
Masih di malam yang sama. Ray turun dari mobil, melurut tatapan yang sulit sekali di tangkap arti, menyatroni rumah besar putranya, langkah gagahnya memasuki ruang luas yang biasanya di jadikan ballroom pesta.
Kebetulan, di ruangan itu Raka berjalan mondar-mandir dengan cemas, menanti laporan dari seluruh antek-antek yang dia kerahkan.
Sudah seharian penuh Raka menunggu, tak jua datang kabar Krystal yang menentu.
Entah dimana wanita itu, Raka cemas di buatnya, sementara Viona masih hanya diam saja duduk tenang di sudut sofa dan masih tak mau lepas dari wajah pucat nya.
Kelahiran prematur bayi Krystal sempat membuat Viona terperanjat, tapi mau bagaimana lagi, mungkin Tuhan sudah menggariskan seperti ini.
Melangkah cepat Andre mendatangi Raka dengan gurat kacau balau nya, melihat itu Raka meraih kerah jaket jeans milik adik angkatnya. Informasi dari lelaki ini lah yang ingin Raka tuntut.
"Gimana Krystal? Kenapa belum juga ada kabar hah?" Teriaknya keras, di sofa masih ada Viona yang mengamati betapa paniknya Raka menerima kenyataan pahit ini.
Andre tersenyum sinis. "Kau bertanya kenapa belum juga ada kabar? Tentu saja Krystal memiliki banyak ide untuk meloloskan diri, ini semua karena mu!" Sulut nya menusukkan tatapan tajam.
"Lalu apa bisanya kalian semua? Kamu bahkan tidak bisa mendapatkan seorang wanita dalam kondisi lemah? Apa tidak cukup orang-orang yang ku utus? Di mana otak kalian semua!" Tukas Raka sarkas jangan di tanya bagaimana nada murkanya, sudah pasti begitu mencekam.
"Otak mu yang di mana?" Sergah Andre melotot "Kau yang tidak punya otak bahkan tidak memiliki perasaan! Kenapa kau harus menikahinya?" Masih penyesalan itu yang Andre usung kan.
Otot-otot kedua pria ini bermunculan, ingin rasanya meloloskan tinju, namun akhirnya kembali mereka berpikir, untuk apa pertikaian ini? Raka menghempas tubuh bidang Andre, masih dengan tatapan yang menghunus.
"Cari kemana pun, temukan di mana pun, aku mau Krystal ku kembali, aku sesak tanpa mendengar kabarnya!" Nada Raka berangsur lirih, pilu sudah pasti merayapi.
Ray memberhentikan langkah tepat di depan kedua putranya. "Apa yang kalian ributkan? Kalian sama-sama tidak BECUS!" Teriaknya.
Raka menundukkan wajah begitu pula dengan Andre. Mereka terdiam tak mampu berkutik di hadapan sang Tuan besar ini.
Ray menunjukkan satu berkas yang terlampir di dalam map yang dia bawa, yaitu surat gugatan cerai yang Raka tujukan teruntuk menantu ke duanya.
Untuk ini lah Ray mendatangi rumah putranya. "Apa ini? Jadi kau mencoba menceraikan mantu terbaik ku tanpa sepengetahuan ku?" Tudingnya lirih namun penuh tekanan di setiap katanya.
Raka mendongak menatap ayahnya, ia menelan saliva kegugupan, di lihat dari sudut manapun Ray tidak sedang bermain-main dengan kemurkaannya.
"Jawab." Lirih Ray menanti jawaban jujur dari putranya. Bukannya jawaban, Raka justru kembali menurunkan pandangan. "JAWAB RAKA!" Teriak Ray melotot, bahkan membuang berkas di tangannya pada wajah tampan putranya.
Raka mengangguk. "Iya, pagi tadi Raka memberikan surat gugatan itu padanya. Sumpah, Raka tidak benar-benar menginginkan ini terjadi. Raka khilaf. Raka frustasi dengan hubungan segitiga ini, Raka pikir ini yang terbaik, tapi ternyata, Raka tidak mampu hidup tanpa sedikitpun kabar darinya." Jawabnya.
Ray berdecih "Kau memberikan surat gugatan cerai, setelah semalaman kau menidurinya? MANUSIA MACAM APA KAMU RAKA?" Berang nya memekakkan telinga.
Tak pernah bisa turun nada berang seorang ayah yang merasakan pilu saat putrinya tersakiti. Ray sudah menganggap Krystal bagian dari keluarganya. Ray tak habis pikir dengan perlakuan putra semata Elevy nya.
Ada hati yang teriris mendengar hal itu, Viona memejamkan mata mendengar kenyataan bahwa malam kemarin suaminya menyetubuhi wanita selain dirinya.
