
"Atur penerbangan ke Korea!" Raka berteriak. Dia berjalan cepat menuju lobby di iringi beberapa antek-anteknya.
"Baik Tuan." Jawab satu pria di belakangnya. Mereka bergegas menghubungi tim lainnya untuk melakukan perintah sang Tuan.
"Aku harus bisa menemukan Krystal dan menyeretnya pulang, untuk apa dia ke Korea, kalau hanya untuk mencari uang, aku bisa memberikannya cuma-cuma."
Raka melangkah menuju mobil dengan kecumik bibir yang tak bisa berhenti.
Di depan sana sudah ada satu orang pria membukakan pintu, Raka masuk dengan wajah juteknya.
"Kita akan kemana Tuan?" Tanya sang sopir.
"Pulang ke rumah Tuan besar mu!"
Sopir mengangguk "Baik Tuan." Lalu menyalakan mesin mobilnya.
Raka pulang ke rumah ayahnya dengan wajah sekecut jus basi. Setelah ini, Raka akan langsung ke bandara.
Duduk tertegun, Raka memandangi layar ponselnya, dimana wajah cantik istri ke duanya tampak tersenyum manis dengan kacamata tebalnya.
Senyum yang tak pernah dia lihat setelah menjadi istrinya. Foto itu pun Raka ambil dari salah satu media sosial Krystal. "Akan aku susul kamu Krys!" Gumamnya.
Raka mantap ingin mencari istri gantung nya, yah, saat ini posisi mereka terkatung, cerai tidak, menikah pun entah saja, tak jelas hubungannya.
Di Korea, Raka memiliki banyak teman penguasa, mungkin Krystal akan melamar pekerjaan di salah satu perusahaan benefit di sana.
Raka akan menyidak satu persatu perusahaan besar yang memungkinkan Krystal masuki.
Di tantang dan merasa kalah, bukan hal yang Raka sukai, apa pun resikonya dia harus bisa mengendalikan istri geniusnya.
...• • • • • • • • • • •...
Sore harinya.
^^^Pada lain negara.^^^
Sepanjang perjalanan Krystal terus melamun, genggaman tangan Yarish lah yang terus menguatkan dirinya.
Meski ingin menjauh, tetap hati seorang ibu ingin anaknya dekat dengan dirinya, janji adalah hutang, itu yang selalu Krystal terapkan.
Tak mungkin dia mengingkari, lagi pun, jikalau memang dia membawa serta Queen ke Korea, sudah pasti Raka tak segan menghukumnya.
Mungkin, Raka akan mengurungnya seperti hal yang pernah di lakukan sebelum dirinya mau berdamai, menyepakati perjanjian terakhir.
7 jam 20 menit adalah rata-rata waktu penerbangan dari Soekarno-Hatta Jakarta ke Seoul Incheon International.
Korea Selatan lebih cepat 2 jam dari Jakarta.
Di Indonesia saat ini masih pukul 16.10 sementara di Korea Selatan pukul 18.10.
Berarti mereka melintasi lorong waktu sekitar dua jam yang terbuang entah kemana, karena perselisihan waktu itu sendiri.
Angin berembus kencang menyambut kedatangan Krystal. Untuk pertama kalinya, Krystal menginjakkan kakinya di negara lain. Cita-citanya telah menjadi kenyataan. Bisa datang ke Korea saat musim gugur tiba.
Musim gugur di Korea Selatan di mulai dari akhir bulan September dan berlangsung sampai sekitar awal bulan November.
Puncak musim ini, di mana warna-warna daun berwarna merah, kuning, dan oranye berguguran, hanya berlangsung sekitar dua minggu saja sebelum musim dingin dimulai.
Yarish masih setia mendampingi, menarik tangan mulus Krystal memasuki bangunan bandara. Wajah Krystal masih sendu tak bersemangat.
Keduanya mengambil koper masing-masing, berjalan keluar menuju lobby.
Di tengah langkah kaki, Yarish sibuk mengaktifkan ponselnya, baru saja ingin menelepon Hyeong nya. Dua nama yang di pampang oleh seorang pria mengalihkan perhatian. Ji Yarish, Krystal tertulis di salah satu papan sopir jemputan.
"Nah, itu dia orang suruhan Hyeong." Kata Yarish menunjuk satu pria.
"Iya, syukurlah kita bisa cepat sampai. Aku lapar Rish." Sambung Krystal mengangguk.
