
"Hwa Young!" Hyun Ki terkesiap melihat ibu dari putranya berjalan cepat ke arahnya.
"Oppaneun uli gyeyag-eul eogyeossgo, oppaneun aechaleul jeoldae geondeuliji anhgessdago haessgo, oppaneun naega olhae maenijimeonteu gyeyag-i kkeutnagileul gidaligo sipdago haessda. oppaga nal baesinhaess-eo." Oppa melanggar kesepakatan kita, kamu bilang tidak akan pernah menyentuh Ae Cha, kamu bilang mau menunggu ku selesai kontrak management tahun ini. Kamu mengkhianati ku!
"Jun-eul neoege matgyeoss-eo, oppa. hajiman naneun dangsin-eul sog-in jeog-i eobs-seubnida. Ihaehal su issdago hadeoni Aecha-ege ppoppohaess-eo?" Aku menitipkan Joon padamu tapi aku tidak pernah selingkuh, selama ini aku hanya sedang menjaga karir ku saja. Kamu bilang kamu bisa mengerti, lalu apa ini, kamu berciuman dengan Ae Cha?
Hyun Ki menunduk. "Nan geunyeoleul salanghae." Aku mencintainya. Ungkapnya jujur.
"Mwo?" Apa? Hwa Young terkejut.
"Geuleomyeon naneun eotteohseubnikka? i gyeyag-eun eotteohseubnikka?" Lalu bagaimana dengan ku? Bagaimana dengan perjanjian ini? Hwa Young menunjukkan kertas resmi perjanjian tertulis bersama Hyun Ki. Kontrak yang di sepakati enam tahun lalu.
Hwa Young dan Hyun Ki pernah bertemu membicarakan tentang bagaimana Joon yang di asuh dan di susui oleh Krystal.
Hwa Young harus rela pergi dari kehidupan Hyun Ki hanya karena kontraknya dengan pihak manajemen masih terpaut.
Selama ini Hwa Young tak memiliki pria lain, hanya Hyun Ki yang ada dalam hatinya. Pada akhirnya mereka membuat kesepakatan, bahwa cinta mereka takkan pernah tergoyahkan, tunggu sampai Hwa Young selesai kontrak mereka akan mengumumkan pernikahan.
Lalu apa ini? Dunia maya di gegerkan dengan berita ibu Joon yang tiba-tiba muncul. Hwa Young murka, dia sengaja pulang dari Tiongkok membatalkan syuting hanya untuk melabrak ayah dari putranya.
Hyun Ki tak mampu menepis rasa, bahwa ternyata dirinya mengkhianati perjanjian ini. Siapa yang tidak goyah melihat kecantikan, kebaikan, ketenangan yang Krystal suguhkan.
Perlahan tapi pasti, perasaan yang tadinya hanya main-main kini menjadi sebuah candu baginya, Hyun berniat menjadikan Krystal istri ke dua nya setelah Hwa Young.
"Uli geolaeleul chwisohabsida. jun-eun imi keuliseutal-eul neomu salanghago jun-eun dangsin-eul aljido moshaessseubnida." Kita batalkan saja kesepakatan kita, Joon sudah sangat mencintai Krystal, sementara Joon tak pernah sekalipun mengenal mu.
Krystal memejamkan mata. "Jadi aku di sukai karena Joon saja." Pikirnya.
Yarish menggeleng perlahan, tak menyangka dengan perlakuan Hyun Ki, sudah di buat susah masih saja memberikan kesempatan bahkan bersepakat bersama Hwa Young.
Raka hanya mengamati setiap kata yang terberai dari mulut Hyun Ki dan Hwa Young.
"Nan uli geolaeeseo mulleonanda, hwayeong." Aku mundur dari kesepakatan kita Hwa Young. Tepis Hyun lagi, nanar.
"Mwo?" Sejenak Hwa Young mendelik beku, lelaki tampan yang dia kira tak pernah bisa mencintai wanita lain rupanya berpaling pada akhirnya.
Hwa Young melirik tajam pada wajah saingannya, sekilas ia berpikir, pantas saja Hyun Ki goyah, dia akui Krystal sangat cantik, bahkan lebih daripada dirinya yang hanya menang dengan kulit putih mulusnya.
"It's all because of you, *****!" Ini semua karena mu, sundal! Teriaknya sembari melayangkan tangan seperti ingin mendaratkan tamparan pada Krystal.
Greek!!
