
Raka menghela napas berat, duduk termenung menatap lekat wajah cantik buah hatinya di seberang ruangan sana.
Bayi mungil itu sangat cantik, jelas wajahnya mirip ibunya.
Sejenak Raka mengingat bagaimana buasnya dia menghujam keras istri candunya. Semakin Krystal melenguh protes, semakin Raka di buat tak mau berhenti dari aktivitas pencapaian kenikmatan surga dunianya.
Dia kecup bibir candu istrinya setelah wanita itu tertidur pulas di atas lengan kekarnya. Pagi-pagi sekali Raka memindahkan kepala Krystal pada bantal yang senyaman mungkin.
Mengusap dan berbisik pada perut besarnya "Kamu baik-baik sayang, Daddy titip Mammi mu. I love you." Raka kecup sekali lagi kening Krystal sebelum benar-benar pergi meninggalkan ranjang panasnya.
Sesal selalu datang di akhir. Begitulah kodrat yang sudah di tentukan hukum alam.
Di masa kehamilan yang baru memasuki bulan ke tujuh, masih ada kemungkinan gugur saat melakukan hubungan ranjang suami istri.
Krystal memiliki resiko tertinggi untuk itu sebab dari awal kandungannya memang sudah sangat rawan.
Kondisi psikis dan faktor pendukung lainnya yang membuat wanita kuat itu menjadi lemah. Apa lagi, cara Raka yang terlalu buas menjadi pemicu utama longsornya sang janin.
Beruntung, Krystal adalah salah satu dari ibu hamil yang terawat, mengikuti pola makan sehat, mencukupi kebutuhan janin dengan susu kehamilan dan mengonsumsi vitamin yang di perlukan.
Kendati lahir prematur, bayi mungil itu sehat dengan fisik yang tidak cacat, Queen Kirana Rain nama yang Raka pilih untuk mengiringi setiap langkah sang pewaris.
Sempat Ray bertanya kenapa harus Kirana? Kenapa tidak nama yang lebih modern lagi seperti Kireina mungkin, tapi kemudian Raka menjelaskan sebab musabab Kirana ada di dunia ini karena adanya tiga nama yaitu Krystal, Raka dan juga Viona.
Queen Kirana Rain, sangat cocok untuk putri cantik nya, berharap nantinya Queen akan mampu mewarisi kecerdasan ibundanya sebagai pelengkap wibawanya saat memimpin perusahaan besar ayahnya.
Atau mungkin, Queen bukan satu-satunya putri Raka, semua masih misteri illahi Rabbi. Raka hanya cukup mempersiapkan diri untuk mengikuti tumbuh kembang si mungil.
Darren yang baru datang, duduk di sisi lelaki tampan itu, mengusap punggung abangnya "Krystal pasti kembali, aku yakin dia tidak akan tega membiarkan bayinya tanpa air susunya." Ujarnya.
Raka menggeleng "Itu tidak mungkin. Aku tahu dia punya ketabahan, kekuatan luar biasa, pemikiran matang, jika dia sudah ingin pergi, maka tidak akan pernah urung dari niatnya." Tepis nya.
Semakin mendalami sifat istrinya, semakin Raka patah arang di buatnya. Kendati demikian, Raka masih tetap mengerahkan segenap kemampuannya untuk mencari dimana keberadaan sang pujaan hati.
"Kalian sudah bercerai?" Darren sempat membaca surat gugatan yang dia temukan di kamar tamu yang Krystal tempati, kebetulan Darren dan keluarganya menginap di rumah Ray setelah pesta selesai.
Raka menoleh "Belum! Tentu saja belum! Aku belum mengikrarkan talak padanya!" Sanggah nya.
"Lalu apa selanjutnya?"
"Entah lah." Raka putus harapan.
"Sebaiknya Abang pikir lagi, jangan sampai menyesal di kemudian hari, hanya karena keputusan yang diambil dengan cara tidak tepat." Tutur Darren dan Raka terdiam meluruskan pandangan.
"Ya sudah, aku harus pergi, Om Tirta masih butuh ku jenguk, kalau boleh saran, Abang juga harus menjenguk Om Tirta. Kasihan dia, gara-gara Bang Darius di penjara, penyakitnya terus kambuh." Tambahnya.
Raka mengibas kecil tangannya "Pergilah. Salam ku untuk Om Tirta. Kamu juga besuk Darius, aku tidak bisa datang, Daddy melarang ku." Ucapnya.
"Ok."
...• • • • • • • • • • •...
Di lain sisi.
Krystal turun dari taksi, pagar rumah salah satu sahabat terbaiknya lah yang dia satroni. Lemah lunglai Krystal berjalan dengan pakaian tertutup.
Pandangan yang melamur karena teriknya matahari meredupkan segala asa, tiga puluh menit yang lalu, tertatih Krystal keluar dari ruangan VVIP miliknya.
Lihatlah, mampu saja bagi Krystal keluar dari sangkar emasnya, hanya saja dia terlampau baik untuk mengingkari janjinya.
