SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 67



Sudah sore begini, Ji Seon belum juga keluar dari ruangannya. Padahal urusannya tidaklah begitu banyak. Aku penasaran dan memasuki ruangannya.


Saat membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk terlebih dahulu, tidak sengaja aku melihatnya sedang menatap pemandangan dari jendela kaca yang besar ini. Wajahnya murung sekali, sepertinya ada masalah yang sedang dipikulnya.


Aku berjalan dengan pelan agar dia tidak terganggu. Namun dia menyadari kedatangan ku, lalu menyuruh agar masuk ke dalam.


"Kenapa kamu kelihatan sangat sedih?" tanyaku sambil menatap matanya dengan iba. Aku turut merasakan kesedihan yang dialaminya.


"Bisakan aku meminjam bahumu?" balas Ji Seon dengan wajah murungnya.


Dia sahabat yang sering menghiburku saat sedih dulu. Bahkan dia menghabisakan banyak usaha hanya untuk membuatku tidak murung. Tentu saja sekarang saatnya aku harus membalas kebaikannya. Tanpa diminta pun aku tahu harus melakukan apa.


Aku memeluknya dengan erat agar dia merasa bebannya sedikit berkurang. Walau tidak teratasi, setidaknya bisa mengurangi rasanya.


"Kenapa denganmu? Apa ada masalah?" tanyaku setelah dia melepaskan pelukannya.


"Aku menyukai seorang wanita, tapi dia sudah milik orang lain. Apakah aku seburuk itu?" terang Ji Seon.


"Ha? Tentu saja kamu terlalu baik untuknya, cari wanita lain saja. Jangan jadi pria manja," jawabku.


"Aku sudah yakin kalau kamu tidak bisa mengobati kesedihanku," decak Ji Seon.


"Apa?! Katakan siapa wanita itu! Aku akan menghajarnya karena sudah membuat kamu sakit hati!" sambungku mengamuk.


"Dia ada di sini," jawab Ji Seon menunjuk ku.


Aku terdiam sejenak, dia membuatku bingung dan ketakutan. Rasanya cukup menakutkan kalau Ji Seon menyukaiku. Dari dulu aku selalu mengira kalau dia tidak pernah menaruh rasa padaku. Tapi akhir-akhir ini dia menjauh dan mengelak untuk dekat denganku. Ataukah dia memang benar menyukaiku atau hanya bercanda, aku tidak tahu.


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan raut tegang.


"Hahahah ... aku hanya bercanda," ungkapnya sambil tertawa terbahak-bahak sudah berhasil membuatku panik.


"Sialan! Aku membencimu," umpatku mengamuk.


"Aku disuruh ayahku pindah ke Shanghai mengurus perusahaannya," timpal Ji Seon.


"Bukankah itu bagus, kamu bisa lebih sukses dari sekarang," jawabku.


"Tidak, aku masih ingin menunggumu," tukasnya dengan wajah serius. Kali ini dia tampak tidak berbohong atau berniat bercanda.


"Ji Seon, kalau kamu memang ingin pergi aku pasti akan sedih. Aku kesepian jika kamu meninggalkan ku. Aku tidak memiliki hubungan sedekat itu dengan orang lain, selain dirimu. Jadi jangan tinggalkan aku," pintaku dengan tulus.


"Hmmm, nanti akan ada orang yang menggantikan posisi ku," balasnya


"Kapan kamu akan pergi?" tanyaku yang juga ikut bersedih mengingat dia akan pergi.


"Tiga hari lagi," jawabnya singkat.


Seketika aku merasa kalau hidupku kehilangan satu nyawa. Aku sangat senang karena memiliki orang terdekat di hamparan kota tak kukenali ini. Rasanya aku ingin ikut dengannya, tapi tidak kuat melepaskan Ahn Yoo. Aku menginginkan mereka berdua ada di hidupku. Sangat egois, tapi itulah kenyataannya.


"Yap, jadi kita harus banyak menghabiskan waktu bersama," celetuk ku sambil menghapus air mata yang sedikit keluar. Aku tidak sanggup kehilangan Ji Seon untuk kedua kalinya. Tapi takdir kami memang dituliskan sudah harus berpisah. Kalau memang sudah berjodoh, kami pasti akan bertemu lagi.


"Apa kamu tahu kalau aku datang ke kota ini hanya karena kamu, dan aku pergi juga karena kamu," kata Ji Seon.


Dia membuatku bingung, kenapa juga dia bilang pergi dari sini karana aku. Mungkin dia datang ke sini karena aku, bisa dimaklumi. Tapi kalau pergi karena aku, apa alasannya?


"Kenapa pergi karena aku?" tanyaku kebingungan.


"Sudahlah, aku akan sering mengunjungi mu nanti," jawabnya mengelak dari pertanyaanku.


