
Sinar mentari yang lolos, mulai mengerumuni setiap inci kecil wajah cantik Krystal.
Kening menyengkelit, perlahan membuka sang netra sebening embun pagi yang telah menguap pergi dari peredaran bumi.
Menatap sayup langit-langit kamar miliknya, bibir tersenyum manis kala teringat kembali panasnya pergulatan ranjang malam tadi.
Remuk redam raganya setelah berkali-kali Raka menghujam dirinya "Aku mencintaimu Krys. Sangat mencintaimu." Desah yang selalu Raka ucap saat memberikan tusukan nikmat.
"Ahh, Ka, ..."
"Kenapa, sakit? Maaf kan aku, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku, aku candu padamu."
"Pelan sedikit, kamu terla_lu, ahh!"
"Seksi."
Semalam tadi Raka memanjakan dirinya dengan gerakan kebuasannya. Kecupan erotis nya juga sentuhan rangsangan nya.
"Aku pasti merindukan mu, Ka." Memejamkan mata Krystal bergumam lirih, dan sekali lagi air mata menetes masuk ke dalam telinga.
Hari ini, Raka membebaskan dirinya untuk pergi kemanapun dia mau, ini yang Krystal ingin, tapi ini pula bukan benar-benar harapannya.
Krystal mencoba bangkit dari rebahan lemah nya "Aw." Tiba-tiba saja ada yang memelintir perutnya. Akhir-akhir ini kontraksi memang sering terjadi, apa lagi ada efek samping dari melakukan kegiatan intim bagi ibu hamil yaitu kontraksi.
Seluruh wajahnya pucat, menghela napas pendek "Ada apa dengan ku?" Lirihnya mengusap dahi yang berkeringat.
Mengedar pandangan kepada ruangan yang kosong tak berpenghuni selain dirinya. Nyeri di bagian inti masih terasa, lunglai seperti tak bertulang raganya.
Di atas nakas, dokumen yang di tindih satu pulpen membuatnya mengerut kening "Apa ini?" Gumamnya pelan. Masih lemah Krystal ambil berkas itu, sepertinya ini sengaja Raka berikan padanya.
"Chhh hiks hiks!" Akhirnya tangisan yang dia keluarkan setelah membaca surat gugatan cerai dari suaminya.
"Akhirnya kau menceraikan aku Ka." Sesenggukan Krystal meremas sprei putih yang dia tempati "Aaaghh!" Pekiknya.
Nyeri di perut yang seperti melilit pusat penghidupannya membuat Krystal tanpa sadar melepas genggaman tangannya dari kertas putih yang menyatakan bahwa dirinya menjadi tergugat.
Dia menyingkap selimut tebalnya menampilkan simbah darah segar yang menodai sprei putih polos itu.
Mata Krystal membelalak "Kamu kenapa Nak?" Tanyanya pada bayinya. Berkali-kali dia membuang napas dengan mulut, berusaha mengurangi kontraksi rahim.
Tangannya mengusap perut yang melilit "Sayang, kamu kenapa? Awh!" Teriaknya memejamkan mata.
Menyungkur kepala pada bantal, meremas seprei dengan keluhan tak kunjung usai. Nyeri sekali yang Krystal rasakan "Aaaghh!"
"Krys." Elevy baru saja membuka pintu kamar, berlari setelah melihat darah segar mengalir dari pangkal paha menantunya "Krystal!" Teriaknya histeris.
Ray yang mendengar teriakan istrinya tentu panik dibuatnya "Ada apa Mammi." Tanyanya berteriak.
"Hiks hiks. Sakit Mamm. Perut Krystal sakit." Keluh Krystal menjerit namun lirih.
Elevy mendekat menyentuh darah segar itu dari paha menantunya "Perdarahan, kamu perdarahan?" Cetusnya panik.
Tak perlu berpikir lama. Ray meraih telepon kabel dari atas nakas, menyiarkan panggilan pada tim medis eksklusif nya "Cepat datang ke kamar mantu ku, dia perdarahan!" Teriaknya.
Bruk!!
Dia tutup teleponnya mendatangi Elevy yang masih membantu Krystal mengondisikan kesakitan nya.
"Aaa, hiks, sakit Mamm." Tangis Krystal bercucuran air mata.
"Sabar sayang." Usap Elevy pada punggung menantunya, biasanya itu yang membuat ibu hamil merasa tenang saat dalam keadaan kontraksi.
Segerombolan tim medis memasuki kamar membawa satu kursi roda teruntuk pasien mereka.
Cemas mengiringi setiap langkah semua orang, tentu saja panik, ini baru memasuki bulan ke tujuh tapi Krystal mengalami perdarahan banyak layaknya seorang ibu yang telah sampai pada masa melahirkan.
Tak ada satu jam Krystal sudah di masukkan ke dalam ruangan bersalin, ternyata benar dugaan Elevy, Krystal akan dihadapkan dengan kelahiran bayi prematur.
...• • • • • • • • • • •...
Siang harinya.
Tergesa-gesa Raka memasuki lorong suite room, kabar dari sang ayah membuatnya panik tingkat dewa.
Pagi-pagi sekali Raka keluar dari rumah besar ayahnya, setelah memberikan kejutan surat gugatan pada istri ke dua nya.
