SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 41



"Hmmm? Oke," jawabku.


"Nanti aku akan menjemputmu jam 8 malam," sambung Ahn Yoo.


"Kita tidak pergi sekarang?" tanyaku agak sedikit kecewa.


"Hmmm," angguk Ahn Yoo dingin.


Dia pulang ke rumahnya dan akan menjemputku nanti malam. Hari ini aku ada acara dinner bersama Ahn Yoo, membayangkannya saja aku sudah bahagia.


Aku masuk ke dalam apartemenku dan memilah baju yang akan ku kenakan nanti saat dinner bersama Ahn Yoo.


"Tidak, yang ini tidak, dan yang ini juga tidak," kataku saat memilih baju yang digantung di lemari.


Bahkan aku sudah membongkar semua isi lemariku, tapi tidak ada yang cocok menurutku. Kepalaku sampai pusing harus memakai apa. Padahal semua baju yang ada di dalam lemariku bermark.


Tidak usah memikir pakaian dulu, aku mandi dan berdandan untuk malam ini. Membutuhkan waktu satu jam hanya untuk itu saja. Sisa waktuku tinggal sedikit lagi untuk mencari baju yang akan kupakai.


Ini puncak masalahnya, aku sangat sulit untuk menentukan mana yang paling bagus. Semuanya tampak bagus, jadi aku harus memilih yang paling pas.


Drrtt-Drrtt!


Ponselku bergetar, Ahn Yoo menelponku.


"Halo," sapaku.


"Aku sudah di jalan," kata Ahn Yoo kemudian langsung mematikan panggilannya.


"Ha? Tunggu aku belum ... halo ... halo," jawabku.


Dia sudah di jalan, sementara aku masih belum memakai baju. Aku masih bingung harus memakai apa. Aku butuh satu jam lagi untuk memikirkan ini, dan dia sudah berada di jalan.


Aku mengambil asal baju yang tergantung di hanger dalam lemariku. Gaun hitam polos tanpa motif dengan tangan baju selebar tiga jari dan panjang di bawah lutut. Aku menghiasi pakaian polos ini dengan anting kerabu kecil agar tatananku menjadi lebih simple tapi elegan. Rambut yang ku kucir menambah daya tarik tersendiri dari penampilanku malam ini.


Ahn Yoo mengirimiku pesan singkat yang bertuliskan agar aku cepat turun ke bawah, karena dia sudah tiba. Ungtung saja aku ini cepat walau agak lama sedikit memilih baju. Memang harus didesak dulu baru bisa memutuskan dengan cepat.


***


~Di dalam mobil~


Aku melihat Ahn Yoo menatapku sinis, aku tidak tahu juga kenapa dia bisa seperti itu.


"Ke-kenapa? Ada yang salah?" tanyaku sambil merapikan rambut dan wajahku.


"Lipstikmu tidak rapi," jawab Ahn Yoo.


"Be-Benarkah? Bagian mana?" tanyaku lagi dengan tangan yang menghapus pinggir bentuk bibirku.


"Kau memang bodoh, biar ku bantu."


"Bagaimana caramu membantunya. Aku hanya perlu kaca saja," tukasku sambil menarik kaca mobil untuk melihat bibirku.


Ahn Yoo menutup kaca itu dengan tangannya dan menatap mataku dengan datar.


"Ke-Ke-kenapa?" tanyaku ketakutan.


Dia mengecup bibirku kemudian berlagak tidak melakukan apa pun padaku. Dia hanya bersikap santai dan tidak merasa terganggu dengan kecupanya. Sementara aku sudah hampir setengah mati karena terkejut dengan kelakuannya.


Meskipun begitu aku tidak mengamukinya lagi kali ini. Aku juga tidak tahu mengapa, atau mungkin karena dia sudah biasa melakukan hal gila padaku.


"Balasan karena sudah mencium pipiku tadi sore," timpal Ahn Yoo.


Wajahku seketika memerah, untung saja pipiku sudah dilapisi blosh-on sehingga tidak terlalu terlihat.


"Aku hampir mati," gumamku dalam hati.


Aku terpaku bisu selama di perjalanan. Tidak berkitik sama sekali. Sekujur tubuh membeku karena masih terpikir kelancangan Ahn Yoo mengecup bibirku. Yang lebih mengesalkan adalah dia sudah mengatakan lipstik ku tidak rapi. Padahal tidak ada yang salah di sana.


"Turun dan bersikap seperti pasanganku," kata Ahn Yoo setelah sampai di sebuah tempat ramai dipenuhi oleh orag-orang konglomerat. Tidak ada seorang pun yang memakai baju tanpa mark terkenal. Semuanya sangat elit dan mewah. Tidak sepertiku yang hanya memakai baju polos tanpa kemewahan dibandingkan mereka.