"Hey, katakan kenapa kamu pergi?" tanyaku mendesaknya.


"Sudah sore, Ahn Yoo akan mengamukiku jika tahu tidak memulangkan kamu. Pulang sana," suruh Ji Seon dengan mengusir ku pergi. Caranya sangat kejam.


"Aku tidak mau," jawabku menolak.


"Aku akan mengantarkan kamu pulang," ucapnya dengan nafas panjang.


"Apa kamu tidak capek? Seharian tak pernah istirahat. Kalau aku sudah tidur di ruangan ku tadi, jadi tidak terlalu capek," terangku.


"Tidak," jawabnya singkat. Wajah Ji Seon benar-benar sangat murung. Dia bahkan tidak bersemangat. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya dariku. Dia tidak mengatakan kebenaran alasan mengapa dia murung sekali.


Saat di dalam mobil pun, wajahnya masih murung. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, dia tidak berbicara atau melihtaku. Matanya hanya fokus pada jalan. Aku ingin menanyakan alasannya, tapi dia seperti tidak ingin berbagi keluh padaku.


"Ji Seon, kalau aku membutuhkanmu, apa kamu akan datang?" tanyaku sambil menatap matanya dengan dalam.


"Aku akan datang," jawabnya tanpa menoleh.


"Bahkan jika aku membutuhkan mu jam 12 malam?" tanyaku lagi berniat membuat hatinya sedikit baikan.


"Aku sudah tertidur jam segitu," jawabnya bergurau.


"Kalau kamu di Shanghai, lalu aku membutuhkan mu besok, apa kamu akan datang?" tanyaku lagi.


"Besok? Bahkan ketika aku sedang di pesawat, aku akan datang menemuimu," jawabnya lalu menatapku.


"Hahahaha ... berjanji padaku. Kalau kamu ingkari janji itu lagi, jangan pernah mengenal ku lagi," umpat ku.


Ketika diperjalanan, aku melihat cafe baru yang sangat cantik. Ukuran bangunannya tidak besar, tapi sangat unik. Cafe itu dicat dengan warna kuning cerah. semua yang ada di dalamnya juga berwarna cerah.


"Ayo ke sana. Sebentar saja, yah?" ajak ku memohon pada Ji Seon.


Mau tidak mau Ji Seon menuruti permintaan ku. Dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam cafe unik ini bersama.


"Mau pesan apa?" tanyaku pada Ji Seon sambil memegang menu makanan.


Setelah kami memilih makanan dan menyampaikan pada karyawan di cafe mungil ini.


"Wah ... imut sekali tart ini, oh my God, rasanya juga enak," ucapku bak selebgram yang sedang promo makanan.


"Kenapa kamu alay sekali?" ledek Ji Seon.


"Makan yang banyak, kita harus menghabiskan banyak waktu bersama. Dua hari lagi, hanya dua hari," pungkas ku mengingatkan Ji Seon.


Dia hanya bisa diam dan tersenyum membalas setiap kalimat yang kukatakan. Hingga akhirnya hari semakin malam, dia mengantarkan aku pulang.


"Hati-hati di jalan, Pak direktur," tutur ku saat sudah turun dari mobilnya. Aku melambaikan tanganku sembari tersenyum senang.


Dengan hati yang sedikit sedih karena akan berpisah dari Ji Seon, aku menatap mobilnya yang melaju semakin jauh dari pandangan ku. Setelah bayangannya lenyap, degan meneguhkan hati, aku berjalan menuju apartemen. Seharian tidak berbaring rasanya sangat melelahkan.


Ketika membuka pintu apartemen ini, aku dikejutkan dengan keberadaan Ahn Yoo di dalamnya.


Braaak!


Tas yang ku sandang terjatuh ke lantai. Seketika tanganku tak mampu menopang segalanya. Nafasku tercekat saat melihat isi ruangan ini. Air mata dengan sendirinya keluar meski tidak ada niat untuk menganggap semua ini adalah kesalahan.


Aku membenci semua yang ada di diriku. Bahkan nafas yang dihembuskan saat ini adalah pertolongan darinya. Semua yang ku nikmati saat ini adalah berkat dirinya.


Aku yang tak sadar telah memasuki dunia yang kejam malah menikmatinya dengan senyuman. Meski awal yang menyakitkan, selama proses itu berjalan, aku bahagia. Jika tahu akhirnya juga menyakitkan, untuk apa mempersilakan diriku masuk ke dalamnya.


Bukan, aku yang bodoh karena membiarkan perasaan ini jatuh ke dalam lubang kegagalan yang penuh dengan kehampaan. Aku sudah mengetahui kalau akhirnya akan seperti ini, tapi karena kebahagiaan sesaat itu, aku membohongi diri sendiri. Dan yang tersakiti adalah diriku sendiri.


