
Krystal melangkah mendekat hingga saling berhadapan. "Kamu curi ide ku!" Dia pukul dada bidang Raka dengan kekesalan mendalam.
Raka terduduk di kursi setelah terkena pukulan, dia mendongak menatap bingung wajah berang Krystal.
"Ide?"
Krystal menunjuk iklan yang ditampilkan oleh layar komputer Raka. "Ini, ini ide ku, ponsel yang kamu bilang besutan Xmeria itu rancangan ku, kau yang mencurinya, kamu tega Raka, itu produk pertama yang akan aku luncurkan. Kamu tega mencurinya!" Teriaknya.
Raka mengernyit. Sungguh tak tahu menahu tentang hal ini. "Rancangan? Mencuri? Sumpah, aku tidak mencurinya, ini rancangan Queen." Sanggah nya.
"Bohong! Kamu pasti ambil buku ku, kamu pasti mempelajari dan membuatnya!"
Raka mengangguk sembari berdiri. "Iya, aku mempelajari dan membuatnya. Tapi bukan dari buku mu, itu di tulis tangan oleh Queen sendiri Yank." Tak sengaja sebutan itu menyeletuk selalu.
"Mana bisa anak sekecil itu membuat rancangan dengan detil yang sama persis dengan rancangan ku? Kamu bohong! Aku akan laporkan ke polisi, kamu memplagiat karya ku!" Krystal meracau sambil memukuli Raka serampangan. Kesal sudah pasti.
"Diam, Krys! Dengar dulu penjelasan ku!" Raka mencekal kedua lengan wanita itu, dan lumayan membuatnya tenang.
"Apa lagi, ini semua sudah jelas!" Tuding Krystal.
"Kamu lihat tulisan tangan ini." Raka mengutak-atik mouse komputernya, ada file yang tersimpan di sana.
Di sisinya, Krystal melihat sendiri, video harian Queen saat memberikan bukunya pada Raka, dan di teliti oleh Raka. Itu tulisan dan goresan tangan Queen yang natural benar-benar tidak mungkin di buat-buat.
"Yeay, Queen mau jadi penemu." Ucap gadis kecil itu bersorak gembira saat di puji Raka dan Andre dalan video berdurasi sekitar tiga puluh menit itu.
Krystal terdiam sedikit demi sedikit dia percaya pada ucapan Raka. "Tapi itu ide ku." Lirihnya.
Raka memandang Krystal. "Lalu bagaimana? Produk sudah di pasarkan, dalam waktu singkat semua outlet-outlet besar memesannya." Ujarnya.
"Berapa triliun kerugian yang akan terjadi, jika produk itu kita tarik lagi. Membuatnya juga bukan perkara mudah." Tambahnya lagi.
"Kamu mau lapor polisi? Kamu tega mensomasi putri mu sendiri? Lihatlah, tertera di sini, pencetusnya Queen Kirana Rain. Barusan rekor muri menghubungi ku, Queen di nyatakan sebagai pencetus termuda di dunia teknologi! Sumpah demi apa pun. Aku tidak tahu dari mana dia mengambil idenya. Selama ini aku sibuk mencari mu ke sana kemari."
Krystal mendengus lirih. "Kamu jahat."
"Kamu duduk." Raka menuntun Krystal duduk pada kursi kebesarannya, dia ambil satu gelas air putih dan memberikan pada Krystal. "Minum dulu." Ucapnya.
Krystal menurut, meskipun marah, tapi mau bagaimana lagi? Queen yang menjadi tameng di antara produk curian Raka.
Tidak mungkin dia mensomasi putrinya sendiri, mau di kata apa nanti? Queen gadis lugu yang polos, pasti ada alasannya dia melakukan hal ini.
Raka meraih gelas dari tangan Krystal, setelah wanita itu menghabiskan seluruh isinya. "Sudah lebih tenang kan?" Tanyanya.
Krystal mengangguk di antara keheningan dirinya yang sebenarnya ricuh dengan pemikiran.
Menatap dalam wajah Krystal, Raka mengepung wanita itu di kursinya.
Tangan Raka menggelenyar ingin membelai rambut yang menyelampir di wajah Krystal.
Perlahan tapi pasti, Raka menuruti keinginan dirinya. "Aku merindukan mu."
Ucapan itu mengembalikan kewarasan Krystal yang entah kenapa terdiam tenang dalam belenggunya, dia mendongak sinis. "Jauh-jauh!" Dorong nya hingga terpental ke belakang.
Raka mencebik. "Kamu ini seperti psikopat, kadang lembut kadang ketus."
Krystal bangkit. "Minggir!"
Raka menghalangi. "Mau kemana?"
"Tentu saja memikirkan ide baru, kau sudah mencurinya, aku tidak seperti mu yang hanya bisa mencuri, aku akan menemukan ide baru dan mengalahkan produk curian mu!"
Raka mengangguk. "Aku percaya kamu mampu. Tapi, biasanya produk besutan itu akan lebih di minati, orang akan percaya dengan merek yang sudah lawas dan terkenal performa nya!" Usulnya.
Krystal mendelik. "Besutan? Cih? Kamu pikir aku tidak bisa sukses di atas nama ku sendiri begitu?"
