
Pagi ini Krystal mendatangi pemakaman elit milik Viona yang berada di daerah Karawang.
Lama Krystal tak menjumpai sahabatnya, hanya doa yang selalu dia kirim meskipun bibir terasa acuh untuk mempedulikan secara terang-terangan.
Jujur, setelah kejadian malam pertengkaran Raka dan Viona, Krystal merasa sakit, tapi itu berlangsung sebelum dirinya tahu bahwa Viona telah mendidik Queen dengan baik.
Ternyata Viona masih wanita yang sama, perubahannya kala itu hanya karena tidak rela di madu.
Itu wajar dan manusiawi. Krystal pun menyadari keegoisannya selama ini. Sebab dia tahu, tiada manusia yang sempurna termasuk dirinya.
Jongkok termenung Krystal di sisi makam sahabatnya, menabur bunga cantik kesukaan Viona. "Selamat pagi sayang ku." Ucapnya tersenyum.
Senyum yang berangsur menjadi sendu kala mengingat kembali apa pun yang telah terjadi.
"Maaf, aku sempat marah dan kecewa padamu. Aku ke sini mau meminta maaf padamu. Terutama terimakasih sudah mendidik Queen dengan baik, sampai menjadi putri yang cerdas dan pengertian."
"Kamu masih Viona yang ku kenal, yang baik dan bawel, tapi ada kepedulian di dalamnya. Aku menyayangimu Vio."
Buliran yang menumpuk tertumpah ruah hingga berlinangan di pipi. Rasanya berdosa sekali dia meninggalkan Indonesia dengan memusuhi banyak saudaranya.
Padahal, Krystal yang dahulu bukan lah Krystal yang seperti itu. Kendati sebuah kesakitan cinta dan rasa kecewa mendapat perlakuan buruk Viona Krystal memutuskan pertalian.
"Semoga maaf ku masih berlaku Viona." Gumamnya lirih.
...• • • • • • • • • • •...
Satu bulan kemudian, sidang pertama yang Krystal hadiri telah selesai. Masih ada beberapa proses selanjutnya yang harus di lalui.
Menurut Kompilasi hukum Islam Pasal 105 biasanya Pengadilan akan memberikan hak asuh pengurusan dan pemeliharaan kepada ibu jika anak masih dibawah umur belum 12 tahun, setelah berusia 12 tahun diberikan kebebasan memilih untuk diasuh oleh ayah atau ibunya.
Raka tak menyangkal, jika harus seperti itu pun, Raka pasrah. Padahal semestinya perjanjian terakhir yang mereka tandatangani sudah bisa membuat Queen berada dalam asuhan ayahnya.
Namun sampai detik ini, Raka tak mengajukan perlawanan, dia masih setia mengikuti alur dari persidangan yang ada.
Bila mana benar adanya Queen di asuh Krystal, Raka ikhlas, dia percaya Queen akan memilih nya setelah berusia lebih dari 12 tahun. Setidaknya, Queen tumbuh dengan baik di tangan yang semestinya.
Setelah beberapa sesi pencerahan Krystal dan Raka di bubarkan, mereka akan bertemu kembali di sidang berikutnya.
Meski berjalan beriringan tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Krystal di temani Ariel dan putra Ariel sebagai kuasa hukum. Raka pun menenteng Vicky dan Zain untuk mendampinginya.
Keluar dari ruang persidangan, semungil kecantikan yang duduk dengan Andre, Elevy dan Ray berlari antusias menuju keduanya.
"Mammi Daddy." Panggil nya. Wajah ceria anak itu seperti tidak terjadi apa-apa, mungkin karena Queen terbiasa dengan kondisi yang seperti ini.
"Sayang." Krystal memeluk erat tubuh mungil gadis itu bahkan menggendongnya. "Sayang nya Mammi. Oya hari ini Queen nggak syuting?" Tanyanya.
Di sisi Krystal, Raka masih hanya diam menatap kedua perempuan kesayangannya. Seandainya saja tidak terjadi perceraian mungkin senyum manis yang saat ini dia tampilkan.
"Enggak, semenjak Mammi Vio ga ada, ga ada yang ngambil job, Daddy kan sibuk sama pekerjaannya, Om Andre apa lagi. Queen nggak ngambil job apa pun sekarang. Queen mau fokus bantu Daddy di perusahaan."
Krystal terkekeh. "Kamu masih kecil." Queen hanya menyengir.
"Krystal!" Ray dan Elevy juga ikut mendekati menantu yang beralih menjadi putrinya. "Lama kamu tidak menemui kami Krys!" Kata Ray protes. Sebelah tangannya mengusap lembut puncak kepala wanita itu.
"Maaf, Daddy, Krystal lagi merintis usaha baru, masih sibuk dengan urusan yang sulit di tinggalkan, rencananya Krystal juga mau pindah rumah, kemarin- kemarin Krys sibuk cari rumah baru."
Bukan itu alasan sesungguhnya. Kenyataannya, Krystal malu mendatangi rumah mertuanya meskipun rindu menusuk relung kalbu.
"Kamu tambah cantik. Mammi sampe pangling tadi." Kata Elevy dengan senyum manis seperti biasanya.
”Mammi bisa saja."
"Kamu mau usaha di sini? Kamu tidak jadi menikah dengan Hyun?" Tanya Ray.
