
Raka, entah kapan kamu membaca surat ini, tapi aku yakin aku sudah tiada saat kau melakukannya.
Lama sudah aku tahu ada sesuatu yang tumbuh dan menggerogoti isi kepala ku.
Terimakasih sudah memberi ku putri kecil yang cantik dan sangat menyayangi ku.
Meskipun aku tidak lagi mendapat cinta darimu, setidaknya Queen mengobati segala kesah yang aku rasakan.
Terimakasih atas belas kasihan mu yang membuat ku bertahan hidup sampai putriku sebesar itu.
Aku tahu kamu masih mencari Krystal ke sana kemari, aku tahu sayangmu telah beralih dari ku. Awalnya aku ingin pergi yang jauh darimu agar tak lagi merasakan kesakitan ini, tapi untuk apa aku pergi?
Melihat putri mu yang lucu membuat ku ingin terus berada di sisinya. Aku egois kan Ka, dan itu yang membuat mu beralih rasa.
Tidak apa, itu sudah menjadi garis takdir ku di per_istri pria seperti mu.
Enam tahun aku menutupi kesakitan ku, berharap kau tak lagi rikuh dengan keberadaan ku.
Jaga putri ku Raka, putri kecil yang lahir dari rahim sahabat ku. Putriku penurut. Aku yakin Queen bisa menerima ibu baru meskipun kau tidak bisa mendapatkan kembali Krystal mu.
Aku sangat mencintaimu Raka.
^^^𝓥𝓲𝓸𝓷𝓪 𝓡𝓸𝓼𝓶𝓪^^^
...• • • • • • • • • • •...
^^^ᴶᵃᵏᵃʳᵗᵃ, ᴵⁿᵈᵒⁿᵉˢⁱᵃ, ᴴᵃʳⁱ ᵇᵉʳᵏᵃᵇᵘⁿᵍ ⁱᵗᵘ.^^^
"Mammi, ..."
Berjalan memegangi dua eskrim di kedua tangannya, Queen memasuki kamar orang tuanya.
Terlihat di atas ranjang sana Viona terduduk lemah dengan bibir yang pucat. "Queen." Desah nya lirih.
Queen mendekat. "Bukakan eskrim nya, satu buat Queen satunya lagi buat Mammi." Sodor nya mengusulkan. Queen menyukai keseruan makan eskrim saat bersama seseorang.
Viona menggeleng. "Mammi kan sudah bilang, jangan terlalu sering makan eskrim, gigimu sudah berlubang." Tutur nya.
"Tapi tadi malam Queen sengaja beli ini untuk Mammi, Queen simpan sampai pagi di lemari beku." Sanggah Queen.
"Buang saja." Lirih Viona.
Kendatipun merengut, Queen menurut untuk mengangguk. "Baiklah." Ujarnya lirih.
Viona tersenyum lemah, tumben sekali tak ada perlawanan dari gadis pemberani itu. Biasanya memberi tahu Queen sama halnya memberi tahu Raka. Tak pernah ada respon yang baik.
Queen berjalan keluar dari kamar, di sofa sana Raka tengah berkutat dengan gawai tipisnya.
"Aku mau meluncurkan produk terbarunya. Jangan lupa kalian berikan lebel Queen. Produk ini di cetuskan oleh putriku."
Sempat Queen mendengar ucapan Raka pada pegawainya melalui telepon. "Daddy." Panggil nya.
Tak pernah sekalipun Raka mengacuhkan putri semata wayangnya. "Hmm?" Lirik nya.
Queen menyodorkan dua eskrim di tangannya. "Buang kan ini dong, aku tidak rela membuangnya, dia terlalu manis untuk di buang. Daddy pasti bisa membuangnya untuk ku." Pintanya.
"Kenapa di buang?" Sambung Raka. Itu eskrim kesukaan Queen yang masih baru.
"Mammi yang menyuruhnya." Queen berujar pelan seperti tak ingin merelakan.