Hwa Young tak berkutik saat moncong laras panjang milik Raka berada tepat di kepalanya. Tangan Hwa Young menggantung di udara sementara Krystal dan Hyun Ki berteriak.
"Raka!"
"Jangan gila kamu Raka." Cetus Krystal menatap nanar mantan suaminya. Sekejap tempat itu menjadi hening.
"Bodohnya aku, masih merasa sakit saat ada mulut busuk mencaci maki mu!" Ucap Raka sembari menoyor kepala Hwa Young dengan senjatanya.
Raka tak terima saat Krystal di berikan kata sarkas. Sudah di urus putranya bukan berterima kasih justru mencaci. Wanita itu masuk dalam daftar bullying nya.
"Your life is in my hands, whine or I will not hesitate to kill you!" Nyawa mu berada di tangan ku, merengek lah atau aku tidak segan membunuh mu! Ancam Raka menusuk.
"Neo michyeosseo?" Apa kamu gila? Berang Hwa Young.
Greek!
Kembali Raka menoyor keras kepala Hwa Young hingga sedikit menggeser kakinya. "Yaa!" Pekiknya.
"Raka please. We can still talk about it." Raka ku mohon. Masih bisa kita membicarakan nya. Timpal Hyun Ki membujuk. Krystal sempat mengamati setiap inci kecil ketakutan yang kekasihnya miliki.
"Apologize, or I'll blow your head off!" Merengek minta maaf atau aku ledakan kepala mu! Senyum seringai iblis terbit di sudut bibir Raka.
Hwa Young bergetar hebat, saat jari telunjuk Raka terdengar menekan pelatuk. "Ok ok, i'm sorry."
"Touch her feet!" Sentuh kakinya. Lirih Raka namun penuh nada bully-an, Raka memang memiliki karakter yang antagonis. Membullly manusia seperti Hwa Young lumayan menghibur dirinya. "Touch her feet!" Sentuh kakinya! Teriaknya keras.
Hwa Young tertunduk, menekuk lutut. "Ok, mianhae Ae Cha. Mianhae." Baiklah, maaf Ae Cha. Maaf. Ucapnya terbata-bata sembari menyentuh kaki saingannya.
Untung saja tidak ada wartawan, bagaimana jadinya jika momen memalukan ini di tangkap awak media, hancur berkeping-keping reputasi yang dia banggakan.
Krystal mundur sambil menggeleng, rupanya Raka yang dia tinggalkan masih saja bersifat keras kepala dan arogan. "Turunkan senjata mu Raka." Pintanya.
"Kau bukan siapa-siapa ku, tidak ada yang bisa melarang tindakan ku. Selama ini aku hanya ingin menuruti perintah seseorang yang menyayangi ku saja." Sanggah Raka tanpa menggerakkan kepalanya.
Benda panjang itu masih setia mengarah pada kepala Hwa Young yang gemetar hebat. Hyun Ki hanya menggeleng lengar, tak mampu berucap sepatah pun kata. Ini juga berawal dari keegoisannya.
"Itu berarti, Daddy hanya mendengar saran ku bukan?" Suara menggemaskan itu membuat Raka menoleh pada semungil putri cantik yang berdiri di ambang pintu lift.
Ketegangan yang terjadi membuat semua orang tak menyadari keberadaan anak itu.
"Queen, baby di sini?"
Queen mengangguk. "Iya Daddy, ayok kita pulang." Ajaknya seraya mendekat.
Krystal terpaku menatap geming wajah cantik putrinya. "Queen."
Queen menengadah kedua tangannya pada ayahnya. "Berikan benda itu padaku, ayok kita pulang. Jangan terus bersikap seperti ini, kau tahu Daddy, hal seperti ini hanya akan membuat mu kehilangan semakin banyak orang yang kau sayangi."
Semua orang menatap ke arah gadis pintar nan cantik itu. Tak terkecuali Krystal yang merasakan sentakan pada jantung nya.
"Daddy hanya punya aku kan? Rawat aku baik-baik jangan sampai aku melihat mu mendekam di penjara. Kalo kau menjadi napi, lalu siapa yang mengurus ku? Hanya karena ini Daddy tega meninggalkan ku sendiri di Indonesia, apa aku tidak penting bagimu?"
Raka tersenyum pilu. Benda apinya turun dengan lemahnya. "Maaf meninggalkan mu." Ucapnya pelan.
"Kita pulang. Seseorang yang sudah bahagia, biarkan bahagia. Kita bangun saja bahagia kita sendiri. Daddy masih memiliki ku bukan? Kita makan eskrim yang banyak di Indonesia, di sini terlalu dingin, tidak enak memakan eskrim." Kata Queen polos.
