
Efek samping dari gegar otak di antaranya, amnesia, disorientasi atau kebingungan mental.
Belum sembuh total Viona sudah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, ini mungkin traumatis terberat dalam hidup wanita itu.
Raka termenung menghela napas berkali-kali, memandangi wajah Viona yang tak mau membuka matanya, kulit-kulitnya mulai memuai padahal dalam ruangan ber_AC. Bahkan semilir angin yang berembus dari arah jendela tak mampu meredam rasa.
Dokter menyarankan untuk terus memberikan dukungan kepada Viona baik materi maupun moril.
Tidak mudah bagi Viona untuk bisa kembali pulih tanpa adanya niat dan hanya dukungan dari orang tersayang lah Viona akan mampu melewati itu semua.
Dari pijar yang terang benderang sampai memudarnya sang rembulan. Kantung mata lelah Raka mulai menghitam, tak mampu terpejam walau hanya sekejap.
Dua cinta, dua cincin, dua kamar, dan dua ranjang hangat yang dia miliki menjadi polemik kehidupan nyaris sempurnanya.
Kicauan burung yang mulai hingar-bingar di telinga seakan mencemooh lelaki penguasa itu. Dengarlah, terpaan angin pagi yang berbisik mencibir dirinya.
Siapa dia, ternyata hanya lelaki yang tidak bisa memilih satu di antara dua wanita yang dia cintai.
Tunggu!
Sebanyak apa kuota batinnya hingga berani sekali dia menyandera dua permaisuri.
Pasangan ibarat pakaian begitulah kodrat nya harus lekat dengan kulit. Sebagaimana diketahui, jika dua pakaian yang tidak selaras di satukan justru membuat si penyandang tak sedap di pandang mata.
Itu berarti, dia harus rela melepas salah satunya. Harmonisasi keluarga kita ibaratkan seperti ootd yang matching. Enak di pandang, tak membuat polusi mata.
Niat hati ingin menyatukan persahabatan dan menjadikan keduanya semakin lekat dalam satu istana dan satu Tuan raja nya. Namun. Tak berjalan sesuai harapan, zonk yang ada!
"Aku harus apa lagi?" Gumam Raka lirih.
Lama termenung Raka memilih bangkit dari duduknya, menoleh pada salah satu dokter yang bersiaga di sisinya "Aku titip istri ku, aku harus keluar." Ujarnya.
Dokter itu mengangguk "Baik Pak, silahkan."
Raka mendorong bangku yang dia duduki ke belakang sebelum melangkah keluar dari kamar utamanya.
Ayunan kaki gontai miliknya menuju kamar Krystal, buncahan kegundahan masih mengiringi setiap langkah gagahnya.
Tangannya mencekah rambut ke belakang, ada gurat sendu yang menyiarkan maklumat itu di sudut-sudut panca nya.
Dia dorong pintu kamar ke dua nya, tak ada sosok yang biasanya menebar wewangian dan pesona seksi di ranjangnya.
"Sayang." Sapaan yang masih menjadi milik Krystal dia serukan. Dia langkah kan kakinya menuju balkon dan kamar mandi yang kosong.
Kembali Raka keluar dari kamar menuruni anak tangga, biasanya Krystal berolahraga dengan Elevy dan Ray di sekitar taman istana.
Sampai di teras kening mengernyit menatap mobil yang membawa Krystal-nya pergi dengan beberapa koper di sisinya.
Satu jendela yang terbuka membuat Raka melihat itu "Krys!" Sebut nya "Krystal!" Panggil nya seraya berlari mengejar.
Sang sopir memelankan laju mobilnya, mungkin tak nyaman menyadari sang Tuan mengejar kendaraan yang dia bawa.
"Krys! Mau kemana pagi-pagi begini hmm?" Tanya Raka gusar, dia iringi mobil itu sambil menunduk menatap wajah sendu istri ke dua nya.
"Pergi." Singkat Krystal.
Raka menggeleng "Ke mana?" Tanyanya heran. Bukankah semuanya masih bisa di bicarakan.
Krystal tak menggerakkan kepalanya barang secuil, pandangannya terus saja lurus ke depan "Yang pasti jauh dari mu dan Viona." Jawabnya.
"Tapi kemana? Ini rumah suami mu, rumah kita Yank." Bujuk Raka menghiba.
Krystal menoleh "Aku tidak pantas di sini, ini bukan tempat ku, kamu tenang saja, meskipun jauh darimu akan aku rawat kandungan ku, akan aku kirim dia padamu setelah lahir." Sambung nya.
Raka menautkan alisnya "Bagaimana bisa begitu!" Sanggah nya.
"Kamu sudah berjanji memilih Viona Ka, maka dari itu, pegang kata-kata mu Raka, kamu ayah dari anak yang ku kandung, setidaknya jadilah ayah yang bisa di banggakan!" Sela Krystal ketus.