Raka memutar bola mata malas. "Mammi selalu saja melarang mu. Are you okay?" Tanyanya kemudian.
Queen menggeleng. "Tidak apa. Mammi begini karena sayang padaku bukan?" Ucapnya.
"Tentu saja." Angguk Raka.
"Daddy selalu saja mementingkan pekerjaan Daddy daripada Mammi. Sekarang buang hp mu itu, temani istrimu, di kamar Mammi butuh Daddy, akhir-akhir ini Mammi sering sakit, kemarin saat Daddy pergi ke Korea dia sering mual muntah, bahkan pingsan, Queen takut Mammi sakit lagi."
"Oya?"
"Iya." Polosnya mata Queen mengedip.
Raka mengelus puncak kepala gadis itu sebelum kemudian bangkit dari duduk. Ada Andre di sudut tempat yang lalu dia panggil.
"Ndre, bantu Queen membuang eskrim nya." Titahnya seraya melangkah ke arah kamar miliknya.
Andre tersenyum pada Queen. "Ayok sini kita release eskrim nya di kulkas lagi, ..." Ajaknya.
"Kenapa tidak di buang ke tong sampah?"
"Membuang makanan tidak baik. Dosa loh. Kalo Queen tidak mau memakannya, taro lagi saja." Tutur Andre.
"Okey." Satu eskrim Queen sodorkan pada Om nya, sementara satunya lagi dia bawa sendiri. Keduanya berjalan menuju dapur bersih di sudut tempat luas itu.
"Viona!"
Andre dan Queen menoleh pada Raka yang menggendong tubuh Viona dengan gurat kecemasan. Sontak Andre dan Queen membuang eskrim di tangannya.
Berlari mengekor di belakang Raka yang menuruni anak tangga, "Mammi!" Andre yang melihat Queen kesulitan menuruni anak tangga dia comot gadis itu lalu melanjutkan larinya.
Sudah biasa Viona pingsan, tapi sepertinya akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengkhawatirkan, Andre juga ikut cemas dibuatnya.
Raka memasuki mobil setelah berteriak pada salah satu bawahan, di susul oleh Andre dan Queen yang memasuki pintu penumpang bagian depan.
"Viona!" Raka gusar menyadari tak ada satupun pergerakan yang Viona lakukan. Di sela ketakutan ia cek denyut nadi dan embusan napas yang sudah tak terasa.
"Vio, ..." Tubuh Raka bergetar hebat, panas dingin rasanya, meskipun selama ini Viona tak lagi dia perhatikan, tetap saja Viona masih menjadi tambatan hatinya.
Di atas ranjang berukuran super king itu. Terduduk Raka termenung menatap lembaran kertas yang sengaja di tulis oleh istri pertamanya. Lama tak dia perhatikan Viona akhirnya mengalah pada keadaan.
Sesak yang Raka rasakan tak mampu dia tepis, kendati bukan yang terakhir tetap Viona lah cinta pertama nya, dan Krystal masih menempati posisi terakhir itu sampai detik ini.
Terkadang, manusia menunggu kepergian untuk menyadari betapa berharganya seseorang yang dia abaikan.
...• • • • • • • • • • •...
^^^ᴰᵘᵃ ʰᵃʳⁱ ᵏᵉᵐᵘᵈⁱᵃⁿ,ˢᵉᵒᵘˡ, ᴷᵒʳᵉᵃ.^^^
Langkah gagah Hyun Ki sedang terayun menuju sebuah lift yang baru saja terbuka dan Mario mengiringi setiap langkah kakinya.
Berpakaian tebal ala musim dingin mereka berdiri menatap layar LED setelah menekan lantai teratas bangunan mewah ini.
Desah halus Hyun Ki keluarkan, pagi tadi dia melakukan perjalanan dari Indonesia dengan jet pribadi.
