SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE
Episode 49



Mungkin dia adalah ibu Hendry, yang juga merupakan kakak Ahn Yoo. Tapi untuk apa mereka datang ke sini? Mungkinkah membawa Hendry dan menyuruhku untuk menjauhinya? Seperti pada drama film yang sering ku tonton waktu dulu. Anehnya, kenapa ibu Hendry harus ikut juga? Atau dia ikut agar Hendry tidak merengek meminta tetap bersamaku?


Aku berhenti memakan gulali yang ada di tanganku lalu mencolek Hendry agar melihat ibu dan pamannya yang sedang berjalan mengarah kami dengan tatapan mengerikan.


"Mami?!" Hendry langsung berlari dan memeluk Ibunya.


"Hendry," sahut Ibunya sambil merangkul anaknya yang sangat manis dan menggemaskan itu.


Sementara aku di sini seperti patung yang tidak diharapkan kehadiarannya. Rasanya aku ingin kabur saat ini juga dan bersembunyi dari kumpulan orang kaya yang ada di hadapanku. Aku tetap berdiri dan menonton Hendry dan Ibunya sedang melepaskan kerinduan. Aku hanya menyembunyikan wajahku dengan gulali yang ku pegang.


Lalu tiba-tiba Ibu Hendry datang menghampiriku dengan senyum bahagia di wajahnya. Awalnya kukira dia sangat sombong dan akan memarahiku habis-habisan karena sudah mengajak anaknya bermain di tempat yang tidak terjamin kebersihannya.


"Kamu yang namanya Jane Soo?" tanya Ibu Hendry menyapaku.


"Ha? Oh? Hahah ... iya," jawabku gugup sambil tertawa paksa mencoba agar tidak terlihat sedang ketakutan.


"Owh ... jadi kamu orang yang sering diceritakan Adikku yang kaku ini," ucap Ibu Hendry sambil menatap Ahn Yoo. Dia sepertinya sedang usil ingin menjahili Ahn Yoo.


"Ha?" tanyaku lagi karena tidak terlalu jelas mendengar apa yang baru saja dikatakan Ibu Hendry.


"Aku juga semalam cerita tentang Kakak padamu. Kenapa tidak sampaikan juga pada Kakak?" timpal Hendry tidak ingin ketinggalan.


"Hahahah ... iya. Hendry juga banyak bercerita denganku tentangmu melalui telepon semalam," sampaikan Ibu Hendry padaku.


"Oh? Hahahaha ... benarkah?" Aku merasa sangat tegang di sini. Ahn Yoo menatapku sangat tajam dan sinis. Setiap yang kukatan sepertinya membuatnya tidak senang. Padahal aku hanya jawab 'Ha?' 'Oh' dan 'iya'.


"Kapan kalian akan menikah?" tanya Ibu Hendry hingga suasana semakin mengerikan dan membuatku semakin tidak bisa angkat bicara lagi.


"Aku mau pulang," timpal Ahn Yoo yang tampaknya tidak senang berada di sini. Tidak tahu itu karena keramaian ini atau karena keberadaan ku.


"Kita ke apartemenmu yang di sana itu saja. Aku juga ingin makan," jawab Kakak Ahn Yoo.


Deg!


Seketika nafasku susah untuk berkontraksi. Bagaimana Ahn Yoo akan menjawab kakaknya yang bicara tidak pakai rem. Langsung mengungkapkan semua yang ada dihatinya tanpa berpikir panjang lebar.


"Aku pulang duluan. Kalian bisa naik taksi nanti," uajar Ahn Yoo ingin mengelak untuk ikut.


"Apa kalian bertengkar, ha? Jane Soo?" tanya Kakak Ahn Yoo padaku.


"Ha? Aku ... aku tidak pernah bertengkar dengan siapa pun," jawabku langsung.


"Tidak tahu malu," decak Ahn Yoo kepadaku. Dia menampakkan mata tidak ikhlas saat kukatakan tidak pernah bertengkar.


"Aku memang tidak pernah bertengkar," timpal ku membanggakan diri.


"Ckck, wanita bodoh." Ahn Yoo mengejekku dengan decakannya yang menyebalkan.


