Second Wife

Second Wife
Ikhlas....



Queen, Andre, dan Raka sudah duduk tenang di bawah atap mobil mewah. Andre duduk pada jok penumpang bagian depan dan Queen bersama ayahnya di jok penumpang bagian belakang.


Baru saja mobil itu di nyalakan mesinnya oleh sang sopir yang sengaja Andre bawa dari Indonesia.


Queen menyeletuk. "Wait, Mammi, itu Mammi kan?" Ucapnya dan membuat pak sopir urung melajukan mobilnya.



Andre menoleh pada Krystal yang baru saja keluar dari lobby bangunan. "Iya benar. Kenapa dia keluar membawa koper?" Sahut nya berkerut kening.


Mata Raka mengamati setiap pergerakan mantan istrinya, rasa kecewa menutup kepeduliannya. "Kita jalan saja!" Titahnya acuh.


"Baik Tuan." Angguk pak sopir. Perlahan mobil itu melewati tubuh Krystal yang tak mengetahui siapa pemilik mobil ini.


Dari belakang tubuh Krystal, Hyun Ki meraih koper Krystal tapi kemudian di tepis oleh sang empunya.


Raka masih setia memandangi seksama kaca spion mobil, sejujurnya dia masih tak ingin lepas dari bayang-bayang sang mantan.


Di lihat dari sudut manapun, Hyun Ki dan Krystal tengah bertengkar hebat.


Terlihat jelas Krystal kecewa pada Hyun dan ingin melarikan diri seperti saat Raka mengecewakan wanita itu.


Tanpa melepas matanya dari kaca spion Raka meraih ponsel di saku jaketnya. Dia memindai layar itu dan melayangkan telepon pada orang-orang kepercayaannya yang tersebar di negara ini.


"Bantu Nona Ae Cha melarikan diri dari Hyun Ki, ..." Titahnya. Queen dan Andre tersenyum menatap Raka.


Masih sempat Raka memiliki niat seperti itu. Melepaskan diri dari penguasa seperti Hyun Ki sudah pasti juga sulit.


"Tapi ingat, jangan sampai Ae Cha tahu kalian membantunya, dan jangan sampai dia tahu kalian orang suruhan ku!" Tambahnya.


Raka mematikan panggilan setelah mendapat persetujuan dari seberang sana. Ae Cha dan Hyun Ki sedang muncul dalam trending topik, sudah pasti semua orang di negara ini tahu bagaimana wajah Ae Cha yang Raka bicarakan tadi.


Queen menggeser duduknya mendekat pada sang ayah. "Daddy masih peduli kan sama Mammi Krystal?" Tanyanya menyengir.


"Tidak!" Ketus Raka.


"Lalu apa ini? Kau menyuruh orang-orang mu membantunya lari? Bukankah ini yang di namakan peduli?" Cecar Queen.


Raka menoleh, cengiran Queen membuatnya tahu bahwa anak itu menginginkan persatuan ayah ibunya kembali.


Namun tidak, Raka sudah resmi menceraikan istrinya secara lisan dan akan dia urus di pengadilan setelah sampai di Indonesia, sudah sering kali dia ingin melepas Krystal-nya meskipun pada akhirnya tak mampu dia lepaskan.


Kali ini Raka ikhlas, jika Krystal ingin mencari kebahagiaannya sendiri. Hidup bersamanya bukan sesuatu yang bisa membuat Krystal tersenyum manis.


"Daddy hanya mau, Hyun Ki juga tidak mendapatkan Mammi mu. Itu saja!" Sanggah Raka ketus.


"Benarkah?" Queen bertanya seolah tak mempercayai ayahnya, dia lah saksinya saat sang ayah tersiksa rindu memandangi foto Krystal tanpa di ketahui Viona.


Menjaga dua hati memang sulit, tapi Raka berusaha tak menunjukkan nya, meskipun takkan pernah mampu menutupi, kenyataannya Viona tahu apa yang suaminya rasakan.


Raka mengalihkan pandangan, entah apa yang mendasari kepeduliannya, jika tentang hati dia juga manusia yang bisa jera setelah enam tahun lamanya menanti dan berakhir hanya untuk di kecewakan.


Raka tahu Raka salah, bahkan sangat salah, dia sadar dari awal cintanya hadir atas sebuah kesalahan lalu berakhir dengan penyesalan.


Malam erotis itu yang acap kali melayang di pikiran, terakhir kali dia menyentuh istri ke dua nya dengan sangat rakus.


Setidaknya kehadiran Queen di dunia ini adalah anugerah yang Tuhan berikan melalui his second wife nya. Sesal itu menghilang jika teringat pada akhirnya dia memiliki buah hati yang manis.


