Second Wife

Second Wife
Sinting!



"Tapi bukan berarti dia bebas menjelekkan mu di sosial media!"


"Aku setuju dengan itu. Tapi, caramu menegurnya salah Ka!"


Raka terdiam sejenak lalu menyeletuk kan protesnya. "Kamu benar dan aku yang salah." Ngalah nya.


Krystal mengernyit. "Sekarang kenapa seolah kamu yang teraniaya? Pintar sekali kamu membalikkan keadaan?"


"Karena aku selalu salah di mata mu, padahal yang aku lakukan ini demi kamu!"


Krystal mendengus. "Berapa usia mu? Kenapa tidak dewasa juga? Berhenti bersikap arogan, aku muak dengan itu semua. Bersikap lah manis sedikit, punya kekuasaan bukan untuk menindas orang lain Raka!"


"Tapi dia jahat padamu!"


"Apa urusan kita? Ini hanya cuitan yang tidak penting bagiku, dan kenyataan yang terjadi memang aku meninggalkan Queen." Sambar Krystal lebih cepat menimpali.


"Walaupun tidak semua yang Shania tuduhkan benar, aku tinggal di tempat Hyun karena takdir yang membawa ku ke sana, bukan Hyun tujuan ku, tapi Joon yang menjadi putraku, itu alasan sesungguhnya,


"Aku menikahi mu juga bukan semata-mata harta saja, memang iya sih, kenyataannya aku membawa lari uang mu, tapi semuanya masih utuh bahkan sudah menjadi investasi jangka panjang." Jelas Krystal lagi.


"Aku hanya memakai uang mu untuk melancarkan perjalanan ku ke Korea saat itu, selebihnya aku investasi kan."


Raka mengernyit. "Jadi dari mana uang yang kamu buat untuk membangun usaha, apa Hyun Ki yang memberikannya?" Tanyanya.


Krystal tertuduh. "Jadi sekarang kamu yang menuduh ku, Ka?"


"Aku bertanya sayang. Astaga, kenapa sensitif sekali hatimu?" Raka mengedar pandangan sambil mengusap dahinya. Serba salah!


"Tapi bukan begitu cara bertanya!" Protes Krystal.


"Lalu?" Toleh Raka.


"Setidaknya tidak perlu kamu bawa-bawa Hyun, memangnya aku tidak bisa cari uang sendiri?" Berang Krystal.


"Baiklah, dari mana uang mu sayang nggggg." Raka menekan sebutannya dengan bibir yang melebar dan mata yang menyipit.


Terlihat jelas dia geram pada istrinya tapi memang begitulah mereka, meskipun sayang perbedaan watak sedikit menjadi masalah.


"Ok aku jelaskan." Kata Krystal.


Raka mengangguk, menyimak.


"Kemarin Om Ariel menemui ku. Ternyata Mamah masih punya titipan uang dan beberapa kekayaan di Bank, dan itu boleh di ambil setelah Queen lahir, dulu aku berpikir, Mamah Papah sudah bangkrut sebelum kecelakaan mobil itu terjadi, ternyata, satu jam sebelum menghembuskan napas terakhir, Mamah sempat menelepon Om Ariel untuk mengalihkan kepemilikan surat-surat tanah dan lainnya."


Raka menatap senyum Krystal, tak peduli dengan seberapa besar warisan Krystal sebab Raka tak mengharapkan apa pun dari harta-harta itu, yang terpenting adalah, bukan uang Hyun.


"Jadi bukan uang Hyun kan?" Tanyanya memastikan.


"Bukan!" Geleng Krystal.


"Syukurlah, semoga Mamah Papah mertua di berikan tempat yang lapang, kapan-kapan kita ziarah ke makam dan ajak Queen."


Perlahan Raka tarik wanita itu memeluknya erat dari belakang. Rembulan malam menjadi saksi betapa romantisnya pelukan Raka malam ini.


"Kalo masalah uang, aku bisa memberikannya padamu, sudah pernah aku bilang, jika dunia mampu ku beli, pasti akan aku beli untuk mu." Pelukan hangat itu Raka tekan hingga Krystal mampu merasakan ketegangan di bawah sana. Benda besar yang lama tak singgah pada lubuk inti nya.


Krystal meronta kecil. Jika sudah seperti ini, Raka takkan pernah basa-basi lagi untuk meminta sesuatu darinya. "Lepas." Lirihnya.


Raka menggeleng. "Em'em. Tidak akan." Bisiknya. "Queen mau Dedek bayi. Gimana kalo malam ini kita turuti?"


"No!" Krystal menginjak kaki Raka dan pelukan terlepas. Keduanya saling berhadap-hadapan.