Tiba-tiba Ibu Hendry memegang tangan dan menarikku berjalan. Aku tidak tahu dia mau membawaku kemana, aku hanya mengikut dan tidak berkutik sama sekali. Aku mengikuti kemana dia akan membawaku. Dia menggandeng tanganku sangat akrab sampai aku heran juga melihat wanita yang baru saja ku kenali ini. Begitu juga dengan Hendry, dia berjalan lalu memegang tanganku. Akhirnya kami tampak seperti keluarga saat itu. Kecuali Ahn Yoo yang masih tidak senang dan berjalan di belakang kami.


"Kemana kita akan pergi?" tanyaku kebingungan.


"Apartemen. Aku akan memasak makan malam untuk kalian," jawabnya yang masih terus menggandeng tanganku erat.


"Masakan Mami sangat enak Kakak. Jangan khawatir, Mami bisa masak selain bubur kacang hijau dan roti selai," kata Hendry yang tidak bermaksud untuk mempermalukanku.


"Heheh," tawaku canggung.


Ibunya Hendry berhenti saat berada di depan mobil Ahn Yoo. Apa kami akan naik mobil Ahn Yoo?


Ibunya Hendry naik langsung ke dalam mobil dan duduk di belakang bersama dengan Hendry. Apa maksudnya aku akan duduk di depan bersama Ahn Yoo?


"Ayo masuk, kenapa masih berdiri di sana?" Ajak Ibu Hendry.


Aku berdiam diri sejenak dan berpikir beberapa saat. Aku takut kalau Ahn Yoo memarahiku dan menyuruhku untuk duduk di belakang.


"Minggir kalau tidak mau masuk," sindir Ahn Yoo padaku.


Aku langsung naik dan masuk ke dalam mobilnya dengan cepat. Aku sedikit bergetar karena Ahn Yoo sudah membicarakan aku. Walaupun dengan awal kalimat yang kasar. Tapi setidaknya dia sudah mulai tampak semarah yang tadi.


~Dalam mobil~


"Kalian tampak tidak akur. Aku kira Jiyu tetap dingin meski di hadapan wanitanya," ucap Ibu Hendry menghilangkan keheningan di dalam mobil ini.


"Diamlah, kenapa kau berisik sekali?!" perintah Ahn Yoo dengan kata-kata kasar. Padahal orang yang digusarinya adalah kakaknya sendiri. Tapi dia seolah sedang berbicara dengan karyawan tempat pelampiasan emosinya saja.


"Hmm? Jane Soo, tampaknya kamu tidak nyaman dengan Jiyu bukan? Kenapa masih betah, kalau aku jadi kamu, sudah aku tinggal secepat mungkin," ujar Ibu Hendry padaku.


"Ha? Iya," jawabku agak terkesan sedikit terpaksa.


"Kalau tidak diam kalian akan ku turunkan di sini," ancam Ahn Yoo memperingati lagi.


Barulah Ibu Hendry yang banyak cakap ini agak sedikit berpikir saat berbicara.


~Apartemen~


Setelah kami sampai ke apartemen ku yang sesungguhnya adalah milik Ahn Yoo, Ibu Hendry langsung membuka kulkas dan memeriksa bahan yang ada di sana. Tentu saja isinya hanya telur, sayur dan rempah-rempah. Aku tidak terlalu suka memasak, jadi isi kulkas itu juga tentunya tidak akan lengkap.


"Hmmm ... sepertinya bahan-bahan ini kurang," ucap Ibu Hendry sambil memandangi isi kulkas.


"Aku ikut!!" teriak Hendry girang.


"Dimana kamu akan membelinya?" tanya Ibu Hendry padaku.


"Di ujung jalan sana," tambahku menjelaskan dengan singkat.


"Terlalu lama. Biar Jiyu mengantarkan kalian," suruh Ibu Hendry.


Tampaknya Ahn Yoo tidak akan mau melakukan hal itu. Secara dia sedang marah denganku dan tidak mau berbicara dengan baik-baik padaku.


"Tidak perlu aku pasti cepat kembali, tenang saja," tukasku.


Aku berjalan meninggalkan apartemen dan berniat akan pergi dengan jalan kaki. Padahal jaraknya agak jauh dari sini. Kalau mini market yang berada di sekitar sini sudah tutup sejak tadi. Jadi terpaksa aku harus berjalan sampai ke ujung jalan demi membeli bahan yang kurang.


