Second Wife

Second Wife
BC Bagian dua



Hyun mendekati putranya, setelah berjam-jam mengobrol dengan Raka, dia harus pamit membawa putranya pulang.


"Joon, kita pulang." Ajaknya.


Joon yang sedari tadi tersenyum meredupkan guratan kebahagiaan itu. "Oppa, ..." Krystal menggeleng menatap protes Hyun tangannya memeluk Queen dan Joon bersamaan.


"Kami harus pulang." Lirih Hyun Ki.


"Joon akan ikut ke Swiss, bersama ku. Tolong izinkan kami pergi." Pinta Krystal.


"Krys."


"Ku mohon, aku masih merindukan nya."


Hyun Ki tak tega melihat ekspresi memelas Krystal, apa lagi Joon yang memeluk tubuh Krystal erat. Terlihat jelas Joon tak mau pulang.


Hyun menghela terpejam. "Joon."


"Aku mau ikut ke Swiss bersama Eomma dan Noona, tolong izinkan aku." Kata Joon merengek.


Raka menengahi. "Kami tidak akan menelantarkan Joon, Queen juga membutuhkan Joon, mereka senang bersama. Biarkan Joon ikut, atau kau juga ikut."


Hyun Ki menoleh, ada kerutan di kening yang tertampil. "Lalu aku harus menyaksikan bulan madu kalian begitu?"


"Setidaknya Joon tidak akan cemburu, izinkan dia ikut bersama kami. Lihatlah, putramu sangat bahagia bersama ibu dan kakaknya." Sela Raka.


Sejenak Hyun Ki terdiam. "Ok, kalian yang menang." Ngalah nya. Di balik sikap dingin itu ada cinta kasih yang besar.


Krystal tersenyum. "Terimakasih Oppa."


Hyun menatap Krystal. "Aku harus pulang ke Korea, kalian bertanggung jawab mengembalikan Joon padaku."


"Terimakasih Appa." Untuk yang pertama kalinya setelah di tinggal Krystal, Joon mau mengucapkan sesuatu pada ayahnya.


Hyun Ki berjongkok menatap putranya bahkan mengusap lembut puncak kepala bocah tampan itu. "Dengar, jangan nakal, jangan merepotkan Eomma."


Joon mengangguk. "Joon mengerti." Kecupan manis Hyun labuh kan pada seluruh wajah putranya.


Hyun Ki bangkit dan menatap Raka. "Aku harus pulang ke hotel, aku titip Joon, dia calon pewaris ku. Tolong berikan beberapa pengawal untuk nya."


"Tentu saja." Raka peluk lelaki itu menepuk punggung nya. "Terimakasih." Ucapnya.


"Sama-sama."


...• • • • • • • • • • •...


Hari berganti, tak perlu basa-basi jika Tuhan telah menggariskan sebuah ilusi, manusia tak mampu berekspektasi.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 29 jam, Raka, Krystal, Queen, Joon, Andre dan beberapa pengawal telah sampai di negara Swiss. Tujuan pertama Raka adalah, St. Moritz.


Luas wilayah St. Moritz bisa dikatakan cukup kecil dengan jumlah penduduk kurang lebih sekitar 5.000 orang saja.


Meskipun kecil, ternyata di kota ini banyak ditemui toko dengan produk-produk mahal kelas dunia seperti Michael Kors, Hermes, Prada, Rolex, Louis Vuitton, Valentino, Dolce Gabbana dan lain-lain. Krystal dan Queen wajib berbelanja di sini.


Mereka menginap di beberapa villa mewah yang banyak tersedia dan mencoba bermain ski bersama.


Pemandangan kota St. Moritz yang dikelilingi banyak pegunungan bersalju ini memang sangat indah, romantis dan menenangkan.


Queen, Joon dan Andre di villa yang berbeda dengan milik Krystal dan Raka.


Raka sengaja membawa Andre untuk mengurus Queen dan Joon. Untungnya Andre sangat menyayangi Queen, maka tak keberatan meskipun harus menjadi baby sitter nya.


Ini Minggu ke empat mereka berada di negara bersalju itu. Niatnya hanya satu Minggu, tapi karena mengajak Joon, Krystal dan Queen ingin terus menambah masa liburannya. Mereka mengelilingi kota Swiss, singgah di berbagai tempat pariwisata.


