Second Wife

Second Wife
Secercah harapan



Ini hari ke tiga Krystal melakukan usaha pengeluaran ASI, dengan cara memijat payu dara secara berkala, pijat oksitosin, juga mengonsumsi makanan bergizi. Buk bidan mendampinginya untuk melakukan itu.


Buk bidan bilang ASI sangat penting untuk antibodi bayi prematur, pemberian yang dianjurkan berkisar antara 120 hingga 180 mililiter per kilogram per hari. Bayi dengan berat 2 kilogram, misalnya, harus secara optimal mendapatkan 45 mililiter ASI setiap tiga jam.


"Rish, Yarish!" Krystal berteriak setelah berhasil mengeluarkan ASI dengan pompa dan memindahkannya ke dalam botol khusus.


"Yaaaaaa." Masih mengantuk, Yarish bangkit dari sofa, mengucek mata sembari berjalan sempoyongan menuju kamar miliknya.


Sekarang, pemuda tampan itu memang tidur di ruang tengah. Hanya ada tiga kamar di rumahnya, kamar Eun Kyung, kamarnya, dan kamar untuk Mbak yang bersih-bersih. Mau tak mau Yarish mengalah tidur di sofa.


"Apaan si? Berisik bener?" Yarish berdiri melongok kamarnya dengan bergelayut pada sisi ambang pintu.


Sambil menyengir Krystal berlari menuju pemuda tampan itu "Rish, ASI ku dah keluar Rish. Barusan lancar." Ucapnya bersemangat.


"Heh, yang bener?" Yarish mendadak melek sempurna mendengar penuturan temannya, rupanya satu botol kaca ASI telah tertutup rapat di tangan Krystal.


"Bisa cepet banget gitu yah?" Yarish heran memandangi botol itu seksama.


"Syukur dong. Kita berhasil."


Mendengar itu Yarish beralih fokus pada wajah cantik sahabat nya "Kita? Lu kali? Kan Gue nggak ikut mijit nya." Jawabnya.


"Hayyyss." Krystal menaikan ujung bibir membuat Yarish menyengir dengan pikiran kotornya.


"Kamu bilang mau bantu aku menyampaikan ASI pertama ku." Tuntut Krystal.


"Sekarang?".


"Besok, ya iyalah sekarang, keburu basi ni susu." Ketus Krystal dan Yarish menghela kesabaran.


"Tunggu di sini, Gue ganti baju, cuci muka, terus nemuin Sukma."


"Siapa Sukma?" Krystal mengikuti gerak tubuh Yarish yang berjalan menuju kamar mandi.


"Anaknya Buk bidan yang Gue ceritain itu." Sambung Yarish.


"Ooh." Krystal tersenyum manis "Makasih Rish."


"Hmm!"


"Hihi." Krystal tertawa kecil, dia tahu Yarish masih mengantuk tapi tetap melakukan hal yang dia perintahkan, semalaman Yarish membantunya mengirim CV lengkap pada perusahaan elektronik milik saudaranya di Korea.


Beruntung, Krystal masih memiliki dokumen lengkap dan aman di salah satu aplikasi penyimpan data. Mudah saja dia mengurus ini itu tanpa perlu mengorek-ngorek berkas seperti orang jaman dulu.


...• • • • • • • • • • •...


Hari pun berganti dan terus berganti sesuai dengan perotasian bumi alam ini. Di malam yang sunyi, berbalut semilir angin lembut yang masuk dari celah kecil jendela balkon.


Sukma duduk di ranjang berwarna merah muda, memberikan susu botol pada bayi mungil milik tuan Raka.


Dua hari lalu di rumah sakit, Queen sempat mengalami tantrum, dan hanya Sukma yang bisa menenangkan amukan Queen, terang saja karena dia memiliki ASI eksklusif milik sang ibunda Queen.


Siang kemarin Ray resmi mengangkat Sukma menjadi baby sitter cucunya dengan bayaran yang paling mahal tentunya.


Setelah melihat secara langsung Sukma mampu menenangkan amukan Queen, Ray tertarik menjadikan Sukma baby sitter ekslusif Queen.


Ray akan melakukan apa saja demi cucu pertamanya. Sungguh ini kebetulan yang sangat menguntungkan bagi Krystal.


Tanpa capek-capek mengatur siasat, akhirnya Krystal bisa memberikan ASI pada putrinya melalui perantara Sukma. Lihatlah, Tuhan sangat adil bukan?


Langkah pelan terdengar memasuki ruangan Sukma menoleh pada ayah dari bayi yang dia asuh.


"Biarkan aku bersama putri ku." Pinta Raka.