Aku menyuruh Hendry untuk tidak perlu ikut karena takut malah akan memperlambat ku saat berjalan. Kalau dia ikut, tentu saja langkahku harus diperlambat agat bisa seirama dengannya, dan akhirnya malam baru pulang ke apartemen. Padahal hanya beli bahan masak di ujung jalan.


"Aku mau ikut," rengek Hendry meminta.


"Ya sudahlah, nanti naik taksi saja kalau Hendry ikut," kataku padanya.


Kami berjalan dengan tangan yang saling memegang satu sama lain. Tangan kecil ini sudah terlalu sering menemaniku. Aku tidak tahu apakah dia ini karena terlalu polos makanya bisa nyaman denganku atau hanya karena merasa mendapat perhatian dariku?


***


Saat kami akan masuk masuk ke dalam lift, Ahn Yoo tiba-tiba muncul di sana dan ikut masuk juga. Padahal langkah kakinya tidak terdengar sama sekali saat berjalan tadi. Tapi dia sudah berada beberapa langkah di belakang. Dia seperti hantu saja, tidak ada angin tiba-tiba sudah ada di sini.


"Apa kau tidak punya mulut untuk meminta tolong?" Ahn Yoo mengatakan dengan nada agak sedikit marah. Matanya tidak menatapku sedikit pun.


"A-Aku kira kamu tidak akan ... tidak akan mau," jawabku gugup. Jantungku masih berdegup dengan kencang karena dia ada di sampingku.


Ahn Yoo tidak menyahut sama sekali. Dia bersikap dingin lagi padaku. Tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan.


"Ma-Masalah yang tadi siang. Aku bekerja dengan Ji Seon, apa kamu marah gara-gara itu?" tanyaku dengan tangan yang sudah dingin.


"Bahannya jangan ada yang terlupakan," jawabnya mengelak. Dia seolah tidak sudi membahas masalah itu. Bagaimana aku akan mengerti dibagaian mana letak kesalahanku kalau dia tidak beritahu padaku. Sedikit pun dia tidak memberi kode dimana kesalahanku berada.


Saat di dalam mobil dia tidak bicara sama sekali. Saat di tempat aku membeli bahan pun dia tidak berkutik. Tangannya seperti biasa berada dalam saku lalu wajahnya yang datar selalu terpampang.


Sampai akhirnya kami tiba di apartemen pun dia tetap tidak berbicara, seakan dia hanya ikut untuk mengantarkan saja.


"Kalian sudah kembali? Kenapa cepat sekali?" sapa Ibunya Hendry.


"Tempat pembeliannya sangat dekat, hanya 6 menit dari sini kalau berjalan," sahutku dengan senyum lalu membawakan bahan yang dipesan tadi.


Aku sedikit membantu Ibu Hendry memotong sayuran dan kemudian menonton wanita ini sedang memasak. Tangannya sangat cekatan saat memotong dan menggoreng. Dia mengiris bawang dan kentang dengan cepat, sampai terlihat kalau tangannya akan terpotong, tapi hanya pandangan ku saja. Aku terlalu kagum melihat dia saat memasak. Selain itu dia semakin cantik saja saat sedang menggoreng.


"Oh ya? Apa kamu dan Jiyu sudah melakukan hal yang sedikit terbuka, hmmm? Ha?" bisik Ibunya Hendry padaku sambil menggoreng daging.


"Ma-Maksudnya apa? Hahahah ... aku-aku tidak mengerti," jawabku berpura-pura bodoh. Padahal aku tahu jelas apa yang sedang dimaksud Ibu Hendry ini.


"Jangan sungkan bercerita. Adikku itu memang agak sedikit kaku tapi kamu maklumkan saja. Dari dulu dia tidak pernah membuka hatinya pada siapapun. Jadi mungkin pengalamannya masih kurang," jelas Ibu Hendry padaku.