"Krystal masuk rumah sakit." Itu yang Ray katakan padanya satu jam lalu.
Harus meninggalkan istri pertamanya dalam keadaan sakit atau membiarkan Krystal-nya begitu saja di rumah sakit, Raka sempat dilema.
Namun, perasaan khawatir yang terus menggelitik membuat lelaki tampan itu bangkit dari sisi Viona.
Biar saja Andre yang mengurus istri pertamanya. Raka tak bisa tinggal diam, Krystal harus mendapatkan perhatian.
Kening mengerut mendapati Elevy dan Ray berdiri di balik sekat kaca transparan mengamati bayi mungil yang sangat cantik.
Di ruang NICU neonatal intensive care unit, tempat khusus untuk merawat bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan ketat oleh tenaga medis, bayi itu berselimut warna pink.
Inkubator lah ranjang bayi mungil itu. Alat yang memungkinkan bayi terhindar dari infeksi bakteri dan suara bising, serta menjaga tubuhnya tetap hangat, sebab bayi prematur tidak memiliki jaringan lemak yang cukup untuk mengatur suhu tubuhnya dengan baik.
Elevy memeluk Ray mengurai tangis di kemeja suaminya, tentu saja khawatir pada kedua perempuan itu, yaitu mantu dan cucunya.
"Kenapa harus begini Dadd? Kenapa malang sekali nasib cucu pertama kita? Kenapa harus prematur?" Tanyanya.
"Ssuutt," Ray mengusap punggung istrinya "Yang terpenting adalah, mantu dan cucu kita selamat." Ujarnya.
"Daddy." Panggilan Raka membuat Ray dan Elevy menoleh "Ka." Elevy membasuh air matanya.
"Gimana keadaan Krystal?" Tanya Raka cemas, tak peduli dengan apa pun, di otak Raka hanya mengingat istrinya saja.
Ray menepuk pelan pundak putranya "Ada di kamar, kamu temani dia gih. Daddy masih mau lihat putri mu." Katanya.
Raka mengernyit "Putri?" Tanyanya bingung. Ini bukanlah bulan perkiraan lahirnya sang pewaris.
"Iya, putri mu sudah lahir." Ray menunjukkan bayi mungil Raka pada ayahnya.
"Apa?" Raka menoleh pada bayi mungil nan cantik miliknya, putri semata cintanya, sontak senyum haru mengembang namun sesak pula menyeruak.
"Sayang." Seketika Raka teringat pada ibu dari putri perdananya "Krys." Panggilnya seraya melangkah cepat menuju kamar VVIP milik Krystal. Desah kasar terdengar gaduh.
Pintu putih itu terbuka seiring dengan masuknya Raka "Sayang." Panggil nya memutarkan pandangan.
Tak ada sosok cantik yang ingin sekali dia kecup, setelah mampu memberikan semungil putri cantik padanya.
Raka memasuki kamar mandi yang ternyata kosong, melanjutkan berjalan ke arah balkon kamar dan tak ada satupun penghuninya.
Drreettt......
Satu pesan teks menggetarkan pahanya, gegas Raka meraih gawai pipih miliknya dari saku celana, memindai kiriman dari sang terkasih "Krystal."
📥 "Tolong jaga putri ku. Sedikit saja kau buat dia sakit, akan aku tuntut kamu! Terimakasih sudah menceraikan aku. Semoga bahagia dengan hidup baru mu, tanpa aku, benalu yang tak pantas masuk ke dalam rumah tangga bahagia mu, aku pergi tidak untuk kembali."
BRAK!
Lemah tak bertulang jemari-jemari nya, hingga tak lagi mampu Raka mempertahankan ponsel dalam genggamannya.
"Krys!" Lirihnya, sesak "Kenapa kau harus pergi setelah melahirkan putri kita? Bercerai bukan berarti kamu harus pergi jauh dari ku!"
Tak mau berlama-lama meratapi, Raka keluar dari kamar VVIP milik istrinya, berjalan cepat, menghunuskan pandang tajam pada seluruh antek-antek yang berbaris di sisi lorong.
"Goon!" Satu teriakan Raka tujukan pada ketua jaringan keamanannya "Siap Tuan muda!" Jawabnya sigap.
"Cari Nyonya muda mu sampai ketemu! Di mana pun dia berada, bawa pulang dia tanpa sedikitpun cacat! Bila perlu, blokir semua bandara, stasiun, ataupun terminal, SEKARANG." Titah nya dengan nada mencekam.
"Baik Tuan." Semua orang berpencar setelah menundukkan kepalanya segan. Bergegas menjalankan tugas.
"Huuaaaarrrggh!" Raka tendang satu pot bunga kecil hingga hancur berkeping-keping.
Memejamkan mata merasai sesak yang menyeruak ke dalam dada.
Bercerai....
Bukan lantas, Krystal harus pergi meninggalkan putrinya. Ini sangat tidak masuk di nalar.
Lalu bagaimana dengan kondisi tubuh Krystal saat ini. Sudah pasti lemah, memerlukan perawatan.
...• • • • • • • • • • •...
...Bersambung.... Dukung author dengan Like vote komen dan hadiah nya 🤗😘 Terimakasih....