
Dari rumah Yarish. Sempat Raka menyatroni rumah Ricko dan Melly, tapi kedua orang itu tak tahu menahu tentang keberadaan Krystal, Raka percaya sebab keduanya sama-sama terkejut.
Raka juga mendatangi rumah Fairuz dan Mary, ternyata nihil, mereka justru panik mendengar berita hilangnya Krystal, bukan karena mencemaskan nyawa Krystal, tapi Raka yakin, paman dan bibi Krystal hanya cemas tak ada lagi yang menjamin uang jajan putrinya.
Dari rumah Fairuz. Kembali Raka menyisir seluruh sudut kota berusaha menemukan Krystal-nya. Berharap masih ada harapan temu rindu.
Malam pun menjadi akhir dari usaha Raka, lelaki tampan berjambang tipis itu pulang ke rumah ayahnya. Tentu saja Queen Kirana Rain lah yang ingin dia jumpai.
Raka tak menyapa ayah ibunya, hari sudah malam, sudah jelas Ray dan Elevy tidur di kamarnya.
Raka langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri, membersihkan diri setelah seharian bergumul dengan mobil di jalanan.
Wangi dengan pakaian tidur Raka memasuki kamar milik putrinya, di dalam Sukma masih terjaga menggendong Queen sambil menepuk-nepuk lirih pantat bayi itu.
Bayi memang sering begadang.
Wajah lesu Raka menjadi sedikit berkurang setelah melihat semungil kecantikan yang semakin hari semakin mirip Krystal.
"Malam sayang." Sapanya, mengusap lembut kepala mungil Queen.
Sukma tersenyum menunduk "Malam Tuan."
"Malam." Jawab Raka "Gimana putriku? Dia rewel?" Tanyanya.
"Alhamdulillah, tidak Tuan."
Raka manggut-manggut pelan "Tinggalkan aku sendiri bersama putriku, kau istirahat saja dulu." Titahnya setelah itu.
Sukma menurut, meletakkan bayi asuhnya ke atas ranjang, lalu menundukkan kepalanya pamit "Sukma izin ke kamar Sukma, Tuan." Ucapnya.
Raka mengangguk dan Sukma pergi menutup pintu, Raka beralih fokus pada putri kesayangannya, bibirnya tersenyum duduk di sisi ranjang, mengusap lembut pipi mungil itu. Queen tersenyum, tak rewel, sepertinya bayi itu kenyang.
"Maaf kan Daddy, belum bisa membawa pulang Mammi mu. Tapi di mana pun dia berada, Daddy janji akan mempertemukan mu dengannya. Daddy juga sangat merindukannya."
Raka mengusap sebutir peluh di ujung netra nya, sejak kapan dia menjadi cengeng begini, dia sendiri pun tak habis pikir, akan se_melow ini.
"Daddy love you Baby."
Kembali Raka tersenyum mengecup kening Queen yang menurut meskipun tak di asuh ibunya, mungkin Queen tahu kesakitan Krystal setelah berbulan-bulan mengiringi langkah sang ibunda.
Hanya dengan pergilah, Krystal bahagia. Seandainya saja bayi bisa se_pengertian itu dan seandainya lagi Raka pun berpikir demikian. Mungkin Krystal tak perlu lagi bersembunyi- sembunyi menggapai mimpi.
...• • • • • • • • • • •...
Tiga bulan kemudian,
^^^Di dapur kecil milik Yarish.^^^
Eun Kyung telah siap dengan sarapan pagi sehatnya, hari ini adalah hari keberangkatan Krystal dan Yarish ke Korea.
Setelah sengaja mengurus diam-diam paspor dan lain sebagainya tanpa celah. Jangan di tanya apa yang membuat lancar? Tentu saja uang mereka.
Krystal memiliki banyak tabungan yang di alihkan pada Yarish secara cash. Tujuannya agar tak dapat di deteksi oleh sistem perbankan.
Sudah dari awal, Krystal berniat pergi dari Raka, maka semuanya pun telah lama dia pikir dan siapkan matang-matang.
Sebagian besar uang yang dia alihkan, adalah milik Raka, jatah bulanan bernilai miliaran yang tidak Krystal sia-siakan.
Selama kehamilan, berkas penting di alihkan pada Yarish agar tak bingung di kemudian hari. Akhirnya, kematangan rencana membuat Krystal dan Yarish tak menemui kendala.
Krystal telah siap dengan kopernya, Yarish pun sama. Eun Kyung duduk setelah menyelesaikan tiga nasi goreng spesial.
"Ayok Krys, Rish, kalian makan dulu sebelum perjalanan." Eun Kyung memang tak ikut ke Korea, dia terlalu cinta Indonesia.
Eun Kyung juga masih memiliki gajih pensiunan suaminya, dia bersyukur dengan itu. Apa lagi Yarish akan menjamin lebih banyak lagi setelah bekerja dengan Hyun Ki di Korea.
Krystal dan Yarish duduk menghadap nasi goreng masing-masing. "Terimakasih Mah."
"Terimakasih Tante." Krystal meraih sendok garpu sembari menerbitkan senyum manis.
