
Pagi hari yang cerah, Krystal baru selesai memompa ASI dan memindahkannya pada botol, sudah lumayan banyak persediaannya, seperti yang sudah-sudah botol-botol ini yang akan dia titipkan pada Sukma.
Cukup bersyukur Krystal dengan nasib yang seolah mendukung dirinya dan juga bayinya. Tanpa di duga, Sukma bisa masuk ke dalam rumah besar Ray bahkan menjadi pengasuh khusus Queen semata Raka-nya.
Brugh!
Krystal iseng menggeser gorden jendelanya sesaat setelah mendengar suara seperti bantingan pintu mobil.
"Raka!" Tangan menutup mulut dengan mata yang melotot, jantung bergetar hebat melihat suaminya menyatroni halaman rumah Yarish, langkah gagah Raka mengayun mendekati jendela kamar miliknya.
"Tahu dari mana Raka aku di sini? Kenapa dia tahu rumah Yarish?"
Krystal bergumam panik namun wajah Darren yang menyusul turun dari mobil membuat Krystal sadar bahwa ini sudah pasti berhubungan.
"Aku lupa kalo Pak Darren adik sepupu Raka."
Krystal berjalan mondar-mandir dengan tangan yang di mainkan, cemas sudah tentu sebab di rumah dia hanya seorang diri.
Barusan Eun Kyung pamit ke pasar dan Yarish pamit berolahraga di taman sekitar komplek.
Sudah menjadi kebiasaan Yarish saat weekend begini mengolah tubuh supaya memiliki raga yang atletis. Tampan dan perkasa itu harapan semua pria termasuk Yarish si darah campuran Indonesia Korea.
BRAK!
Krystal membelalakkan matanya mendengar suara pintu yang di dobrak "Apa Raka sudah sangat yakin aku di sini?"
Krystal mendekati pintu kamar, gemetar tangannya memutar anak kunci, berharap Raka tak masuk ke dalam sana. Krystal yakin Raka tak peduli dengan hukum yang berlaku di negara ini, penguasa, begitulah perangainya.
Di luar Darren meraih tangan Raka, berusaha menghentikan aksi arogan Raka "Bang, ini rumah orang, jangan sembarangan masuk!"
"Persetan!" Raka menepis tangan Darren, berjalan cepat, menilik ke semua ruangan yang ingin dia periksa. Rumah tipe minimalis modern kecil yang tak seluas halaman istananya.
Darren menghalangi dengan merentangkan kedua tangan "Bang, kalau sampai polisi tahu, kita bisa kenak pasal." Peringat nya.
"Aku yang akan membayar denda nya!" Raka menyingkirkan tangan Darren lalu berlanjut memasuki ruangan lainnya. Tak ada satupun orang. Sepi keadaan rumah itu.
"Astaga!" Darren menggeleng kepala.
BRAK!
Raka melirik siaga pada pintu yang sepertinya sengaja di kunci dari dalam, ada suara aneh yang terdengar dari balik sana, Raka sempat mengamati inci kecil pintu itu sebelum memutuskan untuk memutar kenop.
"Pak Darren! Pak Raka!"
Darren dan Raka menoleh pada pemuda yang tak asing baginya, Yarish berdiri di ambang pintu ruang tengah, menatap nyalang kedua penguasa itu.
"Kalian di sini? Tanpa pamit dari ku?" Tanyanya mengintrogasi. Tatapan itu membuat Raka dan Darren tahu Yarish tak menyambut kedatangannya dengan baik.
Tangan Raka mengurungkan niat, berdiri tegak menatap Yarish penuh wibawa "Aku ke sini mau mencari istri ku." Ucapnya.
Yarish mengernyit "Istri yang mana?"
Raka mengeras rahang, pertanyaan Yarish seperti cacian baginya "Tentu saja istri ke dua ku, apa kau juga berteman dengan Viona?" Cibirnya.
Yarish tersenyum "Krystal? Untuk apa istri Pak Raka ke sini? Apa tidak cukup bahagia dia dengan semua fasilitas di istana Bapak? Mana mau seorang Nyonya muda datang ke rumah komplek kecil begini." Jawabnya menyindir.
Raka mengepal erat tangannya, tersinggung dengan bahasa pemuda oriental ini. Darren tak heran, dia tahu perangai Yarish yang ahli berkata-kata.
"Kamu tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Raka berusaha menunjukkan kekuasaan.
Yarish mengangguk pasti "Seperti yang Pak Raka pikirkan, aku hanya laki-laki biasa yang tidak akan berani berurusan dengan Tuan muda seperti Anda." Ujarnya.
"Tidak mungkin saya berani membohongi Anda. Tapi saya punya hak untuk menutup privasi saya. Ini negara hukum. Tidak bisa sewenang-wenang memasuki properti milik orang lain, di dalam ada ibu saya sedang beristirahat, tolong jangan mengganggu nya." Tambahnya.
Tatapan menusuk Yarish membuat Raka muak, tak mau lagi berhadapan dengan orang sepertinya, sombong, begitu pikir Raka.
Menepis rasa penasaran. Dia ayunkan langkah gagahnya melewati tubuh Yarish "Kita pulang!" Ajaknya pada Darren.
