Second Wife

Second Wife
Frustasi....



Setelah memindahkan beberapa karyawan sundal yang berpotensi merayunya. Raka pulang dengan mengemban kemurkaan.


Tak mendapat kabar selama satu pekan, sekalinya mendengar kabar Krystal terus saja mengatakan ingin berpisah padanya.


Raka kecewa.


Apa Krystal tidak bisa melihat bagaimana perasaannya sebagai suami? Padahal kurang apa dia selama ini? Apa pun telah Raka berikan yang terbaik.


Berwajah jutek Raka menaiki anak tangga sambil mengendorkan dasi yang mulai mencekiknya. Melepas satu kancing di leher berharap bisa mendapatkan kebebasan untuk bernapas lega.


Tiba di kamar utama, bukannya senyum manis, Viona justru menyambut kedatangannya dengan tatapan tajam menceku.


Melihat hal ini, Raka masih berusaha tersenyum meskipun sedang tidak ingin "Malam Sayang." Ucapnya seraya mendekati kursi roda milik Viona.


"Kenapa ponsel mu mati? Tidak bisa di hubungi, sebelumnya kau menelepon siapa? Kenapa panggilan mu dan panggilan Krystal sama-sama sibuk?" Tanya Viona menyudutkan.


Raka mengangguk "Aku memang menelepon Krystal, aku mau menanyakan kabarnya sekaligus kandungan nya." Jawabnya jujur.


Lagi pula, untuk apa berbohong? Viona sangat khatam bagaimana raut wajahnya saat berbohong ataupun jujur.


Viona mencibir "Untuk apa? Bukankah sudah ada Daddy yang mengurusi? Kau tidak perlu repot-repot mengurusi nya kan? Kau bilang memilih ku!" Sindirnya.


"Vio, ..." Raka menekuk lutut mensejajarkan diri dengan tubuh wanita itu, menatap bahkan mengelus lembut puncak kepalanya "Dulu kamu sahabatnya, apa hanya karena dia menjadi madu mu, lalu kau membencinya?" Tanyanya pelan dan Viona diam.


"Kau tahu Vio? Dia bukan orang yang patut kamu benci, dia wanita yang sudah banyak mengorbankan diri untuk mu." Tambah Raka.


"Dulu saat dia ingin membuktikan siapa yang menyakiti mu, Krystal sampai rela masuk ke markas Darius dan Laura." Imbuhnya lagi.


"Tak peduli dengan apa yang mungkin akan terjadi di luar rencananya, dia tetap melakukan itu untuk mu, Vio." Timpal Raka menerangkan.


"Dia bisa saja kabur dari ku, tapi dia memilih untuk tinggal dan menerima tawaran ku, hanya karena Daddy Ray mengancamnya, dia tidak mau kau memiliki madu selain dirinya. Dia mau mengandung anak ku hanya karena mu, dia sangat menyayangi mu." Peringat nya.


"Tidak pantas kau membencinya Vio. Dia sahabat yang sangat peduli padamu."


"Tapi tetap saja, satu laki-laki hanya untuk satu perempuan, aku tidak membencinya, aku hanya menawarkan padamu, pilih dia atau aku. Itu saja! Dan sekarang aku menagih janji mu yang mengatakan hanya memilih ku." Sanggah Viona ketus.


"Tapi, ..." Belum lagi selesai ucapan Raka Viona sudah beringsut, membelakangi suaminya, air mata yang mengintip tiba-tiba saja meluncur membasahi pipi.


Sakit sekali rasanya, mendengar pembelaan yang Raka ujarkan hanya untuk madu yang dia anggap sebagai racun dalam rumah tangganya.


Raka menggeleng ringan menatap Viona dari belakang "Kau selalu seperti ini, dan aku menyayangimu apa adanya sedari dulu." Batinnya.


...• • • • • • • • • • •...


Tujuh bulan berselang.


Langkah pelan Raka ayunkan menuju balkon kamar miliknya, Raka duduk bersandar pada sofa yang dia pesan khusus dari pengrajin ternama.


Sofa yang di sebut-sebut bisa membuat pasangan lebih mendapatkan keintiman dalam bercinta.


Raka memiliki cara tersendiri untuk membuat hubungannya bersama Viona tak mudah jenuh. Apa pun alatnya, apa pun alasnya, dia coba untuk memenuhi kebutuhan seksualnya.


Malam kian melarung, menyelimuti hati yang sunyi, kerlip bintang nan ramai di langit hitam tak sepadan dengan cerita kekosongan lelaki tampan ini.


Termenung Raka menatap lekat taburan bintang yang dia ibarat kan seperti sang pujaan hati. Jauh, tak mungkin bisa di sentuh.


Seberapa pun niatnya ingin mencoba, selalu saja patah oleh alunan kata nyalang dari sang pemilik hati pertamanya.


Yaitu Viona.


Helaan napas panjang dia lakukan namun tak jua membuat dirinya merasa lebih tenang.


Dalam waktu tiga puluh pekan, Raka tak di izinkan menemui istri ke dua nya.


Semenjak mencium gelagat aneh Raka yang mulai berbeda, Viona menjadi lebih posesif dari biasanya.