"Maaf." Lirih Raka.
Ray menyeringai iblis "Bukan kata itu yang pantas terucap dari mulut mu, kau sudah sangat biadab Raka, kau bukan laki-laki sejati. Kau lihat? Karena kelakuan mu, Queen lahir prematur." Sarkas nya.
Raka mengangguk. "Raka tahu ini salah, tapi Raka masih berusaha menemukan Krystal, Raka mau meminta ampunan nya." Ujarnya.
"Semoga saja kau tidak akan pernah di pertemukan lagi dengan Krystal. Semoga saja dia tidak di ciptakan untuk mu. Dan semoga saja ada laki-laki lain yang membahagiakan nya."
"Daddy!" Sergah Raka menatap tajam ayahnya, ini sudah keterlaluan "Daddy sadar doa apa yang Daddy ucapkan barusan?" Tanyanya mengernyit.
"Sadar, tentu saja sadar sesadar-sadarnya." Sela Ray menunjuk wajah putranya. "Wanita mana yang mau bertahan dengan suami picik seperti mu, tidak bisa adil membagi waktu antara istri tua dan mudanya?"
Ray beralih pada Viona yang masih duduk menatap tidak suka padanya.
"Dan teman mana yang tidak sakit, saat pengorbanannya hanya di anggap hama oleh orang yang dia anggap sahabat?" Tohok nya.
Viona menunduk malu.
Kembali Ray menatap putranya "Kalian semua gila, semoga saja Krystal tidak pernah di pertemukan dengan wanita egois seperti istri pertama mu, dan lelaki bodoh seperti mu." Imbuhnya.
"Daddy." Raka menggeleng, sakit rasanya mendengar doa yang Ray talun kan.
"Aku tidak sudi, cucu ku tinggal dengan orang-orang gila seperti kalian, setelah bisa pulang dari rumah sakit, Queen akan tinggal di rumah ku bersama Mammi mu." Putus Ray.
"Daddy!" Kembali Raka memekik.
"Apa lagi? Masih berani kamu protes?" Sambung Ray.
"Queen putri ku, kenapa harus di jauhkan dari ku, dia buah cinta ku bersama Krystal ku." Cetus Raka.
"Sampah, omong kosong, kau bahkan tidak pernah membahagiakan istri muda mu lalu kau bilang Queen buah cinta? Tidak kah kamu jijik mendengar nya Andre?" Ray mencibir putranya seraya menoleh pada Andre.
Andre masih terdiam menatap kecewa Abang angkatnya. Sakit sekali saat cinta pertama tak mampu dia raih hanya karena Raka yang tirani.
Raka menggeleng. "Terlepas dari semua yang ku lakukan padanya, sumpah demi apa pun, aku sangat mencintainya." Lirih Raka sendu.
Kenapa tidak ada yang percaya tentang ketulusan hatinya? Apa karena dirinya yang mencintai setelah memiliki Viona? Atau kah karena dia menyukai setelah melihat keaslian wajah Krystal-nya?
Raka sadar ini salah tapi Raka berani menjamin ketulusan hati nya, Raka masih ingin memperbaiki semuanya.
Menemukan di mana Krystal berada, berharap Krystal mau kembali dan memberikan satu kesempatan lagi padanya.
"Kau berani berkata seperti itu di hadapan ku Ka?" Viona menyeletuk dengan aliran air mata kepiluan. "Kamu tega." Lirihnya.
BRAK!
Guci porselin itu hancur setelah tendangan bebas Raka mendarat dengan sempurna. "Lalu aku harus apa?" Teriaknya mengerling sinis ke arah Viona.
Wanita itu hanya menangis pilu, tentu saja menyakitkan hati saat sang suami berlaku tirani.
Ray menyeringai "Hancur kan saja seluruh isi rumah mu, tapi aku masih berdoa, Krystal tidak akan pernah kau temukan lagi!" Ujarnya.
Mendengar itu Raka meluah keluh bahkan terdengar isakan kecilnya, takut jika sampai doa yang dipanjatkan ayahnya benar-benar terkabul, Raka tak ingin itu terjadi.
Melihat itu Ray tertawa iblis. "Jangan menangis putraku, kesakitan mu ini tidak sebanding dengan apa yang kau berikan pada mantu ke dua ku!" Sindir nya.
Raka hanya diam tak mampu menimpali ucapan ayahnya yang memang benar adanya. Selain diam, lalu mau apa lagi dia? Tak ada dan tak pantas dia tampik.
...• • • • • • • • • • •...
...Bersambung... Wah maaf Up nya telat, akooh abis jalan-jalan Gaiss.. hehe... Dukungan nya yuk, biar masuk rekomendasi......