
"Jangan menipuku," seru Ahn Yoo yang tidak percaya dengan akting sakit yang kulakukan. Padahal menurutku mimik dan intonasi yang kubuat sudah persis seperti orang yang benar kesakitan. Tapi CEO yang peka ini langsung bisa mengetahui kalau aku hanya pura-pura saja.
"Leherku sakit," rengekku manja dan terus melanjutkan sandiwara yang sudah terbongkar ini.
"Bangun," perintah Ahn Yoo yang tidak peduli.
"Berjanji kalau kamu tidak akan mengamukiku," pintaku dengan wajah cemberut.
"Tidak," jawabnya menolak untuk berjanji. Itu artinya dia akan mengamuk padaku.
"Ok, tapi bisa jauhkan wajahmu dariku. Terlalu dekat, aku ... aku tidak bisa bergerak," suruhku. Wajahnya terlalu dekat denganku hingga badanku tidak bisa digerakkan karena jantung yang tidak berhenti berdetak dengan kencang.
"Katakan kenapa kau tidak turun?!" tanya Ahn Yoo dengan nada keras, dan semakin mendekatkan wajahnya ke depan mataku. Bahkan wangi nafas yang berhembus dari mulutnya itu sampai meniup mataku yang tidak bisa berkedip sangking gugupnya.
"Badanku sakit," jawabku dengan manja. Melihat sikap Ahn Yoo yang tidak ada sabar dan tidak bisa menunggu lama, dia mengangkat ku lalu membawaku pergi dari sini. Aku tidak masalah kalau dia membawaku pergi, tapi posisiku ini sangat memalukan, dia menggendongku layaknya seorang pencuri manusia saja. Dia meletakkan aku di bahunya lalu membawaku pergi.
"Kyaaa! Ahn Yoo! Apa yang kamu lakukan?! Aku ... aku seperti gadis yang akan dijual saja!" teriakku sambil memukul badannya dengan berulang.
"Jangan banyak gerak," perintah Ahn Yoo yang sudah terlihat muak melihat kelakuanku seperti anak kecil.
Karena terus berontak dan tidak bisa diam, akhirnya psikopat dingin ini menurunkanku dan menyuruhku berdiri tanpa bergerak sama sekali. Kalau dia terus menggendongku seperti itu, yang ada aku tidak bisa menatap mata orang yang tinggal di sini. Apalagi ini tempat dimana pria tampan bersarang. Dimana kuletakkan muka ini kalau bertemu dengan mereka?
"Kenapa kau tidak turun?!" senggak Ahn Yoo kesal. Mungkin dia akan menghukum ku karena lancang menolak suruhannya.
"Eh ... itu, aku ... aku ingin istirahat," jawabku membual. Pada faktanya, aku tidak ingin turun karena masih kesal melihat Ahn Yoo. Dia tidak ingat akan menjemputku pulang bekerja, padahal dia sudah berjanji.
"Jangan menipu," seru Ahn Yoo.
"Eh? Ti-Tidak, aku tidak menipu. Aku ini sangat jujur," jawabku gagap.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Ahn Yoo yang tiba-tiba perhatian padaku. Bulu kudukku langsung berdiri karena sikapnya yang berubah secara mendadak. Aku tidak tahu harus jawab apa. Tidak mungkin kakak kalau leher belakangku pegal. Takutnya dia melakukan hal gila di sini. Apalagi hanya kami berdua di apartemen ini. Meraung minta tolong pun tidak ada yang dengar.
"Tidak ada! Tidak ... ada, hehe," ucapku dengan tegas dan mengelak untuk jawab dengan jujur. Setelah membayangkan kejadian yang akan terjadi apabila dia memijat leherku, aku menolak untuk memberi tahukan padanya.
"Lagi-lagi kau menipuku. Dengan apa kau harus menebus ini?" sergah Ahn Yoo dengan tatapan mengerikan. Wajahnya tampak kesal setelah merasa kupermainkan. Padahal aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, aku hanya menghindari amukannya dan juga takut kalau dia akan melakukan hal yang tidak-tidak.
"Eh begini, kamu jangan salah paham dulu. Aku hanya ... hanya," sambungku gugup. Aku mundur beberapa langkah mundur karena takut dia akan menghabisi nyawaku.
