
Dalam diam Krystal menangis, ia mencari jati diri, kemana perginya Krystal yang kuat, tabah, pemberani dan juga genius? Kenapa seolah hilang di telan bumi, tak mau nampak barang sebentar di saat seperti ini?
Bodoh, di hadapannya kau sangat bodoh Krys, masih saja di buat tak berdaya oleh cinta mu! Buang jauh-jauh rasa itu, bangkit dari keterpurukan! Sang jati mengumpat diri.
Tak ingin berlama-lama meratapi. Krystal menunduk pada mangkuk wastafel, membasuh air mata yang seharusnya tak ada di pipinya. Ia mengganti gaun setelah kembali membetulkan riasan wajahnya.
...• • • • • • • • • • •...
Di sisi ruangan lainnya. Viona mendekat pada sosok tinggi suaminya, masih ada tanya yang ingin dia lontarkan pada Raka, berharap malam ini kelar urusannya "Ka" Panggil nya.
Raka membalik tubuh, menatap geming wajah istri pertamanya. Tak mampu Raka tepis jikalau Viona menyudutkan dirinya. Dia memang sudah mendua bukan hanya pernikahan tapi juga hatinya.
"Jadi kau benar-benar mencintai Krystal?" Tanya Viona nanar.
Raka mengangguk pasti "Yah, aku benar-benar mencintainya Vio." Jawabnya lirih, masih ada rasa bersalah sudah berani menduakan cinta Viona.
Hening.....
Tak ada lagi kata, semua beban derita yang di pikul terasa berat, sunyi seolah tak ada satu pun suara, namun pilu yang Viona rasa mendengungkan telinga.
Bulir bening yang mengintip di sudut netra melamur kan pandangan, ada dua Raka dari bayang fatamorgana.
Sebelum kemudian semua pandang menyemu biru bahkan berubah ungu dan memudar menjadi gelap tak berasap.
"Vio!" Satu teriakan yang sempat Viona dengar sebelum benar-benar memasuki alam bawah sadar.
Raka menangkap tubuh lunglai Viona dengan gurat kecemasan "Vio, sayang." Panggil nya. Dia tepuk-tepuk pipi mulus wanita itu dan tak mendapat jawaban apapun.
Elevy yang mendengar teriakan putranya berlari masuk ke dalam kamar milik Krystal, dia lihat kecemasan Raka saat memboyong tubuh Viona ke atas ranjang. Di susul oleh Darren yang tak sengaja mendatangi kamar tersebut.
"Raka, Viona kenapa lagi?" Tanya Elevy panik.
"Dia masih butuh perawatan, kenapa Abang membawanya ke sini?" Timpal Darren ikut campur.
Bukan maunya Raka, Viona datang ke acara syukuran tujuh bulan Krystal, ini semua permintaan Viona, apa lagi dia juga sempat melarang Viona memakai sepatu hak tinggi.
Sering kali Viona kehilangan keseimbangan, seharusnya Vio belum di perbolehkan memakai sepatu seperti ini.
"Vio pingsan." Mendekap erat istrinya, Raka meluruskan satu kaki, meraih ponsel miliknya dari saku celana, dia layangkan panggilan pada dokter-dokter ekslusif Viona yang sudah bersiaga dengan alat-alat medis nya.
Tak butuh waktu lama, para dokter sudah berduyun-duyun masuk ke dalam kamar tersebut.
Raka memposisikan Viona, agar terbaring dengan lurus. Dia, Darren dan Elevy memandangi dokter saat mendiagnosis.
Krystal yang baru saja keluar dari ruangan ganti, menampilkan kerutan di kening, kebingungan sudah pasti.
Krystal berjalan cepat memegangi perut, menuju ranjang kesepian yang saat ini di tiduri oleh istri tua suaminya.
"Vio. Kamu kenapa?" Tanya Krystal cemas. Mata Viona yang terpejam membuatnya kembali iba.
Krystal duduk di sisi ranjang menatap nanar wajah diam sahabatnya "Aku lah dalangnya, ini semua karena ku." Gumamnya.
Semenjak hamil, perasaan Krystal menjadi lebih sensitif, menitih air mata di sudut-sudut netra nya.
"No, Yank." Raka meraih tangan mulus wanita hamil itu, berusaha sedikit menenangkannya, tak tega rasanya melihat tangisan yang tak pernah dia jumpai "Ini semua bukan salah mu, jangan terus menyalahkan diri sendiri." Ucapnya.
Krystal menoleh, menghunus tajam tatapannya "Yah, tentu saja ini semua salah mu. Kau yang bersalah Ka, kamu yang egois!" Berang nya.
Krystal meninggalkan tempat itu, biarlah dia yang mengalah sekali lagi, Viona terus saja pingsan saat mendapati tekanan dari hubungan segitiga ini. Krystal lelah di sudut kan menjadi orang ketiga.
Tersulut amarah, Raka meraih vas bunga porselin dari atas nakas, tentu saja berniat melemparnya namun tangan Darren sudah lebih dulu mencegah.
"Sudah, Bang, jangan kekanak-kanakan!"
Masih ada Viona yang terbaring tak sadarkan diri. Ini bukan saat yang tepat untuk saling mengamarahkan emosi.
"Aaagghh!!" Raka tendang laci nakas serampangan, menjatuhkan seluruh pajangan di atasnya.
