Second Wife

Second Wife
Kembali part²



Indonesia adalah negara pilihan Krystal melarikan diri dari Hyun Ki, bukan tanpa alasan, dan Queen lah alasan itu sendiri.


Lagi pun, Krystal masih harus menghadapi sidang perceraian. Agar tuntas semua jeratan belenggu Raka-nya.


Keputusan masih bulat, hidup sendiri tanpa lelaki adalah pilihan yang dia ambil. Dia mampu hidup dengan caranya sendiri dan kepandaiannya sendiri.


Lama perjalanan dari Korea ke Indonesia hanya sekitar 7 jam saja, sementara Korea lebih cepat 2 jam dari pada waktu Indonesia.


Berarti kita ibaratkan Krystal hanya menghabiskan 5 jam saja dari jam 10.00 di Korea ke jam 15.00 di Indonesia.


Langkah Krystal tengah berayun menarik handel koper berukuran besar memasuki pagar rumah milik paman dan bibinya


Setelah sekian jam di pesawat pada akhirnya sang taksi mengantarnya kembali ke rumah ini.


Di negara ini Krystal hanya memiliki mereka yang dianggap sebagai keluarganya. Sebelum membeli rumah baru Krystal sengaja singgah ke tempat ini.


Lama juga dia tak menjumpai saudaranya, mungkin ada yang merindukannya meskipun di rasa tidak mungkin.


Kening menyengkelit heran, tumben sekali pintu rumah Fairuz dan Mary terbuka sore hari begini. Di halaman ada mobil mahal yang tidak mungkin milik paman bibinya.


Sembari bertanya-tanya, ia melanjutkan langkah memasuki rumah klasik tersebut. "Assalamualaikum." Ucapnya.


"Krystal." Kejut semua orang.


Krystal mengedarkan pandangan. Ada Fairuz, Mary yang mendelik, Amanda yang kian dewasa, juga satu pria paruh baya berpakaian eksekutif duduk di sofa tamu.


"Waalaikumusalam." Hanya lelaki itu yang tersenyum dan berdiri antusias menyambut kedatangan Krystal. "Akhirnya aku menemukan mu Krys." Ucapnya.


Krystal mengernyit. Sekilas Krystal mengingat kembali, wajah pria paruh baya itu adalah pengacara teman ayah dan ibunya. "Om ini, bukanya Om pengacara kan?" Tanyanya.


Pria itu mengangguk. "Iya, ini Om Ariel. Kamu pangling kan, Om sudah keriput, dan kamu sudah semakin cantik." Tertawanya ramah.


Keduanya sempat dekat tapi saat Berliana dan Irsyad masih hidup.


Mary menyerobot. "Emmh, Krys sayang, kamu kok gak bilang-bilang mau pulang sih?" Senyum palsu yang seperti biasanya Mary kembangkan.


"Iya Nak, kan Om bisa jemput." Timpal Fairuz, sok baik, padahal seumur hidup Krystal tak pernah di jemput lelaki itu meskipun harus tengah malam Krystal selalu pulang sendiri.


Krystal menggeleng. "Tidak perlu. Krystal juga hanya singgah, setelah ini Krystal mau cari hotel, dan ziarah ke makam Vio."


Ariel mengernyit. "Ngapain ke hotel? Ini rumah mu Krys." Cetusnya yang membuat Krystal mengerut kening, rumah Krystal? Sejak kapan? Bukannya ini rumah Fairuz?


Mendengar itu Mary menyerobot kembali dengan meraih tas milik Krystal "Eh Krys kamu mending cuci muka dulu gih." Usirnya.


"Jangan sampai Krystal tahu yang sebenarnya. Bisa berabe urusan. Lagian ngapain mereka ketemu sih." Batin Mary merutuk.


Krystal menggeleng. "Tunggu, ini sebenarnya kenapa sih?"


"Kita perlu bicara Krys. Om mau menyerahkan amanat dari ibumu." Sela Ariel. Dia tahu Mary dan Fairuz sedang mencegah perkara ini.


"Amanat?"


"Iya, wadi'ah yad amanah."


"Maksudnya? Krystal kurang paham dengan hal seperti ini." Krystal tertarik jika berurusan dengan hal baru, apalagi ini menyangkut nama ibunya.


"Boleh kita duduk bersama?" Ajak Ariel dan Krystal mengangguk seraya menuntun laki-laki itu ke sofa di ikuti Fairuz dan Mary.


"Coba Om jelas kan tentang apa yang Om bicarakan barusan?"


"Wadi'ah ini semacam titipan, titipan jenis ini merupakan titipan murni. Dana wadiah tidak dapat digunakan untuk investasi oleh bank karena dalam prinsip wadiah, uang atau dana nasabah sekadar dititipkan di bank." Jelas Ariel. Otak Krystal mencerna.