"Katakan!" senggak Ahn Yoo. Lalu dia menarik tanganku dan tidak membiarkanku bergerak dengan leluasa. Dia memaksaku untuk tetap menatap wajahnya dan tidak boleh berpaling.
"I-Itu, aku hanya ... hanya suka menjahili mu saja," pungkas ku sambil menutup mata. Aku tidak ingin melihat wajahnya yang menyeramkan setelah kukatakan kalau aku suka menjahilinya.
"Ck, aku menghargai hobi bodoh itu," bisik Ahn Yoo ke telingaku. Lalu dia menggigit daun telingaku pelan dan mulai menciumi tengkuk leherku dengan lembut. Tangannya mulai meraba bagian perutku dan semakin naik ke bagian dada seirama dengan nafasnya yang memburu leherku. Untung saja aku langsung menepiskan tangannya dari perutku dan menganggapku tangannya yang liar agar tidak bisa menyentuhku. Tapi mulutnya masih tidak berhenti menjejali leherku, bahkan dengan tangan yang ku tahan agar tidak menyentuhku.
"Ahn Yoo! Berhenti, aku ... aku tidak suka kamu begini," gusarku menyuruhnya berhenti mengecup leherku dengan buas. Aku tidak mau kalau leherku merah gara-gara bekas tanda yang di tinggalkannya.
"Aku juga tidak suka dipermainkan," jawabnya lalu berhenti mencium leherku.
"Aku salah, jadi kamu tidak perlu melakukan itu lagi," perintahku sambil mengakui kesalahan karena sudah mempermainkannya.
"Lepaskan tanganku," cetus Ahn Yoo sambil menunjuk tangannya yang belum ku lepaskan. Aku masih khawatir dia akan melakukan hal mengerikan lainnya. Jadi aku tidak melepaskan tangannya.
"Tidak, aku tidak akan lepaskan sampai kamu keluar dari sini. Aku tidak mau berdua dengan laki-laki beringas sepertimu," pungkas ku dan menolak untuk melepaskan tangannya.
"Aku tidak akan keluar," tukas Ahn Yoo.
"Aku tidak akan lepaskan tanganmu kalau tidak keluar dari sini," sambungku lagi dengan tegas.
"Terserah," balas Ahn Yoo keras kepala. Aku sudah yakin dia tidak akan mau pergi dari sini kalau belum puas menggangguku.
"Aku akan antar kamu keluar," ucapku lalu menarik paksa Ahn Yoo keluar dari kamarku. Aku membawanya pergi dari apartemen ini dan menarik tangannya sampai ke depan mobilnya.
~Parkir mobil~
"Tuan Ji yang baik hati, aku mohon pulang ke rumah. Aku yakin pekerjaanmu masih banyak menumpuk di sana. Jadi demi menghemat waktu yang mendekam pulanglah," ujarku puitis dan membujuknya agar pergi dari sini.
Makin dipaksa pergi dia semakin ingin tetep di sini. Aku saja yang bodoh mengikuti rencana yang dirancangnya dari tadi. Sebenarnya ahn Yoo sengaja membiarkanku untuk mengantarnya ke parkiran agar dia bisa membawaku pergi.
"Naik," suruhnya dengan nada arogannya.
"Aku tidak masuk ke dalam mobil," tukasku dengan tegas.
Mendengar jawaban dariku yang tidak mau menaiki mobil, Ahn Yoo mendekat dan mengancam akan menciumku di sini.
"Apa kau tahu rasanya ciuman di tempat umum?"
"Ba-Baiklah, aku naik sekarang, heheh," jawabku dan langsung membuka mobil untuk masuk ke dalam. Tanpa pikir panjang aku menuruti perintahnya. Aku kenal bagaimana Ahn Yoo, kalau sudah bicara dia tak akan pernah main-main. Kalau saja tadi aku tetap membual naik ke dalam mobil, tahu ada dia akan menciumku di sini. Ada CCTV dan beberapa orang yang memantau kami. Terpaksa aku harus mengikuti dan mengalah lagi dengan Psikopat dingin ini.
~Dalam mobil~
"Ekhem, kita akan kemana?" dehemku untuk menghilangkan kesenyapan yang membuat suasana semakin mencekam.
"Bandara," jawab Ahn Yoo singkat.
"Untuk apa?! Jangan bilang akan menjualku ke luar negeri," responku berlebih. Aku ini masih saja bodoh mengira Ahn Yoo akan menjualku. Aku masih teringat satu dulu dia bilang akan menjadikanku alat balas dendam. Tapi ternyata dia hanya mengancam saja dan benar total akan melakukan itu.
