
"Uhuk ... hukhuk." Ahn Yoo sepertinya tersedak karena tadi aku menyuapkan makanan yang kumasak itu saat dia sedang berteriak.
"Eh? Ahn Yoo? Tunggu biar aku tuangkan minum. Astaga, aku hanya bercanda tadi. Jangan marah ... jangan marah," ucapku dengan panik sambil menuangkan air putih ke gelas. Setelah itu kuberikan kepada Ahn Yoo dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanyaku dengan panik. Tapi sebetulnya, aku lebih takut dia marah dari pada dia tersedak dan sakit setelah itu.
"Ahhh!" rintih Ahn Yoo kesakitan.
Aku langsung memapahnya berjalan ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sana. Karena saat itu dia memegang dadanya. Aku kira dia akan mati tersedak, jadi terpaksa harus membantunya.
"Aku akan telepon dokter, kamu sabar," jelasku sambil membentangkan kaki Ahn Yoo. Lalu berlali mengambil ponselku. Tiba-tiba dia menarik tanganku hingga aku terpental dan jatuh ke atas ranjang.
"Hiyaaaah!" teriakku dengan keras lalu mencoba bangun dan menjauh dari Ahn Yoo. Namun tetap saja, dia menahanku dan terus memegang tanganku.
"Aku masih polos ... aku masih polos ... aku masih polos," ucapku berulang sambil menutup mata.
"Aku tersedak karena kau. Tidurkan aku sekarang juga," perintah Ahn Yoo. Dia meletakkan kepalaku di lengannya lalu memelukku dengan erat. Sangat hangat sampai aku enggan untuk lari dari hangatnya suatu kenyamanan itu.
Ahn Yoo mengecup keningku lalu memejamkan mata setelahnya. Dia benar-benar ingin tidur. Dia tidak melakukan apa pun padaku. Di sini aku sedikit merasa lega kalau dia tisak tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku. Ternyata dia juga orang yang bertanggung jawab.
"Ahn Yoo, kenapa pesanan itu belum juga datang?" tanyaku dengan mulut yang tertutupi dada Ahn Yoo. Karena pelukannya itu terlalu erat, jadi saat bicara suaraku agak terdekap.
"Aku tidak memesan apa-apa," jawabnya dengan santai dan mata yang masih terpejam.
"Bukannya tadi ...." Kalimatku terhenti karena Ahn Yoo langsung menimpali ku.
"Hussst ... aku tidak akan tidur kalau kau berisik."
Anehnya aku malah langsung diam saat Ahn Yoo menyuruhku. Aku terbuai dekapan hangat ini dan menikmati malam yang indah. Dengan leluasa hidungku bisa mencium wangi tubuh Ahn Yoo yang khas. Mataku mulai lelah, aku tertidur dengan senyum tipis di bibirku. Malam yang indah ini mungkin tidak pernah kubayangkan akan pernah terjadi. Dan ketika itu menjadi nyata, aku hanya bisa menikmati dan mengikuti alurnya.
***
Jam bangun pagi seperti biasanya, aku bangkit dari tidur yang nyenyak dan berniat berkemas berangkat kerja pagi. Mulutku terbuka lebar-lebar dan meregangkan otot-otot tubuh yang terlentang sepanjang malam.
"Kenapa kau lama sekali bangun?" Ahn Yoo sudah berdiri di depan cermin dengan hanya handuk kecil warna putih yang menutupi pinggang hingga lututnya. Badanya yang sixpack terlihat jelas di mataku. Bahkan selangkangannya juga terlihat berotot. Pagi-pagi sekali aku sudah disuguhi sarapan yang seperti ini. Bagaimana aku bisa tenang saat bekerja nanti kalau dia seperti ini? Aku akan terbayang-bayang dengan tubuhnya sepanjang hari.
"Belum puas memandangiku seperti itu?" tanya Ahn Yoo menyadarkan ku dari kebodohan ini. Mataku tidak berkedip saat melihat tubuh Ahn Yoo.
Setelah mendengarnya, cepat-cepat aku berhenti menatapnya dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ke-Kenapa kamu tidak pakai baju?" tanyaku malu dan gugup.