"Krystal!" Derap langkah cepat yang menujunya semakin membuat pandangannya mengabur "Krys!" Wanita lemah itu ambruk dalam tangkapan tangan putih mulus lelaki berwajah oriental.
Yarish, yah, dialah yang Krystal datangi.
"Krystal." Paniknya.
Yarish menggendong tubuh lunglai sahabatnya, berlari memasuki rumah minimalis nya "Mah!" Teriaknya.
Wanita paruh baya berwajah oriental bernama Eun Kyung berlari mengejar "Rish, siapa dia?" Tanyanya.
"Krystal, dia Krystal." Sergah Yarish panik.
"Krystal?" Eun Kyung mengernyit, sempat tak mengenali teman putranya "Kenapa dia?" Tanyanya.
Tak mau lama berpikir, Eun Kyung mengangguk "Mamah panggil bidan yah Rish, kamu bawa Krystal ke kamar mu." Titahnya.
"Hmm!" Yarish melangkah cepat memasuki kamar miliknya, dia baringkan temannya pada ranjang singgel itu.
Yarish tarik selimut tebalnya menutupi sebagian tubuh Krystal, duduk di sisi ranjang menghadap wanita pucat bak zombi itu.
Selama kehamilan, di antara ketiga sahabat kantornya, Yarish lah orang terupdate yang mengikuti perkembangan janin sahabatnya bahkan sampai tahu urusan pribadi rumah tangganya.
Maklum, Yarish jomblo meskipun dilahirkan dengan ketampanan paripurna, idola di kantor pusat B-Meria, dia bukan tipe pria yang tahan memiliki keterikatan.
"Nasib Lu Krys, kenapa seperti ini? Lu terlalu baik jadi orang." Rutuk Yarish lirih.
Yarish meluruskan satu kaki, meraba smartphone dari saku celana jeans hitamnya, memainkan jemarinya pada layar, dan melayangkan panggilan video pada kakak sepupu laki-laki nya.
Cukup lama dia menanti sampai suara berat dan wajah tampan oriental seseorang terdapat dari seberang sana.
📞 "Yeoboseyo." Halo.
Namanya Hyun Ki, sepupu terkaya yang masih Yarish miliki di Korea. Di saat beginilah Yarish berusaha memanfaatkan koneksi.
"Hyeong." Abang.
📞 "Hmm?" Lelaki berdasi biru gelap itu mencuatkan wajahnya, dengan alis yang naik satu.
Yarish menyengir "Hehe, Hyeong-nim, doum-eul cheonghaedo doelkkayo?" Ucapnya memohon kolokan ala oppa Korea. Abang, boleh aku minta tolong?
📞 "Mwo?" Polos nan dingin lelaki itu bertanya Apa?
"Akkado malhaessdeus-i hangug-e chingulang mannaleo ogo sip-eoyo." Seperti yang pernah aku katakan padamu, aku ingin datang ke Korea menemui mu bersama teman ku.
📞 "Geulaeseo?" Berkerut kening Hyun Ki bertanya, apa urusannya dengan nya Lalu?
Yarish menampilkan gigi putihnya "Gaein jeteugileul eod-eul su issdolog dowajuseyo." Tolong bantu aku mendapat pesawat jet pribadi.
📞 "Aigo!" Hyun Ki membulatkan mata, apa semudah itu sepupunya meminta jet pribadi, keterlaluan sekali. Astaga!
"Hehe, butaghae hyeong!" Yarish menyengir sekali lagi memberikan tanda cinta dengan jemari K-Pop nya Ku mohon Bang!
Tuuuutt..... Hyun Ki menutup panggilan telepon secara sepihak.
"Hyeong!" Teriak Yarish "Sial!" Umpat nya.
Dia layangkan pesan teks pada nomor yang barusan dia panggil "Hyeong, butaghae 🥺." Tulisnya dan terkirim.
Yarish menghela napas dalam "Gimana cara Gue bujuk kulkas tiga puluh lima pintu ini? Hayyyss!" Gerutu nya. Sebab hanya Hyun Ki yang bisa menolongnya. Lagi-lagi kuasa harus ada untuk melancarkan suatu rencana tanpa kendala.
Di tengah kegundahan. Beberapa langkah kaki dari sepatu flat terdengar.
"Rish!" Eun Kyung, sang ibu datang dengan satu bidan di belakangnya.
"Siapa yang sakit? Pacar mu Rish?" Tanya bidan nya cemas, bidan komplek yang biasa menangani pasien di sekitar perumahan.
"Teman ku." Jawab Yarish seraya menyingkir dari ranjang yang Krystal tempati.
"Ya Tuhan, bibirnya pucat." Gumam Buk bidan sembari melingkarkan pengukur tekanan darah pada lengan Krystal.
"Dia baru saja melahirkan." Timpal Yarish.
Bidan menoleh "Apa? Lalu di mana bayinya?" Tanyanya memastikan.
"Sama suaminya." Imbuh Yarish.
Eun Kyung menggeleng "Malang sekali nasib Krystal Rish." Ucapnya.
Yarish hanya mengangguk pelan.
...Visual Ji Yarish....
Bersambung.....