Second Wife

Second Wife
Seleb cilik



...Visual Queen Kirana Rain....




ᴇɴᴀᴍ ᴛᴀʜᴜɴ ᴋᴇᴍᴜᴅɪᴀɴ,


^^^ᴊᴀᴋᴀʀᴛᴀ, ɪɴᴅᴏɴᴇꜱɪᴀ.^^^


"Harusnya, Queen bisa juara satu tadi, coba saja kalo Queen niat pasti juara, Queen pintar, cerdas, cantik, kekurangan Queen cuma satu, tidak niat!"


Di bawah atap mobil yang melaju sedang Viona duduk merutuki putrinya, Queen nan cantik berpakaian mini itu dihimpit oleh Elevy dan ibu tiri yang dia anggap ibu kandung. Di langit, senja telah mencuatkan semburat jingga nya.


Queen menggeleng "Tidak semua hal Queen harus juara kan Mamm!" Gadis itu menyanggah ucapan ibunya.


Sifat putri Raka memang sedikit arogan seperti ayahnya tapi ada kasih sayang yang tulus di balik kesinisan itu.


Si cantik Queen Kirana Rain telah menjadi selebriti kecil di negara ini, mungkin darah neneknya ikut mengaliri, Queen mendapat penghargaan sebagai artis tercantik, termuda dan terpopuler di Indonesia.


Prestasinya sudah terlampau banyak di usianya yang baru menginjak enam tahun. Jadwal memadati agenda nya.


Syuting film, pemotretan ambasador, syuting iklan, bahkan acap kali melakukan kunjungan wisata untuk acara traveling.


Viona bahagia memiliki putri seperti Queen. Keberadaan Queen di sisinya benar-benar menghiasi hari-hari nya yang hampa. Tak di pungkiri jika Viona menyayangi Queen.


Viona bangga memiliki putri yang di lahirkan oleh sahabat geniusnya. Namun, rupanya tidak untuk kali ini.


Hari ini Viona kesal, setelah Queen gagal menjadi juara pertama di ajang fashion show model cilik Indonesia.


"Iya Vio, kamu tidak capek dari tadi merutuki anakmu begitu, Queen pasti capek, makanya tidak konsen jalan di catwalk nya." Bela Elevy.


Tergelincir dari sepatu heels siapa yang mau, untung saja nilai di sesi tanya jawab Queen menang telak, makanya masih di berikan juara dua.


"Vio geram Mamm, ini pertama kalinya Queen dapat juara dua. Itu karena di pikirannya cuma eskrim saja. Lihat saja, giginya berlubang." Viona mendongakkan wajah Queen sambil membuka mulut mungil Queen yang menurut.


"Namanya juga anak kecil Vio." Sanggah Elvy membela, Queen menguyel wajahnya pada perut neneknya. "Mammi cerewet." Katanya.


Viona menghela napas "Wajah cantik Queen di lahirkan mirip dengan Krystal, seharusnya watak dan sifat nya juga mirip Krystal, cerdas, cekatan, cepat tangkap, tidak mudah di kalah kan, Krystal selalu menang dalam hal apa pun, jangan seperti Daddy yang manja, semua harus ada tanpa usaha, egois." Cerocos nya lagi.


Queen membalikkan tubuh, mendongak menatap ibunya yang masih uring-uringa tak jelas.


"Sebenarnya Krystal itu siapa sih? Kenapa Mammi terus saja menyuruh Queen berkiblat padanya!" Tukasnya kesal.


Viona mengerut kening "Mammi kan sudah sering bilang, Krystal itu ibumu juga. Kenapa terus bertanya?" Tangkis nya.


"Kalo dia ibuku juga, mengapa tidak ada di sisi ku? Hanya ada Mammi Vio saja yang terus marah-marah tidak jelas." Sambung Queen berang.


"Sssuutt, Queen, sama Mammi nggak boleh begitu, Queen harus jaga kesopanan." Elevy menengahi percekcokan antara ibu dan anak ini.


Viona merubah ekspresi wajah dari yang tadinya marah menjadi sendu, perasaan seorang ibu memang sering kesakitan saat putra atau putrinya tak mau di atur.


Queen menilik raut kesedihan Viona, dia merasa bersalah sudah terlepas dari mode nurutnya "Maaf Mamm." Queen berdiri merangkum kedua pipi Viona sambil tersenyum.


Viona membalas tersenyum "Aku mencintaimu." Ucapnya. Queen mengangguk.


"Aku juga, bahkan sangat mencintaimu. Tapi seharusnya Mammi tidak perlu marah-marah hanya karena Queen gagal di juara pertama. Nasib beruntung seseorang bisa saja mengalahkan kepintaran Queen." Tutur Queen menasehati seperti orang tua.


Viona mengangguk. "Maafkan Mammi." Ucapnya tulus.


"Queen maaf kan, tapi jangan marah lagi yah, atau Queen akan lari dari rumah menyusul Mammi yang terus kau bicarakan itu." Jawab Queen menyengir.


