Second Wife

Second Wife
Kenangan



Embun pagi telah mengudara, melakukan tugasnya untuk menyejukkan setiap insan. Memberi kesan awal yang baik bagi semua manusia penghuni bumi fana.


Netra indah Krystal baru saja terbuka, kening dia kerut dengan pandangan yang mengitari seisi ruangan yang kosong.


Di balik selimut tebal dirinya masih mengenakan handuk kimono, sejenak dia mengingat, malam tadi Raka mengajaknya mandi bersama. Sebelum mandi besar, Raka sempat mengajaknya berendam air hangat di bak mandi.


Bibir merasa cukup, tapi tubuh ingin terus merasakan kenikmatan yang telah menjadi candu. Lelah rasanya, namun, senyum terbit bersamaan dengan ingatan manis semalam.


Krystal bangkit dari posisinya, ada dua sajadah yang masih tergelar di sisi ranjang. Itu tandanya, Raka dan putrinya telah selesai melakukan ibadah subuh harinya.


Krystal mengernyit namun bersyukur. Sejak kapan Raka melakukan hal ini? Dahulu Raka terbangun jika sudah akan berangkat ke kantor.


Sepertinya Queen lah yang telah mengubah cara hidup lelaki itu. Dan lagi-lagi semua kebaikan berawal dari keempat perempuan surga Raka yaitu Elevy, Viona, Krystal dan sekarang Queen.


Krystal beranjak dan berjalan menuju kamar mandi, tentu saja dia juga ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Selesai dengan kegiatan itu, Krystal mengikat rambutnya, mengganti pakaian dengan dress di atas lutut, bibirnya ia oles tipis dengan lipstik soft nude, wajah cantiknya kian berbinar setelah kebahagiaan menyertai setiap embusan napas nya, alis tegas tak perlu sentuhan, sudah sangat cantik tanpa riasan.


Krystal membereskan semua sudut kamar, bahkan melucuti sprei yang terpasang pada ayunan.


Ayunan ini sering di gunakan Queen pula, biasanya ada gatal-gatal jika percikan dari bibit-bibit unggul yang mengering itu mengenai kulit seseorang. Krystal tipe wanita yang menjaga kebersihan.


Selesai dengan itu. Krystal keluar dari kamar, langkahnya berlanjut sampai ke dapur, ada Andre yang berdiri menenggak minuman di depan lemari es sana.


"Pagi Ndre." Sapa nya.


Andre menoleh. "Pagi."


"Queen sama Raka kemana?"


"Mereka joging di luar." Andre meletakkan botol itu pada meja dapur.


Krystal memindai sekujur tubuh Andre yang rapi dengan jaket jeans nya. "Kamu sendiri? Sudah rapi begini mau kemana? Bukanya Raka masih meliburkan semua orang?"


Andre menyengir. "Aku mau jemput Manda, mengantarkannya juga." Katanya.


"Ke?"


"Dia kuliah kan?"


Krystal mengangguk. "Iya." Dalam pikir Krystal bertanya. Sejak kapan mereka dekat?


"Apa kesukaan nya?" Tanya Andre kemudian.


Krystal mengernyit. "Tunggu, kamu ada apa sama Manda?" Tanyanya mencecar dengan senyuman kecil.


Andre menggeleng. "Tidak ada, cuma teman biasa, seperti kita." Jawabnya seraya beranjak pergi dari tempat itu.


Krystal mengernyit bingung, menatap berlalunya punggung bidang lelaki itu. Ada yang berbeda dari wajah Andre ketika membicarakan adik sepupu matrenya.


"Ah sudahlah." Daripada memikirkan sesuatu yang membingungkan Krystal mulai berkutat dengan bahan mentah, mengambil sayur dan bahan lainnya. Salmon salad menu yang ingin dia buat teruntuk sarapan anak dan suaminya pagi ini.


...• • • • • • • • • • •...


Beberapa saat kemudian. Di lain tempat, Raka dan Queen keluar dari lift setelah berjoging ria di halaman luas rumahnya. Pakaian khas olahraga mereka sandang.


Queen berlari masuk ke dalam kamar, dan Raka mengikuti. "Sayang, kamu mandi sama Sus yah." Titahnya.


Queen mengangguk. "Iya."


"Sekarang, Daddy mau kasih bunga ini buat Mammi Krystal mu."


"Ok, good luck Daddy!" Raka menjawabnya dengan kecupan manis di kening gadis itu.


Raka menitipkan putrinya pada salah satu pelayannya, biasanya Sukma yang memandikan Queen setelah Viona pergi, tapi beberapa hari yang lalu Sukma berhenti setelah di nyatakan positif hamil.


Membawa sebuket bunga di belakang punggungnya, Raka berjalan ke arah dapur mendekati istri tercinta yang pasti tengah menyiapkan sarapan untuknya.


Di depan sana Krystal berdiri membelakangi dirinya. Menata piring dan sajian sedap di meja makan.


Krystal kembali pada meja dapur dan Raka mulai menyatukan tubuh mereka dengan mendaratkan kecupan lembut pada ceruk leher mulus wanita itu. Mengendus aroma damai yang menusuk indera penciuman sambil terpejam.


"Pagi sayang." Ucapnya berbisik. Tak ada yang lebih bahagia darinya saat ini.


Krystal menoleh. "Pagi. Queen mana?"


"Mandi." Sebelah tangan Raka melingkar pada perut rata istrinya, mengganggu aktivitas pagi wanita itu. "Kamu bahagia?" Tanyanya lagi.


Krystal tersenyum menampilkan lesung di pipinya. "Sangat." Jawabnya.


Raka membisik. "I love you."