"Aku tidak bilang begitu! Tapi kalo ada koneksi untuk apa merintis?" Sanggah Raka.
Sejenak Krystal terdiam menatap wajah Raka yang selalu rupawan. "Aku muak melihat mu!"
"Tapi aku candu menatap mu." Sela Raka.
"Pembual!" Baru saja Krystal melewati tubuh tinggi Raka, Queen sudah lebih dulu memasuki ruangan dengan lompatan girangnya. "Mammi Krystal? Kamu di sini?" Tanyanya.
Krystal menghela napas, gara-gara bocah ini dia harus membuat rancangan baru atau produknya akan di katakan meniru Xmeria, tapi wajah polos Queen membuatnya lebih meluluh.
Raka duduk pada kursinya, matanya menatap rok milik Krystal yang tertarik ke atas saat membungkuk kan tubuhnya. Bukan Raka jika tidak berpikir ke arah sana. Bibir bawahnya dia gigit tanda kenakalan lelakinya.
"Seksi." Celetuknya.
Krystal menoleh. "Kau menatapku?"
Raka menggeleng. "Tidak."
"Messum!"
Raka berdiri meraih pinggang ramping Krystal yang menatap marah dirinya. "Bukan messum, tapi normal!"
"Jauh-jauh kataku!" Pukul Krystal.
Kembali Raka terduduk pada kursinya. Dia terkikik kecil melihat wajah tersipu Krystal yang kian merona merah. Jelas Krystal masih memiliki perasaan meskipun hanya secuil.
Tak mau lama-lama berkonfrontasi, Krystal beralih pada Queen. "Mammi pulang dulu yah, nanti sore Mammi jemput Queen."
Queen menggeleng. "Tunggu sebentar, jangan dulu pergi, Queen mau meminta saran Mammi."
Krystal mengernyit. "Saran apa?"
"Queen sudah memilih beberapa gadis cantik dan seksi yang akan menjadi istri baru Daddy. Mammi harus memberikan saran, kira-kira mana yang cocok untuk Daddy?"
"Gadis?" Krystal mendelik. Raka melipat bibir mendengar ucapan putrinya.
"Iya." Angguk Queen dengan cengiran gigi berlubang nya.
"Lady's masuklah!" Queen memberikan lambaian tangan pada gadis-gadis pilihannya untuk masuk ke dalam ruangan.
Semua gadis berpakaian menarik itu masuk dan berjejer di sisi Queen. Krystal mengerut kening, tak paham dengan apa yang putrinya lakukan.
Anak sekecil itu bisa mengumpulkan wanita cantik yang mungkin akan membuat iman Raka goyah.
"Kamu ngapain ajak mereka ke sini sayang?" Krystal menatap protes Queen-nya.
Raka mengusap bibir berusaha menahan diri tatkala melihat kecemburuan yang terlihat jelas di wajah cantik Krystal saat ini.
"Menurut Mammi yang mana yang cocok untuk Daddy, ayok tunjukkan?" Queen mengetuk dagunya sambil memikirkan.
Krystal menggeleng cepat. "Tidak ada! Semuanya jelek! Daddy tidak akan suka!"
"Kata siapa?" Cetus Raka menyela. Krystal menoleh. "Maksudmu?"
"Aku suka mereka!" Raka menunjuk gadis-gadis itu dengan alis nakalnya.
Queen menyengir. "Yang mana Daddy suka? Ayok tunjukkan!"
Kembali mata Raka menelisik ke arah gadis-gadis cantik itu. Pakaian ketat dan mini membuat semua gadis itu berpenampilan menarik.
Di tempatnya Krystal mengerut bibir, bisa-bisanya Raka menatap gadis lain di hadapannya. Lalu apa arti kata rindunya. Pembual! Umpat nya.
"Yang mana lebih cepat!" Sambar Queen lagi. Dia juga mengamati raut cemburu ibunya.
Raka menunjuk satu gadis. "Daddy suka yang paling kanan." Cetus Raka menyipitkan matanya.
"Kenapa?"
"Dia manis, seksi, cantik, pasti hatinya pun baik." Kata Raka sambil menggerakkan tangannya memuji lekuk tubuh gadis itu.
Krystal mengambil pulpen dari atas meja Raka, dia lempar mengenai dada bidang lelaki itu. "Kamu memang tidak pernah bisa berubah!" Sarkas nya.
Krystal pergi dari ruangan Raka dengan gurat kemurkaan, bahkan wajahnya lebih murka dari saat dia datang barusan.
Panas hati lebih mendalam tatkala sang yang pemilik masih menguasai hati. Tiga tahun lamanya Krystal berhubungan dengan Hyun Ki, tak jua mampu membuatnya beringsut dari Raka-nya.
Padahal apa sih yang dia dapatkan dari Raka dahulu? Selain harta yang melimpah, Raka hanya bisa menyakitinya.
"Bodoh! Untuk apa kau ke sini? Hanya untuk menyaksikan lelaki sialan itu!" Rutuk nya tertuju pada dirinya sendiri.
^^^Bersambung....^^^
Sore insya Allah up lagi.... Terimakasih dukungan nya kakak semua yang masih setia di sini..... Semoga sehat selalu.....