Raka mendekati ranjang putrinya, mengangkat tubuh rapuh Queen lengkap dengan alas tidur yang Queen tempati, sejujurnya dia masih takut menggendong sembarangan, tapi rasa inginnya menitahkan untuk berusaha.


Menatap sayup wajah kecil bayi merah itu, Raka tersenyum, ternyata benar kata orang, aroma khas bayi akan menjadi terapi dari segala kegundahan hati.


Dia masih menyebar anak buahnya. Lokasi smartphone Krystal sempat di temukan di dasar lautan. Rupanya itu cara Krystal mengecoh tim Raka.


"Apa kabar mu sayang? Kamu pasti merindukan Mammi mu, terlebih Daddy." Ucap Raka lirih.


Queen masih terlelap dalam tidur setelah meneguk susu kiriman ibunya.


Raka menghela napas dalam, duduk pada sofa dan meletakkan Queen ke dadanya "Kita di sini, menikmati kerinduan bersama." Ucapnya lirih.


Termangu Raka memeluk pilu bayi mungil yang menjadi alat penurun rindu di kala Krystal tak lagi dia temu.


Miris kehidupannya saat ini, hanya untuk bertemu dengan putrinya saja Raka harus menyatroni rumah ayahnya.


Di rumah besarnya Viona masih belum bisa pulih benar, sejatinya psikis menjadi faktor utama lambat nya proses pemulihan itu sendiri.


Selain menyerahkan tugas pada dokter-dokter hebat, Raka tak peduli pada Viona, dia sendiri masih dalam keadaan frustasi. Hanya wajah dan aroma Queen lah yang selalu dia kejar untuk menenangkan diri.


Di tengah lamunan Raka, Elevy masuk ke dalam kamar cucunya, duduk di sisi putra semata Ray nya, mengelus pelan pundaknya "Ka."


"Hmm?" Raka tak mau menoleh namun masih sanggup menyahut.


"Kamu belum makan kan? Mamah buat makanan khusus untuk mu. Makan gih." Suruh Elevy.


"Raka tidak lapar Mamm." Geleng Raka dengan tatapan kosong.


Elevy menggeleng. "Dari kemarin kamu cuma minum doang, mana bisa tidak lapar. Tidak baik menyiksa diri, jangan sampai kamu sakit, gimana putri mu nanti?" Tutur nya lembut.


Raka menoleh pada Elevy. "Gimana sama Krystal sekarang? Apa dia makan? Raka terus memikirkan itu." Sanggah nya pilu.


Elevy tersenyum. "Kamu lupa? Krystal bukan wanita lemah, dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri." Sambung nya.


Raka setuju dengan pendapat Elevy, Krystal bukan wanita yang sebodoh kekhawatirannya, tapi tetap saja dia khawatir.


"Menurut Mamah kemana dia pergi?" Tanya Raka menatap harap ibunya, mungkin Elevy bisa memberinya petunjuk.


Elevy meluruskan pandangan beralih ke arah lain, pasti sulit berada di posisi Krystal, suaminya memiliki istri, sementara paman dan bibinya rela menjualnya demi uang.


"Kalo Mammi jadi Krystal, Mammi akan pergi ke salah satu temen baik Mammi." Cetus Elevy memberikan pengandaian.


Raka tersenyum mendengar kalimat ibunya, sepertinya Elevy tepat "Benar juga kata Mammi, di kantor Krystal punya beberapa sahabat yang sangat baik, mungkin sekarang Krystal berada di salah satu rumah mereka!" Ujarnya bersemangat.


Elevy mengangguk tersenyum. "Mungkin saja, jadi sekarang kamu makan gih, mencari Krystal juga butuh tenaga." Bujuknya "Semoga cepat kamu temukan Krystal mu." Ucapnya.


Raka mengangguk haru, Elevy seorang ibu, tiada mungkin mendoakan keburukan pada putranya, selalu doa terbaiklah yang dia lantun kan teruntuk Raka semata.


"Terimakasih Mamm." Ucap Raka mencium kening ibunya.


"Sekarang Mammi ambil makan, Mammi suapi kamu di sini." Elevy mengusap puncak kepala putranya seraya bangkit dari duduk, kemudian berjalan keluar menuju dapur bersih.


Sementara Raka mengembuskan napas lega setelah mendapat secercah harapan mengenai keberadaan Krystal-nya.


"Kenapa tidak terpikirkan sebelumnya?" Gumam Raka. Otak kacau membuatnya buntu. Tak dapat jernih dengan pikiran logis.


"Aku akan menemukan mu, di mana pun kamu berada Yank." Ucapnya mantap.


...• • • • • • • • • • •...


Bersambung..... terimakasih yang pada Vote dan tekan tombol favorit yah.... Semoga sehat selalu kalian......