"I love you too,"


"Terserah." Ngalah Krystal. Jika sudah bicara dengan Raka, tak ada yang boleh menang.


Raka membalikan tubuh Krystal menghadap padanya, mengeluarkan bunga dari balik punggungnya. "For you Baby." Sodor nya tersenyum.


Meskipun tersentuh dengan keromantisan itu Krystal tetap merutuk. "Pagi begini dari mana kamu dapet bunga?" Tanyanya sambil mengendus aroma mawar merah pemberian suaminya.


"Subuh tadi aku telepon tokonya."


"Kamu masih sama saja." Krystal menaikan ujung bibirnya. "Merepotkan orang tidak tahu waktu."


"Yank, blackcard di luncurkan dengan segala fasilitas nya, sebagai pengguna yang baik, ..."


"Iya terserah." Potong Krystal, membuka dan menutup toko saat ingin berbelanja memang salah satu dari fasilitas kartu kredit eksklusif.


Krystal meletakkan bunga itu pada vas berbentuk bulat, bibirnya tersenyum menatap keindahannya. Sembilan puluh sembilan bunga mawar merah tanda cinta dari suaminya.


Kembali Raka meraih lengan Krystal. Mengangkat dan mendudukkan Krystal pada meja dapur, melingkarkan tangan Krystal pada tengkuknya sementara kaki jenjang wanita itu dia belit kan pada punggungnya.


Wangi lembut yang Raka hirup dari ceruk leher Krystal menentramkan jiwa. "Sayang."


Krystal memundurkan wajah. "Kamu tidak berniat melakukannya di sini kan?"


Raka menggeleng. "Tidak, nanti saja di Swiss, kita bulan madu tanpa Queen, mencoba melakukannya di berbagai tempat, dapur, kolam renang dan lain sebagainya."


"Messsssum."


"Tidak seperti itu bagaimana bisa muncul Queen? Kita coba buat beberapa adik Queen lagi. Penuhi istana ini dengan ocehan buah cinta kita." Raka mendaratkan kecupan ringan di bibir istrinya.


Krystal mendorong suaminya. "Jangan begini, di sini banyak orang."


"Tidak ada, tempat ini steril dari pelayan."


"Kamu lupa, Andre bisa masuk kapan saja?"


Raka menggeleng. "Dia pergi dengan mobil barunya, mungkin mau ke rumah ceweknya."


"Sepertinya rumah Amanda."


"Oya?" Sambung Raka dan Krystal mengangguk.


Raka menyengir. "Mereka cocok, gimana kalo kita jodohkan saja?" Dari pada terus mengejar mu Yank. Batinnya.


"Lihat saja perkembangan berikutnya, kita tidak perlu mencampuri urusan orang, kalaupun mereka berjodoh aku tidak keberatan." Kata Krystal.


Tak ada yang perlu Krystal khawatir kan. Setidaknya, sekarang Manda sudah lebih dewasa dan tidak lagi berani macam-macam padanya. Seiring dengan bertambahnya usia, Amanda berubah menjadi gadis yang sopan.


Krystal setuju jika Andre ingin mendekati adik sepupunya. Biar bagaimanapun juga, Andre sangat pantas di jadikan seorang suami.


Kaya, tampan, gagah, yah, Andre cocok jika bersanding dengan Amanda yang cantik. Andre pekerja keras dan rajin menabung, pasti sanggup memenuhi permintaan mahar yang Fairuz dan Mary harapkan.


Raka mengangguk. "Benar, urusan kita saja belum selesai." Lagi-lagi kedua bibir itu beradu begitu hanyut.


Indera perasa mulai menyisir setiap inci kecil isi dalamnya. Krystal meremas rambut di tengkuk Raka, menambahkan gelenyar candu lelaki itu. Malam sudah begitu panas, pagi tak ada bosannya.


"Daddy, ..." Teriakan putri kecil mereka melerai pertikaian bibir keduanya.


Krystal terkikik sambil menutup bibirnya, segesit itu Raka beringsut. "Kamu takut di pergoki putrimu?"


"Tentu saja! Dia masih kecil, apa jadinya kalo sampai meniru sebelum dewasa, kamu tidak lihat, di aplikasi joged-joged anak kecil sudah berani melakukan itu?" Sanggah Raka.


Krystal tersenyum. "Terlepas dari sifat arogan mu, kamu Daddy yang baik, terimakasih sudah merawat putriku dengan baik." Ucapnya.


"Aku minta maaf, pernah menduakan mu dengan pria lain." Krystal mengeluarkan kalung miliknya, menunjukan cincin yang dia jadikan bandul.


"Tidak akan aku biarkan lagi." Raka melepas kalung yang Krystal pakai, mengambil cincin perkawinan mereka yang sempat Krystal lepaskan.


"Pakai cincinnya lagi." Kata Raka dan Krystal mengangguk, mengulur tangan menerima sematan cincin berlian dari jemari suaminya.


"Semoga tidak akan pernah ada pengkhianatan lagi di antara kita sampai maut memisahkan, I really really love you, Krystal." Ucap Raka.


"I, ..."


Raka menggeleng cepat menyela ucapan Krystal. "No, kenyataannya aku yang lebih mencintaimu, cukup, no debat!"


"Emmh." Krystal hanya membalasnya dengan senyuman manis.


Raka yang dia lihat adalah Raka yang sama dengan Raka yang puluhan tahun silam dia lihat, saat bocah tampan itu menunjukkan jalan dan menawarkan uluran tangan saat dirinya terjatuh pada kubangan air hujan.


Mungkin Raka tak mengingat, tapi otak genius Krystal yang terus menjadikan itu kenangan terindah baginya.


^^^Bersambung....^^^