Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
HONEYMOON



"Itu villanya?" Tanya Sasha seraya menunjuk dari jendela helikopter.


"Yup! Hanya ada satu villa itu di pulau," jelas Allegra yang sudah semakin mengeratkan dekapannya pada Sasha.


"Kenapa tidak dibangun villa yang lain?" Tanya Sasha penasaran. Sebelumnya Sasha memang sudah nendengar beberapa hal tentang pulau itu dari Kak Olivia. Semua anak dan cucu di keluarga besar Arthur pasti pernah honeymoon ke pulau itu. Mulai dari Papi Sean dan Mami Rachel. Lalu Uncle Kyle dan Aunty Audrey. Lalu Kak Alice dan suaminya dan terakhir adalah Kak Olivia dan Abang Yonas yang saat pulang langsung membawa kabar kehamilan anak kembar.


Benar-benar pulau penerus keturunan!


"Kata Opa, kalau dibangun banyak villa, nanti pulaunya tidak jadi pulau pribadi lagi dan bisa-bisa banyak wisatawan yang datang. Rusak sudah semua kenangan keluarga Arthur di pulau itu," jelas Allegra yang langsung membuat Sasha tertawa kecil.


"Benar-benar pulau sejuta kenangan, ya?"


"Aku sebelumnya hanya mendengar cerita tentang pulau itu dari Kak Via dan tak pernah membayangkan kalau akhirnya benar-benar akan datang kesana bersamamu," cerita Sasha yang sudah bergelayut dan mengalungkan lengannya di leher Allegra.


"Kau senang?" Tanya Allegra seraya menyelipkan rambut Sasha ke belakang telinga.


"Senang! Tapi sedikit sedih juga karena kita belum bisa membawa Claire kemari. Raut wajah Sasha sedikit sendu.


"Claire masih terlalu kecil-"


"Aku tahu!" Sela Sasha cepat.


"Begini saja! Kita honeymoon dulu satu pekan disini. Dan nanti setelah pulang kita ajak Claire jalan-jalan atau staycation di tempat yang memang ramah untuk bayi," usul Allegra yang langsung membuat kedua mata Sasha berbinar.


"Benar?"


"Ya! Aku janji," jawab Allegra bersungguh-sungguh dan Sasha langsung menciumi wajah suaminya itu bertubi-tubi sebagai ucapan terima kasih.


"Terima kasih, Sayang!"


"Iya! Sekarang duduk yang benar! Kita sudah sampai!" Titah Allegra bersamaan dengan helikopter yang sudah mulai mendarat. Sekarang memang sudah dibangun helipad di dekat villa jadi helikopter milik keluarga Arthur sudah mudah keluar masuk ke pulau ini.


Malam sudah sangat larut saat Allegra dan Sasha menjejakkan kaki mereka di atas pulau. Helikopter langsung kembali pulang dan baru akan kembali untuk menjemput pasangan pengantin baru itu pekan depan.


Deburan ombak serta hembusan angin dari pantai langsung menyambut Sasha dan Allegra.


"Ayo masuk ke dalam!" Ajak Allegra setelah helikopter yang tadi mengantar mereka tak terlihat lagi.


"Kenapa buru-buru? Bukankah katamu mau langsung bercinta di atas pasir di tepi pantai?" Tanya Sasha dengan nada menggoda, serta kedua lengan yang sudah melingkar di leher Allegra.


"Ombaknya besar malam ini," ujar Allegra sebelum kemudian keheningan menyelimuti dirinya dan Sasha. Kedua bibir mereka sudah saling bertaut dan mencecap dengan penuh gairah.


Sasha terus menekan kepala Allegra dan semakin menperdalam pagutan mereka, seolah sedang berpacu dengan deburan ombak yang semakin ganas menabrak karang.


"Aku kedinginan," ucap Sasha dengan nafas yang terengah-engah. Allegra mencium kening Sasha, lalu menggendong istrinya itu ala bridal.