"Kita makan di rumah Hyeong ajah, lumayan kan gratis." Cengiran Yarish membuat Krystal bergidik, masih saja memikirkan gratisan, pantes tidak mau repot-repot punya kekasih.
Yarish tersenyum, rupanya dia masih di akui sebagai Tuan mereka. Padahal jika di lihat dari garis keturunan, Yarish bukan lagi menjadi bagian dari marga Ji.
Nama depan yang masih menempel hanya karena Eun Kyung tak ingin melupakan asal usul dirinya.
"Eoseooseyo seonsaengnim." Satu orang membuka pintu mobil teruntuk keduanya. Silahkan Tuan.
Yarish tersenyum "Gamsahabnida." Terimakasih.
Melalui pintu yang sama, Yarish dan Krystal masuk ke dalam mobil mewah kiriman dari Hyun Ki. Sementara koper mereka di masukkan ke dalam bagasi.
Perlahan mobil itu bergerak, membelah jalanan bertabur kelap-kelip lampu kota Seoul.
Kota yang sangat indah saat malam menurut Krystal yang baru pertama kali menyambangi negara ini. Namun tetap tak membuat dirinya lepas dari bayang-bayang putri semata wayang.
Foto Queen yang Sukma kirim, dia setting menjadi wallpaper. Dia pandangi wajah cantik Queen dan kian memanas hatinya. Ternyata sejauh ini dirinya mengambil keputusan.
Tepatnya pukul 20.15 mobil jemputan Krystal dan Yarish menepi di salah satu parkiran basemen sebuah hunian mewah di Seoul.
Keduanya turun dan berjalan memasuki lobby, dua orang suruhan Hyun Ki membawakan koper mereka, lift pun menjadi alternatif bagi mereka menaiki lantai tertinggi bangunan mewah ini.
Yah, tepat sekali, tempat Hyun Ki berada di salah satu Penthouse bangunan ini.
Kita semua tahu, Penthouse yang biasa berada pada bagian tertinggi sebuah gedung apartemen, menempati lantai teratas sebuah apartemen secara keseluruhan bukan hanya satu unit.
Tinggal di penthouse memiliki keuntungan seperti privasi yang ektra karena tidak adanya gangguan dari tetangga atau penghuni lainnya.
Sampai lah pada lantai di mana unit hunian mewah milik Hyun Ki berada. Keduanya keluar dari lift setelah terbuka.
Yarish menghela napas, mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Abang sedingin Antartika.
"Tuan Yarish." Panggil pria bernama Mario menyambut kedatangan mereka.
Satu asisten handal milik Hyun Ki menyapa dengan bahasa Indonesia, Mario tetangga komplek Yarish yang di pekerjakan oleh Hyun Ki.
Awalnya, Yarish yang merekomendasikan Mario pada sepupu penguasanya, dan bekerja selama kurang lebih lima tahun terakhir.
"Om Mario." Sapa Yarish girang.
"Apa kabar?" Sambut Mario tersenyum menatap Krystal dan Yarish bergantian "Selamat datang."
"Baik." Jawab Yarish. "Terimakasih." Kata Krystal.
"Di mana Hyeong?" Sambung Yarish lagi.
"Masih sibuk di kamarnya." Kata Mario.
"Aku harus bertemu." Yarish melongok kamar milik Hyun Ki yang jarang sekali di masuki manusia. Sebab Hyun Ki bukan manusia menurutnya. Ada foto besar yang terpajang di salah satu sisi dinding.
...Foto milik Hyun Ki....
"Tapi maaf, sebelumnya Nona dan Tuan muda, harus mandi terlebih dahulu. Seperti biasa, Tuan Hyun Ki tidak mau ada sedikitpun bakteri." Mario menahan sedikit tawanya, bukan apa-apa terkadang kelakuan Hyun Ki memang suka aneh-aneh.
"Dia masih sama saja." Olok Yarish menggerutu.
"Memang kenapa?" Krystal menyengir, apakah sedingin itu Abang Yarish, kenapa berbeda sekali dengan temannya ini?
"Tidak apa, kita lakukan saja apa yang harus kita patuhi di rumah ini, nanti, setelah kita punya apartemen sendiri, kita pindah dari sini." Sambung Yarish.
"Ok." Krystal manggut-manggut.
...• • • • • • • • • • •...
Bersambung..... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 😘