Di atas ranjang yang di kelilingi kaca transparan, dan pohon bersalju sebagai latar belakangnya, Raka dan Krystal berbaring bersisian, Raka menggunakan kedua tangan untuk menyangga kepala. Tubuh seksi Raka begitu menggoda.


Dari bantalnya, Krystal menatap seksama wajah tampan suaminya yang tanpa celah menurutnya, dia sentuh ujung hidung mancung Raka lalu turun ke bibir dan turun ke beberapa titik berikutnya.


Raka membuka perlahan netra nya ketika sentuhan lembut terarah pada area sensitifnya. Bibir tersenyum menerima serangan fajar raba tangan nakal istrinya.


"Pagi Daddy sayang." Bisik Krystal sebelum menyambar bibir sensual lelaki itu.


"Hmm." Raka membalas pergulatan bibir yang Krystal mulai. Perlahan tapi pasti wanita itu naik ke atasnya. Raka peluk dengan lembut.


Kaki polos mereka saling bertautan, membelit penuh dengan tekanan, udara dingin membuat keduanya saling menghangatkan satu sama lain.


Akhir-akhir ini Krystal lebih sering memulainya. Raka membalikan posisi menjadi di atas istrinya.


Bibir itu beralih kecup pada telinga Krystal, bahkan ke leher, sesekali indera perasa menjulur untuk merasai kulit-kulit mulus istrinya. Deru dera napas tak beraturan, sahut menyahut menciptakan gemuruh.


"Rakahh." Desah dan lenguhan Krystal menggaung, melengkung tubuh Krystal menerima serangan cinta suaminya, tak bosan-bosannya Raka mendengar suara menggelitik itu, menyentuh kulit-kulit mulus itu. Apa lagi sebutan namanya menyentuh relung kalbu.


Raka terus memancing desah Krystal dengan permainan jemari yang mengacau pada bagian bawah sana. "Itu sensitif." Geleng Krystal, bergetar geli.


"Kamu cantik saat begini." Kembali Raka mengadu bibirnya, memakan semungil bibir merekah bak strawberry itu.


Krystal hanyut, hanya ada lenguhan yang seirama dengan tempo jari-jari milik Raka.


Kriiiiiing....


Krystal meraih pipi Raka untuk diberikan kecupan. Spontan Raka mengakhiri pertikaian bibir mereka. "Aku angkat telepon dulu."


Krystal menggeleng menarik kalung milik Raka. "Jangan dulu pergi, temani aku di sini."


Rasanya tanggung sekali, mumpung Joon dan Queen belum bangun, Krystal memanfaatkan kesempatan romantis di pagi hari.


Raka menggeleng. "Ssuutt, Sayang, di Indonesia sudah siang, seharusnya aku sudah masuk kantor, tapi karena kamu menolak pulang, aku harus mengurus perusahaan lewat daring."


Jakarta lima jam lebih cepat dari Swiss jadi sudah pasti hingar-bingar memadati kantor.


"Kamu lebih mementingkan pekerjaan? Kamu bilang aku prioritas mu?"


"Pekerjaan, cinta, Queen dan kamu, semua harus berjalan beriringan, masih banyak pekerjaan yang ku tinggalkan, bukannya itu juga milik mu dan Queen, kamu mengerti kan?"


Tak menjawab Raka, Krystal justru membelakangi suaminya. Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Tanpa peduli dengan ngambek nya wanita itu, Raka kecup telinga Krystal lalu beranjak dari ranjangnya, sudah cukup Raka terus mengalah, ini saatnya bekerja.


Dia menggeser tombol terima pada layar ponselnya lalu keluar dari kamar dengan mode angkat telepon. "Yah, gimana?"


📞 "Pak Raka lupa lagi? Hari ini ada meeting penting dengan semua dewan direksi."


Raka menepuk jidat. "Ya Tuhan, aku lupa, baiklah kita mulai sekarang." Raka berjalan menuju sofa, ia duduk dan membuka laptopnya.


