
Pagi hari setelah melewati malam pertama bersama sang putri, seperti rencana awal, Krystal membawa pulang putrinya ke kediaman utama Raka.
Inginnya tak menginjakkan kakinya, namun kondisi yang menautkan lagi pertalian Krystal dengan rumah besar ini.
Rumah yang masih sama seperti enam tahun yang lalu, bedanya, tak ada yang mengurus Raka seperti sebelum-sebelumnya.
Queen belum mandi, sebelum ke sini Krystal sengaja mengajak Queen berjoging ria dulu di area sekitar komplek perumahan miliknya.
Kalo sudah berkeringat barulah Queen di mandikan, itu akan lebih membuat gadis cantik itu segar.
Seturunnya dari mobil, Krystal dan Queen berjalan beriringan memasuki bangunan, lift berwarna gold itulah yang Krystal dan Queen masuki setelahnya.
Terdiam Krystal dan Queen berdiri menatap pintu lift. Pikiran Krystal masih tak beraturan, sahut menyahut membuat kericuhan.
Malam tadi Krystal iseng membuka media sosial, rupanya Hyun Ki telah mengumumkan pernikahan bersama Hwa Young.
Kendati begitu. Hyun Ki masih menyangkal pikiran buruk yang Krystal tuding kan, Hyun bilang, pernikahannya hanya karena kontrak yang sudah kadung di tandatangani. Apa pun alasannya, Krystal tetap tidak habis pikir.
Enam tahun lamanya tinggal satu atap, Hyun yang dianggap super Hero baginya menjadi tokoh antagonis setelah tersebarnya video amatir yang di unggah di laman milik Yarish.
Beruntung Joon masih bisa di kendalikan meskipun dari kejauhan. Setiap hari Joon meneleponnya sekedar mengurangi rasa rindu yang masih membelenggu.
Yarish bilang, bulan depan dia akan turun ke Indonesia bersama Joon. Syukurlah, Hyun mengizinkan atau mungkin juga dia ikut serta.
Tiba di lantai atas, Queen berlari masuk ke dalam kamar yang dahulu milik Krystal, dia buka pintu itu rupanya kunci kamar tersebut sudah di ganti dengan nomor sandi. Satu kali Queen menekan, masuk ke dalam otak genius Krystal.
"Queen tidur di sini?"
Queen mengangguk sembari memasuki kamarnya. "Iya, setelah Mammi Vio ga ada, Queen tidur di sini sama Daddy, dulu cuma Daddy yang tidur di sini."
Krystal mengedarkan pandangan, rupanya kamar miliknya sudah berubah, sekarang kamar ini menjadi serba pink. Tak ada siapa pun di dalam sana, kosong.
"Memangnya Daddy tidak tidur sama Mammi?" Setelah mengedar pandangan Krystal menatap putrinya.
"Enggak. Semenjak Mammi sakit, Daddy mengalah tidur di kamar ini." Jelas Queen, gadis itu duduk di sisi ranjang dengan cara melompat.
Sementara Krystal tertegun, Queen tidak tahu bahwa Viona sudah sakit sedari sebelum bibit dirinya di satukan.
"Mammi kenapa melamun?" Kejut Queen yang membuat Krystal membuyar.
"Tidak apa. Sekarang Queen mandi yuk, Mammi mandiin, setelah itu Mammi ikat rambut Queen." Ajaknya.
"Queen bisa mandi sendiri, Mammi siapkan saja airnya, Queen mau berenang di bathub."
"Beneran bisa?"
"Bisa!" Angguk Queen.
"Ok." Tanpa rasa bersalah Krystal masuk ke dalam kamar mandi miliknya yang telah menjadi milik putrinya. Tak ada siapa pun, mungkin Raka tidur di kamar sebelah.
Setelah menyiapkan air hangat untuk berenang Queen, Krystal keluar dari kamar mandi.
Dia memanggil satu pelayan untuk menjaga putrinya sekedar di pantau dari ambang pintu. Queen terlalu keras kepala, tak mau di ganggu saat berenang dengan cara anak-anaknya.
