
Krystal sudah satu bulan di tanah air, sebelum bertemu Raka di pengadilan, Krystal sudah lebih dulu menghubungi rekan setimnya di kantor Darren.
Syukurlah, mereka masih menganggapnya sebagai teman, terutama Darren yang menyambut kedatangannya dengan antusias.
Semua orang tahu insiden ciuman bersama Hyun Ki, tapi kembali lagi, semua orang punya urusan masing-masing. Kendati tersebar di seluruh media sosial, kejadian itu termasuk dalam kategori pribadi Krystal yang tak boleh di campuri.
Krystal mengutarakan tentang bagaimana kelanjutan hidupnya di Indonesia, Krystal memilih bercerai dan membangun usaha sendiri.
Uang yang Berliana titipkan, ternyata lebih dari cukup untuk membuat usaha yang ingin sekali Krystal coba.
Dia paham bidang pemasaran, dia paham meracik kemasan, juga mampu menemukan komponen yang bisa membuat performa elektronik buatannya lebih baik dari merek lain bahkan dengan harga yang terjangkau.
Krystal yakin, akan cepat memasarkan produk barunya dengan harga yang murah tapi berkualitas tinggi. Produk yang bisa mendelosor pada seluruh kalangan.
Rencananya hari ini Darren mengajaknya ke pemasok bahan baku terbaik di Indonesia. Sudah sekitar dua Minggu Krystal berhubungan dengan Darren kembali.
Setelah menerima telepon dari Darren, Krystal membuat nasi goreng spesial ala rumahan di dapur milik Raka, Queen sempat bilang mau makan itu saat bangun tidur tadi.
Queen yang rapi dengan pakaian lucunya, gadis itu berlari dari kamar menuju dapur bersih.
"Mammi bikin sarapan yang Queen minta kan?" Tanyanya berteriak, suaranya lucu menggemaskan. Menghiasi kekosongan istana ini.
Krystal tersenyum melirik putrinya. "Iya dong, Queen makan sendiri apa di suapi?" Tawar nya.
"Makan sendiri saja, Queen bisa!"
"Ok." Krystal membawa satu piring berisi nasi goreng spesial, ada telur mata sapi juga di atasnya.
Queen menyengir, akhirnya ada yang memasak dengan cinta lagi setelah Viona pergi meninggalkannya.
Biasanya Queen hanya makan masakan ala restoran yang di boyong ke rumahnya, Raka memang sengaja membayar koki terbaik untuk melayaninya.
Meski demikian, tetap saja lain dengan rasa masakan yang di buat dengan cinta. Ada senyum kehangatan yang Queen dapat dari ibunya. Itu juga akan mempengaruhi psikologi bocah kecil ini.
Queen duduk pada kursi tinggi itu, meskipun kesulitan, Queen memiliki pribadi yang ingin melakukan apapun sendiri.
Krystal duduk dan mengajari putrinya berdoa sebelum makan, rupanya Queen telah hapal bagaimana doanya.
Memandangi Queen makan, Krystal tersenyum tipis, damai rasanya melihat wajah cantik Queen. Tak ingin kebahagiaan lain, Queen sudah lebih dari cukup, menghiburnya.
Di suapan ke dua Queen, suara ketukan sepatu terdengar mendekat, rupanya Raka sudah rapi dengan pakaian kantornya.
Krystal melirik lelaki itu, memindai sekujur tubuh tinggi tegapnya. “Kamu nggak pake dasi?” Tanyanya.
Raka menaikan kedua bahu. “Aku sudah terbiasa begini.” Jawabnya.
“Oh.”
Pandangan Raka menyisir setiap sudut meja, bahkan ke arah dapur bersihnya, Krystal menyiarkan aroma lezat di ruangan ini tapi hanya ada satu piring sarapan pagi yang Queen miliki, lalu kemana bagiannya?
“Kamu cuma buat satu nasi goreng?” Raka menatap protes Krystal yang mengangguk.
“Iya, memangnya aku harus membuatkan sarapan pagi juga untuk mu?”
“Setidaknya berperasaan sedikit. Aku juga mau ke kantor, kamu memasak tapi tidak sekalian bikin yang banyak!”
“Kamu bisa di masakin koki-koki mu, mereka sudah kamu gaji kan?”
Raka menaikan ujung bibirnya. “Mengapa sekarang dia semakin kejam padaku?”
