Second Wife

Second Wife
Taruhan....



^^^ᴷᵒʳᵉᵃ, ˢᵉᵒᵘˡ. ᴴᵒᵗᵉˡ.^^^


Di atas ranjang berukuran sedang, Yarish duduk bersandar melakukan panggilan video pada kekasihnya, usia lelaki tampan itu sudah tiga puluh tiga tahun, tentu saja Yarish juga punya rencana menikah, malahan di tahun ini dengan warga asli negara sini.


Sebelumnya Yarish juga sempat menelepon Joon agar tidak terus menangisi ibunya. Untunglah bocah tampan itu menurut setelah mendengar tuturan dan melihat sosok ibunya dengan panggilan video.


Malam ini Yarish menemani Krystal di hotel tempat mereka menginap. Besok, Yarish harus mengantar sahabatnya ke bandara. Tiket dadakan sudah Krystal kantongi melalui aplikasi.


Beruntung kekasih Yarish tak pernah protes dengan kedekatannya bersama Krystal yang terbilang intens.


Sejenak kita beralih pada Krystal yang termenung menatap turunnya salju, sofa putih itu menjadi tempat duduknya, dan syal masih melingkar di lehernya.


Percakapan Yarish bersama kekasihnya tak terdengar, sebab telinganya bising oleh suara batinnya sendiri.


"Semuanya. Aku suka senyum mu, tutur kata mu, kasih sayang mu, sifat dan apa pun yang ada pada mu, aku menyukainya. Kamu sangat cantik itu keberuntungan ku." Kata Hyun Ki yang masih terngiang-ngiang di telinga.


"Seandainya aku tidak cantik, apa Oppa juga akan menyukai ku? Jadi pada intinya semua lelaki hampir sama yaitu memandang wanita dari kecantikan."


"I will call you back later." Aku telepon lagi nanti. Mendengar gumaman sendu Krystal, Yarish menutup telepon dan berjalan mendatangi raga sahabatnya.


"Lu ngapain belum tidur? Besok Lu mau perjalanan jauh. Istirahat lah." Titahnya.


Krystal menggeleng, dia masih betah memandangi butir-butir salju yang terbang dan mendarat ke bumi. Sedikit menjadi penenang dalam kericuhan hati.


"Kalo aku boleh bertanya, atas dasar apa kamu menyukai Ga Rin? Apa karena dia cantik?" Tanya Krystal tanpa menoleh pada Yarish.


Yarish duduk bersandar pada sofa yang Krystal duduki, menaikan kedua kaki dan memeluk betisnya. "Aku mencintai Ga Rin karena kami satu keyakinan. Di lihat dari segi fisik Ga Rin tipe wanita idaman ku." Jelasnya.


Jika sudah seperti ini pembahasan mereka, tak ada kata lu gue di sini, seperti biasa saat Yarish berbicara santai.


"Semua manusia sama," Yarish seperti tahu apa yang di tuduh kan wanita itu pada semua lelaki yang hanya melihat dari fisik saja meskipun tidak semua.


"Manusia punya selera masing-masing Krys, dan aku yakin kamu pun memiliki selera sendiri. Seperti saat kau memutuskan untuk menyukai Pak Raka yang hampir sempurna itu, pasti berawal dari look Pak Raka yang sempurna." Tambah Yarish.


"Begitupun dengan ku saat melihat Ga Rin. Aku tertarik padanya karena dia masuk dalam kategori wanita pilihan ku." Imbuhnya.


Krystal mengangguk sembari menoleh.


"Aku setuju dengan mu, tapi aku sudah menyukai Raka sejak kecil. Bukan karena ketampanannya, tapi karena dia pernah menunjukkan jalan waktu aku mencari ibuku." Jelasnya.


"Saat itu dia masih terlihat sangat manis, tidak arogan seperti sekarang ini. Meskipun Raka tampan tapi alasan ku mencintainya bukan itu." Tambah Krystal menyanggah.


"Aku percaya kamu tulus. Tapi Krys. Ketika mata sudah nyaman dengan satu pandangan. Biasanya hati akan lebih mudah terbuka. Itu manusiawi." Sela Yarish yang masuk akal.


"Dulu Mamah menyuruh ku berdandan biasa saja, dia bilang sulit mencari lelaki yang tulus seperti Papah."