Dia terduduk lemah di sisi ranjang yang masih menjadi tempat Viona hilang kesadaran, tubuhnya membungkuk, wajahnya menunduk, kedua tangannya meremas rambut di kepala.
Frustasi.....
"Ini salah ku, kenapa harus mencintai Krystal, setelah mempunyai Viona! Kenapa rasa ini tidak dari dulu saja? Kenapa!" Sudut nya pada diri sendiri. Darren tahu ini berat tapi ini semua aturan sang maha pencipta.
...• • • • • • • • • • •...
Melihat kekacauan ini terbesit keputusan Raka untuk menyudahi hubungan toxic ini, satu wanita yang akan dia pertahankan menjadi istri kesayangan.
Yaitu wanita yang benar-benar membutuhkan dirinya, lahir batin, bahagia ketika berdekatan dengannya. Bukan wanita yang hanya mengalami sakit di setiap detik pergumulannya.
Bangkit dari lamunan dan juga duduknya. Raka mengayun langkah menuju kamar tamu.
Di sanalah istri ke dua nya tinggal. Lagi-lagi Krystal harus mengalah pindah setelah istri tuanya singgah.
Di bukanya pintu kamar Krystal seiring dengan masuknya Raka.
Sosok cantik itu tenggelam dalam selimut tebal berwarna putih membelakangi dirinya, Raka menutup pintu dengan sebelah tangan pelan.
Berjalan mendekati ranjang kesepian istri ke dua nya, selalu saja kesepian itulah suratan Krystal-nya.
Ada sedikit derit yang Krystal rasakan saat Raka duduk dan ikut masuk ke dalam selimut.
Krystal menggeser iris coklatnya, tapi tetap tak bisa melihat bagaimana wajah Raka malam ini. Dia masih membelakangi suaminya.
Dan
Berakhir pada sentuhan lembut yang mendekap Krystal erat "Belum tidur?" Tanya Raka.
Krystal terdiam. Tidak tahu malu, Krystal mengumpat lelaki itu, di kamarnya Viona masih sakit, tapi Raka justru mendatanginya.
Raka elus perut besar istrinya, tak sengaja si jabang bayi menendang, sungguh girang suasana hati "Oh Tuhan, jadi Baby kita sekuat ini?"
Pertama kalinya Raka merasakan sensasi menjadi seorang ayah. Saat tendangan mungil menyentak telapak tangan kekarnya.
"Kamu tidak sakit sayang?" Raka berusaha melihat wajah Krystal dari samping.
Krystal menggeser posisi tubuhnya, membuat Raka berada di atasnya, Raka tersenyum mengusap perutnya "Sehat selalu kalian."Ucapnya.
Krystal tak habis pikir, masih bisa Raka mengatakan itu sementara Viona masih tak berdaya di ranjangnya "Sebenarnya apa mau mu Ka, kenapa kamu seolah tidak punya perasaan? Lihatlah Viona tak berdaya di, ..."
"Aku tahu, untuk itu aku ke sini."
Ucapan Raka barusan menyentil kening Krystal hingga mengerut "Maksud mu?" Tanyanya.
"Mungkin ini yang terakhir kalinya aku tidur bermalam dengan mu, aku tahu kau tak bahagia di sisi ku."
"Pergilah, kemanapun kau mau."
"Tapi biarkan malam ini saja aku menikmati setiap detik bersama mu. Mendengar keluhan istri hamil ku sampai fajar menyingsing."
Bertubi-tubi kata-kata Raka yang membuat Krystal menyimaknya.
Butir jernih yang meleleh dari ekor mata Krystal menandakan bahwa ini keputusan menyakitkan, tapi tetap tinggal pun akan lebih kesakitan.
Sekali saja dalam pernikahan ini, Raka ingin menjadi suami bijaksana, setidaknya demi kebaikan bersama. Demi tak meneruskan kesakitan kedua istrinya.
"Kau boleh pergi mulai dari besok pagi. Tapi biarkan malam ini aku bersama mu." Pinta Raka lirih.
Bibir Krystal bergetar melengkung, entah senang entah sedih, Raka tau mau menangkap arti. Yang pasti, ada harapan yang terpancar di matanya setelah kata-katanya barusan.
"Raka." Krystal mengalungkan tangannya pada tengkuk leher suaminya, menempel kan bibir merindu keduanya, tak ada kata lagi dalam waktu dekat ini, Krystal tak mampu berucap sepatah pun pada lelaki itu.
Hasrat cinta yang menginginkan sentuhan intim membuat keduanya saling membelit satu sama lain.
Krystal meraih tangan suaminya, mengarahkan pada sesuatu yang ingin sekali dia berikan malam ini.
Raka menatap lembut Krystal-nya "Aku boleh memintanya?"
Senyuman kecil Raka terbit saat Krystal menganggukkan kepala. Raka tarik tali-tali kecil yang menghiasi pundak mulus Krystal, membebaskan buah kenyal kesukaannya dari pasungan.
Dia menunduk, menyesap satu bagian pucuk itu, meremas buah padat di sebelahnya yang menganggur.
...• • • • • • • • • • •...
Bersambung.... Minta dukungan like nya, karena akun dan novel ini masih baru, masih butuh dukungan penuh.... 🙏