Kembali Raka menoleh pada Queen, meraih kepalanya dan mengecup puncaknya dengan mata yang terpejam. "Terima kasih sudah menyusul Daddy ke sini." Ucapnya.


Queen mendongak. "Apa Daddy tidak berencana memberikan Queen Mammi lagi? Di sini banyak gadis cantik, bening-bening," Queen menunjuk ke arah restoran yang di penuhi wanita cantik "Gimana kalo kita bawa satu di antara gadis seksi itu untuk di jadikan Mammi Queen?" Usulnya.


"Iya, ..." Setelah mengangguk Queen mendusel pada perut ayahnya. "Kita ciptakan bahagia kita sendiri saja." Ujarnya.


Raka mengangguk sembari mengusap lembut punggung gadis itu. Setelah banyaknya air mata, setidaknya Queen Kirana Rain masih tersisa di hidupnya.


Gadis cantik yang pintar, mempunyai pribadi yang baik meskipun sedikit keras kepala seperti Krystal-nya. Tak apa, Raka bersyukur dengan itu.


Satu jam perjalanan dari apartemen Hyun Ki menuju istana milik Ray di Seoul. Queen tertidur pulas di pelukan ayahnya. Andre turun membuka pintu mobil dan Raka menggendong Queen keluar.


Andre dan Raka beriringan memasuki istana milik Ray yang kosong tak berpenghuni. Hanya ada beberapa penjaga itupun berjaga di luar istana untuk bersih-bersih saja.


Jika musim dingin begini, orang-orang masuk ke dalam paviliun yang sedikit terpisah jauh dari rumah utamanya. Halaman rumah ini sangat luas, ada beberapa paviliun unik yang di tinggali pegawai bersih-bersih.


Tiba di dalam Andre menyalakan semua penghangat ruangan, dan Raka membawa Queen masuk ke dalam kamar.


"Besok kita pulang ke Indonesia. Juga jangan lupa, kamu urus perceraian ku." Raka berucap nyaring, dia tahu Andre pasti mendengarnya.


Andre yang mendengar itu mendekati sumber suara Raka. "Kamu yakin Ka mau bercerai? Kamu lupa kata pengacara kita? Suami yang tidak mengucapkan ikrar talak dalam tempo 6 bulah terhitung sejak putusan Pengadilan Agama tentang izin ikrar talak baginya mempunyai kekuatan hukum yang tetap maka hak suami untuk mengikrarkan talak gugur dan ikatan perkawinan tetap utuh, selama ini Krystal kabur membawa uang modal darimu, itu nafkah yang syah." Tuturnya.


"Kalian masih bisa rujuk bukan? Kasihan Queen. Apa sudah bulat keputusan mu hh?"


Raka mengangkat kedua bahu. "Tentu saja, aku sudah berikrar talak padanya. Aku resmi menceraikan nya!" Ucapnya.


"Lagi pula aku tidak bisa membahagiakan nya, biarkan dia hidup dengan rencananya sendiri."


Andre menggeleng. "Dia pasti sangat merindukan Queen."


Raka merentang tangan. "Dia boleh menemui Queen, aku tidak akan pernah melarangnya."


"Terserah kau saja!" Andre melengos pergi, memasuki dapur bersih, tak ada makanan apapun, Queen pasti lapar setelah terbangun.


Sambil menghela napas panjang Andre mengeluarkan ponselnya. Dia pesan beberapa makanan yang di jual dalam outlet khusus berlebel halal. Jaman sudah canggih dan serba mudah, mereka masih tetap bisa makan tanpa memikirkan apa pun di negara ini.


...• • • • • • • • • • •...



Di lain bangunan, Yarish berjalan gontai mendatangi hotel yang Krystal singgahi.


Beruntung, sampai detik ini Yarish masih berusaha membantu teman cantiknya.


Setelah saling telepon, pada akhirnya Yarish menemukan kamar milik Krystal.


Krystal membuka pintu kamar dan Yarish masuk dengan pandangan yang mengedar.


"Kamar nya biasa banget Krys!" Rutuk nya.


"Gapapa, untung masih ada kamar, musim dingin kota ini banyak di datangi turis, makanya penuh semua kamarnya."


Yarish duduk di sofa menatap Krystal yang membereskan bantal di ranjang. "Btw, lu kok bisa kabur dari Hyeong?" Tanyanya heran.


Hyun Ki tidak mungkin membiarkan Krystal pergi begitu saja bukan?


Krystal mengangkat kedua bahu. "Gatau, tadi ada mobil yang menawarkan tumpangan, ya udah aku ikut ajah."


"Oh." Yarish manggut-manggut. "Baguslah."


^^^Bersambung......^^^