Second Wife

Second Wife
BC bagian lima



Jee Yeon menyukai Queen semenjak pertemuan pertama mereka saat syuting film dan pemotretan brand ambassador bersama.


πŸ“ž "Jagiya hangug-e ajig an-wass-eo?" Sayang, sudah sampai Korea?"


"Emmh." Angguk Queen tersenyum.


πŸ“ž "Nan dangsin-i geuliwoyo. Dangsin-eul mannal su issseubnikka." Aku merindukan mu. Apa kita bisa bertemu? Tanya Jee Yeon.


"Iljeong-eul jabgessseubnida. aldasipi, abeojineun naega dangsin-eul boneun geos-eul geumjihaessseubnida." Aku harus atur dulu jadwalnya, kau tahu kan, Daddy melarang ku menemui mu.


πŸ“ž"Joh-a, naneun cham-eulseong issge gidalinda." Tidak apa, aku sabar menunggu.


"Terimakasih Jee Yeon."


πŸ“ž "Sama-sama sayang." Queen tersenyum manis mendengar itu.


πŸ“ž "Kamu cantik." Puji Jee Yeon tersenyum. Pemuda tampan itu sengaja belajar bahasa sedikit demi sedikit.


"Kamu juga ganteng." Balas Queen memuji.


Klontang!


Queen terkaget mendapati suara gaduh yang Joon buat saat meletakkan mangkuk sayur dan bahan-bahan gimbap dengan cara kasar.


"Joon! Bisa pelan tidak hah?" Toleh Queen mengerut kening. Baru saja bertemu, Joon sudah mulai membuat perkara.


"Bikin sendiri saja makanan nya!" Joon berkata jutek sembari melangkah pergi dari tempat itu.


"Joon!" Protes Queen. "Ya Tuhan, kenapa dua adikku tidak ada yang beres? Barusan dia menurut lalu sekarang, ... O my God." Gerutunya kesal.


Kembali Queen menatap layar ponselnya, di mana sang kekasih terkikik melihat wajah marah Queen yang selalu terlihat cantik.


"Oppa wae?" Kenapa Oppa?


πŸ“ž "Oppaga eumsig-eul bonaedeulibnida." Oppa yang akan kirimkan makan untuk mu.


"Ppaleun." Segera. Pintanya.


πŸ“ž "Ok."


...β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’...


^^^Indonesia.^^^


Senja melarung membingkai suasana eksotis sebelum petang menghampiri. Ada harapan di setiap warna jingganya yang berangsur menghitam.


Tak pernah lekang dari ingatan bagaimana renjana menyingsing agresif, meskipun jingganya sudah tidak lagi nampak di retina.


Lelaki tampan nan gagah, melangkah gontai dengan pakaian kasual. Celana jeans hitam kaos putih ketat yang sedikit menerawang juga sepatu kilap.


Dhyrga Miller, pengusaha kaya pewaris kerajaan properti ternama yang tidak kalah dengan milik Raka Rain.


Dhyrga Miller tampan dengan hidung mancung runcing, jambang tipis, bibir merona tanpa asap rokok, bermata biru bak kucing Persia, rambut stylist, Dhyrga Miller pemuda tampan berusia 28 tahun yang tinggal menetap di London Inggris.


Ada beberapa hal yang perlu di urus di sana, tapi rencananya tahun depan, Dhyrga resmi pulang dan tinggal di Jakarta.


Dhyrga Miller membuka masker di wajahnya, tersenyum pada lelaki tampan sejenis dengan dirinya, bule blasteran, Indonesia-London.


Siapa lagi jika bukan Raka Rain. Mereka saling mengenal karena masih ada pertalian saudara dari silsilah keluarga jauh nya.


Raka berdiri merentangkan kedua tangannya, menawarkan pelukan pada putra koleganya bernama Harlan. "Selamat datang Dhyrga." Sambut nya.


Dhyrga memeluk. "Terimakasih Om, sudah mau memenuhi panggilan ku."


"Sama-sama, itu karena Om juga merindukan mu. Gimana London?" Sahut Raka.


Dhyrga tersenyum. "Masih ada yang menarik, tapi Indonesia tempat kita kembali." Ujarnya.


"Yap, benar, di sini lebih nyaman, cuacanya eksotis, banyak gadis cantik yang menggairahkan di sini." Sambung Raka dan keduanya tergelak renyah bersamaan.


"Pesan minum." Raka mengajak dan pemuda tampan itu memesan minuman sesuai keinginan nya.


Kembali mereka fokus dengan obrolan. Raka duduk berhadap-hadapan dengan pemuda tampan nan kaya raya itu.


Dhyrga tersenyum. "Ada sesuatu yang ingin Dhyrga sampai kan pada Om." Jawabnya.


"Apa itu?"