"Aku mandi," jawabnya singkat.
"Iya aku tahu, tapi tidak harus telanjang begitu juga, kan?"
"Apa aku harus memakai baju kotor semalam? Kau mengences di bajuku," jawab Ahn Yoo dengan mata sinis.
"Hah?! Aku tidak mengences saat tidur! Ja-Jangan mengarang cerita," elakku dengan emosi. Memang pada dasarnya saat malam alias tertidur, aku tidak pernah mengences. Atau tadi malam karena terlalu nyenyak tidur air liurku keluar tanpa sadar. Aku ingin menggali lubang besar agar bisa bersembunyi di dalamnya.
"Kalau begitu kenapa ada air di bajuku?" tanya Ahn Yoo memberi bukti.
"Ya-Ya mana aku tahu. Bisa jadi badanmu berkeringat. Dan sampai kapan kamu akan seperti itu? Aku merasa ternodai melihat tubuh psikopat sepertimu," sambungku memgalihkan topik pembahasan.
"Sebentar lagi Pak Will akan mengantar bajuku," jawabnya singkat.
"Oh, kalau begitu tunggu saja di luar sana. Aku mau mandi juga. Nanti kamu melakukan hal senonoh padaku," suruhku keluar dari kamar ini.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Kalau aku ingin, semalam pun bisa kulakukan," jawab Ahn Yoo merasa tertantang.
"Benar juga. Tapi kamu keluar sana, aku mau mandi," suruhku lagi.
"Tidak," jawabnya menolak dan tidak mau keluar dari sini.
"Aku mau mandi," rengekku.
"Apa aku terlihat peduli?" Ahn Yoo bersikap apatis lagi padaku. Dia sudah kembali menjadi dirinya yang dingin dan menyebalkan. Dia tetap berdiri di depan cermin itu dan tidak mau mengangkat kaki dari ruangan ini.
"Terserahmu, intinya kamu tidak boleh dekat-dekat denganku. Jaga jarak lima meter," perintahku lalu berjalan ke kamar mandi. Sebelum itu, aku mengambil baju kerja dan akan memakai baju itu di dalam kamar mandi.
***
Beberapa saat kemudian, setelah aku selesai mandi dan memakai baju kerja. Aku pun keluar dari sini lalu mencari Ahn Yoo. Dia tidak ada di sini. Lalu kemana dia berada?
Setelah berjalan ke depan, aku melihat Ahn Yoo duduk di kursi meja makan sambil memegang ponselku. Dia sudah memakai baju, mungkin Pak Will sudah mengantarkan baju itu.
"Apa kamu akan sarapan di sini?" tanyaku sambil mengambil roti dan berniat memberikan padanya.
Namun, Ahn Yoo tidak menjawab dan terus memandangi ponselku. Aku tetap tenang karena memang di ponsel itu tidak ada apa pun yang perlu disembunyikan.
"Ahn Yoo? Kenapa tidak jawab?" tanyaku lagi dan memberinya roti yang sudah ku oleskan selai, lalu duduk dan menikmati roti ini.
"Apa yang kalian bahas setiap malam dengan Ji Seon?" Ahn Yoo bertanya dengan wajah garangnya dan tidak lupa juga dengan mata sinis.
"Hmm? Aku tidak pernah membahas apa pun dengannya," jawabku santai sambil mengunyah roti.
"Kenapa tadi malam dia menelpon mu?"
"Hah? Benarkah?! Jangan-jangan ada urusan kantor. Aku tidak tahu dia menelpon," ucapku dengan suara terkejut. Aku memang benar-benar tidak tahu kalau Ji Seon menelpon ku malam itu. Aku hanya asal bicara mengataknnya pada Ahn Yoo.
"Jangan memgalihkan topik," suruh Ahn Yoo tegas.
"Jangan salah paham dulu. Aku dan Ji Seon tidak pernah bertelepon sama sekali."
"Kau memberi dia nomor ponsel ini padanya, bukan?"
"Kau tidak boleh pergi bekerja selain di perusahaanku," perintahnya dengan kecemburuan tanpa alasan.