"Kau jelek, siapa yang mau?" hardik Ahn Yoo mengejekku dan memandang dengan rendah diriku. Dia terlalu menyepelekan ku. Jelas-jelas banyak orang yang ingin denganku, takut dia malah memandang diriku sebelah mata. Bahkan dia saja suka dekat-dekat denganku, malah mengatakan kalau tidak ada yang suka denganku.
"Jangan katakan aku ada di sana," potong Ahn Yoo saat aku masih bicara. Dia tidak ingin aku menyebutnya menyukaiku. Aku memang tidak akan menyebut namanya. Karena aku tahu dia tidak suka denganku. Dan lagian aku sadar diri kalau dia tidak akan serius ingin denganku. Seleranya bukan aku yang tidak memiliki keunggulan apa pun. Ji Seon suka padaku juga karena dulu aku dekat dengannya. Kalau bukan karena masa lalu, mana mungkin dia sudi perhatian denganku.
"Tidak, kamu tidak termasuk. Kamu membenciku, jadi tidak masuk dalam kategori orang yang suka denganku," tukasku.
"Cih, wanita bodoh," pekik Ahn Yoo sambil tersenyum samar-samar.
"Tapi kita untuk apa ke bandara, Ahn Yoo?" tanyaku lagi penasaran.
"Hanya ingin," jawabnya apatis.
"Kamu tidak ingin menjualku, kan?" kataku sekali lagi. Sebenarnya aku juga khawatir kaku dia akan menjualku. Mengingat dia tidak pernah membawaku ke bandara. Aku jadi takut kalau dia berniat tidak baik padaku. Secara dia sangat paksa akan membawaku.
"Sekali lagi bicara, kau akan ku jual," ancam Ahn Yoo menakutiku.
Mendengar dia mengatakan itu, lantas aku diam dan tidak banyak tanya lagi. Aku takut dia benar akan menjualku. Tapi aku masih penasaran kenapa dia membawaku ke bandara? Tidak mungkin dia ingin ke luar negeri denganku. Atau dia sedang menjemput seseorang di sana? Tapi siapa? Kenapa aku juga perlu ikut dengannya?
~Bandara~
Tidak lama kemudian, tibalah kami di bandara. Tidak tahu untuk apa kemari, intinya dia membawaku. Tujuannya tidak jelas untuk apa membawaku. Kaku dia sedang menunggu rekan bisnisnya, untuk apa aku juga ikut bersamanya?
"Pegang tanganku," perintah Ahn Yoo.
"Untuk apa? Aku tidak biasa memegang tangan laki-laki," jawabku yang malu.
"Kau itu bodoh. Kalau hilang yang repot juga aku," ucapnya dengan kasar. Menyakitkan sekali, sampai hatiku merintih karena kalimat sederhana tapi menusuk ini. Kalau tidak mau direpotkan kenapa harus membawaku? Aku juga lebih suka tidur di kamarku dari pada ikut dengan Psikopat dingin seperti dia.
Aku langsung memegangnya dengan erat dan mengikutinya langkahnya yang elegan. Berjalan bergandengan dengan Ahn Yoo di depan halayak ramai membuatku gugup dan tidak berani memandang wajah orang yang berada di sini. Aku hanya menunduk dan tidak berani mengangkat wajahku.
"Kenapa kau sebodoh itu?" tanya Ahn Yoo yang heran melihatku seperti sedang menutupi wajah dari orang.
"Ha? Oh? Ini aku malu karena bergandengan denganmu. Nanti yang ada aku akan dihujat tidak pantas dengammu kalau orang lain melihat," jawabku sambil menutup wajah dengan tanganku.
"Bersikap seperti biasanya kalau tidak ingin memperlakukanku," ujarnya. Aku melawan rasa malu ini dan rasa takut akan digosipin orang lagi. Dengan mengehembuskan nafas panjang aku mulai berjalan dengan percaya diri.
"Ahn Yoo," panggilku dengan suara kecil.
"Hmmm," sahutnya.
"Kita untuk apa datang ke sini?" tanyaku ragu.