"Ahn Yoo, tempat apa ini? Kenapa mereka semua memakai baju yang sangat mewah?" tanyaku bingung.


"Ini acara penyambutan kembalinya putra Tuan Park dari Cina," tukas Ahn Yoo.


Dia menggandeng tanganku bak sepasang kekasih dari kalangan atas. Semua mata tertuju pada kami, apalagi para wanita yang mengagumi Ahn Yoo. Mereka menunjukkan raut iri dan mata sinis melirikku.


"Katanya mengajakku makan, tapi malah pergi ke pesta seperti ini," kataku berkusip dengan Ahn Yoo sambil mengeratkan genggaman tanganku.


"Aku sudah menolak undangan ini tapi melihat kalau aku punya pasangan jadi kuterima lagi."


"Siapa pasanganmu?" tanyaku menatapnya tajam.


"Seekor kucing liar," sambung Ahn Yoo.


Saat sedang berbincang dengan Ahn Yoo, seorang yang mengenakan jas berdasi dan gaya seorang direktur menghampiri kami. Dia ingin membahas masalah pekerjaan di sini. Takut mengganggu, aku meninggalkan mereka dan mengatakan kalau aku ingin ke toilet.


"Permisi, kalau boleh tahu ... toilet ada dimana?" tanyaku pada seorang pelayan di sini.


"Anda hanya perlu berjalan lurus dan kemudian belok kanan. Di situ terdapat tulisan toilet," jelas pelayan itu.


"Terima kasih," ucapku sambil menunduk.


Aku yang masih meraba-raba jalan dengan mata yang menjuru ke segala arah dan mulut yang mengerucut karena bingung. Kata pelayan itu lurus dan belok kanan. Sampai sekarang pembelokannya tidak ada.


Kepalaku terus berputar mencari toilet itu berada, sampai tidak sengaja menondong seseorang yang sedang berjalan sepi di lorong ini. Dia seorang pria yang mungkin juga sedang menghadiri acara ini.


"Ahhh!" jeritku saat terjatuh karena terpelanting saat menondong tubuh matap Pria ini.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Pria itu sambil menarehkan tangannya menolongku.


"Tidak, aku baik-baik saja." Aku menjatahkan tangannya dan berdiri dibantu olehnya.


"Kau terjatuh karenaku," sambung Pria itu agak merasa bersalah.


"Aku yang menondongmu lebih dulu," timpalku.


Pria ini tidak asing bagiku, aku seperti pernah melihatnya entah dimana. Apa aku pernah bertemu dengan Pria ini sebelumnya? Aku tidak yakin juga akan hal itu.


"Kim ....," kata Pria itu menyebut namaku lalu berhenti tiba-tiba.


"Kim? Siapa Kim?" tanyaku bingung sambil melihat sekeliling.


Tidak ada orang selain kami berdua di sini. Aku pikir awalnya dia sedang menyapa orang lewat saja, ternyata tidak. Dan tidak mungkin pula dia tahu margaku adalah Kim.


"Tidak masalah, aku hanya teringat dengan temanku dulu saat melihatmu," jawab Pria ini.


"Owh, kebetulan sekali. Margaku juga Kim," sahutku sambil tersenyum lebar.


"Benarkah? Tapi kau sedang apa di sini, bukannya ini hanya ruangan kosong."


"Oh ... hahahah, aku tersesat saat mencari toilet dan akhirnya sampai di sini. Kamu juga sedang apa di sini?" tanyaku balik.


"Aku tidak suka acaranya," ujarnya sambil memasukkan tangan di saku celananya. Aku selalu berpikir kalau semua orang kaya seperti Ahn Yoo, sangat suka memasukkan tangan ke dalam saku celana. Padahal tidak ada juga guna dari kebiasaan itu menurutku.


"Tidak suka kenapa datang? Pulang saja kalau tidak suka. Benar, 'kan?"


"Hmmm, aku semakin merindukan temanku saat melihatmu," timpal Pria itu.


"Maafkan aku, kalau tidak senang aku bisa pergi sekarang, heheh."


"Tidak perlu. Karena aku mencintai temanku, jadi saat melihatmu aku juga bisa merasakan cintanya," katanya dengan raut seolah benar tujuannya berbicara adalah aku.


Aku juga sebenarnya merasa dekat dengan Pria ini, tapi aku tidak ingat dengannya. Bahkan aku juga tidak punya teman setampan ini saat masih sekolah.


"Heyy," ucapku sambil menepuk bahunya pelan sehingga dia terperanjat dari kesedihannya.


"Apa?"


"Jangan bersedih, aku yakin kalau kalian berjodoh lagi, kalian akan dipertemukan kemudian. Jadi tidak perlu bersedih seperti itu," kataku menyenangkan hati Pria yang terlihat patuh ini.


"Iya, aku harap juga begitu," decaknya murung.


"Bagaimana caranya?"