"Ini messum, bukan manis!"


Raka menghela. "Sudahlah terserah!" Ngambek nya. "Aku tahu alasanmu kembali padaku karena Queen, aku tidak akan pernah berarti apa-apa untuk kamu." Lirihnya.


Krystal mengernyit. "Terus saja seperti itu Raka! Ngambek, manja, arogan, suka memaksa, childis, pemarah, tersinggung'an, memang berkumpul padamu. Semoga Queen tidak meniru."


Cup!


Raka membungkam bibir protes itu dengan kecupan singkat. "Aku mencintaimu." Ucapnya menyengir. Sebentar-sebentar marah karena sudah menjadi kodratnya, tapi sebentar-sebentar baik saat cinta mengalahkan egonya.


Krystal mengalihkan pandangan. Dia menghela napas panjang, rupanya Raka masih sering menggetarkan jiwanya.


Raka meraih dan menggenggam tangan Krystal. Dia tuntun Krystal duduk di ayunan. Krystal hanya menurut, jangan ditanya kenapa, sebab Krystal sendiri tak tahu mengapa sulit sekali menolak suaminya.


"Aku memang bukan lelaki sempurna, karena aturan itu harus ada, aku kaya raya juga tampan, tapi banyak sekali kekurangan ku. Dulu aku pengkhianat, aku selingkuh dari Viona hanya untuk pewaris tahta, aku menyakiti salah satu bidadari surga ku, emm ralat, maksud ku dua, Viona dan kamu." Lirihnya.


"Beruntung, kau yang di fitnah sebagai dalang penusukan Viona. Sampai saat ini, tragedi itu masih menjadi alasan ku bersyukur di balik kesakitan yang Viona rasakan."


Krystal terdiam menyimak detil kata yang berderai dari bibir Raka.


"Ke sana kemari aku mencari mu, meskipun lelah membelenggu, sedikitpun aku tak pernah hilang asa, setiap sisi Korea aku datangi dan hanya berakhir kecewa." Imbuhnya.


"Bukannya menyerah. Justru semakin membuat aku menginginkan mu karena rindu yang tak berujung seakan ingin membunuh ku." Tambahnya lagi.


Krystal terdiam menyimak bahkan sempat menutup kecil mulutnya, sedikit menahan tawa, ternyata Raka jago gombal.


"Dylan bilang rindu itu berat, tapi aku pikir, Dylan salah, karena hal terberat dalam sejarah hidup ku adalah, MENCINTAI MU. Terkadang aku melihat cinta di wajahmu, terkadang aku melihat dendam di hatimu." Ungkapnya.


"Aku ingat saat kamu mengatakan, kau hanya akan mengatakan sekali, bahwa kau menyukai ku bahkan ingin menjadi istriku. Dan kenyataannya, sampai saat ini aku tidak pernah mendengar kata cintamu lagi."


Raka mengalihkan pandangan ke arah rembulan, rasanya melow sekali hatinya jika sudah berhubungan dengan perasaan buram Krystal. "Entah kapan aku bisa mendengar ucapan cinta darimu."


Krystal menunduk. "Bagiku ungkapan tidak penting, karena sebelumnya, aku pernah mengatakannya pada Hyun, tapi ternyata hatiku memilih mu." Ucapnya lirih.


Sontak saja, Raka menoleh dengan binar kebahagiaan, bahkan mulutnya ternganga menatap lekat wajah cantik istrinya.


"Ucap satu kali lagi Yank, aku mau dengar!" Nyengir Raka.


"Raka." Geleng Krystal. Kening mengernyit heran, saat memandangi gerak tubuh Raka yang mengutak-atik ponselnya.


Raka mengulurkan benda itu pada bibir Krystal setelah menyiapkan perekam suara tentunya.


"Ayok satu kali lagi Yank, bilang padaku, seperti yang barusan kamu katakan!" Suruh Raka berapi-api.


Krystal menggeleng. "Raka, jangan kekanak-kanakan!"


"Ayolah, bilang lagi Yank!" Raka tarik pinggang ramping Krystal lalu mendekatkan ponselnya pada bibir wanita itu. "Bilang hatimu memilih ku."


"Untuk apa di rekam? Tidak ada siaran ulang!" Sanggah Krystal. Norak sekali.


"Harus di rekam. Ungkapan mu mau aku jadiin nada dering!" Nyengir Raka lagi.


"Raka!" Krystal dorong dada suaminya hingga menjauh, sebelum kemudian ia bangkit dan berjalan memasuki kamar. "Ogah!" Tolaknya.


"Yank, aku tahu ini kode, tapi jangan di kamar, di balkon saja!"


"Sinting!" Umpat Krystal.