"Dana nasabah itu harus dapat diambil kembali setiap saat dan bank wajib untuk memberikannya. Jadi, secara teoritis, bank tidak dapat menggunakan dana titipan itu untuk investasi." Tambah Ariel.


Krystal terkesiap. "Titipan? Jadi maksudnya Mamah masih punya harta yang di titipkan ke Bank?"


"Iya." Angguk Ariel.


"Kenapa Om baru bilang?"


Ariel tersenyum. "Ini sesuai kemauan Berlian, dia mau memberikannya setelah putra atau putri mu lahir. Sudah lama Om mencari mu, semenjak berita kelahiran Queen, ternyata baru sekarang ini Om bisa bertemu dengan mu, setelah lahirnya Queen yang geger di media sosial setiap hari Om datang ke sini, juga mendatangi istana Tuan Raka, kebetulan hari ini Om beruntung menemukan mu."


Mary menepuk lengan Krystal. "Krys, kamu harus bersyukur, kamu punya harta titipan karena Om dan Tante menikahkan mu. Coba kalo belum punya Queen, kamu tidak akan mendapatkan harta Mamah mu."


Tatapan Krystal tiba-tiba menusuk saat menoleh ke arah Mary. "Apa Krystal harus berterima kasih sama orang yang menjual ku?"


"Di jual?" Sela Ariel terperanjat.


"Krys, ..." Setelah menginjak kaki Krystal Mary menyengir pada Ariel "Krystal memang suka sekali bercanda, masa sih kami menjualnya, kami malah mau Krystal jadi jodoh triliuner macam Tuan muda Raka." Sanggah nya.


Krystal menghela napas dalam, enam tahun lamanya, ternyata tidak ada yang berubah dari paman dan bibinya. Masih suka ngeles.


Ariel beralih pada Krystal. "Kita harus ambil koleksi diamond, perhiasan dan batangan emas, perak, juga beberapa sertifikat tanah yang Mamah kamu titipkan di Bank."


"Perak?" Krystal mengernyit.


Ariel tertawa. "Jaman dulu memang masih mengoleksi itu, dan sekarang sudah trend lagi, jadi tenang saja." Ujarnya.


"Oh." Krystal manggut-manggut.


Mendapatkan kekayaan seperti ini tak membuat wajah datar Krystal berbinar, buktinya selama bertahun-tahun dia hidup bergelimang harta tak jua bahagia.


Mary dan Fairuz saling senggol siku tangannya, "Bagaimana Pa? Kita bisa di usir dari rumah, kalo Krystal mendapatkan sertifikat asli rumah ini." Bisik Mary.


"Tidak akan, Krystal pasti mau menyerahkan rumah ini sebagai hadiah kita sudah merawatnya dengan baik dari kecil." Sambung Fairuz juga berbisik.


"Kamu yakin dengan baik? Krystal sudah kita perlakukan seperti pembantu di rumah ini, kamu bilang dengan baik?" Mary melototi suaminya.


Ariel sempat mengamati gelagat aneh kedua orang itu. "Mary, Fairuz, aku pamit, terimakasih jamuan nya."


"I-iya Bung." Sambung Fairuz.


Sembari beranjak Ariel menggeleng ringan, selama ini, Fairuz dan Mary tak pernah lelah membujuknya untuk memberikan semua harta titipan ibu Krystal pada mereka. Sebagai jaminan dia mendapat tiga puluh persen dari total keseluruhan harta Berliana.


Sayangnya Ariel tak pernah terbujuk rayuan manis sepasang suami istri serakah itu.


Ariel tahu, di era nya dulu Fairuz sempat menggoda Berlian hanya untuk kekayaan. Namun, Berlian lebih memilih kakak Fairuz yaitu Irsyad, ayah biologis Krystal.


Ini juga lah yang mendasari Berlian selalu menginginkan Krystal hidup apa adanya bahkan tak terlihat mencolok sebab semua orang yang mendekatinya hanya karena kecantikan juga hartanya.


Jika harta ini di berikan setelah lahirnya sang cucu berarti Krystal telah menemukan pendamping hidup yang setia. Pikir Berliana seperti itu.


"Om pamit, kamu tidak perlu ke hotel, rumah ini beserta isinya adalah milik ibu mu. Besok Om jemput kamu di sini." Ariel mengusap lembut puncak kepala janda beranak satu ini.


"Terimakasih Om." Ucapnya lalu melambaikan tangan pada berlalunya punggung Ariel yang memasuki pintu mobil.


^^^Bersambung.....^^^