
Tengah malam Hyun Ki termenung, tatapan nya melenggang pada embusan angin kencang yang menggugurkan warna-warni dedaunan.
Merasai hangatnya kesalahan yang tak ingin dia buat, kenapa aku jadi egois begini? Kenapa aku harus menyembunyikan Krystal? Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan? Krystal istri Raka dan aku tega menyembunyikan nya.
Hanya dengan sekali ketikan perintah, nama Yarish dan Krystal tak ada nampak di daftar karyawan JM company.
Sempat Raka berkeliling mengamati setiap wajah karyawan baru di perusahaannya, tak mendapat hal yang Raka inginkan.
Siang tadi Raka pulang dengan wajah kecewa dan itulah yang menjadi alasan mengapa Hyun Ki merasa bersalah sampai malam ini.
Raka memang arogan, tapi manusia itu tak pernah menikam temannya, Hyun Ki menyukai pribadi Raka yang selalu memikirkan kepentingan orang lain.
Hyun Ki sempat tak percaya jika Raka yang dia kenal pernah menjadi murid penindas yang miskin, jelek dan bodoh.
Kenyataan yang Hyun Ki lihat adalah, Raka dermawan, senang berbagi, setia pada Viona. Berapa wanita seksi yang merayunya di Eropa sana, cinta Raka tak pernah tergoyahkan.
Uang jajan dari Ray, acap kali di bagikan kepada keluarga yang tak mampu. Jelas Viona yang berjasa untuk semua perubahan itu. Sedikit demi sedikit, Raka berubah lebih baik.
"Seonsaengnim." Tuan.
Suara itu terdengar dari belakang, Hyun Ki menggeser tatapannya pada bayangan yang terpantul dari kaca jendelanya, sosok cantik nyaris sempurna yang berdiri tak jauh darinya.
Hyun Ki memutar tubuhnya memandang ke arah Krystal, seperti biasa wanita itu memakai piyama longgar tapi aura kecantikan tetap terpancar.
Rambut ikal coklatnya terurai, pipi mulusnya gembul, bibir merekah, alis kerang, hidung yang mancung runcing, wajah cantik itu tak ingin dia lepas dari kedipan matanya.
"Naega malhaessjanh-a deo isang seonsaengnim-ilago buleuji malgo oppalago bulleo." Aku sudah bilang kan, jangan panggil Tuan lagi, panggil aku Oppa.
Krystal mengangguk "Oppa." Hanya sebutan saja tak masalah baginya. Dia ke sini ingin mengucapkan terimakasih pada lelaki tampan ini.
Ketampanan paras Asia yang berbeda karakter dari suaminya. Raka memiliki ciri khas wajah yang seksi dengan jambang tipis.
Sementara Hyun Ki putih mulus tanpa celah. Keduanya tampan dengan kharismanya masing-masing.
"Gomawoyo Oppa." Terimakasih Oppa. Ucap Krystal tersenyum.
"Mueos ttaemun-e?" Untuk apa? Tanya Hyun Ki.
Krystal menurunkan pandangan dengan memainkan tangannya "Oppaneun Raka-ege naega eodie issneunji malhaji anh-***-eo" Oppa tak memberitahu Raka di mana aku berada. Jelasnya.
"Sang-gwan-eobs-eoyo, Jun-eun dangsin-eul ilhgo sipji anh-eul ppun-ibnida" Tidak masalah, Joon hanya tidak mau kehilangan mu. Katanya.
Sejenak Hyun Ki berpikir, apa benar begitu? Sepertinya bukan hanya ketakutan Joon saja tapi ketakutan ayahnya.
Delapan bulan hidup dengan kekosongan hati, pada akhirnya senyum manis seseorang kembali mengisi.
"Iyuga mueos-ideun gamsahabnida." Apa pun alasannya, aku ucapkan terimakasih. Krystal tersenyum dan itu berhasil menggetarkan jiwa kosong Hyun Ki.
"Yeppeuda, Raka-ga yeogikkaji neol ttalaon geon sasil-iya." Cantik, pantas saja Raka menyusul mu sampai ke sini. Batinnya.
Krystal tersenyum sekali lagi "Ne, bang-eulo dol-awassseubnida." Ya sudah, aku masuk kamar lagi. Pamitnya.
Baru saja Krystal memutar tubuh Hyun Ki berucap kembali "Nalang lamyeon meog-eullae?" Maukah kamu makan ramen dengan ku? Tawar nya.
Hyun Ki belum memakan apapun hari ini, rasa bersalah membuatnya tidak ingin mengisi perut kosong nya.
Krystal tersenyum mengangguk "Hwagsilhan" Tentu saja. Jawabnya. Lagi pun, menyusui membuatnya sering kelaparan di tengah malam begini.
Tak peduli jika nantinya dia berubah gemuk pun, di saat beginilah dia akan tahu siapa yang bertahan mendampinginya.
Hyun Ki meraih tangan mulus Krystal lalu membawanya ke dapur bersih miliknya, tak seperti wanita yang mendapat perlakuan spesial dari CEO tampan pada umumnya.
Tak ada perasaan aneh apa pun yang Krystal kikuk kan, rasa khusus di hatinya masih hanya tertuju pada Raka saja.
"Anj-aseo meogge haejulge geogjeongma naega saon jaelyoneun modu hallal-inikka geogjeonghal pil-yoeobs-eo meog-eul su iss-eo." Kamu duduk lah, biar aku yang membuatkan mu makan, tenang saja, semua bahan yang aku beli halal, jadi tak perlu khawatir, kau bisa memakannya. Titah Hyun Ki.