Sedangkan dalam benakku beranggapan kalau yang dikatakannya jauh dari kenyataan. Ahn Yoo bahkan sangat berpengalaman dalam bidanh hal bercinta. Buktinya dia sanggup membawaku bermalam di hotel lalu menghajar bibirku saat itu juga. Sama sekali dia tidak mengampuni ku dan tak memberikan aku waktu jeda agar bisa beristirahat. Semua itu ulah Ahn Yoo yang katanya tidak berpengalaman dalam bidang percintaan. Dan lagi pun bukannya Ahn Yoo sudah pernah memiliki pacar sebelumnya? Saat dia masih SMA. Dia berpacaran dengan teman akrabnya sendiri. Bahakan dia mati-matian mencintai wanita itu, hingga sahabatnya sendiri pun dilupakan dan ditinggalkan demi cintanya dengan wanita itu.


Ahn Yoo tidak termasuk orang yang tidak berpengalaman dalam hal cinta. Bahakan dia ahlinya, buktinya saja, dia bisa memikat hati banyak wanita tanpa harus mengeluarkan banyak gaya. Hanya dengan berdiri saja semua wanita yang memandangnya akan jatuh cinta. Dan dia masih dikatakan kurang berpengalaman?


"Aku harap kamu bisa bersabar menghadapinya. Karena aku yakin dia serius padamu, hanya saja kamu harus tahan mengurusi semua tingkahnya yang kekanak-kanakan," ujar Ibu Hendry padaku.


"Aku dan dia tidak memiliki hubungan apa pun, hahaha."


"Benarkah? Tapi dia pernah sedikit bercerita tentangmu. Katanya kamu orang pertama yang membuatnya merasa kasihan dan memaksanya hatinya untuk menolongmu," tambah Ibu Hendry meyakinkan ketulusan Ahn Yoo.


"Aku rasa itu karena aku memang memintanya agar menolongku saat itu," sambungku menceritakan lagi.


"Aku awalnya tidak percaya kalau kamu benar akan dijual pamanmu. Tapi setelah dia mendengar bagaimana kamu bercerita, aku yakin kalau itu adalah kisah yang benar."


"Apa ... apa Ahn Yoo sudah menceritakan padamu tentang pamanku itu?" tanyaku.


"Iya," angguknya mengiyakan.


Beberapa saat kemudian, semua masakan yang dibuat oleh Ibunya Hendry siap untuk disantap. Makanan ini seperti yang ada di restauran yang ternama. Air liur ku sampai akan menetes karena ingin makan semua yang ada di depanku ini.


"Mami, aku tidak mau makan yang itu sudah bosan. Spaghetti tidak ada?" Hendry tak henti-hentinya mengomentari masakan Ibunya. Tidak ada satu pun yang cocok dengan seleranya. Bodohnya Hendry malah meminta spaghetti untuknya. Kalau mau makan itu kenapa tidak bilang dari tadi.


"Makan yang ada di depan. Jangan banyak bicara," tukas Ibunya Hendry dengan tegas.


"Atau Kakak yang masak spaghetti, Mami tidak usah. Terlalu cerewet," decak Hendry.


"Apa kamu mau kuantar ke rumag ayahmu yang jahat itu, ha?" ancam Ibu Hendry.


"Kakak ..." rengek Hendry lirih mengadu padaku.


Aku hanya membalas perdebatan mereka dengan tawa di setiap sela kata mereka. Aku merindukan hal seperti ini. Ramai akan suara dari keluarga. Terasa hangat walaupun sederhana, terasa ramai walaupun riuh.


Apartemen yang dulunya sepi, sekarang lebih terlihat bahagia saat mereka datang. Seandainya saja aku bisa punya keluarga seperti mereka, mungkin aku akan lebih baik. Aku tidak perlu menanggung beban ini sendiri. Hanya dengan mendengar suara mereka, sedikit masalahku terasa berkurang.


Dan ketika melihat ibu beranak ini sedang bertengkar, aku teringat dengan ibuku sendiri. Bagaimana dulu dia menjewer telingaku karena tidak bisa dikatakan. Bagaimana dia memukul bokongku, padahal kala itu aku sudah termasuk remaja, tapi ibu tetap memperlakukanku seperti anak kecil. Aku sangat kesal kala itu saat ibu memperlakukan aku seperti anak-anak, aku marah saat dia menasehati ku. Tapi setelah dia pergi, aku baru sadar kalau suaranya adalah kebahagiaanku. Aku merindukan ibu memarahiku. Aku ingin dia hidup meski setiap hari harus mengamuki ku. Aku akan berbakti padanya meski harus setiap saat diperlakukan seperti anak kecil.