"Tapi Mamah mu juga sangat cantik Krys. Dia kaya raya, artis ternama, lalu darimana datangnya ketulusan Papah mu?" Sergah Yarish dan Krystal terdiam, menyimak.


"Tidak semua orang yang mencintai karena fisik tidak akan pernah bisa tulus bukan? Seperti Hyeong dan Pak Raka yang tertarik padamu karena kecantikan, mereka nyaman dengan tampilan dan menjadi candu setelah tahu inner beauty mu." Terangnya.


"Kau menarik Krys, dari awal aku berteman dengan mu, inner beauty mu menarik perhatian ku, kau berbeda dengan wanita kebanyakan di luar sana yang hanya di minati karena seksi nya. Membuat seseorang nyaman berada dengan mu, itu kelebihan mu. Aku yakin yang di rasakan Hyeong dan Pak Raka tak jauh berbeda dengan ku." Beber Yarish.


"Terlepas dari semua itu, jodoh sudah ada yang mengaturnya, kamu yang selalu mengatakan hal itu bukan?" Tambah Yarish kembali.


"Aku lihat Hyeong dan Pak Raka sama-sama mencintai mu, sama-sama ingin hidup bersama mu karena kenyamanan yang mereka dapat saat bersama mu. Hyeong dan Pak Raka tipe lelaki yang pemilih, wajar saja, secara mereka penguasa, dan sebenarnya mereka bisa saja membeli wanita yang seperti apa pun."


"Kau tahu kenapa Pak Raka dan Hyeong masih setia memilih mu? Itu karena inner beauty mu yang menarik mereka."


"Perjumpaan mu dengan Joon pasti ada sebab yang Tuhan rencanakan, dan pernikahan mu bersama suami teman mu juga bukan kebetulan semata, meskipun perasaan mu masih buram, aku percaya jodoh mu salah satu di antara mereka."


Krystal terdiam menyimak detil kata yang berderai dari bibir sahabatnya. Di lihat dari sisi manapun ucapan Yarish sangat masuk akal.


"Boleh tidak, kalo aku hidup sendiri tanpa suami? Aku nyaman seperti ini. Aku punya Joon dan Queen yang mendoakan ku, aku tidak perlu jodoh."


Yarish menggeleng perlahan. "Terserah Lu."


...• • • • • • • • • • •...


^^^ᴷᵒʳᵉᵃ, ˢᵉᵒᵘˡ. ᴵˢᵗᵃⁿᵃ ᵐⁱˡⁱᵏ ᴿᵃʸ.^^^


Andre dan Raka berbaring pada sofa bed mengapit tubuh mungil Queen. Tadinya Queen di ranjang lalu kemudian terbangun dan tertidur lagi di antara tubuh ayah dan Om nya.


Kedua lelaki tampan itu menyangga kepala dengan tangan, menatap turunnya salju di balik kaca transparan. Pembahasan mereka masih sama, yaitu Krystal.


"Krystal mandiri, kuat, juga keras kepala, dia mampu membentengi diri dari rasa sakitnya. Lelaki seperti ku takkan pernah masuk ke dalam kriteria pilihannya." Ucap Raka lirih.


"Benar kata Daddy kita, wanita yang mandiri tidak takut kelaparan karena dia bisa mencari penghasilan tanpa lelakinya." Tambah Andre.


Raka mengangguk setuju. "Wanita dengan tipe seperti ini, tidak membutuhkan lelaki." Dia terkekeh kecil, sulit sekali menaklukkan hati Krystal, sampai kata perceraian tercetus dari bibir sensualnya.


"Aku yakin besok Krystal pulang ke Indonesia. Dia masih punya paman dan bibi di sana." Kata Andre.


"Dia bisa hidup di negara manapun, keahlian bahasa dan otak liarnya dalam bidang semikonduktor multinasional bisa di pakai di mana pun dia berada. Aku yakin Krystal ke negara lain." Sambung Raka.


Andre menoleh. "Berani taruhan? Kau membelikan aku mobil sport keluaran terbaru kalo Krystal pulang ke Indonesia." Ujarnya.


"Ok. Siapa takut?" Raka menjulurkan kelingking dan di sambut oleh Andre.


"Siap-siap saja mobilnya."


Meski demikian Raka tetap berharap Andre lah pemenang taruhan nya, Raka berharap Krystal benar-benar pulang ke Indonesia. Setidaknya dia masih bisa mengawasi ibu Queen dari kejauhan.


^^^Bersambung......^^^