"Ayok pulang." Ajaknya kembali. Raka mengangguk. "Mari." Tangan mereka saling menggenggam, menguatkan satu sama lain, berjalan beriringan menuju pintu lift.
"Queen." Krystal yang sedari tadi bergeming kini telah berani menyeletuk sembari meraih tangan mungil putrinya. "Queen." Panggil nya.
Queen dan Raka menghentikan langkah, menoleh pada ibu kandung yang telah melahirkan gadis itu, tak pernah Queen kenal wanita itu namun ikatan batin tetap bertaut.
Krystal berjongkok. Queen memiringkan kepalanya, memandangi seksama wajah cantik Krystal tanpa celah.
Bocah itu melepas genggaman tangan ayahnya lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Sedikit kesulitan, busana musim dinginnya merepotkan.
"Apa kau pemilik wajah ini?" Queen menunjuk kan foto Krystal dengan kacamata tebal.
Krystal mengangguk. "Iya." Jawabnya tersenyum isak.
Melihat putri yang dia lahirkan sebesar dan sepintar itu membuat Krystal sesak napas. Queen bahkan menyimpan foto dirinya dalam ponsel.
"Baguslah kalo begitu, sekarang wajah mu sudah berubah, aku selalu cemburu dengan wajah ini, Daddy tak pernah mengizinkan aku mengganti wallpaper ponselnya. Bahkan dengan wajah ku saja tak boleh, aku membenci dandanan mu yang seperti ini, Mammi." Kata Queen menyerocos saat menunjukkan foto lama Krystal.
Krystal terperangah. "Queen kenal Mammi?"
Queen mengangguk. "Tentu saja, Mammi Viona sering membicarakan tentang mu, terlebih Daddy yang tidak pernah bosan membahas tentang mu." Katanya polos.
Krystal peluk gadis itu, dia hujani wajah cantik putrinya dengan kecupan rindu. "Terimakasih sudah mau mengenal ku."
"Aku tidak akan pernah bisa mengenal mu, jika Mammi Daddy tidak membicarakan mu. Terimakasih lah pada mereka yang Mammi Krystal tinggal kan tanpa kabar itu."
Krystal mengangguk, lalu menatap Raka, syukurlah lelaki itu terdiam membiarkan putrinya dia peluk tanpa larangan.
"Terimakasih Raka."
"Sekarang kita pulang Queen."
Raka melerai dekapan tangan Krystal yang masih betah memeluk tubuh mungil putrinya.
Krystal menggeleng. "Tunggu sebentar Ka, ..."
"Sudah cukup Krys!"
"Eomma." Joon merosot dari gendongan Yarish, berlari mengejar ibunya. Cemburu sudah pasti Joon miliki saat melihat Krystal memeluk anak lainnya. "Eomma."
Seketika Queen menatap tajam bocah tampan itu bahkan melotot meskipun tak mengatakan apa pun.
Joon yang menyadari tatapan tidak bersahabat Queen menyungkurkan wajahnya pada leher Krystal, ketakutan. "Eomma."
"Kita pulang." Raka menarik pergelangan tangan Queen, berjalan memasuki lift yang baru saja terbuka.
Rupanya Andre yang berdiri tegak di balik pintu lift sana. Dia menyusul Queen yang berlari tanpa mau mendengarkan dirinya. Syukurlah Queen tak apa, Andre lega melihat Raka menggandeng keponakannya.
Sejenak netra Andre beralih menatap ke arah Krystal yang juga berdiri menatap dirinya. Ada rindu yang menggantung di relung hati lelaki itu.
Pilihan Krystal selalu penguasa, siapa lah dirinya yang hanya anak pungut di keluarga Ray Rain dan Elevy.
Memuja Krystal, bagaikan pungguk yang merindukan rembulan. Jauh, tak mampu Andre tempuh.
Hanya senyum manis yang mampu Andre terbitkan teruntuk Krystal seorang, berharap senyuman itu bisa menjadi awal yang baik bagi kelangsungan hidup sang pujaan.
Wajah Krystal berlalu bersamaan dengan tertutupnya pintu lift. Andre menekan tombol lantai lobby tanpa berucap sepatah katapun.
Hening yang terjadi di dalam sana. Tak ada yang membuka sedikitpun obrolan. Queen, Raka, Andre bergeming dengan pikirannya masing-masing.
^^^Bersambung.....^^^