Tidak boleh menangis, begitulah yang kukatakan pada diriku. Toh aku selalu merasakan penghianatan setiap kali sudah mempercayai. Dari kecil pun aku selalu ditinggalkan oleh orang yang ku anggap berarti. Ibu dan ayah yang meninggal saat usia masih remaja, paman yang baik dan perhatian padaku pun pergi. Dan sahabat yang kusayangi meninggalkan aku sendiri dengan kenangan. Sakit ini sudah aku tanggung sendiri dari dulu, kalau hanya karena melihat kejadian ini, tidak ada bandingnya.


Lagi pula hak Ahn Yoo untuk bermain dengan wanita manapun. Aku hanya mainan baginya, dia sudah mengatakan itu di awal. Dan tentu saja aku tahu diri, ketika kehadiaranku sudah tidak diinginkannya lagi, aku akan pergi. Janjiku sudah terpenuhi, aku sudah bisa meninggalkan Ahn Yoo.


"Ma ... maaf, ma-maaf sudah mengganggu kalian," ucapku lirih lalu berbalik pergi meninggalkan apartemen itu dengan air mata yang mengalir deru tak kunjung berhenti.


"Jane .. Soo?"


Aku menahan rasa sakit ini sambil berlari tak tahu arah tujuan. Sambil menghapus air mata aku menahan sakit ini meski harus tertanam di belenggu yang kuat.


Ahn Yoo, kenapa bisa dengan mudahnya berpaling dariku? Apakah dia dari awal tidak menaruh perasaan padaku? Semua yang dilakukannya adalah kebohongan semata agar aku semakin sakit jika sudah berpisah.


Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat pria yang kusayangi berpelukan dengan wanita lain. Bahkan wanita itu sampai terlihat menikmati setiap detik bersama dengan kehangatan yang diberikan Ahn Yoo. Dengan senyum licik Xia Len tersenyum padaku. Dia seperti menandakan kalau dirinya sudah menang.


Selama dua hari tidak berada di sini, aku tidak bisa menjamin hubungan mereka sudah sejauh apa. Pantas saja pria brengsek seperti Ahn Yoo itu semalam memilih untuk tidur di apartemen. Ternyata alasannya karena ingin bercumbu dengan Xia Len.


Aku yang terlalu naif mengira orang besar seperti Ahn Yoo menyukaiku. Dia tentu saja lebih memilih Xia Len yang cantik, terkenal dan memiliki segalanya. Tidak sepertiku yang hanya berasal dari keluarga miskin tak berstatus.


Hariku seperti terhenti dan tidak berarah lagi. Aku hancur dan tidak menghargai waktu. Rasanya ingin berteriak dengan keras dan melampiaskan kemarahan ini.


Aku berlari dengan isak tangis di wajah ke taman sepi yang tidak jauh dari apartemen ini berada. Di jalan yang sepi ini, aku berteriak dengan keras.


"Aaahhhhh!!! Kenapa aku selalu terbuang ke tempat yang gelap?!!! Bisakah aku hidup dengan damai meski tak bergeming kan harta! Aku hanya ingin ketenangan, hanya itu, hanya itu!" teriakku leluasa. Aku duduk menyandarkan beban ini di balik pohon cemara yang besar. Aku ingin sendiri, aku membutuhkan kegelapan, aku tak butuh arah, aku tidak menginginkan apa pun selain kesendirian.


Dengan bodohnya aku menganggap Ahn Yoo serius menyukaiku, dia mencintaiku. Ternyata tidak, dengan waktu sesingkat itu dia sudah berduaan dengan wanita lain. Mereka berpelukan dengan mesra. Bahkan baju Xia Len saat itu seperti pakaian untuk orang yang akan bercumbu. Mungkin saja kalau tadi aku lama sedikit membuka pintu, mereka sudah masuk ke tahap yang lebih intim.


Aku menginginkan hujan untuk menutupi tangis yang tidak hentinya mengalir. Aku malu dengan diri sendiri karena menangis demi orang yang tidak menganggap ku berarti.


Setiap ciuman yang diberikannya hanyalah senjata untuk mempermainkan aku. Setiap kasih sayang yang ditunjukkan padaku, hanya bahan pelengkap untuk mempermainkan aku. Bahkan setiap momen kebersamaan kami hanyalah sebuah ilusi. Hanya aku yang menganggap itu penting dan berarti. Dia sama sekali tidak merasakan hal yang sama denganku.


Jadi untuk apa semua kebaikan itu diberikan padaku? Aku bukan siapa-siapa baginya, lalu untuk apa dia memberikan sikap yang berbeda padaku?


Aku membenci perasaan ini, seharusnya dari dulu aku tidak perlu meminta bantuannya, maka pertemuan ini tak akan berlanjut lebih jauh. Seandainya dia tidak perlu membantu ku, mungkin budi ini tak akan terjadi. Jika saja rasa ini tidak terlalu dalam, maka rasa sakitnya pun tidak akan sehancur ini.