Gundah masih menyelimuti hati namun rindu tak pula mampu ia tutupi, tetap saja ego cintanya ingin menyembunyikan Ae Cha kesayangannya.
Pergulatan batin masih riuh, pintu lift sudah terbuka kembali. "Silahkan Seonsaengnim!" Kata Mario.
Hyun Ki melangkah keluar dan langsung di suguhkan dengan balon-balon kecil berwarna-warni di depan pintu kaca Penthouse miliknya.
Wajahnya mengernyit. Hyun Ki paling tidak menyukai benda-benda seperti ini, "Siapa yang melakukan ini?" Gumamnya.
Pintu geser itu Hyun Ki sentuh dan terbuka seketika itu juga. Lalu kejutan menyambut kedatangannya. "Taraaaa!"
Saeng-il chughahamnida! Saeng-il chughahamnida!
Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun!
Saranghaneun Hyun Ki ssi
Hyun Ki kesayangan.
Saeng-il chughahamnida!
Selamat ulang tahun!
Hyun Ki mengedarkan pandangan, di mana semua orang menatap senyum wajah tampan yang dingin miliknya.
Kemarin saat ia meninggalkan Korea, ada harapan ingin membawa kabar baik pada putranya, tapi kepergiannya ke Indonesia justru membuat gundah gulana merana.
"Saeng-il chughahae Appa!" Joon meraih tangan ayahnya untuk duduk pada salah satu sofa. "Joon sayang Appa!" Katanya menyengir dan menampilkan gingsul giginya.
Hyun Ki mengelus lembut puncak kepala putranya. "Nado." Singkatnya. Aku juga.
"Hyun, ..." Hyun Ki menoleh pada ibu dan ayah yang memanggilnya. Mereka, Ji Hoon dan Ji Soo Ry. "Eomma, Appa." Sapanya.
Kedua orang tua Hyun Ki bergantian memberikan pelukan hangat juga kecupan kecil di pipi CEO tampan itu. "Chughahae-yo." Ucapnya.
Hyun Ki hanya menjawab dengan anggukan kepalanya sedingin hari-hari biasanya sebelum ada Joon dan Krystal di sisinya.
"Chughahae Hyeong!" Yarish menyeletuk.
"Selamat Seonsaengnim!" Tambah Mario.
"Gamsahabnida." Sahut Hyun Ki.
Krystal mendekati, dengan duduk di sisi kanan Hyun Ki, dia tersenyum menatap wajah lusuh kekasihnya, mungkin lelah yang Hyun Ki rasakan, apa lagi Hyun Ki paling tidak suka dengan kejutan norak seperti ini.
Melihat kedekatan mereka, semua orang membiarkannya dengan mengalihkan perhatian, "Kita makan malam gimana?" Ajak Yarish.
"Ayok, kita makan BBQ sapi." Sahut Joon antusias. Semua orang bersemangat menuju meja makan, di sana telah lengkap dengan jamuan makan malam tak biasa.
Krystal sengaja membuat sedikit lebih banyak sapi barbeque karena dia tahu malam ini calon mertuanya datang dan menginap untuk merayakan ulang tahun kecil putranya.
Tak seperti CEO CEO lainnya, Hyun Ki tak suka merayakan ulang tahun, maka sedikit saja kejutan yang Krystal dan keluarganya berikan, sekedar untuk membuat Joon senang.
Hyun Ki masih duduk terdiam tak mau menatap ke arah Krystal. Sementara Krystal meraih tangan mulus lelaki itu dengan senyum manis yang tak pernah terbit saat menjadi istri Raka.
"Gimana Eropa? Oppa betah?"
Hyun Ki menoleh seketika. Jelas Krystal menyindirnya, kemarin saat video call sudah pasti Krystal bisa mengidentifikasi keberadaan Hyun Ki yang sebenarnya.
"Kamu tahu kan aku tidak ke Eropa?" Tuding Hyun Ki dingin dan Krystal mengangguk.
