Second Wife

Second Wife
Media perjodohan



Malam semakin larut, menyapa rindu yang menyeruput. Gundah gulana menyandera jiwa. Samar-samar pandangan mata menangkap bayang fatamorgana.


Rinai hujan merenyai membentuk tirai-tirai lebat, tak sanggup Raka menyimak setiap pergeseran manusia di lantai bawah sana.


Balkon kamar tempatnya berdiri, memandangi serambi menunggu sang putri yang di bawa pergi oleh mantan istri.


Sore tadi Queen masih menelepon dan mengabarkan akan segera pulang. Namun, sudah selarut ini Krystal masih belum juga membawa Queen nya kembali.


Gawai di tangannya terus memanggil ponsel milik Queen dan selalu tidak aktif. Apakah macet? Terjebak hujan? Atau kecelakaan? Ah, Raka terus memikirkan kemungkinan- kemungkinan.


"Sebenarnya kemana Krystal bawa Queen? Astaga. Mereka benar-benar membuat ku cemas." Rutuk nya.


Kriiiiiing!


Panggilan dari nomor tidak di kenal meminta pengindahan, getaran itu membuatnya gusar, segera Raka menggeser tombol terima.


"Halo."


📞 "Raka, ..."


Tak terdengar jelas suara dari seberang sana, tenggelam oleh bahana air hujan yang menghujam bumi begitu deras.


Raka memasuki kamar miliknya, menutup pintu kaca geser itu rapat-rapat. Lalu hening suasana ruangan membuatnya lebih seksama, kembali Raka mendengar ponsel miliknya.


"Halo."


📞 "Ini aku Ka, Krystal."


Raka mengembuskan napas lega, sekejap dia mengusap dahinya, akhirnya Krystal mengabarinya. "Emmh, kenapa belum juga sampai? Kalian dimana, biar aku jemput." Katanya setengah tenang.


📞 "Tidak perlu. Queen di rumah ku, mungkin besok pagi aku baru bisa mengantar Queen. Dia tidak mau pulang Ka. Dia mau tidur dengan ku di sini, boleh kan?"


Sejenak Raka terdiam, pada akhirnya seperti ketakutannya Queen lebih betah bersama Krystal. "Hmm." Sahutnya lirih.


📞 "Aku janji pagi-pagi sekali aku akan langsung mengantarkan nya padamu."


Raka menaikan kedua bahu. "Tidak apa, hitung-hitung, aku belajar membiasakan diri tanpa Queen. Bukankah hak asuh nanti jatuh padamu?"


📞 "Raka."


"Selamat malam. Aku mencintaimu." Lirih Raka.


📞 "Ka, ..."


Sudah Raka tebak pasti Krystal keberatan mendengar ucapannya. "Sampai kan itu pada Queen, bilang aku sangat mencintainya."


📞 "Oh, ... I-iya, pasti."


Raka menutup panggilan telepon secara sepihak. Hela napas dalam dia lakukan, berusaha mengorek-ngorek, mengais ketenangan yang tak pernah menjadi miliknya.


"Aku jahat, dan tidak akan ada yang tinggal bersama ku, Viona pergi, Krystal membawa Queen, Mammi Daddy muak menghadapi ku. Beruntung aku memiliki banyak uang, setidaknya istana ku tidak kesepian seperti pemiliknya." Gumamnya lirih.


Di istana yang megah, hampa menghujam rasa, kosong menyongsong, bahkan menggerumut, menyeruak tak mau hilang.


Kaca-kaca pada bulatan netra birunya menyempil seperti ingin meluncur ke pipi, tidak, jangan, kamu laki-laki Raka, tak baik sering menangis. Pekikan batin yang menguatkannya.


Raka menghela napas berat, kembali dia keluar balkon, duduk bersandar di atas sofa putih itu. Sejuknya udara malam nan hujan menambah kepiluan hatinya.


Sekejap tangannya mengetik pesan teks yang dia kirim pada salah satu pelayannya.


"Bawakan aku minuman." Tulisnya.


Mungkin itu yang akan membuat Raka tenang. Tak ada siapa pun di rumah ini selain pelayan yang di gaji, hanya koktail yang akan menemani di kesepian dinginnya malam ini.


"Aku tidak memiliki apa pun selain harta. Kenapa tidak aku bawa ke klab malam saja?"


Sudut bibirnya menyunggingkan senyum cibiran, lelaki sepertinya sudah tak pantas datang ke tempat seperti itu, Raka masih memikirkan putrinya yang notabenenya adalah publik figur.


"Kau nikmati saja hidup seperti ini di rumah ini, sendiri, menanti hal yang tidak akan pernah pasti." Gumamnya lengar.


...• • • • • • • • • • •...


Pada rumah sederhana bertipe minimalis modern, masih dengan suasana hujan, warna bangunan masih polos, sebab sang empunya hunian belum menghiasinya dengan perabotan.


Hanya ada ranjang, sofa di salah satu kamar yang akan menjadi tempat tidurnya. Di lain sisi ada ruang ganti khusus yang di kelilingi lemari pakaian serba putih.