Raka berargumen, Krystal takkan pernah betah meminta bantuan pada pemuda congkak seperti Yarish.
"Iya." Sahut Darren.
"Terimakasih sudah mau datang ke sini, Pak." Ucap Yarish pada Darren.
Darren menepuk pundak Yarish "Maaf sudah mengganggu mu." Sahut nya.
"Syukurlah, Krystal masih aman."
Tanpa curiga, Darren juga menyusul Abang sepupunya keluar, memasuki mobil limited edition berwarna hitam.
Setelah memastikan Raka pulang. Akhirnya Krystal mampu mengembuskan napas lega di kamar minimalis Yarish "Huuuff."
"Syukurlah." Gumamnya mendengus pelan.
Drreettt drreettt.....
"Oh Tuhan." Krystal berjingkrak saat ponsel di atas nakas bergetar, suasana tegang membuatnya lebih mudah panik. Dia mengelus dadanya.
"Aku sampai kaget." Masih dengan gumaman kecil Krystal meraih gawai pipih itu, panggilan dari nomor luar negeri menerbitkan senyum manisnya "Ini pasti nomor Hyeong nya Yarish."
"Rish!" Krystal berlari keluar menemui temannya, antusias dengan kecumik bibirnya sendiri "Semoga aku di terima."
Yarish yang masih terbawa emosi menyahut dengan nada ketus "Apa?"
Krystal menyengir "Telepon dari Hyeong mu!" Sodor nya.
"Oya?" Yarish meraih ponsel dari Krystal, menekan tombol terima, menempelkan benda itu pada telinga "Yeoboseyo!" Sapa nya.
📞 "Hmm." Seperti tabiat bawaan pabriknya pria bernama Hyun Ki menyahut dingin.
"Wae?" Tanya Yarish Kenapa?
📞 "Chinguga hangug-e eonje ol su issseubnikka?" Tanya balik Hyun Ki. Kapan temanmu bisa datang ke Korea?
Yarish membulat matanya "Ppaleun!" Jawabnya cepat. Segera.
"Emmh, jamkkan, nae chinguui ibsa jiwonseoleul sulag haessseubnikka?" Yarish memastikan. Tunggu, apa Abang menerima lamaran pekerjaan teman ku?
📞 "Hmm." Jawab singkat Hyun Ki yang berarti iya.
Yarish melotot girang "Jinjja?" Tanyanya lagi memastikan. Sungguh?
Krystal meringis, dia tahu maksud dari bahasa Yarish, dia memang pandai beberapa bahasa, dan Korea di antaranya.
📞 "Geulsse, mullon!" Yah, tentu saja.
Mendengar itu Yarish berteriak "Aaaaa. Gomawo hyeong, salanghaeyo!" Seketika kemarahannya hilang setelah Hyun Ki menerima lamaran pekerjaan sahabatnya. Terimakasih Abang, aku mencintaimu.
📞 "Hajiman gieoghaseyo, yeoleobun-eun hyugaga anila eobmuleul wihae yeogi issseubnida. Jeoneun yeoleobun-ege jeon-yong-gileul jul su eobs-seubnida." Tapi ingat, kalian di sini untuk bekerja, bukan liburan, aku tidak bisa memberi mu pesawat jet pribadi.
"Joh-ayo!" Dengus Yarish, tapi tak apa, setidaknya Hyun Ki sudah menerima lamaran pekerjaan Krystal. Ok.
Tuuuutt.... Tak perlu waktu lama, Hyun Ki mematikan panggilan secara sepihak. Begitulah perangai lelaki dingin itu.
Menatap Yarish, Krystal menaikan turunkan alisnya "Gimana Rish?" Tanyanya memastikan.
"Lu di terima Krys, kita jadi ke Korea!" Yarish berteriak sembari merentangkan kedua tangannya.
Krystal masuk ke dalam pelukan sahabatnya, saking senangnya mereka melompat lompat sambil berputar-putar "Aaaa, terimakasih Rish, akhirnya aku bisa ke Korea!"
...• • • • • • • • • • •...
Sementara di lain sisi.
Raka masih duduk termangu dalam mobil, entah kenapa, sedari tadi jantungnya berdebar kencang, perasaannya tak enak setelah keluar dari rumah Yarish.
Darren dan sopir pun terdiam. Belum ada obrolan yang mereka gaungkan selama beberapa waktu terakhir.
"Apa menurutmu, Krystal akan pergi ke luar negeri?" Setelah lama hening Raka menanyakan hal ini. Rupanya Raka memiliki feeling yang lumayan bagus.
Darren menoleh, lekat sekali tatapannya pada wajah tampan abangnya "Aku berpikiran sama seperti mu." Jawabnya.
Sejenak Raka terdiam sebelum akhirnya terlontar permintaan. "Tolong cari tahu, nama penumpang di semua bandara, di mulai dari hari dia menghilang, kalaupun iya dia keluar negeri, aku mau tahu kemana dia pergi."
...• • • • • • • • • • •...
Bersambung... Segera Up lagi.... Terimakasih vote nya... Minta like nya biar lebih semangat author nya.....