"Kita perkenalan dulu. Namaku Kim Jane Soo," jawabku kemudian memperkenalkan diri.


"Jane Soo?"


"Iya. Aku suka bermain game terbaru dari PT. Nexcon, dan gilanya aku diterima menjadi asisten direktur. Apa kamu percaya? Aku rasa tidak, tapi ini kenyataan."


"Aku percaya," angguknya yakin.


"Ini semua berkat partner ku yang hebat. Tapi dia tidak pernah lagi mengajakku bermain game, padahal dia sudah sempat mengirimi gantungan kunci yang manis," sambungku.


"Apa kau menyukai gantungan itu?"


"Tentu saja, aku menghargai pemberian orang," sahutku.


Saat berbincang-bincang, rasanya aku ingin ke kamar kecil untuk buang air. Sudah pasti aku tidak akan tahu dimana letaknya. Biarpun akan sedikit malu menanyakannya kepada Pria asing tak kukenal ini, aku harus memberanikan diri.


"Apa kamu tahu kamar mandi sebelah mana?" tanyaku.


"Oh biar aku antarkan," sahutnya sopan.


"Tidak apa-apa? Aku jadi merepotkanmu. Maaf, 'yah."


Ketika berjalan seperti ini, aku baru tahu kalau dia sangat tampan. Kulitnya putih bersih dengan pipi merona dan bibir merah jambu menyala.


Semakin diperhatikan semakin dalam pula aku melihatnya. Aku seperti mengenal Pria ini, sepertinya kami pernah bertemu dan berkontak cukup lama. Aku lupa dimana dan kapan itu.


"Aku sepertinya mengenalmu," kataku sambil menoleh ke arahnya.


"Benarkah? Mungkin juga," jawabnya.


"Iya, aku tidak tahu dimana. Tapi aku seperti merasa kalau kamu itu sangat ... sangat ... ah sudahlah. Mungkin itu hanya perkiraanku saja."


Setelah sampai di depan toilet, dia memberiku penjelasan arah untuk kembali ke ruang acara.


"Terima kasih, kamu sangat banyak membantuku," santunku dengan membungkuk.


"Tidak masalah, Jane Soo." Kemudian dia pergi, padahal aku belum sempat menanyakan namanya. Aku lupa akan hal itu. Tidak baik juga dia sudah tahu namaku sedangkan aku belum tahu namanya.


Sudahlah, biarkan saja dia pergi tanpa meninggalkan identitas padaku. Tidak ada juga gunanya bagiku. Toh aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan dia.


***


~Ruang acara~


Aku mencari Ahn Yoo kesegala arah tapi tidak terlihat sama sekali. Semua Pria memakai jas sehingga aku bingung dimana dia di sini. Sampai aku melihat wanita cantik memakai gaun merah sependek lutut bersama Ahn Yoo sedang berbincang-bincang. Wanita itu terlihat menyukai Ahn Yoo dan mencoba mendekatinya dengan berpura-pura sebagai kelinci lemah.


Tentu saja dibanding dengan wanita itu aku pasti akan kalah saing. Semua dari ujung kaki sampai rambut dirawat dengan ekstra. Membuat aku semakin kesal saja dengan wanita ini. Apalagi Ahn Yoo yang jelalatan itu dengan mudahnya mau berbincang dengannya.


Aku berjalan dengan gaya teratur sehingga sebagian orang melirik ke arahku. Salah satu Pria yang ada di sini mengajakaku berdansa dan minum bersama karena sebentar lagi akan ada acara dansa yang akan diadakan.


"Apakah kamu mau berdansa denganku?" tanya Pria asing padaku.


"Dansa? Aku tidak terlalu mahir berdansa," jawabku ingin menolak.


Mengingat Ahn Yoo sedang berduaan dengan wanita cantik di sana, aku pun jadi ingin membalas perbuatannya yang senang memancingku. Teganya dia ber haha-hihi dengan wanita lain sedangkan aku membodoh gara-gara tidak kenal orang sama sekali.


"Ehhh ... baiklah, tapi aku tidak janji padamu," jawabku dengan ragu.


"Terima kasih. Aku melihatmu berbeda dari wanita di sini. Kamu memakai baju sepolos ini di acara seperti penyambutan. Tapi kamu cantik dan cocok dengan ini," puji Pria itu.


"Hahahaha ... benarkah? Aku rasa aku tidak seperti yang kamu bayangkan."


"Apa kamu seorang desainer?"


"Tidak," jawabku cepat sambil menggeleng kepala.


"Hahahaha ... maafkan aku karena salah menilaimu," sambung Pria ini.


Aku lama kelamaan bosan dengan Pria ini. Sangat banyak bualan yang dilontarkannya kepadaku. Sampai telingaku pun tak sudi lagi mendengarnya. Tapi Ahn Yoo yang jelalatan itu masih berdua-duaan dengan wanita cantik sana.