"Ayo aku hangatkan di dalam!" Ujar Allegra yang langsung membuat Sasha menyembunyikan wajahnya di dada Allegra. Suami Sasha itu lalu melangkah ke dalam villa masih sambil menggendong Sasha.


****


"Pagi!"


"Kau memasak apa?" Tanya Allegra yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Sasha serta menyusupkan kepala di ceruk leher Sasha. Istri Allegra itu masih berkutat di depan kompor dan hanya mengenakan kemeja Allegra.


Tanpa terasa, tiga hari sudah Sasha dan Allegra berada di pulau ini dan keduanya sudah menghabiskan waktu untuk menjelajahi setiap sudut pulau, lalu berenang di pantainya yang biru, serta menikmati hamparan pasir putih yang begitu memanjakan mata.


"Memasak sarapan agar aku tak pingsan karena kau gempur semalaman," jawab Sasha seraya mengusap lengan Allegra yang masih berada di pinggangnya.


"Maaf soal semalam. Aku hanya terbawa suasana." Allegra tertawa kecil dan Sasha ikut tertawa.


"Tidak apa-apa! Aku juga menikmatinya." Jawab Sasha jujur.


Sasha mematikan kompor karena nasi goreng yang ia masak sudah matang.


"Kau mau sarapan?" Tawar Sasha selanjut pada Allegra yang tetap bergelayut di belakangnya.


"Suapi," jawab Allegra manja.


"Manja!" Cibir Sasha.


"Agar tidak hanya Claire yang kau manja-manja. Aku mau jadi bayimu selama kita disini," ujar Allegra yang langsung membuat Sasha kembali mencibir.


"Bayi mesum, ya!" Sasha meletakkan piring berisi nasi goreng ke atas meja, lalu wanita itu berbalik dan menangkup wajah Allegra yang masih terlihat mengantuk. Allegra juga tak memakai baju dan hanya mengenakan celana piyama yang longgar dan sepertinya tanpa dalaman juga.


Dasar Allegra!


"Kenapa tidak pakai dalaman?" Tanya Sasha setelah sedikit mengintip ke dalam celana Allegra.


"Underwearku mendadak terasa sempit selama disini," Allegra blak-blakan menunjukkan miliknya yang sudah berdiri tegak. Terang saja, Sasha langsung dibuat tergelak dengan tingkah konyol Allegra tersebut.


"Dia tidak mau tidur sejak kita tiba disini," cerita Allegra lagi.


"Dasar mesum!" Sasha memukul dada Allegra dan masih terus tergelak.


"Ngomong-ngomong, aku tak melihatmu memompa ASI sejak kemarin," tanya Allegra seraya merem*s dada Sasha.


"Sedikit mengering," jawab Sasha dengan nada sedih.


"Maksudnya?" Allegra mengernyit bingung.


"Aku juga tidak tahu! Dua hari yang lalu aku memompanya dan hanya keluar sedikit. Lalu ujungnya juga sakit sekali."


"Mungkin pompanya rusak. Kau bawa pompa cadangan, kan?" Tanya Allegra memastikan.


"Iya! Sudah aku coba pakai pompa satunya, tetap saja hanya sedikit yang keluar," ujar Sasha seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Jangan-jangan kau hamil!" Allegra mengusap perut Sasha dan terlihat berharap.


"Entahlah! Jadwal datang bulanku masih lusa dan biasanya selalu tepat waktu," gumam Sasha pelan


"Kau sudah tidak minum pil kontrasepsi, kan?" Tanya Allegra memastikan.


"Jelas-jelas sudah kau buang kemarin!" Sahut Sasha cepat.


"Aku tak akan melakukannya! Aku tak mau membuat kau, Mami, dan Papi kecewa lagi," ucap Sasha bersungguh-sungguh yang langsung membuat Allegra mengulas senyum tipis.


"Terima kasih atas semua pengertianmu, Sayang!" Allegra menangkup wajah Sasha, lalu mencium kening istrinya tersebut cukup lama.


"I love you!" Gumam Sasha.


"I love you too," balas Allegra yang hendak mencium bibir Sasha, namun ditolak dengan cepat oleh istrinya tersebut.


