tertutup kembali.
Hanya kami berdua di dalam lift ini, tidak ada seorang pun yang berada di sini. Tapi dia seolah bersikap tidak mengenalku dan terus menunjukkan tampang datar dan dingin itu. Matanya sekali pun tidak menoleh atau setidaknya melirikku.
Kalau dia seperti itu bagaimana bisa aku akan memarahinya? Aku terlalu gugup saat ini. Dia sangat arogan hingga aku tidak berani mendekatinya.
ahn Yoo memisat tombol keluar. Dia tampaknya memang tidak ingin terus berdekatan dengan orang sepertiku. Tapi aku harus menanyakan soal yang tadi padanya. Apa dia marah karena aku bekerja dengan Ji Seon.
Dengan mengumpulkan keberanian, aku memisat tombol lagi agar dia tidak bisa cepat keluar. Dan bodohnya, Ahn Yoo memisat tombol lift itu dan ingin cepat keluar dari sini.
"Kamu ... tidak perlu menghindari ku, kalau aku ... membuatmu jengkel, kamu bisa langsung katakan," kataku dengan lirih.
Dia tidak bergeming sama sekali. Seolah dia tidak mendengarkan apa yang baru saja ku katakan. Saat itu pula aku mulai patah semangat, aku rasa dia memang tidak ingin lagi mengenalku. Mungkin dia sudah bosan padaku. Seperti yang dikatakannya saat awal pertemuan kami, dia akan mencampakkan aku ketika sudah tidak menginginkannya lagi.
"Aku ... aku mengerti sekarang. Mulai sekarang, aku harus ... harus menjauhimu. Secepat mungkin aku akan meninggalkan apartemenmu dan menghilang dari pandanganmu. Terima kasih sudah menolongku dan menampungku. Mungkin kebaikanmu tidak akan bisa terbayarkan dengan ucapan saja. Bahkan dengan uang, kebaikanmu tidak akan ternilai," ucapku dengan tulus dan hati yang tersayat karena sedih. Rasanya ingin menangis saat mengatakan kaliamt ini. Kenapa setelah jatuh cinta barulah aku dan dia berpisah? Kenapa sebelum cinta itu tumbuh dia mencampakkan ku? Aku rasa hidupku selalu sial.
Aku memisat tombol dan turun ke lantai tiga agar secepat mungkin bisa keluar dari sini.
Ting!
Pintunya terbuka. Aku pun berjalan keluar meninggalkan lift dengan hati yang rasanya sedang ditusuk pisau yang tipis dan tajam.
Tiba-tiba, Ahn Yoo berbicara sehingga langkahku terhenti.
"Kalau begitu bayar kebaikanku dengan cara yang lain" ucap Ahn Yoo.
Aku langsung berbalik dan berjalan selangkah mengarahnya.
"Bagaimana? Bagaimana aku membayarnya?" tanyaku dengan tangan memegang dada yang terasa sakit.
Pintu lift sialan ini malah tertutup di saat-saat Ahn Yoo sudah mau membicaraiku. Aku langsung memisat tombol yang ada di luar lift berkali-kali dan berharap pintu ini masih bisa terbuka dan Ahn Yoo masih di sana.
"Kyaaa! Pintu busuk ini! Apa kamu ingin dihancurkan, ha?!" Aku melampiaskan kemarahanku pada pintu ini. Aku ingin mengejarnya, tapi liftnya masih berada di lantai dasar. Kalau harus naik tangga darurat lagi, kakiku bisa-bisa akan patah. Lagi pula waktunya tidak akan sempat, Ahn Yoo pasti sudah pergi.
Aku menoleh ke luar jendela dan melihat mobil Ahn Yoo sudah berjalan pergi. Artinya aku sudah terlambat, dia pergi begitu saja meninggalkanku.
Aku kembali ke apartemen milikku dengan raut yang tidak enak dipandang mata. Hasilnya nol, tidak ada gunanya aku mengejar Ahn Yoo. Dia tidak merespon sama sekali. Aku tidak bisa mengerti kemauannya saat ini.
~Di dalam apartemen~
"Kakak? Apa kau berhasil?" tanya Hendry selepas melihat wajahku yang murung ditekuk.
"Jangan sedih, mungkin kalian tidak berjodoh. Aku masih ada untuk kakak, tenang saja. Aku pasti tidak akan meninggalkan Kakak dan terus melindungimu," ujar Hendry sambil memeluk leherku dengan tangannya yang kecil dan mungil.
"Hmmm? Apa kamu tidak akan tinggalkan kakak?" tanyaku sambil tersenyum.
"Aku berjanji," angguk Hendry dengan gaya imut.
"Hahahah ... kamu lucu sekali. Kakak tidak jadi sedih lagi karena tahu sekarang masih ada yang menyayangi Kakak. Hidup sebatang kara sangat tidak enak," kataku pada Hendry.
"Kau tidak sendiri lagi. Saat besar nanti aku pasti akan menikahimu," jawab Hendry denga mata yang berbinar-binar.
"Umurmu masih 5 tahun, kan? Berapa tahun lagi kakakmu ini akan menikah?" tanyaku sambil bercanda.
Untung saja ada Hendry di sini, sedikit kesesihan itu hilang dan tergantikan dengan tawa bahagia. Aku sedikit lelah karena perjuangan yang tampaknya masih panjang. Jalanku masih belum terlihat akan seperti apa nantinya. Tapi aku berharap kalau Ahn Yoo adalah salah satunya, semoga kerikil di depanku tidak perlu terlalu tajam. Karena aku takut, ada arus yang akan memaksaku untuk berhenti dan akhirnya hanya ada kata 'berpisah'.