Viona tersenyum mengecup puncak kepala gadis cantik itu, memeluk hangat tubuh kecilnya yang duduk di atas pangkuannya.


Tak ada kemarahan lagi setelah itu, sang sopir mengemudi hingga tiba di rumah istana milik Ray.


Elevy turun seorang diri dari mobil melambaikan tangan pada cucu dan mantunya yang masih duduk di jok.


"Kalian hati-hati yah." Elevy beralih pada sopir "Jangan ngebut Pak!" Titahnya.


Kembali mobil hitam mengkilap Viona melaju, menuju rumah istana milik Raka. Canda tawa antara Queen dan Viona mengisi perjalanan yang seru mereka.


Tiba lah sang mobil di halaman rumah Raka, Queen turun dari mobil di susul oleh Viona. Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah.


"Daddy!" Teriak Queen berlari merentangkan tangan mengejar ayah tampannya. Rupanya Raka lebih dulu sampai di kediamannya.


Sepuluh hari lamanya Raka tak pulang, Queen merindukan sosok hangat Raka. Lelaki itu berjongkok merentang tangan menyambut pelukan putrinya.


"Baby lovely ku, cantik ku, manis ku, cinta ku. Dari mana saja hm? Daddy menunggu mu dari tadi." Cecar Raka.


Viona tersenyum menatap putri dan suaminya berpelukan "Sudah pulang Ka?" Tanyanya.


Raka mengangguk mengangkat Queen dalam gendongan lalu bangkit dari jongkok.


"Gimana kabar mu?" Tanya balik Raka. Dia kecup kening istrinya sembari merangkul.


"Baik." Viona memeluk putri dan suaminya, seperti hanya dia yang merasakan keberuntungan memiliki dua kesayangan yang rupawan.


"Kamu tidak sedang sakit kan?" Ulang Raka.


Viona menggeleng.


"Kenapa di meja makan banyak obat-obatan? Itu punya siapa?" Raka mengamati suhu tubuh dan bibir Viona yang sedikit pucat.


"Punya Sukma." Sanggah Viona.


"Tapi kamu pucat." Jemari Raka menyentuh setangkup bibir tipis Viona sedang Queen masih terdiam menyimak kata perkata kedua orang tuanya.


Viona menepis pelan. "Aku pucat karena putri mu, dia kalah kompetisi." Sanggah nya.


Queen menggeleng cepat. "Bukan kalah, tapi tidak juara satu." Ketus nya.


"Sama saja!" Sela Viona.


Queen mencebik. "Tadi Mammi bilang tidak akan mengungkitnya lagi."


"Iya maaf."


Raka mengelakar, "Sayang, kamu yang terbaik, tapi kamu sudah semakin besar, Daddy tidak kuat terlalu lama menggendong mu." Dia menurunkan tubuh putrinya agar berdiri di lantai, lalu berjongkok membisikkan sesuatu di telinga Queen.


"Daddy bawa oleh-oleh dari Korea. Sekarang ambil lah di kamarmu, dan ingat, ini rahasia."


Queen menyengir polos sembari mengecup pipi berjambang ayahnya "I love you so much, Daddy." Ucapnya sebelum kemudian berlari memasuki lift.


"I love you too." Raka menggeleng ringan menatap kelucuan putrinya, dia bangkit merangkul tubuh Viona "Tidak terasa, Queen sudah semakin besar." Katanya lirih.


Kendati lahir prematur, Queen tumbuh dengan baik, ada susu khusus untuk bayi prematur, dan Raka selalu memberikan yang terbaik bagi putrinya.


"Kamu ke Korea lagi Ka?" Raka menoleh mendengar ucapan yang terkesan menuding dirinya.


Meski demikian Raka tak menyangkal, dia anggukan kepala nya. "Ada pekerjaan di sana, kamu tahu kan, perusahaan anakan Xmeria baru akan di mulai di sana." Sanggah nya.


"Bukan mencari Krystal?" Sela Viona. Dalam diam tatapan keduanya saling menusuk satu sama lain.


"Vio, ..." Raka lelah jika harus membahas hal yang stuck di situ-situ saja. Viona bilang mau menerima Krystal sebagai madunya tapi kenyataannya Viona masih sering mengintrogasi.


Viona menggeleng. "Dengar kan aku Raka. Aku tidak masalah, kalau akhirnya nanti kau dan Krystal bersama kembali, asal kau tidak berbohong padaku, aku sudah bilang kan, aku ikhlas." Katanya.


Raka menghela napas, sejatinya pembicaraan inilah yang membuat keduanya menegang setiap kali pertemuan. "Sudahlah, bahas yang lain saja, aku lapar, temani aku makan." Pintanya.


"Emmh." Viona mengangguk.


^^^Bersambung....^^^


Insya Allah up lagi hari ini, silahkan isi kolom komentar dulu👌