Krystal ambil baju ganti Queen dari lemari, rupanya baju-baju Raka pun berjejer di ruang gantinya. Itu tandanya, Raka memang tidur dan mengganti pakaian di kamar ini. Lalu kemana dia? Kenapa tak ada di kamar?
Kembali Krystal berjalan menuju ranjang, meletakkan baju ganti Queen di atasnya. Bersamaan dengan itu terdengar suara dering ponsel dari balkon kamar.
Krystal mendongak menatap ke arah balkon, rupanya Raka tidur terduduk pada sofa. Ada botol-botol minuman yang membuatnya mengerut kening.
"Raka."
Krystal mengayunkan kakinya menuju balkon kamar yang masih sama seperti enam tahun lalu.
Ayunan putih itu dia pandangi, sekilas ia mengingat kembali saat malam pertama bersama Raka, kegiatannya di mulai dari atas sana.
Peraduan erotis yang Raka ciptakan masih terkenang selalu dalam sanubari. Sempat desah merdunya menggema di sini, memerah keringat di tengah dinginnya malam yang sunyi.
Meski tak pernah menunjukkan perasaan cintanya, tak sekalipun Krystal merasa terpaksa saat melakukan kegiatan intim.
Tak di pungkiri ia menikmati setiap sentuhan lembut yang Raka berikan padanya.
Ngomong-ngomong sejak kapan Raka tidur di kamarnya, sampai Viona lupa di perhatikan, atau mungkin semenjak Viona tak lagi bisa melayani lelaki itu.
Krystal tak pernah bisa berpikir baik jika teruntuk Raka seorang. Kebenciannya telah menguasai, hingga tak mampu melihat ketulusan hati yang Raka miliki.
Kriiiiiing....
Dering ponsel Raka yang ke sekian kalinya berbunyi membuyarkan lamunan. Krystal meraih gawai tipis itu dan menggoyangkan dada bidang Raka.
Entah lah, hati tidak ingin mendekati namun tubuhnya berkata lain. "Raka."
Meleyeh pada bantal sofa. Perlahan netra dengan iris biru itu terbuka, kedua pasang mata saling bertemu pandang.
"Kamu di sini?"
Krystal mengendus aroma alkohol setelah Raka berucap. "Kamu mabuk?"
"Emmh." Angguk Raka tersenyum tanpa bergeser dari posisinya, cantiknya wajah Krystal memanjakan matanya. Lemah tubuhnya setelah meminum beberapa tegukan kilat.
"Kenapa mabuk? Kamu bosan hidup baik-baik?" Tuding Krystal.
"Hanya ingin saja, sudah lama aku tidak minum." Raka terkekeh kecil. "Mumpung Queen tidak di rumah, selama ini Vio dan putri mu berisik sekali." Ucapnya dengan suara berat khas bangun tidur.
"Sekarang bangun, bersihkan dirimu, jangan sampai Queen mencontoh perilaku mu yang ini!"
"Aku masih mengantuk, biarkan aku tidur sepuluh menit lagi, lagian ngapain kamu di sini pagi-pagi sekali, aku tersiksa mengingat mu bukan lagi milik ku."
"Semalam aku bilang kan, aku akan antar Queen pagi-pagi sekali. Aku tidak pernah mengingkari janji ku."
Raka mengangguk. "Aku tahu, kau rela pergi dari ku hanya karena prinsip keras kepala mu."
"Bukan waktunya membicarakan itu."
Raka mendesah kasar. "Ah, kapan kamu mau membicarakan hal bersama ku, kamu lebih memilih lari jika sudah merasa bosan dengan percakapan kita, dan sebentar lagi Queen bersama mu, selamat."
Krystal menggeleng. "Aku tidak akan mengambil hak asuh Queen, aku tidak apa-apa." Lirih nya.