Sembari mendudukkan diri, Krystal mengerut kening heran menatap gerak tubuh lelaki itu, baru pertama kalinya dia di buatkan makan oleh seorang pria, dulu Raka selalu mau di manja olehnya.
"Oppaneun, hangsang seuseulo yolihabnikka?" Oppa selalu masak sendiri? Tanya Krystal.
Ada rasa penasaran yang menguasai dirinya. Sepertinya Hyun Ki memiliki sifat yang berbeda dengan Raka.
Hyun Ki melirik sekilas pada Krystal yang masih setia menatapnya, sebelum kembali sibuk dengan panci di depannya.
"Naneun honja saneun geos-i igsughada. naneun daleun salamdeulgwa hamkke issneun geos-eul joh-ahaji anhseubnida. geuleohgi ttaemun-e modeun il-eul seuseulo haneun de igsughaejyeoya habnida." Aku terbiasa hidup sendiri. Aku tidak menyukai berdekatan dengan seseorang. Itu yang membuat ku harus terbiasa melakukan apa pun sendiri. Katanya.
Krystal tersenyum tipis, lagi-lagi ingatannya terarah pada sang pemilik hati "Raka pasti kerepotan hidup di sini, Raka bukan orang yang menyukai makanan Korea." Batinnya.
Kembali Krystal menyesal kala menyadari perjuangan besar Raka membawa serta kembali dirinya.
Namun. Jika mengingat masih ada Viona di Indonesia sana, semua asa pupus terhapus kecemburuan.
Padahal, dari awal niatnya menikah bukan untuk hidup bersama dengan Raka. Itulah mengapa manusia di katakan ladangnya dosa. Tak pernah mampu menepis keserakahan hati.
...• • • • • • • • • • •...
^^^ˢᵃᵗᵘ ᴹⁱⁿᵍᵍᵘ ᵏᵉᵐᵘᵈⁱᵃⁿ, ᴶᵃᵏᵃʳᵗᵃ, ᴵⁿᵈᵒⁿᵉˢⁱᵃ.^^^
Raka Rain turun dari mobil, berjalan dengan bahu yang menurun dan wajah lelah setelah seharian bergumul dengan kendaraan.
Siang tadi Raka melakukan perjalanan pulang dengan jet pribadi. Tengah malam begini baru sampai pada mansion milik ayahnya.
Raka menyudahi pencarian yang tak jua membuahkan hasil. Pekerjaan di Indonesia banyak yang terbengkalai.
Raka menyadari, di hidupnya sudah ada Queen yaitu putri yang masih harus dia hidupi. Pencarian ini masih akan berlanjut sampai dia bisa menemukannya.
Lari darinya bukanlah satu-satunya cara. Tapi jika Krystal tidak lari, apakah dia akan ikhlas melepas Krystal-nya. Raka sendiri ingin sekali mengurung wanita keras kepala itu.
Langkah lemah dia ayunkan memasuki rumah klasik ini, menuju kamar tidur miliknya yang sudah lama tak dia tempati.
Raka rindu ingin mengecup buah cintanya bersama Krystal, tapi mungkin di jam segini Queen telah tertidur di kamarnya. Queen lah, alasan utama dirinya kembali ke Indonesia.
Ceklek.....
Pintu bercat putih itu Raka dorong, sontak kening mengernyit mendapati Viona tertidur pulas di atas ranjangnya memeluk Queen putri semata Krystal-nya.
Raka mengalihkan pandangan. Ada Sukma juga yang menemani tidur mereka di sofa.
Tertegun Raka berdiri memandangi ranjang miliknya, lama tak mendengar kabar istri pertamanya, sekarang Viona justru memeluk erat putri milik Krystal.
Tok tok tok!
Suara ketukan membuat Raka menoleh pada ambang pintu, rupanya Elevy masih belum tertidur, Elevy pasti sengaja menunggu kedatangan putranya. Dia tahu Raka pulang hari ini.
"Kamu baru sampai Ka?" Tanyanya.
Raka mengangguk. "Iya." Dia kecup punggung tangan Elevy dengan khidmat dan Elevy mengusap kepalanya. Sedikit memberi kedamaian.
Raka menunjuk ranjang miliknya sedang tatapannya mengarah pada Elevy. "Vio, kenapa dia di sini?" Tanyanya.
Elevy menghela napas "Kemarin Anjas datang ke sini, dia mau meminta maaf atas perlakuan Viona selama ini. Vio menyesal. Vio mohon ampunan darimu, jangan acuhkan istri pertama mu Raka, biar bagaimanapun juga dia yang mendampingi mu sedari awal kamu memimpin perusahaan." Tuturnya.
Raka menundukkan wajah dengan helaan napas panjang "Bukan masalah ampunan nya Mamm, tapi sekarang aku harus kehilangan Krystal." Lirihnya.
Elevy menggeleng "Bukan harus kehilangan, tapi belum di ketemukan, berusahalah sekali lagi, Vio bilang, Vio sudah mau ikhlas menerima Krystal sebagai madunya. Asal kamu bisa adil pada mereka." Ujarnya.
Raka mendongak, mengusap wajah perlahan, bahkan terlihat membuang desah lemah berkali-kali.
"Bukan masalah adil atau tidaknya Mamm, tapi sekarang aku sudah tidak ada harapan lagi bertemu dengan Krystal, se_ikhlas apa pun Vio, Krystal takkan pernah mau berbagi suami." Lirihnya lagi, sebelum melangkah pergi memasuki kamar mandi.
Elevy menggeleng ringan menatap sendu punggung putra semata Ray-nya "Mammi tahu yang Krystal rasakan, karena semua wanita sama, tidak ingin di duakan."
^^^Bersambung....^^^