"Untuk ini," jawab Ahn Yoo sambil menatap segerombolan orang yang baru saja tiba dari luar negeri. Aku tidak mengerti apa maksud dari yang dikatakannya. Tapi dia terus menatap orang banya yang baru tiba dari negara China. Dia tidak mungkin datang menjemput rekan kerjanya secara pribadi seperti ini. Lalu untuk apa dia kemari?
"Maksudnya apa?" tanyaku yang kebingungan.
Dia tidak menjawab pertanyaanku dan terus memandangi segerombolan orang di sana. Melihatnya yang begitu antusias, aku pun memandangi kerumunan ini. Dan tidak sengaja melihat Xia Len berjalan di sana.
"Apa dia yang sedang ditunggu Ahn Yoo?" tanyaku dalam benak sambil menatap wajahnya.
Tidak salah lagi, Xia Len tersenyum ke arah kami dan berjalan mendekat. Ternyata Ahn Yoo repot-repot datang kemari hanya untuk wanita menyebalkan ini. Untuk apa dia membawaku bersamanya kalau hanya untuk ini? Hatiku sakit sekali. Aku melepaskan genggamanku dan menundukkan kepala. Aku tidak sanggup menatap mereka saling tersenyum nantinya.
"Kenapa wajahmu terlihat tidak senang seperti itu gadis manis?" Seorang wanita tua datang menghampiri kami sambil tertawa ramah.
"Ha? A-Aku ti-tidak begitu, Nenek," jawabku sambil tertawa paksa. Aku bingung kenapa Nenek ini sangat ramah padaku? Perasaan aku tidak pernah bertemu dan tidak mengenalnya sama sekali? Tapi kenapa dia bertindak seolah kami dekat?
"Panggilan yang akrab," timpal Ahn Yoo tiba-tiba.
"Aku tidak mengenal Nenek ini sama sekali," bisikku pada Ahn Yoo.
"Dia Nenekku," jawab Ahn Yoo.
"Apa?! Jadi kamu bukan ... untuk ... itu ... tapi dia," ucapku tidak jelas. Sampai Nenek Ahn Yoo tersenyum lebar saat aku bertingkah seperti itu. Sebenarnya aku kira dia datang dan mengajakku ke bandara untuk menjemput wanita yang bernama Xia Len itu. Ternyata dia menjemput neneknya. Aku sudah salah sangka dan sempat sakit hati. Aku jadi merasa bersalah pada Ahn Yoo.
Melihat Neneknya Ahn Yoo sangat bahagia melihat kami yang secara khusus datang menjemputnya, aku jadi merasa dekat dengannya. Aku kira keluarga Ahn Yoo akan jahat padaku seperti di drama Korea yang sering kutonton. Keluarga yang tidak merestui penerus mereka berhubungan dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya.
Aku membungkuk dan memberi salam kepada Nenek Ahn Yoo.
"Halo, Nenek."
"Gadis yang manis, kemari," panggil Nenek Ahn Yoo sambil tersenyum simpul.
Aku dengan ragu mendekati Nenek ini lalu menatap mata Ahn Yoo berharap dia memberi aku isyarat apa pun. Aku belum mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Neneknya, dan tidak tahu harus bicara apa dengannya. Ahn Yoo sialan itu sengaja melakukannya atau tidak, aku pasti akan membalasnya.
"Jadi apa Jiyu sudah melamarmu?" tanya Nenek tiba-tiba, sampai batinku tersentak karena bingung harus jawab apa.
"Eh? Aku dan Ahn Yoo tidak ada hubungan apa-apa, Nenek," jawabku menjelaskan padanya. Tapi nenek gaul ini malah tidak percaya dan terus berpegang teguh dengan anggapan kalau aku dan Ahn Yoo memiliki hubungan spesial.
"Nenek melihat kamu dan Ahn Yoo berpegang tangan, tapi setelah Nenek mendekat, kamu melepaskan tanganmu," ungkap Nenek Ahn Yoo sambil mengelus rambutku.
Rasanya aku ingin menjelaskan pada mereka, kalau aku melepaskan tangan karena patah hati sudah mengira Ahn Yoo datang kemari untuk Xia Len. Tapi jika aku mengatakannya, Ahn Yoo akan tahu kalau aku suka padanya.
"Ha? Hahahah ... tidak, Nenek. Ahn Yoo takut aku hilang dan merepotkannya," jawabku menjelaskan.
"Tuan Ji!" sapa Xia Len yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah perbincangan kami.