Krystal beralih pada putrinya “Sayang, Mammi mau ada urusan, hari ini Queen nggak ada syuting kan? Queen ikut Om Andre sama Daddy ke kantor yah, nanti kalo sudah tidak sibuk, Mammi mampir lagi.”
Queen mengangguk. “Ok.”
Kembali Krystal beralih pada Raka. "Aku pergi, terimakasih sudah mengizinkan aku bersama putriku."
“Tidak lucu Ka!”
“Siapa yang melawak?”
Krystal menghela napas, Raka tidak pernah bisa keluar dari zona ketus nya. Tak mau lama-lama berkonfrontasi dengan pria itu Krystal mengusap puncak kepala putrinya.
"Bye sayang, Mammi berangkat ya." Ucap nya sebelum berlalu dari tempat itu.
Selepas Krystal pergi Raka duduk menatap lawa nasi goreng milik Queen, lama dia tak memakan masakan Krystal, sepertinya enak.
Terlihat jelas Queen sangat menikmatinya, hari ini banyak sekali jadwal memadati agenda Raka, ingin juga di siapkan sarapan oleh terkasih tapi rupanya Krystal tak lagi peduli.
Queen melirik dengan mata yang menyipit curiga. "Daddy mau?"
Raka menggeleng. "Buat Queen saja, biar cepat gemuk."
"Ini enak loh, nasi goreng ini di buat dengan cinta Mammi Krys, ... Grandpa bilang, Grandma selalu bikin sarapan pagi untuknya, setiap gigitan yang Grandpa lakukan, bisa membuat Grandma semakin menyayangi nya."
"Oya?" Raka terkikik kecil, anak sekecil itu bisa berkata-kata layaknya influencer.
Queen mengangguk. "Iya, itu pisolopi nya!"
"Filosofi." Kata Raka mengoreksi.
"Iya, itu." Queen menyengir.
"Baiklah, Daddy mau, siapa tahu, Mammi Krys mu tidak jadi pergi meninggalkan rumah ini karena setiap gigitan yang Daddy lakukan akan membuat Mammi terus teringat rumah ini."
"Iya, sekarang ak!" Tawar Queen memberikan suapan pada Raka.
"Thank you Baby." Raka menerima suapan putrinya.
Ini benar-benar rasa yang tak pernah berubah, bahkan ingatannya melambung kepada beberapa tahun yang lalu saat Krystal masih menjadi miliknya.
Seandainya saja kau bisa memutar waktu, apa yang akan kau lakukan? Pertanyaan melintas di otaknya. “Aku tidak menyesal menikahi Viona, aku hanya menyesal tak mampu berbuat adil saat masih memiliki istri dua.”
Raka selalu saja menyakiti Krystal di sela kehamilan, dengan mementingkan Viona nya yang saat itu masih dalam keadaan butuh perhatian dan dukungan moral.
Sulit, tapi jika saja bisa adil, pasti tidak akan ada perpecahan ini. Hubungannya dengan Hyun tak mungkin hancur.
Hubungan Viona dengan Krystal pun tak sempat merenggang, tapi nyatanya, keduanya bahkan belum sempat berbaikan Viona telah tiada.
“Siapa yang bikin nasi goreng?” Andre yang baru saja tiba dengan pakaian rapi nya bertanya penasaran.
"Mammi Queen." Kata anak itu.
"Dia sudah pergi?"
Queen mengangguk dengan mata yang fokus pada piring nya.
Raka beralih menatap Andre. “Gimana iklannya? Sudah di luncurkan?" Tanyanya.
Andre mengangguk sembari duduk membetulkan dasinya. "Mungkin Minggu depan sudah rilis iklannya. Banner digital, baliho di beberapa tempat, iklan di TV, endorsement influencer, iklan dalam aplikasi, semuanya akan di rilis pada hari yang sama." Jelasnya.
Queen menoleh pada ayahnya, dia meneguk minuman sebelum berbicara. "Memangnya kapan peluncuran produk baru Daddy yang berlebel Queen itu?" Tanyanya.
"Bertepatan dengan peluncuran iklannya sayang, wajah Queen akan berada di mana-mana. Produk besutan Xmeria akan menggemparkan dunia! Ide rancangan Queen genius, tidak sia-sia kamu lahir dari Mammi Krystal."
Queen melongo, sekitar satu tahun lalu dia mencetuskan ide, tapi ide itu tak sengaja dia dapat dari salah satu buku agenda yang terbengkalai di kamar miliknya.
“Daddy, sebenarnya ide produk itu Queen ambil dari, ..."
^^^Nyambung di part selanjutnya, segera.^^^