***
"Apa kamu ingin jalan-jalan dengan Kakak?" tanyaku mengajak Hendry ke taman yang ada di wilayah kumpulan aprtemen ini. Sekalian aku ingin menghirup udara yang segar dan sejuk untuk menghilangkan suntuk yang sedang menutupi kepalaku.
"Ehm," angguk Hendry setuju.
Aku memegang tangannya dan membawanya ke taman itu.
~Taman~
Dengan sebuah bangku yang tampak sepi dan sendiri terletak di tengah hamparan dedauan yang sudah kering dan menyebar di sekitar pohon perpijakannya. Udara yang dingin menusuk hingga ke tulang, membuat kesunyian menyelimuti tempat ini. Dan anehnya, tidak ada orang yang berkunjung ke tempat ini. Anggap saja semua yang tinggal di aprtemen itu adalah orang yang sibuk, hingga tak sempat untuk membuang waktunya datang kemari.
"Kakak aku kedinginan," ucap Hendry sambi memeluk kakiku.
"Kita pergi saja dari sini, sangat dingin."
"Kita jangan ke sana dulu, aku ingin berjalan-jalan dengan Kakak," ucap Hendry dengan mata yang bening meminta.
"Hmm, kita ke pusat kota saja. Atau kita pergi ke taman hiburan, atau kita pergi ke pameran yang ad di sana," kataku beruntun menyarankan pada Hendry.
"Kita tidak usah jauh-jauh, ke pameran itu saja," ujar Hendry dengan lagak dewasanya lagi.
"Oke," sahutku sambil membulatkan jariku.
Aku merasa sedikit pilek karena angin yang ada di taman itu. Apalagi hari ini kondisi tubuhku yang tidak fit dan karena terlalu banyak berpikir keras.
Aku dan Hendry berjalan menuju pameran yang kira-kira jaraknya hanya 200 meter dari sini. Saat di perjalanan aku melihat mobil Ahn Yoo lewat. Dia seperti menuju ke apartemen. Apa yang akan dia lakukan di sana? Dia ingij menjumpaiku atau ingin menjemput Hendry? Atau jangan-jangan dia ingin bertemu dengan aktris itu?
"Hendry, Pamanmu baru saja lewat," kataku sambil menunjuk mobil Ahn Yoo yang baru saja lewat.
"Oh? Biarkan saja, dia hanya bisa mengganggu waktuku bersama denganmu. Nanti kalau tidak lihat Kakak dia akan datang menjumpaimu," ujar Hendry tidak acuh.
"Iya juga, kalau tidak bisa temukan kita di sana dia masih bisa mencari lokasi kita. Tapi bagaimana kalau pamanmu datang bukan untuk mencari kita?" tanyaku pada Hendry.
"Lalu untuk apa lagi?"
"Kamu ingat aktris cantik itu? Sepertinya pamanmu ingin menemuinya," sambungku menebak.
"Hmmm? Paman tidak suka wanita itu, jadi tidak mungkin."
"Dari mana kamu tahu?" tanyaku penasaran.
"Aku tanya langsung pada paman. Aku bilang Kakak cemburu dengan wanita itu, lalu paman jawab kalau dia tidak punya hubungan dengan wanita itu," tukas Hendry menjelaskan percakapan dia dan Ahn Yoo.
"Ha??? Kenapa dibilang? Kakak tidak cemburu sama sekali," tambahku sambil memijat pelipis ku pelan.
"Aku hanya bilang itu kenapa harus malu segala?" decak Hendry melihatku.
Untung saja dia anak kecil yang menggemaskan, kalau tidak sudah ku lempar dengan sendal. Dan aku juga merasa agak senang juga karena tahu kalau memang benar Ahn Yoo tidak memiliki hubungan dengan aktris yang genit itu. Dia bersikap seolah Ahn Yoo dan dia sangat dekat.
"Kakak, apa kita tidak jadi pergi ke pameran? Nanti pameran itu tutup," ucap Hendry mengingatkanku sambil menarik tanganku berjalan lagi.
"Iya iya."
~Pameran~
"Hendry, jangan pernah lepaskan tangan Kakak. Nanti kamu hilang," kataku dan mengeratkan pegangan ku pada tangannya.
"Aku tidak akan hilang," sangkal Hendry yang tampaknya tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil.
"Nanti pamanmu membunuhku kalau tahu kamu hilang," umpatku merasa geli saat membayangkan bagaimana Ahn Yoo akan menghajarku saat tahu keponakannya yang nakal ini menghilang.
Tiba-tiba Hendry menarikku untuk membeli gulali yang ada di sana.
"Kak, aku mau itu," rengek Hendry meminta.
"Ok, kita beli."
Saat sudah ku belikan gulali itu pada Hendry, wajahnya terlihat sangat riang. Tampaknya dia sangat bahagia. Apa dia tidak pernah ke tempat seperti ini? Atau karena dia memang suka dengan gulali, aku tidak tahu.
"Hendry mau apa lagi?" tanyaku padanya.
"Hmm? Kita duduk di sana saja. Aku sudah lelah berjalan tadi," tunjuk Hendry ke arah beberapa bangku yang disediakan khusus untuk pengunjung.
Aku dan Hendry kemudian duduk di sana dan menikmati gulali yang ada di tangan kami masing-masing.
Beberapa saat setelah kami duduk, aku dikagetkan dengan kedatangan Ahn Yoo dan seorang wanita cantik berwajah dewasa di sampingnya. Mereka terlihat ... terlihat sangat mirip.