Mendengar itu Raka mengalihkan pandangan, siapa yang putranya dan siapa yang di perhatikan. Jelas Ray tak mengharapkan persatuan Krystal dan Raka kembali. Pikir Raka begitu.
"Belum kepikiran ke situ Daddy." Geleng Krystal. Saat ini menyendiri adalah prioritas.
"Ya sudah, dengan siapapun kamu hidup, asalkan bahagia saja, doa Daddy masih sama, untuk kebahagiaan ibu dari cucuku, Daddy belum sempat mengucapkan terimakasih padamu, terimakasih sudah memberikan Daddy cucu yang pintar seperti Queen."
Ray dan Elevy tersenyum menguatkan putrinya, yah Krystal sudah seperti putri bagi mereka.
"Sekali-kali main ke rumah, jangan putus tali silaturahmi. Kita masih orang tua mu Krys!" Kata Elevy.
"Iya Mamm." Angguk Krystal.
Queen yang sedari tadi diam kini kembali menyambar pembicaraan. "Daddy, kita ke rumah Mammi yuk!" Ajaknya sembari menarik sebelah lengan kemeja Raka.
Raka terkesiap. "Buat apa?" Anak sekecil itu tidak tahu bagaimana hubungan ayah ibunya yang sudah tak ingin bersama-sama.
"Mammi bilang mau pindah rumah. Ayolah, kita ikut bantu-bantu."
Raka mau, tapi Krystal belum tentu. "Daddy banyak pekerjaan." Tolaknya.
"Kau sibuk saja, pantas tidak ada yang betah tinggal bersama mu!" Rutuk Queen merengut.
"Kenapa tidak Queen sendiri saja?" Sambung Elevy.
"Memangnya Daddy ngizinin?"
Raka mengernyit. "Memangnya, Mammi mu tidak sibuk?" Mungkin kata itu akan membuat kesan lebih baik.
Queen beralih pada Krystal. "Mammi sibuk tidak?"
"Tentu saja tidak," Geleng Krystal bersemangat. Setelah pergi meninggalkan bayi itu, dia masih bisa merasakan di cintai, ini semua berkat Viona, Krystal bersyukur.
"Boleh kan Queen ikut Mammi?" Tanya Queen lagi.
"Memangnya Daddy ngizinin?" Sahut Krystal dengan ekor mata yang mengerling pada wajah Raka.
Kembali Queen beralih pada ayahnya. "Daddy ngizinin nggak?"
Raka menghela sambil menggaruk filtrum bibir seperti memikirkan sesuatu. "Boleh, tapi jangan pulang larut malam."
"Makasih Daddy." Masih dalam gendongan Krystal, Queen meraih kepala ayahnya mendekat padanya. Cup! Ciumnya tepat di bibir.
"Emmh." Raka mengangguk, yah setidaknya ada hal baik yang Raka berikan untuk Krystal meskipun terlambat.
Krystal menatap Raka. "Makasih Ka." Untuk yang pertama kalinya Krystal tersenyum saat mengucapkan kata itu pada lelaki ini.
Entah apa arti dari semua ini, Raka merasakan debaran jantung yang berbeda telah menyentak kewarasannya. Sama saat dirinya merasakan jatuh cinta di masa mudanya. Puber kedua, dan apakah harus pada orang yang tidak mungkin kembali?
Setelah berpamitan dengan Ray dan Elevy, Krystal membawa putrinya ke mobil barunya. Krystal membeli mobil biasa hanya untuk berbolak-balik mengurus ini itu.
Mobil lamanya sudah di pakai Amanda untuk kuliah, maklum anak jaman sekarang harus mengendarai sendiri. Tak mau di antar jemput.
Kendati Mary dan Fairuz berbuat tidak baik, Krystal masih memberikan cinta meskipun hanya secuil. Berkat mereka lah Queen ada, hanya karena alasan itu saja Krystal mau menerima maaf paman dan bibinya.
Elevy, Ray dan Raka menatap mobil Krystal berlalu dari hadapannya.
"Kamu tidak apa-apa Ka?" Setelah berlalunya Krystal dan Queen, Elevy mengusap punggung putranya.
Raka mengangguk dengan bibir yang terlipat.
"I'm alright Mamm, doing well." Ucapnya sembari melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Elevy dan Ray hanya menatap punggung putranya yang berlalu memasuki mobil mewah berwarna hitam.
"Kasihan putra ku." Elevy tahu kata-kata Raka barusan tidak selaras dengan kondisi hatinya.
"Terkadang, sikap tegas di perlukan meskipun harus menyakiti, Raka pernah memilih Vio dan mengabaikan Krys selama kehamilannya, ini sudah harus dia alami. Hanya keajaiban yang bisa mengembalikan pernikahan mereka. Itu pun hanya tiga puluh persen saja."
"Seandainya Daddy berada di posisi Raka, apa Daddy akan memilih istri kedua dan meninggalkan ku? Beruntung kamu tidak mengalami hal yang Raka alami, di tuntut memiliki anak sementara Vio tidak bisa hamil. Lalu sekarang kau tidak mendukungnya."
Ray menatap Elevy. "Jadi menurut mu aku yang egois?"
"Aku tidak bilang begitu, semuanya terjadi karena Tuhan yang menggariskan, syukur kita tidak pernah kekurangan uang. Jadi harus siap menghadapi cobaan lainnya, termasuk hal seperti ini."
^^^Bersambung.....^^^