"Apa kamu kenal wanita sana?" tanyaku pada Pria ini dengan menunjuk kecil wanita yang berada di dekat Ahn Yoo.


"Oh kenal. Dia Xia Len, aktris cantik dari Cina."


"Pantas saja wajahnya berbeda dengan wanita pada umumnya di sini. Dia orang Cina," gumamku dalam hati.


Waktu berdansa pun tiba, semua orang harus mencari pasangannya masing-masing untuk berdansa. Sebagian orang memang sudah membawa pasangan sendiri, tapi sebagian orang pula belum memiliki pasangan.


"Waktunya berdansa," ujar Pria itu.


Tanganku sangat berat untuk menyentuh bahunya. Untung saja seorang Pria lain lagi mengajak aku berdansa. Anggap saja namanya Pria B. Dan sedari tadi sudah berbincang denganku bernama Pria A.


"Apa kau mau berdansa denganku?" tanya Pria B yang baru saja datang.


"Dia pasanganku," balas Pria A.


"Aku sudah memperhatikannya dari tadi, jadi dia pasanganku," lanjut Pria B dan saling berebut dengan Pria A.


Aku sangat pusing melihat mereka berdua bertengkar, padahal mereka tidak tahu kalau aku ini siapa.


Aku melihat Pria yang lupa untuk kutanyakan namanya itu sendiri bediri di sana. Dia tidak ikut berdansa dan melihat sekeliling tak tahu untuk apa.


aku mengahmpirinya, karena memang hanya dia yang aku kenali di sini. Aku lebih mempercayainya dibanding dua orang asing yang sedang berebut ini.


"Hey ... apa kamu tidak ikut berdansa?" tanyaku menyapa Pria ini.


"Tidak, aku tidak punya pasangan," sahutnya.


"Oh ... aku juga tidak punya. Bagaimana kalau kita pergi saja," ujarku memberi saran.


"Aku pikir kamu akan mengajakku berdansa," decakknya sedikit murung.


"Oh. Aku kira kamu tidak mau berdansa, makanya tidak ku ajak," sambungku dengan polos.


"Jadilah pasanganku berdansa," ucap Pria ini sedikit tulus.


Aku menerima ajakannya dan berdansa dengan dia. Meski tanganku sedikit gemetar saat di pegang oleh Pria ini. Aku juga gugup saat menatap matanya langsung. Aku merasa seperti sedang mengkhianati Ahn Yoo kalau berdansa dengan dia. Tapi Ahn Yoo juga berdansa dengan wanita itu. Bagaimana mungkin aku bisa tinggal diam dan membairkan dia bersenang-senang dengan wanita itu.


"Siapa namamu?" tanyaku padanya.


"Ji Seon," jawabnya cepat.


Aku ingat nama Ji Seon, dia adalah temanku, bukan dia adalah sahabatku saat SMP. Bahkan kami satu sekolah sampai SMA, tapi karena ayahnya ditugaskan bekerja di luar kota, terpaksa dia juga harus pindah.


Namun Pria di depanku ini bukanlah Ji Seon sahabatku. Ji Seon adalah pria yang pemalu tidak gantle seprti pria lainnya. Dia juga tidak setampan ini. Wajahnya hanya biasa saja, walaupun dia termasuk pria idaman kala itu.


"Apa margamu?" tanyaku penasaran.


Belum sempat Ji Seon menjawab, Ahn Yoo datang dengan tatapan murka di matanya dan berjalan lambat teratur mendekati kami. Dia meyudutkan matanya saat melihatku yang tengah berdansa dengan Ji Seon.


"Apa kau sudah puas bersama pria asing ini?" tanya Ahn Yoo dengan nada sedikit mengamuk.


"Ahn Yoo?"


Aku melepaskan tanganku dari Ji Seon dan terdiam melihat Ahn Yoo. Aku takut dia akan marah padaku, tapi aku lebih takut lagi kalau dia akan menjadikan Ji Seon sebagai pelampiasannya.


"Tuan Park yang terhormat, apa kau tidak merasa risih berdansa dengan pasangan orang lain," sindir Ahn Yoo pada Ji Seon.


"Maafkan kelancanganku Tuan Ji yang terhormat. Aku tidak tahu kalau Jane Soo adalah pasanganmu," balas Ji Seon.


Mereka bersilat lidah di hadapanku tanpa ada yang ku mengerti. Aku tidak tahu mereka memiliki dendam tersendiri satu sama lain. Sampai tatapan mata mereka sangat tajam.


"Bukankah kau bisa menanyakannya lebih dulu sebelum mengajak pasangan orang lain berdansa?"


"Ini kesalahanku, aku terlalu terpukau oleh Jane Soo. Sekali pun dia milik orang lain aku tetap akan mengajaknya," jawab Ji Seon.