"Sama-sama, sekarang makan." Sahut Eun Kyung. Ketiganya memulai ritual sarapan pagi bersama.
"Kamu tenang saja. Mamah damai di sini, Mamah aman, gapai mimpi kalian di sana, sudah tiga bulan kan Queen dapat ASI, semoga saja Queen terus sehat meskipun harus berganti susu formula." Sambung Eun Kyung pada Yarish dan Krystal.
"Aamiin."
"Tapi ingat, jangan lupa sering-sering pulang." Kata-kata ini Eun Kyung khusus kan teruntuk putranya.
"Iya, tentu saja." Angguk Yarish. Tak ada lagi obrolan, ketiganya fokus menghabiskan makanan.
Selesai sarapan. Krystal dan Yarish berpamitan pada Eun Kyung, kemudian keluar dari rumah mengenakan pakaian tertutup.
Dua koper yang mereka bawa di masukkan terlebih dahulu ke bagasi oleh Abang taksi yang telah siap mengemudi. Keduanya masuk ke dalam mobil, di susul dengan sang sopir.
Eun Kyung sengaja tak mengantar sampai ke luar, tujuannya agar orang-orang mengira bahwa yang pergi dengan Yarish adalah ibunya.
Sampai di bandara Soekarno Hatta, Yarish turun dari mobil mengeluarkan koper dari bagasi.
Krystal turun dan menarik koper miliknya sendiri, ada beberapa antek-antek Raka yang sangat Krystal kenal.
Santai membuat mereka tak di curigai. Musim covid begini, tak masalah saat seseorang memakai masker, Krystal dan Yarish menjadi lebih mudah menjalankan aksinya.
Berhasil masuk ke dalam keramaian bandara. Barulah Yarish dan Krystal memesan tiket keberangkatan lewat aplikasi.
Mereka sengaja memesan tiket secara mendadak, bahkan beberapa detik sebelum di tutupnya penjualan, tujuannya agar Raka tak bisa menghentikan kepergian mereka.
Memang lebih mahal, tak apa, uang Krystal lebih dari cukup untuk membelinya. Begitu tiket di ACC, Yarish dan Krystal langsung check-in, dan bergegas menuju ruang tunggu keberangkatan internasional.
Tak lama dari itu, pesawat yang akan mereka tumpangi telah siap, suara panggilan telah mengalun di dalam ruangan.
Yarish dan Krystal bernapas lega, akhirnya mereka bisa melewati boarding gate dengan lancar.
Tidak apa Raka tahu kemana Krystal pergi, asal sudah sampai di Korea, Yarish bisa dengan mudah menyembunyikan Krystal di bawah naungannya.
...• • • • • • • • • • •...
Di kantor pusat X-meria.
Raka baru saja tiba di ruang kerjanya, sepuluh menit yang lalu, dia menemui beberapa klien penting yang wajib dia urus dengan tangannya sendiri.
Hari ini Raka tak memakai dasi, tak ada Krystal, tak ada pula yang memakaikannya, Raka belum ingin berdamai dengan istri pertama yang membuat dirinya kehilangan istri ke dua.
Langkah gagah dia derap kan, menuju kursi kebesaran. Bersamaan dengan duduknya, ponsel di tangan berdering.
Tak jadi duduk, Raka memilih untuk memindai ponselnya terlebih dahulu "Halo." Dia dengar seksama suara salah seorang dari jaringan sistemnya.
📞 "Selamat pagi."
"Hmm, katakan!" Perasaan tiba-tiba tak enak, Raka mendengar tak sabar. Bahkan dahinya dia usap tanda cemasnya.
Tiga bulan berlalu Raka masih berharap menemukan kabar baik dari semua orang suruhannya.
📞 "Maaf Tuan muda, sedari tadi saya menelepon Anda tapi tidak juga mendapat jawaban, nama Krystal seperti yang Tuan muda cari, telah masuk pembelian tiket pesawat di salah satu aplikasi, perjalanan internasional, Indonesia-Korea. Dengan waktu penerbangan pukul sembilan lebih dua puluh menit. Hari ini."
Raka membulat matanya "Korea?"
📞 "Iya Tuan muda."
Sontak rahang mengeras tangan mengepal mendengar informasi yang telat Raka dengar, dia menilik pada jam luxury hitam yang membelit pergelangan tangannya, dan waktu telah menunjukkan pukul sepuluh dua puluh lima menit.
Krystal telah mengudara. "Kamu benar-benar tega, meninggalkan putri mu Krys." Gumam nya lirih.
Sesak yang dia rasakan kian menyergap merayap masuk ke relung hati. Rupanya Krystal benar-benar tak lagi mau peduli.
"Huaarrghh!" Hancur isi mejanya setelah dia porak-poranda kan. "Kamu akan menyesal Krys!"
...• • • • • • • • • • •...
...Bersambung.... Eh Gaiss, sampai di sini, kalian bosen enggak sih? Apakah cara ku menulis membosankan? Bisa kritik gapapa, untuk perbaikan ku asal dengan cara sayang🙏...