Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
MAAF



Allegra turun dari mobil pick up yang sengaja ia sewa untuk mengangkut gerobak rujak pesanan Sasha. Pria itu berjalan ke teras dan sedikit terpincang, saat Ethan yang sedang ada di teras rumah menatapnya dengan heran.


"Itu apa, Alle?" Tanya Ethan masih heran.


"Gerobak rujak, Bang!"


"Sasha ngidam rujak se gerobak-gerobaknya," jawab Allegra jujur.


"Lalu kenapa tidak kau bawa saja Sasha ke tukang rujak? Kenapa malah gerobak rujaknya yang dibawa kesini?" Ethan menahan tawa. Disaat bersamaan, Rumi datang dari rumah depan dan ikut bertanya-tanya kenapa Allegra membawa gerobak rujak ke kediaman Sanjaya.


"Kata Vivian ada gerobak rujak di rumahmu. Siapa yang jualan rujak?" Tanya Rumi yang sudah menghampiri Ethan dan Allegra.


"Alle! Silahkan kalau mau beli," jawab Ethan yang malah mempersilahkan Rumi.


"Rujaknya buat Sasha, Bang!" Ujar Allegra cepat.


"Iya tapi Sasha mana bisa menghabiskan rujak satu gerobak?" Ethan mencari alasan.


"Iya juga, ya?" Allegra garuk-garuk kepala.


"Aku akan memanggil yang lain," Rumi langsung berlari lagi ke rumah depan untuk memanggil pasukan keluarga Attala. Sementara Allegra langsung celingukan ke dalam rumah.


"Sasha mana, Bang?" Tanya Allegra yang tak melihat Sasha.


"Tidur sepertinya. Kalian sedang bertengkar?" Ethan balik bertanya dan menerka-nerka.


"Hanya sedikit salah paham," jawab Allegra jujur.


"Tapi Alle sudah minta maaf pada Sasha dan menuruti semua kemauan Sasha," lanjut Allegra lagi mencari pembenaran.


"Ibu hamil selalu sensitif dan mudah baper!" Ethan menepuk punggung sang adik ipar.


"Sebaiknya, kau jangan membuat masalah lagi atau Sasha akan minta kau membawakan bulan nanti ke pangkuannya," lanjut Ethan seraya terkekeh.


Allegra ikut terkekeh.


"Kalau itu benar terjadi, Alle yakin itu bukan ngidam tapi memang Sasha ingin mengerjai Allegra."


"Lalu Claire mana? Tidak kau bawa kesini?" Tanya Ethan lagi.


"Nanti kesini bersama Jasmine dan Mami," jawab Allegra cepat seraya berjalan ke dalam rumah masih dengan kaki terpincang.


"Kaki kamu kenapa?" Tanya Ethan akhirnya karena melihat Allegra yang terpincang-pincang.


"Jatuh dari pohon mangga, Bang! Gara-gara ngambilin manggga muda untuk Sasha tadi," jawab Allegra jujur.


"Sudah diobati? Coba aku periksa!" Ethan yang merupakan seorang dokter segera menghampiri Allegra dan sedikit membantu adik iparnya itu untuk duduk di sofa. Ethan menggulung celana panjang Allegra untuk memeriksa kaki pria itu.


"Astaga! Memar," gumam Ethan seraya memeriksa kaki Allegra yang memar. Suami Sasha itu langsung meringis.


"Seharusnya tadi langsung kau kompres es!" Omel Ethan yang sudah bangkit berdiri untuk mengambil es batu sekalian kotak obat.


"Tadi Allegra buru-buru kesini agar Sasha tak semakin marah," Allegra mencari alasan dan pria itu kembali meringis saat Ethan mulai mengobati lukanya.


"Alle kenapa, Eth?" Tanya Ruby yang sudah keluar seraya menggandeng si kembar Lena dan Rena yang sepertinya baru bangun tidur.


"Jatuh dari pohon mangga katanya," jawab Ethan tanpa berpaling. Dokter muda tersebut masih fokus mengobati luka Allegra.


"Hai, duo princess! Baru bangun?" Sapa Allegra pada Rena dan Lena tang langsung menghampiri Allegra dan sedikit bergelayut pada pria itu. Allegra memang dekat dengan semua anak-anak di keluarga besarnya.


"Kau mau rujak, By? Allegra membawa satu gerobak rujak tadi ke halaman rumah," tawar Ethan selanjutnya pada sang istri


"Siapa yang ngidam rujak? Sasha?" Tebak Ruby cepat.


"Ya! Apa Sasha masih tidur, Kak?" Allegra balik bertanya pada istri Ethan tersebut.


"Kata siapa aku tidur?" Sahut Sasha sebelum Ruby sempat menjawab.