"Queen Kirana Rain." Sambung Dhyrga.


Raka mengerut kening. "Maksud nya?"


"Dhyrga menyukai putri Om, kalau boleh, Dhyrga mau melamar Queen untuk di jadikan tunangan dulu, dan Dhyrga akan menikahi nya setelah usianya legal untuk di nikahi." Cetus Dhyrga tanpa basa-basi.


Raka tercengang. "Wait, Queen, melamar, apa tidak salah?" Tanyanya bingung. Queen masih anak-anak.


Dhyrga mengangguk pasti. "Yah Om, Dhyrga serius." Ucapnya.


"Queen masih enam belas tahun." Sanggah Raka.


"Tepat di usia nya yang ke 17 tahun, Dhyrga ingin bertunangan dengan nya, setelah 19 tahun, Dhyrga mau menikahinya. Masalah kebebasan untuk bersekolah dan beraktivitas dengan karier nya Dhyrga akan jamin sepenuhnya."


Raka menggeleng ringan, di lihat dari sudut manapun sepertinya Dhyrga sudah berpikir matang-matang, meminta seorang gadis untuk dijadikan istri adalah tindakan lelaki sejati.


"Sejak kapan kamu menyukai Queen?"


Dhyrga menunduk lalu kembali menatap Raka sambil tersenyum. "Dari masih anak-anak. Lucu kan?" Gelak nya.


"Oh my God." Raka menutup mulut. "Anak-anak?" Kejut nya. Tapi jika di pikir lagi, dulu Krystal juga sudah menyukai Raka sejak masih kecil.


"Dhyrga belum pernah punya kekasih Om, Dhyrga mau menunggu Queen, semenjak pertemuan kami di Prancis waktu itu, Dhyrga mulai menyukainya, tapi mungkin, Queen lupa pada ku."


Raka sedikit mendekati wajah Dhyrga agar lebih intens lagi. "Dhyrga, Om harus meminta persetujuan dari banyak pihak, seperti istri Om, orang tua Om dan juga Queen sendiri."


Dhyrga mengangguk setuju. "Dhyrga paham masalah itu Om, Dhyrga akan tunggu jawaban Om." Jawabnya.


"Ok." Angguk Raka tersenyum.


...β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’ β€’...


^^^Malam harinya,^^^


Pukul 20.30 Raka sudah nyaman dengan posisi duduk yang memeluk istrinya pada sofa ruang tengah.


Krystal masih mengawasi putranya belajar tentang ilmu pengetahuan alam.


Selama ini Krystal sendiri yang mengajari putranya saat di rumah. Peringkat pertama tak pernah berpindah dari nama Raja Kryska Rain.


"Mammi." Setelah mengutak-atik ponselnya, Raka berbisik di telinga istrinya.


Sedari tadi bibirnya sudah gatal ingin mengatakan sesuatu tapi Raka sengaja menunggu Ray dan Elevy masuk ke dalam kamar agar lebih leluasa.


"Kenapa?" Jawab Krystal.


Raka memiringkan kepalanya memandangi wajah istrinya. "Kamu ingat Dhyrga Miller, anaknya Tuan Harlan dan Rania? Yang tinggal di London?" Tanyanya.


"Emmh, ingat, kenapa?" Krystal manggut-manggut.


"Kau tahu. Dia punya niat melamar Queen, sore tadi Dhyrga menemui Daddy, dan menyampaikan niatnya melamar Queen."


"Queen masih anak-anak Daddy." Sanggah Krystal secara cepat.


Raka mengangguk. "Daddy tahu, Dhyrga juga tahu usia Queen, tapi dia akan menunggu sampai Queen 19 tahun. Dhyrga hanya tidak ingin Queen di lamar orang lain sebelum dirinya." Jelasnya.


"Queen tahu tentang ini? Kalau Queen tahu sudah pasti putrimu akan pergi dari rumah." Sambung Krystal.


Cukup lama Raka terdiam di sela kediaman mereka Raja melirik curiga pada kedua orang tuanya.


"Tapi Daddy yakin Dhyrga laki-laki yang baik, berasal dari keturunan baik-baik, satu keyakinan dengan kita. Dia juga mapan, dewasa, yang pasti akan bertanggung jawab pada Queen. Mammi setuju kan?"


Krystal menggeleng. "Belum tahu. Ini terlalu mendadak. Putriku masih kecil." Jawabnya.


"Apa kalian mau menjodohkan Noona?" Raja menyeletuk bertanya dengan kerutan di dahi nya.


...π“πžπ«π’π¦πšπ€πšπ¬π’π‘ π¦πžπ¦π›πšπœπš 𝐩𝐚𝐫𝐭 π­πšπ¦π›πšπ‘πšπ§ 𝐒𝐧𝐒...