
Sepekan sudah Raka hidup tanpa Krystal di sisinya, dia hanya menyimak kabar istri ke dua nya dari ayahandanya.
Syukurlah, Krystal betah tinggal di mana pun tempatnya. Elevy sudah pasti sangat menyayangi Krystal seperti putrinya sendiri, telah lama Elevy menginginkan menantu idaman yang menyenangkan dalam hal apa pun.
Viona memang baik, tapi lebih terkesan sibuk dengan Raka dan dirinya sendiri saja, tidak ber- kepedulian tinggi seperti Krystal.
Kejamnya adalah lagi-lagi kedua mantu cantik itu di bandingkan, tentu ini tidak adil bagi Viona.
Di atas kursi kebesarannya, Raka duduk menyandar memutar-mutar tubuhnya sembari memainkan globe kecil miliknya. Krystal dan Viona lah yang saat ini bertengger di otaknya.
Dia memikirkan cara bagaimana menyatukan kedua istri agar bisa saling melengkapi satu sama lain, menjadi wanita yang selalu patuh di bawah naungannya, di bawah atap yang sama.
Apakah mampu? Dia bertanya dalam kediaman.
Retinanya stuck, mengikuti arah gerakan globe yang sengaja dia putar dengan jemarinya.
Mungkin Viona tipikal istri yang bernaung di bawah ketiak suaminya, tapi tidak dengan Krystal wanita mandiri yang tangguh. Tanpa siapa pun Krystal mampu berdiri kokoh di atas kakinya.
Justru Raka yang sering di buat kewalahan olehnya. Sudah mencoba berbagai macam cara meluluhkan hati Krystal, tetap saja wanita dingin itu datar seperti tak memiliki satupun pengharapan dalam hidupnya.
Ting!
Suara saat pintu ruangannya terbuka persis seperti lift, karena ada sensor juga yang menjadi pengamanan pintu tersebut.
Hanya beberapa orang saja yang bisa membukanya, setelah tahu adanya Laura yang di apit para Mafia, sekarang Raka lebih memperketat pengawasan. Banyak karyawan yang dia ganti salah satunya Agnie sang sekertaris.
Raka menghela napas, menegakkan duduknya, meletakkan globe kecil miliknya, menyambut kedatangan sekertaris baru yang masuk membawa setumpuk dokumen, namanya Misha, cantik dan seksi sudah pasti.
"Cepat lah, aku sudah harus pergi!" Ketus Raka.
Sejatinya Raka tak sabar ingin pulang, hanya karena adanya beberapa dokumen yang perlu pengecekan langsung, Raka sengaja menunggunya.
Wanita berpakaian seksi itu berdiri di sisi kursi Raka meletakkan beberapa berkas yang harus dia periksa "Silahkan Pak." Ucapnya dengan nada menggoda.
Tanpa menghiraukan desah manja sekertaris nya Raka meraih berkas-berkas itu.
Minggu depan para direkturnya akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Untuk itu dia perlu memberikan persetujuan dengan tandatangan ajaibnya.
Cukup lama Raka memeriksa satu persatu dokumen di mejanya, di sela aktivitas tak sengaja matanya mengerling ke arah paha mulus dengan tangan lentik yang mengusap lembut bagian itu seolah meminta di sentuh olehnya.
"Kau boleh pergi." Usir Raka tanpa menoleh.
Raka risih dengan hal seperti ini, bukanya tergoda, justru ingatannya terus saja kepada Krystal yang jauh di mata, dia sangat merindukan istri ke dua nya.
Misha menggeleng "Saya tunggu di sini saja Pak, saya sudah tidak ada pekerjaan lain kok, Pak Raka boleh menyuruh ku yang lain, sepertinya Pak Raka butuh pijitan." Tolak wanita itu menawarkan jasa di luar ranah nya.
Dewasa ini banyak wanita tidak tahu diri yang lebih memilih jalan pintas untuk menjadi kaya raya.
Raka memejamkan mata geram saat tangan lancang sang sekertaris memijit lengannya dengan tidak sopan "Turunkan tangan mu!" Lirihnya namun penuh dengan tekanan.
Misha mengernyit "Kenapa? Bapak tidak suka?" Dengan wanita cupu seperti Krystal saja Raka mau masa dengannya tidak, begitu pikir Misha.
"Keluar." Raka masih bersabar dengan nada lirihnya, orang bilang saat istri sedang hamil, tidak boleh membuat perkara dengan orang lain, atau bayinya berpotensi terkena serapah, Raka masih memikirkan nasib anaknya.
Misha menggeleng, tak setuju dengan pengusiran lelaki tampan itu "Tapi, ..."
"KELUAR!" Bentak Raka melirik tajam wanita yang kini gemetar menundukkan wajahnya.
"I-iya Pak." Jawabnya seraya melangkah cepat keluar dari ruangan atasannya.