"Eh? Kenapa bisa begitu? Orang lain akan mengucilkan ku kalau tahu aku ini tinggal bersamamu. Dan semua orang akan mengira aku adalah wanita murahan yang sedang menggoda laki-laki kaya agar bisa mendapat jabatan tinggi di perusahaan mu," tukasku panjang lebar.
"Kau jadi OB biar orang lain tidak curiga," jawabnya ketus tanpa perasaan.
"Wahhhh! Hebat sekali! Apa kamu tega membiarkan aku jadi OB? Lebih baik aku jadi asisten direktur saja."
"Tidak boleh," lerai Ahn Yoo tidak membolehkan aku bekerja dengan Ji Seon lagi.
"Ahn Yoo yang baik, begini saja. Habiskan dulu roti itu, yah? Nanti bahas soal pekerjaan, ok?" kataku membujuknya untuk melupakan masalah pekerjaan. Aku yakin kalau tidak mengalihkan topik, dia akan bersikeras melarangku untuk bekeeja dengan Ji Seon. Dan akhirnya, kami akan berdebat tanpa ada ujungnya, dan bertengkar kemudian.
"Aku tidak berselera," jawabnya ketus.
"Hmmm? Padahal rasanya enak. Sayang sekali tidak dicoba," balasku menggodanya agar maka roti itu.
"Seenak itu, kah?" tanya Ahn Yoo.
"Makanya dicoba," jawabku meledek.
Ahn Yoo berdiri dan membungkuk kan badannya. Dia memegang kursi itu lalu menggigit bibirku. Dia sedikit mengunyah bibirku lalu tersenyum kemudian. Padahal aku sudah membatu karena ulahnya. Mulutku tidak bisa bergerak lagi karena perbuatannya. Setiap hari hanya bisa menyiksa bibirku. Padahal dia tidak memiliki salah apa pun pada Ahn Yoo.
"Aku sudah kenyang," ujar Ahn Yoo sambil tersenyum.
Aku hanya bisa menatap roti itu dengan pandangan kosong. Lalu berhenti memakan roti itu.
"Kenapa kau menjadi ambigu?" tanya Ahn Yoo dengan mata liciknya.
"Aku membencimu," jawabku dengan tetap masih memandang roti yang ada di tanganku ini.
"Bayaran karena membantah," timpal Ahn Yoo lagi.
"Aku ... membenci ... mu," ucapku dengan pandangan kosong.
"Aku akan mengantarkan mu bekerja," ucap Ahn Yoo lalu menarik tanganku berjalan keluar dari apartemen ini.
Hari yang manis ini harus ditandai dalam sejarah kehidupanku yang kelam. Aku tidak boleh melupakan hari dimana aku merasa ada orang yang masih mewarnai kehidupan yang gelap ini. Aku bahagia meski harus hidup dengan orang yang baru saja kukenali beberapa bulan yang lalu. Aku bahagia bisa mengenal pria dingin tak berperasaan ini. Aku bahagia meski harus hidup dengan kegilaan ini. Meski aku tidak yakin ada orang yang bisa kupercayai, aku tetap bahagia. Aku bahagia bisa dilindungi orang yang hubungannya denganku tidak ada. Aku bahagia mengetahui kalau dia ada dalam hidupku. Meskipun aku tahu ini tidak akan selamanya, aku tetap bahagia.
~Di dalam mobil~
"Jadi kamu tidak akan melarangku kerja dengn Ji Seon?" tanyaku.
"Jangan membahas itu," amuk Ahn Yoo.
"Eh? Aku salah lagi. Aku diam saja, huhu." Aku berpura-pura sedih dan diam seperti anak kecil.
"Pulang kerja kau akan ku jemput," timpal Ahn Yoo mengatur.
"Ha? Dijemput? Kamu yang jemput? Tumben baik," balasku yang masih tertegun melihat kebaikannya itu.
"Jangan mengajakku bertengkar, aku sedang menyetir," tukasnya ketus.
"Oh? Baiklah Tuan Ji, aku akan diam," sahutku meledek.
