Second Wife

Second Wife
Iri hati.....



Manusia memiliki kecewa, manusia punya emosi, manusia ladangnya dosa, dan Krystal tak jauh dari kodrat yang semestinya.


Meski menyesal dan patah arang terhadap perlakuan Viona yang terkesan tidak tahu terimakasih.


Krystal berusaha ikhlas menjalani kehidupan pahit yang mungkin sudah menjadi takdirnya, tak ada satupun ujian yang Allah turunkan di luar batas kemampuan. Krystal yakin, dia mampu melewati ini semua.


Kendati rasa sakit acap kali Krystal temui dia masih tetap tinggal. Ray dan Elevy lah alasan Krystal bertahan sampai saat ini.


Senyum dan kepedulian mertuanya membuat Krystal meluluh untuk terus melanjutkan kesepakatan terakhirnya bersama sang suami.


"Krystal!"


Panggilan merdu yang mengalun membuat Krystal menoleh pada sosok Nyonya besar yang masih terlihat sangat cantik di usia paruh baya nya.


Elevy tersenyum melangkah gontai dari ambang pintu menuju meja rias menantu kesayangannya, tujuh bulan tinggal bersama membuat mereka semakin lekat.


Krystal telah cantik dengan gaun pesta berwarna putih yang di pesan khusus oleh mertuanya, Elevy dan Ray sendiri yang mempersiapkan acara nujuh bulan mantu ke dua nya tanpa dukungan sang putra.


"Mammi." Sapa Krystal sambil tersenyum.


Elevy mengelus lembut puncak perut nan besar menantunya "Gimana kabar Baby? Hari ini dia nggak nakal kan?" Tanyanya.


Krystal menggeleng "Enggak Mamm, dia nurut." Jawabnya dengan wajah tersenyum.


"Di luar tamu sudah pada menunggu, Raka dan Viona juga hadir, kamu keluar yuk, Daddy juga menanyakan mu terus. Daddy sudah nggak sabar mau pamer mantu cantiknya yang lagi hamil." Sambung Elevy tersenyum.


"Daddy terlalu antusias." Timpal Krystal.


Ray memang selalu bertindak berlebihan, bertingkah posesif pada mantu ke dua nya, maklum saja, ini hal yang paling Ray tunggu.


"Memang begitulah Daddy mu." Sahut Elevy.


Sejenak Krystal terdiam, memikirkan kemungkinan yang akan terjadi di masa depan "Krys pasti akan merindukan kalian setelah pergi dari sini." Ucapnya lirih.


Senyum Elevy meredup "Kenapa harus pergi? Kau masih bisa tinggal di sini sebagai putri ku meskipun nantinya Raka menceraikan mu." Cetus nya.


Krystal menggeleng "Siapa yang mau terus merasa sakit Mamm. Krystal manusia biasa. Melihat mantan suami bahagia bersama orang lain tentu akan membuat hati pedih. Krystal masih bertahan sampai detik ini hanya karena Mammi Daddy." Ujarnya.


Bukan lagi Viona yang membuat dia melanjutkan pernikahan ini. Sebab, Viona sudah membuatnya terlampau kecewa.


Elevy menggeleng ringan "Mammi pasti kesepian tanpa mu, Krys." Ucapnya.


"Ada Krystal kecil sebagai pengganti nya, dia pasti menyayangi Mammi seperti ku." Krystal tersenyum menggenggam tangan ibunya.


Senyum bergetar haru mereka terbitkan.


"Ya sudah, sekarang kita keluar." Ajak Elevy, beranjak dari suasana sendu ini. Segera Elevy membetulkan riasan Krystal, menambahkan aksesoris di kepala wanita cantik itu.


"Benar kata orang, ibu hamil semakin bersinar, atau mungkin karena bayinya perempuan, kamu tambah cantik berkali-kali lipat dari sebelumnya." Elevy memandang kagum binar tak biasa dari wajah menantunya.


"Mammi bisa saja." Sambung Krystal.


Lagi, Elevy menggiring Krystal keluar dari kamar, dan langsung menuju ballroom rumah besar itu. Hingar-bingar dari percakapan para tamu undangan telah sampai di telinga mereka.



Di langkah pertama Krystal memasuki ballroom, semua mata beringsut menatap ke arah nya tidak terkecuali Raka, Viona, Andre, Darren, Yarish, Ricko dan Melly yang ternganga kagum padanya.


Krystal mulai berani menunjukkan keaslian wajahnya, tanpa kacamata tebal. Dia telah menikah jadi untuk apa di tutupi lagi?


Krystal bukan gadis introvert, dia mantan manager pemasaran, menjadi pusat perhatian bukanlah hal yang pertama kalinya dia temui.


Sikap percaya dirinya membuat Krystal semakin memancarkan aura kecantikan yang hakiki. Wanita tangguh, cerdas, cantik, itulah dirinya.


Raka di buat stuck menatap lekat istri ke dua nya, rindu yang menggebu menitahkan dirinya untuk tetap terpaku pada satu penjuru.