Raka menghela napas berat bersandar dengan wajah malasnya, membanting kecil dokumen-dokumen yang masih berserakan di mejanya.
"Kenapa semua wanita sama saja! Menggoda laki-laki kaya hanya untuk kesenangan batinnya." Gerutunya mengusap kerutan dahi yang pusing.
"Kecuali Krystal. Yah, dia berbeda." Tambahnya meralat ucapannya, karena tidak semua wanita sama, Krystal berbeda.
Mengingat Krystal-nya, Raka menepuk pahanya sendiri geram "Sial, kenapa aku terus saja memikirkan dia? Kenapa tidak dia yang memikirkan aku? Apa sedikit pun dia tidak pernah merindukan ku?" Gerundel nya masam.
Sepekan lamanya dia tak mendengar suara Krystal, semoga hari ini Krystal mau mengangkat telepon darinya.
Panggilan video yang dia pilih kali ini, rasanya ingin sekali melihat wajah jutek Krystal yang semakin lama semakin cantik saja "Angkat sayang." Gumamnya sambil menggigit bibir bawahnya.
Cukup lama Raka menanti, hingga di panggilan ke tiga Krystal mengangkatnya. Entah ada angin dari arah mana yang membuat wanita itu mau merespon suaminya.
π "Yah, kenapa?" Jawab Krystal judes.
Raka tersenyum manis, akhirnya sore ini dia berhasil mendapat semangat baru, hanya wajah cantik Krystal yang dia lihat di seberang sana dengan background kamar tidur miliknya, di rumah Ray, Krystal tinggal di kamar Raka.
"Sore sayang, gimana kabar mu di rumah Daddy?" Tanyanya menyengir, alangkah bahagianya dia sore ini.
π "Baik."
Raka bersandar pada kursinya membuat posisi tubuh senyaman mungkin di sana, biarkan dulu dia tunda pemeriksaan dokumennya, mumpung ada momen mengobrol dengan sang istri, Raka tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
"Sudah mandi?" Tanya Raka lagi masih menyengir, entah bagaimana nasibnya jika sampai Viona melihat ekspresi wajahnya saat ini.
π "Belum."
Seketika Raka menegakkan duduknya, saliva terlihat meluncur ke tenggorokan mendengar kata belum dari seberang sana.
"Kebetulan kalo begitu, sekarang saja Yank, bawa Hp mu ke kamar mandi, aku mau melihatnya." Usulnya menyengir.
π "Messum!" Sarkas Krystal ketus. Selalu saja datar ekspresi mukanya. Kapan Raka bisa membuat Krystal tersenyum?
"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu, lama aku tidak menyentuh mu, setidaknya aku bisa melihatnya." Rengek Raka.
π "Tidak mau!"
"Kenapa?" Tanya Raka.
π "Tidak ada alasannya. Aku harus mandi, sekarang tutup teleponnya, kau sudah berjanji untuk menjauhi ku, sekarang lakukanlah, jangan jadi laki-laki yang di depan Viona manis tapi di belakang mengkhianati." Jawab Krystal sekaligus menyindir.
"Justru dengan mu, aku bisa jujur, aku bisa mengutarakan semuanya padamu, aku mencintaimu dan dirinya." Sambung Raka.
Krystal memutar bola mata malas "Aku tutup." Baru saja ingin menutup Raka mengalihkan pertanyaan "Gimana Baby kita?"
Krystal urung menekan tombol di layar ponselnya, biar bagaimanapun juga Raka berhak tahu kabar kandungan nya.
π "Baik."
"Kapan kita ke dokter sama-sama? Seperti Daddy- Daddy yang lainnya aku juga mau. Mengantar mu senam hamil dan lain sebagainya Yank." Keluh Raka.
π "Tidak perlu. Sudah ada Mammi Daddy yang akan menemani ku, kamu fokus saja urus Viona, jangan sampai kamu menyesal setelah perginya dia dari hidup mu hanya karena memilih ku."
"Tapi apa setelah itu aku yang akan menyesal kehilangan mu?" Timpal Raka.
π "Sesuai kesepakatan. Kita akan berpisah setelah anak mu lahir."
Tuuuutt....
Tak mampu menerima ucapan Krystal, Raka mematikan sambungan teleponnya secara sepihak "Kenapa kau harus sekeras kepala itu!" Umpatnya merutuk.
BRAK....
Raka melempar ponsel miliknya ke permukaan dinding kaca transparan hingga hancur berkeping-keping, berserakan di lantai marmer ruangannya.
Raka remas rambut pekatnya dengan sebelah tangan "Bahkan sekarang kita sudah berpisah, dan kau masih tenang-tenang saja di sana!" Gerundel nya.
...β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’ β’...
...Bersambung..... Terimakasih dukungan nya, semoga kalian sehat jasmani rohani dan ekonomi nya π...
.
.