Setelah sampai di depan perusahaan Ji Seon, Ahn Yoo menyirami ku dengan nasehat panjang-lebar seperti ibu yang tengah khawatir anaknya hilang di pasar. Dia menyuruhku untuk jaga jarak dengan Ji Seon. Dia menyuruhku untuk tidak perlu berbicara dengan siapapun di sana, apalagi Ji Seon. Dan yang paling gokil, dia menyuruhku untuk tidak bertemu dengan Ji Seon. Padahal jelas-jelas aku ini adalah asisten Ji Seon. Ingin sekali menutup mulutnya dan menyuruhnya diam dan tidak perlu memperlakukanku seperti anak kecil.
Aku hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala saat dia banyak oceh menasehati ku. Aku diam dan tidak membantah setiap yang dikatakannya. Namun sudah 10 menit aku dinasehati olehnya, tentu saja telingaku mulai panas mendengar kata-katanya. Akhirnya aku menutup mulutnya dan terus keluar dari mobil yang penuh dengan nasehat ini.
Backkk!
Pintu mobil Ahn Yoo kututup dan langsung ku lambaikan tangan padanya. Namun dia membuka pintu kaca mobilnya dan menatapku dengan wajahnya yang terlihat bingung.
"Aku akan ingat semua yang kamu katakan, tenang saja. Aku tidak boleh dekat-dekat dengan Ji Seon, bukan? Baiklah, aku dengar itu," jawabku memuaskan rasa bingungnya itu.
"Apa yang ...." Sebelum dia siap menyelesaikan kalimatnya, aku langsung pergi dan mengucapkan salam perpisahan padanya.
"Bye bye, Ahn Yoo!" lambaiku padanya.
Aku tidak memikirkan bagaimana reaksinya saat aku langsung memotong pembicaraannya. Mungkin sekarang moodnya akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Aku berjalan penuh tawa ke dalam kantor ini. Setibanya di ruangan Ji Seon, aku melihatnya tengah berdiri menatap keluar jendela.
"Selamat pagi, Pak direktur," sapaku dengan ceria dan senyum lebar di pagi yang cerah ini.
Ji Seon berbalik lalu membalas senyumku dengan senyum simpul, "Jane Soo, kamu sudah datang?"
"Hmm? Iya aku datang. Kenapa kamu masih tanyakan padahal jelas-jelas tahu jawabannya?" tanyaku bergurau.
"Hahahah, itu hanya basa-basi saja. Selamat pagi juga Nyonya asisten," sambung Ji Seon mengulang sahutannya tadi.
"Hahahah, Nyonya asisten? Panggilan yang bagus," decakku sambil tertawa.
"Kamu tampak bahagia hari ini," ucap Ji Seon sambil memperhatikan senyuman yang tidak lepas dari bibirku.
"Hmm? Benarkah? Tapi kamu tampak sedang tidak bahagia. Bahkan senyummu seperti yang sedang dipaksakan," jawabku. Memang Ji Seon terlihat tidak riang hari ini. Saat pertama kali melihat dia, wajahnya sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat bahagia.
"Kenapa kamu selalu tahu suasana hatiku? Aku membenci hal itu. Seharusnya sejak dulu kamu tidak perlu peka terhadap suasana ku, mungkin aku dan kamu tidak akan mengenalmu dan kamu tidak perlu hadir dalam hidupku," ucap Ji Seon tiba-tiba. Dia menggerutui hal yang tidak menyambung dan tidak sesuai dengan pembahasan kami. Padahal yang kukatakan tadi hanya sebuah tebakan asal saja. Tapi dia terlihat murung dan menyalahkan ku.
Aku sangat bingung dengannya, kenapa dia mengatakan kalau aku selalu tahu suasana hatinya? Padahal baru kali ini aku mengatakan tebakan itu padanya. Aku tidak mengerti maksudnya, seolah kami sudah berkenalan sejak lama. Dan dia juga mengatakan kalau dia tidak akan mau berteman denganku waktu dulu. Padahal jelas-jelas aku dan dia baru bertemu beberapa hari yang lalu.
"A-Apa maksudnya? Aku tidak mengerti sama sekali. Kenapa kamu mengatakan hal itu padaku? Aku tidak tahu kalau kamu tidak senang bisa bertemu denganku," ucapku dengan penuh kebingungan.