"Kau kenapa? Mana rujaknya?" Tanya Sasha dengan nada galak pada Allegra.


"Allegra terjatuh dari pohon mangga karena mengambilkan mangga muda untukmu! Masih saja kamu bentak-bentak!" Omel Ethan pada Sasha yang raut wajahnya langsung berubah khawatir.


"Benarkah? Apa kakinya patah, Bang?" Tanya Sasha yang sudah menghampiri Ethan yang akhirnya selesai mengobati memar di kaki Allegra.


"Hanya memar," jawab Ethan seraya memberikan ruang untuk Sasha duduk di dekat Allegra.


"Aku bawakan gerobak rujaknya. Tapi aku belum memesan rujak untukmu," lapor Allegra pada Sasha yang kini merengut.


"Biar aku pesankan! Kau mau rujak yang bagaimana, Sha?" Tanya Ruby yang sudah kembali menggandeng si kembar dan hendak mengajaknya menghampiri tukang rujak.


"Lalu kenapa minta Allegra membawa rujak satu gerobak kalau tidak ngidam rujak?" Tanya Ethan sedikit geram pada Sasha.


"Iya tadinya-"


"Kau ngidam kelapa muda?" Tebak Allegra memotong kalimat Sasha.


"Kau membawakannya juga?" Tanya Sasha penuh harap.


"Ada di depan," jawab Allegra seraya mengacak rambut Sasha.


"Sasha, Sasha!" Ethan geleng-geleng kepala dan akhirnya mengikuti Ruby menuju ke halaman depan untuk menghampiri gerobak rujak tang yadi dibawa Allegra.


Sudah ada beberapa anggota keluarga Attala juga yang ikut mengantre rujak.


Sementara di dalam rumah,Sasha yang duduk di sebelah Allegra masih merengut.


"Maaf soal tadi pagi," ucap Allegra lembut pada Sasha.


"Aku berjanji untuk tak mengulanginya lagi, dan ke depannya, jika aku hendak melakukan yang seperti itu lagi-


"Kau masih ingin melakukan hal konyol itu lagi? Bermesraan dengan wanita lain dengan dalih membantu Ezel?" Cecar Sasha memotong kalimat Allegra penuh emosi.


"Tidak! Tentu saja tidak!" Jawab Allegra cepat yang ternyata salah bicara. Mati kau, Alle!


"Ini yang terakhir dan aku tak akan melakukan hal konyol itu lagi! Aku akan langsung menolak jika Haezel menyuruhku melakukannya lagi!" Ucap Allegra sungguh-sungguh seraya mengangkat satu tangannya sebagai tanda bersumpah.


"Aku tak akan memaafkanmu jika kau mengulanginya!" Ancam Sadha seraya mendelik pada sang suami.


"Iya, tak akan aku ulangi!" Janji Allegra bersungguh-sungguh.


"Aku mau rujak!" Ucap Sasha selanjutnya yang langsung membuat Allegra menganga.


"Tadi katanya tidak mau?"


"Tentu saja aku mau! Aku mau yang banyak mangga mudanya dan cabenya dua belas biji-"


"Kau bisa sakit perut, Sha!" Potong Allesha mengingatkan.


"Bukan aku yang akan memakannya tapi kau!" Sasha menuding ke dada Allegra.


"Aku? Aku tak bisa makan pedas! Bagaimana kalau aku pingsan?" Allegra menakut-nakuti Sasha.


"Kan ada Abang Ethan yang akan menolongmu. Abang Ethan dokter," jawab Sasha santai.


"Sha, Aku minta maaf!"


"Beri saja aku hukuman lain, tapi jangan memintaku makan rujak dua belas cabe!" Pinta Allegra memohon.


"Baiklah! Aku korting cabenya jadi dua!" Tukas Sasha akhirnya memperingan hukuman untuk Allegra. Suami Sasha itu langsung bernafas lega.


"Tapi...." lanjut Sasha yang ternyata ounya syarat tambahan.


"Tapi apa lagi?" Tanya Allegra kembali cemas.


"Aku mau kau membawakan aku bunga setiap hari saat kau pulang kerja sebagai hukuman, lalu aku ingin kau mengajak jalan-jalan," tutur Sasha panjang lebar menyampaikan keinginannya pada Allegra.


"Baiklah! Kau mau jalan-jalan kemana? Mau shopping kemana? Aku siap mengantarmu," jawab Allegra bersungguh-sungguh.


"Nanti saja aku pikirkan mau shopping kemana."


"Sekarang aku mau kelapauda dan rujak dulu!" Ujar Sasha yang hendak bangkit berdiri. Allegra langsung sigap membantu istrinya tersebut, meskipun kakinya masih terasa nyeri karena memar sialan tadi.


Huh!


Yang terpenting, Sasha sudah tak marah lagi pada Allegra sekarang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.