Dapur minimalis lengkap kabinetnya dan meja makan segi empat yang sederhana.


Krystal sengaja membeli rumah ini agar terpisah dari paman dan bibinya, syukuran kecil sudah Krystal lalui bersama keluarganya.


Uang yang masih di investasikan di beberapa perusahaan, biarlah berkembang untuk sokongan modal berjalan setelah usahanya mulai di rintis.


Setibanya di Korea enam tahun yang lalu, Krystal memanfaatkan sebagian uang Raka yang tersisa untuk investasi jangka panjang. Dan saham itu pula akan dia berikan pada Queen suatu saat nanti. Dari Raka kembali ke putrinya.


Baru saja Krystal membuat tongseng kambing, lama dia tak memakan makanan khas Indonesia, dia ingin menyantapnya di tengah waktu hujan begini bersama terkasih.


Queen menunggu di salah satu kursi meja makan, menghadap piring dengan sendok garpu yang dia pegang.


Krystal memberikan nasi, juga satu mangkuk tongseng khusus yang tidak pedas untuk Queen. Dia duduk di sisi Queen dan ikut mengambil nasi.


Ekor matanya mengamati raut wajah Queen yang termenung sendu. "Queen lapar kan?" Tanyanya.


Queen mengangguk.


"Ayok makan, tongseng nya sudah tidak panas sayang. Apa Queen terbiasa di suapi?"


Queen menggeleng sendu.


"Lalu, Queen tidak suka masakan Mammi Krystal?"


Queen menatap ibunya. "Queen inget Daddy. Dia pasti belum makan, Daddy terbiasa makan di temani Queen atau Mammi Vio, Daddy pasti tidak makan malam ini."


Krystal menghela, terdiam memikirkan hal yang Queen katakan. Raka memang memiliki kebiasaan yang sulit dia ganti.


Lalu bagaimana jika Queen tinggal bersamanya? Akan seperti apa Raka nanti?


Lama dia pergi meninggalkan putrinya, lalu semudah itu dia mengambilnya dari tangan Raka hanya karena undang-undang yang memihak seorang ibu.


Tak mau membuat Queen sendu, Krystal menawarkan sesuatu. "Queen mau telepon Daddy dulu kah? Memastikan Daddy sudah makan di rumah."


Queen mengangguk. "Iya."


Krystal meraih gawai tipisnya, mengutak-atik nomor kontak yang tertulis Daddy Queen. Entah apa alasannya dia memberikan nama itu. Krystal asal tulis saja.


📞 "Tuuuutt!" Beberapa kali Krystal dengar dari seberang sana. Cukup lama sampai tongseng kambing milik Queen mendingin belum ada yang mengangkatnya.


Krystal beralih pada Queen. "Sepertinya, Daddy sudah tidur, dia tidak menjawabnya. Kalo sudah tidur pasti Daddy sudah makan. Hujan begini tidak mungkin Daddy tidur dengan perut kosong kan?"


Queen mengangguk tersenyum. "Iya, pasti Daddy sudah makan, dia harus makan sebelum tidur." Ucapnya setuju.


"Sekarang Mammi suapi Queen, mau?"


Antusias Queen mengangguk. "Mau. Ini pasti enak, Daddy selalu membicarakan masakan Mammi, rasanya hampir mirip dengan Mammi Vio."


"Tentu saja, dulu Mammi Vio yang mengajari Mammi Krystal."


"Pantas saja." Bocah cantik itu tertawa renyah. Sebelum kemudian memulai ritual makan malam bersama sang ibunda.


"Oya," Di sela makan Queen bertanya. "Menurut Mammi, wanita idaman Daddy seperti apa?" Tanyanya.


Krystal berkerut kening. "Untuk apa bertanya seperti itu?" Gelak nya.


"Queen mau memuat deskripsi wanita idaman Daddy ke media perjodohan. Biar orang-orang tahu kalo presiden direktur Xmeria, sedang mencari istri."


Krystal terkesiap. "Memangnya Daddy mau cari istri."


Anak itu terkikik sembari menutup mulut mungilnya. "Bukan dia, tapi Queen yang mau menjodohkannya dengan perempuan cantik. supaya Daddy tidak kesepian di rumahnya." Ujarnya polos.


Krystal meredup tatapan. "Kenapa? Memangnya Queen yang cantik tidak cukup untuk menemaninya?"


Queen menggeleng. "Katanya setelah persidangan Mammi Daddy, Queen akan ikut Mammi, makanya Queen mau cari jodoh Daddy sebelum Queen tinggal sama Mammi."


"Queen tahu ini dari siapa?"


"Om Vicky yang bilang sama Om Andre."


"Queen nguping?"


Anak itu menyengir. "Bukan nguping tapi kuping nya dengar tanpa di suruh." Sanggah nya.


"Sama saja sayang. Queen nggak boleh dengerin pembicaraan orang dewasa."


Krystal menghela, segitu inginnya Queen melihat ayahnya bahagia, jelas anak ini selalu memikirkan keluarganya bahkan di usianya yang masih sangat kecil.


^^^Bersambung......^^^