Aku tenggelam di dalam perasaan ini, aku karam di dalam cinta yang tidak terbalas. Mungkinkah hati ini akan kuat untuk mengulang kesalahan lagi? Akankah jika dia kembali lagi padaku, aku harus menerima luka itu datang?


Aku menyukai semua kejadian yang pernah kami lalui. Setiap momen akan terlukis indah di ingatan ini. Bagaimana sikapnya yang manis itu ditujukan padaku, dia yang suka memandangku dengan mata tajamnya. Senyumnya yang licik, lidahnya yang tajam meski ditutupi bibir yang indah. Semua aku sukai, meski sekarang harus ku sesali.


Setiap kejadian yang digambarnya untukku, akan selalu ku ingat meski perih. Bagaiaman setiap kali bertemu dengannya jantungku berdegup kencang. Tempat yang menjadi latar untuk setiap monen indah itu, sanagtlah membekas.


"Aku mencintaimu, dan sekarang membenci mu. Setiap hal yang kamu berikan adalah kesalahan, setiap yang kuanggap indah adalah kebohongan. Aku harap kita tidak perlu bertemu lagi," ucapku sambil menatap bulan yang sama sunyi seperti keadaanku saat ini.


"Jane Soo!"


Suara itu bergema di telingaku. Aku tidak mengharapkan kehadirannya, tapi tetap saja dia membuat hatiku berat meninggalkan. Namun kepercayaan itu sudah tidak berfungsi lagi padanya. Sekali pun dia mengancam untuk membunuh ku, aku tidak akan percaya.


Aku langsung berdiri dan memegang hati yang saat ini bagai ditancap panah yang menyakitkan. Aku tak sanggup melihat wajahnya. Aku berjalan tanpa menoleh ke arahnya. Aku sudah mengukir kata perpisahan untuknya.


"Berhenti! Kuperingatkan kau untuk tidak melangkah lagi!" perintah Ahn Yoo dengan suara keras.


Aku tak menghiraukan setiap yang dikatakannya. Aku tidak peduli dengan ancamannya. Hutangku sudah lunas padanya, yaitu pergi saat dia menyuruh ku untuk pergi. Meski dia tidak mengatakan itu, namun tindakannya sudah mengatakan kalau dia tidak membutuhkan aku lagi.


"Terima kasih, Ahn Yoo. Aku tidak akan pernah membalas kebaikanmu padaku. Dan maaf karena tidak menepati janjiku," ucapku dengan air mata yang mengalir deras. Setiap tetesan itu jatuh ke dasar jalan yang sepi ini. Hanya angin dingin yang menyaksikan kami. Sangat menusuk, tapi rasa dingin ini tidak ada bandingannya dengan luka dalam yang kurasakan saat ini.


"Diam di sana gadis bodoh!" perintah Ahn Yoo. Dia berjalan dengan cepat mengejarku yang terpaku seribu bahasa dalam benak. Dia menarik tanganku dan memegang wajahku kemudian.


Dia menghapus air mataku dengan tangannya yang hangat. Lagi-lagi dia memperlakukan aku dengan lembut. Tapi, semua yang diberikan olehnya tentu saja sudah dilakukannya pada wanita lain. Semakin aku menatap rupanya, hatiku sangat sakit.


"Jauhkan tangan kotormu dari wajahku!" senggakku lalu menepiskan tangannya dari wajahku. Aku mendorong tubuhnya dengan keras lalu berlari sekuat tenaga agar bisa jauh dari hadapannya. Meski tidak tahu arah, aku harus pergi.


"Aku mencintaimu," ucap Ahn Yoo untuk pertama kalinya.


Saat dia mengatakan itu, hatiku semakin sakit. Air mata pun kembali menderu membasahi pipiku. Sangat sakit, dengan mudahnya kata cinta diucapkan olehnya. Dia kembali menahan diriku dengan dekapan dari belakang. Dia memaksa ku tetap di sini. Dia tidak membiarkan ku terlepas darinya.


"Dia menjebak ku, percayalah. Aku tidak menginginkan wanita selain kau," ungkap Ahn Yoo dengan suara yang terdengar berat. Dia sagat tulus mengatakannya. Detak jantungnya pun berpacu dengan cepat. Nafasnya yang tersengal-sengal membuat hatiku berat untuk tidak mempercayainya. Namun, dia dan aku hanya aka menjadi luka diantara kami.


"Lepaskan aku ... aku mohon ... lepaskan aku, aku sudah lama menantikan perpisahan ini. Aku tidak ingin tenggelam lebih jauh lagi. Aku mohon ... lepaskan aku," ucapku dengan lirih.