Setelah percakapannya bersama Queen semalam, Krystal berubah pikiran, sepertinya dia tak ingin Queen memiliki ibu tiri, mungkin dengan adanya Queen di sini Raka takkan menikah lagi. Tidak semua ibu tiri baik seperti Viona, atau mungkin ada alasan lainnya.
Raka duduk tegak. Ucapan Krystal membuatnya penasaran. "Kenapa memangnya? Kamu mau punya anak lagi? Dengan siapa? Kekasih barumu?"
"Raka!"
"Astaga, aku lupa aku bukan siapa-siapa mu. Maaf, ..." Raka menyatukan kedua tangannya dengan gesture meledek.
"Terserah!" Krystal bangkit dan berjalan memasuki kamar Queen. Tak pernah berubah sikap arogan lelaki itu.
Raka hanya menatap setia bagian belakang tubuh Krystal yang sudah lebih ramping, sejenak pikiran kotor menggamit kenangan bersama saat pinggang itu dia remas sembari menghujamkan pusaka nya.
"Janda ku. Hayyyss, sadar Raka." Kepalanya dia geleng agar hilang pikiran kotornya.
"Dia tidak mau kau rujuk." Raka menjatuhkan tubuh, memejamkan mata, menambah waktu tidur yang belum cukup baginya.
Beberapa saat kemudian.
Kicauan burung menghilang di gantikan dengan teriknya mentari pagi yang menyilaukan pejaman matanya.
Raka terjaga. Ocehan Queen yang terdengar ricuh setelah mandi berenang di dalam bathub terdengar menggebu.
Raka menoleh ke arah kamar, di atas ranjang Krystal tengah mengeringkan rambut Queen dengan handuk.
Raka mengucek mata, duduk dan berdiri tak seimbang, langkah pertama terayun menuju kamar miliknya.
Otak merampak di sela langkahnya. Seandainya saja Krystal terus berada di sini, setiap hari, di pagi, siang, sore bahkan malam, menghiasi kekosongan istananya.
Kriiiiiing...
Lamunan membuyar saat ponsel milik Krystal berdering. Matanya memindai layar 6,7 inci yang teronggok di atas ranjang empuknya dengan seksama.
"Darren?" Raka menoleh heran. Dan Krystal melirik sekilas ponselnya namun tangannya masih sibuk memindai Queen.
"Untuk apa Darren memanggil mu di jam begini?" Tanya Raka, dia sampai lupa sudah tidak pantas curiga.
"Ada beberapa hal yang harus kami lakukan, rencananya aku mau merintis usaha kecil, di mulai dari pembuatan ponsel rancangan ku. Dan Pak Darren yang akan membantuku mendapatkan bahan baku."
"Kenapa tidak bertanya padaku saja? Kau tahu perusahaan ku lebih maju darinya!"
"Terimakasih, tapi aku lebih nyaman melakukan segala sesuatu bersama Pak Darren, dia mantan bos ku." Sanggah Krystal.
Raka menggeleng. "Kau tahu, berapa kali Darren dan Shania putus nyambung, baru kemarin Darren memutuskan Shania lagi. Lalu kamu hadir di tengah-tengah mereka, apa tanggapan orang nanti? Kamu akan di anggap perusak hubungan."
Krystal menghela. "Kenapa pikiran mu suuzdon terus? Dia mantan adik ipar ku bukan?" Krystal melengos pergi dengan tangan yang meraih ponselnya.
Raka mendengus. "Sebelum menjadi ipar, dia sudah memperhatikan mu."
Queen menyengir. "Daddy cemburu?" Gadis itu menatap seksama raut wajah ayahnya dengan mata yang menyipit.
"Tidak!"
"Queen mau saja kalo Om Darren jadi Papi baru Queen. Dia baik, Queen tidak perlu takut punya Papi tiri yang jahat."
Raka memutar bola matanya. "Astaga, Tuhan, kenapa tidak bunuh saja aku."
^^^Bersambung......^^^
Heh, kok aku jadi enggak bisa crazy up yah, dunia nyata menghambat, maaf mentemen🙏