"Sayang kamu gemukan." Celetuknya tersenyum tanpa sadar.


Pipi mulus Krystal menjadi lebih berisi dari terakhir kali dia sentuh. Ingin rasanya mengecup pipi tembam itu, mengelus perut buncitnya, mendekap erat tubuhnya.


...• • • • • • • • • • •...


"Ini dia mantu ku." Ray merentang tangan menunjuk menantu ke dua nya "Cantik kan?" Sombongnya menyengir.


Bangga sekali Ray memperkenalkan menantu ke dua nya tak peduli Viona menatap jengkel ke arah nya.


Satu pria menatap seksama Krystal "Wah, Ray, wajah mantu mu mirip seperti artis kawakan, emm..."


"Berliana." Sergah Ray melanjutkan ucapan temannya yang tak jua selesai.


Satu temannya lagi mengangguk "Yah, mirip dengan almarhumah Berlian." Sambar nya.


Ray menaikan kedua bahu "Tentu saja. Krystal ini putrinya." Dia raih lengan Krystal, merangkulnya.


"What?" Kejut pria bernama Mike itu "Jadi Berlian punya anak?" Tambahnya.


Kehidupan artis dulu memang jarang sekali di ekspos, tidak seperti artis jaman sekarang yang bolak-balik memamerkan kelucuan anaknya.


"Yah, Krystal putri Berliana dan menjadi mantuku sekarang." Imbuh Ray dengan bangganya.


"Masya Allah, cantiknya. Raka beruntung punya dua istri cantik. Aku kira satu Viona takkan ada tandingannya, ternyata pesona istri muda selalu lebih terang." Sambung mantan kolega Ray.


"Hahaha." Tawa renyah orang-orang elit terdengar memenuhi ruangan.


Viona mengedar pandangan. Mendengar semua pujian yang menyakitkan hatinya. Dahulu hanya dia yang di puji sebagai istri tercinta Raka-nya, tapi Krystal seolah sengaja menunjukkan kecantikan untuk menyaingi dirinya.


Rengat hati menyulut emosi diri. Satu gelas berisi minuman berwarna merah dia ambil dari nampan salah satu pelayan.


Langkahnya mendekat menuju Krystal sambil menyunggingkan senyum getir yang di buat semanis mungkin "Krys." Panggil nya.


Krystal menoleh, membalas tersenyum menyambut kedatangan sahabatnya, sontak senyum meredup tatkala Viona berhenti sambil memegangi kepalanya seolah mengendalikan rasa pusing.


Crack!!


Semua orang membulatkan mata, menatap gaun Krystal yang tersiram minuman dari tangan Viona. Bahkan wajah Krystal terkena cipratan air berwarna merah juga.


Krystal menganga "Ya Tuhan baju ku." Katanya lirih sembari menatap sekujur tubuhnya.


Raka yang jengkel, segera melangkah cepat, menyusul tubuh istri pertamanya, gurat amarah tak mampu dia tepis. Kecewa sudah pasti ada.


"Vio." Tangannya merebut gelas yang Viona cekal, menatap nyalang wanita itu.


Viona tahu Raka marah, gegas dia menampilkan kaca-kaca di matanya "Raka, aku nggak sengaja, kamu tahu kan, pasca koma aku disorientasi. Tiba-tiba saja aku kehilangan keseimbangan." Kilah nya.


"Bajuku." Lirih Krystal sendu, mungkin kehamilan yang membuatnya sering berubah-ubah emosi, lama Krystal menyukai gaun ini, baru saja dia pakai sudah di buat noda oleh sahabat rasa saingannya.


"Tidak apa, sayang," Ray mengusap lembut pucuk kepala Krystal, mencoba menengahi permasalahan rumah tangga putranya.


Ini tempat ramai, jangan sampai acara elitnya kacau hanya karena gaun yang kotor "Daddy belikan banyak gaun untuk mu, kamu ganti lagi saja." Ujarnya.


Krystal menoleh pelan "Iya Daddy." Angguk nya sendu, Elevy meraih Krystal untuk kemudian di bawa kembali masuk ke dalam kamar.


Sementara Raka masih menatap kecewa istri pertama nan kesayangannya "Sebenarnya apa mau mu?" Tanyanya pelan.


"Aku tidak sengaja." Sanggah Viona.


Raka menggeleng "Aku tahu saat kau berbohong Vio. Aku sangat paham bagaimana dirimu." Tampik nya.


"Tapi sekarang aku tidak mengenal mu lagi, sekarang kau bukan Viona yang aku sayangi. Kau berubah menjadi orang asing." Imbuh Raka berawai.


Tak menunggu lama, Raka meninggalkan Viona bergeming sendiri, langkahnya menuju kamar istri ke dua nya.


Persetan dengan kemarahan Viona, Raka tak sanggup menahan rasa rindunya, ingin sekali bersua membasuh luka yang bersemayam bahkan beranak-pinak di dalam dadanya.


...• • • • • • • • • • •...


Bersambung.....