"Jangan pergi. Aku tidak mau jauh dari mu!" Raka meraih tangan mulus Krystal yang selalu menepisnya.
"Jangan serakah!" Tampik Krystal ketus.
"Please!" Raka menampilkan kaca-kaca di matanya, tentu saja ini bukan hal yang Raka inginkan.
"Bohong!" Sergah Raka menggeleng. Tak ada yang percaya jika Krystal tak mencintai Raka, di lihat dari sudut manapun Krystal sangat tulus ingin membahagiakan lelaki itu meskipun bukan dengan cara bertahan di sisinya.
Krystal menepuk bahu pak sopir "Jalan lebih cepat Pak!" Titah nya, segera sopir itu laksanakan hingga Raka harus terhuyung saking tak mampu lagi mengimbangi laju mobilnya.
"Krys!" Teriakan terakhir yang Krystal dengar setelah tertutupnya kaca jendela mobilnya.
"Hiks!" Krystal yang tangguh saja tak tahan membendung kepiluan. Inginnya mampu tak menangis, tapi air mata ini lancang sekali meloloskan diri tanpa kompromi.
Dia kerling spion luar milik pak sopir, menatap suaminya yang masih berteriak memanggilnya.
"Harusnya aku tidak menangis bukan? Aku sudah tidak berhak menangisinya! Siapa kamu hah? Pecundang!" Umpat Krystal mengutuk keras dirinya sendiri.
Dia usap kasar peluh yang bercucuran dari sudut-sudut netra nya.
Sang sopir hanya memainkan ekor matanya, mengerling kaca spion mobil, mengamati tangisan pilu wanita selir milik sang Tuan.
"Sabar Nyonya muda, semua orang punya masalah, dan Allah maha mengetahui seberapa kuat hambanya melewati ujian hidup ini." Kata Pak sopir berusaha menasehati.
"Huuuuu!" Krystal melepas hasrat tangisnya, di mana lagi dia bisa menunjukkan itu, hanya di dalam sini saja dia mampu "Antar aku pulang ke rumah Daddy Ray, Pak." Pintanya.
Pak sopir mengangguk "Baik Nyonya muda." Jawabnya.
...• • • • • • • • • • •...
Masih di istananya, Raka menatap tajam netra biru ayahnya, Raka tahu kepergian Krystal tak luput dari campur tangan lelaki penguasa itu.
Tak mungkin ada yang berani membawa Krystal pergi dari istananya jika bukan Ray yang menyuruh "Apa sebenarnya maksud Daddy? Jadi Daddy berusaha menjauhkan aku dengan istri ku?" Tudingnya.
Ray mengangguk "Biarkan Krystal tenang tanpa mu, aku tidak mau mentalnya terganggu karena terlalu banyak makan hati dari ulah mu dan istri tua mu, kandungan dia masih terlalu muda, stress tidak baik untuknya." Terangnya.
"Dadd!" Pekik Raka.
"Kau sendiri yang memilih istri tua mu, jadi urus saja Viona, untuk sementara waktu biarkan Krystal tinggal bersama Mammi mu di rumah Daddy." Ucap Ray menengahi permasalahan rumah tangga putranya.
Raka menggeleng "Lalu siapa yang mengurus ku di sini?" Sanggah nya.
"Untuk apa kau bayar banyak pelayan?" Cibir Ray.
"Aku hanya mau Krystal." Sangkal Raka.
"Bukan Viona?" Sambung Ray memperolok.
Raka menggeleng "Daddy tahu aku tidak mungkin meninggalkan Vio, dia membutuhkan aku, dan aku membutuhkan Krystal ku, biarkan aku tinggal dengan dua istri ku." Pintanya.
Ray menggeleng "Tapi keputusan Krystal sudah bulat, dia tidak mau tinggal satu atap dengan mu." Ujarnya.
"Omong kosong!" Serapah Raka ketus.
Elevy tersenyum mengelus lembut punggung suaminya "Kita pulang, Krystal pasti bingung di rumah tanpa kita." Ajaknya.
Ray mengangguk "Hmm."
Raka mengiringi langkah ibunya "Mamm, Mammi, bagaimana bisa aku hidup sendirian tanpa kalian?" Tanyanya.
"Kamu bisa Raka, kamu sudah dewasa, ada Andre yang akan membantumu selama Viona sakit. Mammi berdoa semoga Viona cepat sembuh." Jawab Elevy sembari terus mengayuh langkah menuju mobilnya.
"Mamm, bagaimana bisa aku makan masakan Andre? Mammi." Bujuk Raka menghiba.
Elevy dan Ray masuk ke dalam mobil mewah nya, keputusan mereka sudah bulat untuk tetap membawa Krystal pergi dari istana putranya.
"Mammi, ....."
...• • • • • • • • • • •...
...Bersambung..... Terimakasih dukungan nya Jangan lupa Klik Like, Biar aku semangat........
#
#
.