Di mobil, di jalan, di kantor, di ruang pertemuan, di luar kota, semuanya harus Raka laporkan pada permaisuri nya. Tak ada waktu bagi Raka untuk sekedar menyapa wanita selir nya.


Viona menyadap telepon, ponsel, termasuk sosial media suaminya. Bahkan untuk mendengar kabar Krystal saja Viona melarangnya, beruntung ada asisten setia yang bisa menjadi perantara Raka menghubungi ayahnya.


Sesekali Raka mencuri-curi kesempatan untuk meminta video terbaru Krystal dan perkembangan janinnya.


Termasuk video saat Krystal melakukan senam kehamilan. Raka bahagia melihat perkembangan itu.


Elevy bilang, akhir-akhir ini Krystal sering menangis, tak bisa tidur saat malam hari, bayinya mulai aktif, menendang sana sini.


Raka ingin sekali merasakan bagaimana kuatnya tendangan kaki putrinya, yah, dua bulan yang lalu Elevy memberitahukan bahwa Krystal mengandung bayi perempuan.


Kendati tak sesuai harapan, Ray tetap bahagia menyambut lahirnya sang pewaris tahta, Ray yakin, cucunya akan sepintar dan setangguh menantu ke dua nya.


Ada emansipasi wanita, Ray tak pernah takut meskipun pewarisnya seorang perempuan.


Gundah gulana yang Raka rasakan, angin malam seperti mengolok-olok dirinya, hanya ototnya yang menyembul tapi kalah dengan wanita tak berdaya seperti Viona.


Ngomong-ngomong, sudah tujuh bulan berlalu, tak ada yang spesial dalam hidup Raka selama itu.


Acap kali koleganya bertanya, bagaimana kabar kandungan istri mudanya? Dan Raka hanya tersenyum kaku, tak mampu menjelaskan secara rinci mengenai kehamilan Krystal.


Dalam lamunan sendu, tak sengaja netra birunya menangkap sekilas berpindahnya satu bintang. Bintang jatuh selalu di kaitkan seperti perwujudan harapan yang ingin dia capai.


Raka masih menganut paham mitosisasi, bukan karena udik tapi ini bentuk rasa inginnya yang tak dapat dia katakan pada siapa pun.


Raka memejamkan mata membayangkan Krystal berada di sisinya, dia elus puncak perut nan besar itu sambil tersenyum, senyum yang mengembang secara nyata di bibirnya saat ini.


"Bagaimana kabar mu Baby?" Teruntuk janin yang masih di kandungan istrinya Raka bertanya "Tolong jangan membuat Mammi mu menangis, dia hanya seorang diri menjagamu saat malam, buat lah Mammi mu nyaman, tidurlah saat Mammi mu ingin tidur dan bangun lah saat Mammi mu kesepian, ajak dia bercanda gurau supaya tidak terus menangisi nasib malang nya, kamu anak pintar, jadilah menurut." Ucapnya pelan.


Perlahan Raka membuka mata, ada kedamaian yang dia rasakan setelah mengatakan itu, semoga bintang jatuh yang dia lihat mampu menyampaikan pesannya pada sang putri pewaris di rahim istri yang jauh di mata.


Tak berapa lama.


Suara langkah kaki mungil terdengar mendekat, rupanya Viona hadir di sisinya menyandang busana tipis berwarna merah yang terlihat mempesona.


Setelah mengikuti berbagai macam terapi, kini Viona bisa berdiri dan berjalan kembali.


Sering kali dirinya mendadak kehilangan keseimbangan, efek dari gegar otak memang bisa macam-macam salah satunya tak dapat fokus dan meningkatnya tekanan emosi.


Mendengar derap mungil istrinya, Raka menoleh sambil menerbitkan senyum di wajah tampannya "Sayang, kenapa keluar?" Tanyanya mengusap lengan wanita itu.


"Kamu merindukan Krystal?" Viona paling tahu bagaimana mendeteksi perasaan suaminya.


Raka mengangguk "Tentu saja, dia sedang mengandung anak ku, tentu saja aku merindukan nya." Ujarnya.


"Apa kamu mau datang ke acara nujuh bulannya?" Tanya Viona yang lebih terkesan bernegosiasi.


Raka mengerut kening "Dia istri ku, kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kamu juga berniat melarang ku pergi?" Tanyanya. Ini acara tujuh bulan kandungan putri perdana Raka, apakah pantas Viona bertanya seperti itu?


"Apa ada jaminan, kau tidak mendekati nya di sana? Bagaimana pun, kau sudah berjanji Raka." Sela Viona dingin.


"Apa lagi mau mu?" Pada akhirnya Raka bertanya. Dia lelah dengan kalimat basa-basi.


"Kita datang berdua, tapi jangan sekalipun kau menemuinya tanpa aku." Tawar Viona.


Cukup lama Raka terdiam sebelum kemudian ia menurunkan pandangan "Terserah kau saja, aku milikmu bukan?" Ucapnya lalu bangkit dari duduk, berjalan masuk ke dalam kamar miliknya.


Sudah biasa Raka mengalah, apa pun itu, Raka takkan pernah menyangkal nya "Pergilah Krys, mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi suami yang baik untuk mu." Gumamnya di sela langkah frustasinya.


...• • • • • • • • • • •...


Bersambung.....