Satu mantel yang terselampai pada kepala sofa Raka ambil lalu memakai nya. "Krystal manja sekali akhir-akhir ini." Gerutunya pelan.


Permintaan Krystal yang belakangan ini sering aneh-aneh membuatnya tak fokus pada pekerjaan. Padahal Xmeria sedang berada di puncak kesuksesan.


Sekitar dua jam dia melakukan meeting via online, banyak kejutan terbaik, produk besutannya menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Ini semua jasa Krystal, Viona dan Queen tentunya.


Di sela fokus. Matanya melirik pada Krystal yang baru saja keluar dari kamar dengan wajah cemberut dan lingerie hitam seksi nya.


Tak mau terganggu. Raka kembali fokus pada layar laptopnya, mendengarkan suara dari beberapa dewan direksi.


Klontang....


Suara gaduh dari dapur membuat Raka kembali melirik ke arah Krystal yang mencuci piring dengan gaya arogan.


Ingin fokus pada layar, tapi wajah cemberut Krystal membuatnya tak tahan. "Sayang." Dia tutup laptopnya beralih pada Krystal.


Krystal hanya menjawab dengan suara kelontangan yang sengaja dia buat.


Raka menghela napas dalam, dia raih ponselnya, mengirimkan pesan teks pada salah satu dewan direksi untuk melanjutkan meeting tanpa dirinya. Lagi pun, beberapa poin penting telah Raka ketahui dan tidak dia lewatkan.


Raka bangkit dan berjalan mendatangi dapur, di mana Krystal masih bermain-main dengan beberapa piring kotor.


Gaya rumah yang lebih mirip kastil ini sangat estetika. Cerobong asap saja seperti cerobong asap di jaman kerajaan.


Sengaja Raka tak membawa asisten rumah tangga, mereka ke sini untuk berbulan madu, maka apa pun itu Krystal dan Raka lakukan tanpa asisten.


Justru Raka yang sering mencuci piring sekarang, tak seperti biasanya, dua Minggu ini Krystal menjadi pemalas, manja, sensitif.


"Kamu marah?" Raka peluk istrinya dari belakang, menenggelamkan dagu pada ceruk leher mulus wanita itu.


"Tidak."


Raka menghela napas dalam, ternyata begini rasanya jika terus mengalah, pekerjaan terbengkalai, Krystal terus saja menunda waktu pulang dan dia harus rela menuruti.


"Ayolah, jangan ngambek begitu, bilang apa yang harus aku lakukan lagi? Apa aku harus menutup perusahaan? Hidup bersama mu tanpa melakukan apa pun hmm?"


Mendengar itu Krystal membalikkan tubuhnya menatap protes suaminya. "Kamu menyindir ku?"


Raka menggeleng. "Tidak Yank. Aku bertanya."


"Aku tersinggung."


Raka kecup kening istrinya. "Aku minta maaf membuat mu tersinggung." Astaga, begini ternyata menjadi orang sabar. Batinnya.


Setidaknya pelukan manja Krystal menyembuhkan segalanya. "Daddy,"


"Hmm?"


"Kamu pernah liat orang makan tentakel gurita yang masih hidup?"


Raka mengernyit. "Apa itu? Ueeeghh." Membayangkan saja Raka bergidik geli bahkan hampir muntah. "Memang ada orang doyan makanan macam itu?" Tanyanya.


"Kemarin Queen sama Joon nonton food vlogger, itu sih makanan Korea, kayaknya enak deh." Kata Krystal. "Kamu beli gih." Titahnya.


"Ini Swiss Yank, mana ada yang jual begituan? Memangnya kamu doyan makanan aneh begitu?" Sekali lagi Raka bergidik geli.


Krystal melerai pelukan, menatap wajah geli suaminya. "Ya nggak doyan lah. Kan kamu yang makan Daddy sayang, aku mau lihat kamu makan seperti food vlogger itu, nanti Queen yang record sebagai kenang-kenangan." Krystal menyengir.


"W-what? Euug, euugg..." Raka menutup mulut menahan mual mendengar itu.


...𝐓𝐞𝐫𝐢𝐦𝐚𝐤𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐭 𝐭𝐚𝐦𝐛𝐚𝐡𝐚𝐧 𝐢𝐧𝐢.😥...