"Aku ke Indonesia, menemui suamimu." Tambah Hyun Ki.
"Untuk apa?" Meski bertanya, sepertinya Krystal tak heran dengan pemberitahuan dari kekasihnya.
"Untuk melihat situasi, sepertinya kau dan Raka memang di takdir kan bersama."
Hyun Ki menundukkan wajahnya merasai sesaknya. Baru saja ingin melenggangkan langkah ke jenjang pernikahan lagi-lagi pupus karena keadaan.
"Apa karena Viona yang meninggal dunia?" Celetuk Krystal.
Sontak Hyun Ki menoleh. "Kamu tahu tentang ini?" Tanyanya berkerut kening.
Kedua bahu Krystal naik bersamaan. "Tentu saja tahu. Dunia persosial media an geger tentang itu." Jawabnya santai.
Tak ada raut lain yang mampu Krystal tampilkan. Mungkin benar kata orang. Rasa manusia akan mengapur saat raga tak lagi berbaur.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Cecar Hyun Ki.
Krystal menggenggam tangan Hyun, memberikan elusan lembut di punggung Jemari-jemari nya.
"Queen masih putriku, tapi Raka sudah bukan suamiku. Dalam agamaku, tidak menafkahi selama tiga bulan saja sudah dianggap menceraikan. Apa lagi sedari awal dia memang sudah ingin menceraikan ku. Aku tidak akan pernah kembali meskipun Raka telah sendiri, Oppa."
"Kamu yakin? Kamu yakin tidak akan pernah berubah pikiran setelah melihat putri kecil mu?" Tukas Hyun Ki tak mempercayai.
Krystal mengangguk. "Aku pasti menginginkan Queen saat bertemu dengannya, tapi Queen milik Raka."
"Ada kesepakatan yang menjadi tembok di antara kami. Aku harus rela sakit setelah mengusulkan kesepakatan itu. Mungkin dulu rasa cinta mem_bodoh kan aku, dan Queen lahir sebab dasar itu, tapi hidup harus maju bukan, aku berharap tidak akan ada lagi cinta yang mem_bodoh kan aku." Lirih Krystal.
Hyun Ki menyimak setiap kata-kata yang berduyun-duyun keluar dari bibir kekasihnya, Hyun baru melihat sisi lain yang Krystal tampilkan.
"Oppa, ..." Krystal menatap dalam wajah tampan kekasihnya yang masih bergeming dengan pergulatan batinnya. "Saeng-il chughahae, Oppa." Ucapnya. Selamat ulang tahun Oppa.
Perlahan Krystal memangkas jarak di antara kedua wajah rupawan ini, Hyun Ki mematung, antara percaya dan tidak dia rasakan saat ini, embusan napas yang saling berkaitan menggempur pertahanan Ji Hyun Ki yang selalu ingin menjaga kesucian sang kekasih.
"Aku mencintaimu, Oppa." Ucap Krystal untuk yang pertama kalinya Hyun Ki dengar.
Tanpa bertanya lagi lelaki itu mematuk setangkup bibir di hadapannya dengan mata yang terpejam.
Tangannya merangkum rahang bawah milik Krystal, desiran aneh, detak jantung yang mengencang, keduanya alami secara bersamaan.
Mungkin ini dosa besar yang Krystal sengaja kan. Bertautan bibir dan indera perasa dengan lelaki yang bukan suaminya.
"Hhhhh." Deru napas Hyun Ki rusuh, hingga menaik turunkan dada bidangnya yang kian menggebu-gebu.
Menyadari itu Krystal mundur dari permainan. "Oppa." Geleng nya.
Terlepas dari pagutan bibir Krystal Hyun Ki ternganga kecil, merasa bersalah telah menyentuh wanita itu. "Maaf kan aku." Ucapnya.
^^^Bersambung....^^^
Terimakasih partisipasi Like dan komentar nya KK 🤗