"Kita sarapan dulu ataua ku akan pingsan nanti," ujar Sasha yang langsung membuat Allegra tergelak. Allegra langsung duduk di kursi, lalu menarik Sadha ke atas pangkuannya.


"Suapi aku!" Titah Allegra pada sang istri.


****


"Oweeek!" Claire meronta dan terus menolak saat Sasha berusaha menyusui bayinya tersebut. Bayi Sasha itu lalu menangis histeris hingga membuat Mami Rachel bergegas menghampiri Sasha ke kamar.


"Ada apa, Sha?" Tanya Mami Rachel khawatir.


"Sasha juga tidak tahu, Mi!"


"Claire menolak terus untuk disusui," cerita Sasha dengan raut sendu.


Baru dua hari Sasha tiba di rumah setelah ia dan Allegra pergi honeymoon kemarin. Dan Claire mendadak jadi enggan menyusu pada Sasha. Bayi otu hanya mau minum ASIP yang dari botol.


"Mungkin dia masih bingung! Biar Mami ambilkan ASIP saja," ujar Mami Rachel seraya menggendong Claire keluar dari kamar. Sasha mengekori Mami Rachel dan Claire ke dapur, lalu ikut melohat kd dalam freezer tempat menyimpan ASIP untuk Claire.


"Stoknya tinggal sedikit, ya, Mi!" Gumam Sasha sedih.


"Kau tidak memompanya saat di pulau kemarin? Bukankah sudah membawa peralatannya?" Tanya Mami Rachel seraya menimang-nimang Claire sembari menunggu ASIP Claire dihangatkan.


"Mendadak tidak keluar, Mi," cerita Sasha sedih.


"Apa itu juga alasan Claire tidak mau menyusu pada Sasha sejak kemarin?" Lanjut Sasha lagi menerka-nerka.


"Sejak kapan tidak keluar? Kau sudah dapat tamu bulanan?" Tanya Mami Rachel penuh selidik.


"Sasha tidak tahu persisnya kapan. Awalnya hanya keluar sedikit, lalu sekarang malah berhenti total," Ujar Sasha menjelaskan.


"Kau sudah dapat tamu bulanan?" Mami Rachel mengulangi pertanyaannya yang kedua.


Sasha tampak mengingat-ingat.


"Sudah telat dua hari dari yang seharusnya, Mi," ujar Sasha seraya meringis.


"Coba kau telepon Allegra dan minta dia membeli testpack saat pulang nanti-" kalimat Mami Rachel belum selesai, saat Allegra ternyata sudah pulang dan menyapa Sasha serta Mami Rachel.


"Ada yang menyebut nama Alle?" Tanya Allegra pada dua wanita tersebut.


Sasha dan Mami Rachel belum menjawab saat Claire sudah kembali merengek.


"Iya, Sayang! Susunya sudah hangat," ujar Mami Rachel yang langsung sigap mengambil susu Claire dan memberikannya pada bayi delapan bulan tersebut.


"Ayo ikut Dad!" Allegra mengulurkan tangannya ke arah Claire dan bayi itu langsung menyambut, lalu bergelayutanja di gendongan Allegra masoh sambil meminum susunya dari dot.


"Mami akan menyuruh supir saja," ujar Mami Rachel akhirnya.


"Menyuruh kemana, Mi?" Tanya Allegra yang kembali menghentikan langkah Mami Rachel.


"Ke apotik membeli testpack. Sadha sudah telat dua hari dan ASI-nya mendadak berhenti," jawab Mami Rachel.


"Alle sudah beli tadi. Ada di tas," ujar Allegra yang ternyata lebih peka.


Sasha segera meraih tas Allegra dan mengambil testpack yang dibeli oleh Allegra.


"Kenapa beli banyak sekali? Satu saja cukup padahal," protes Sasha saat melihat Allegra yang membeli satu kantong penuh testpack. Mungkin ada sekitar sepuluh bungkus testpack di dalam kantong tersebut.


"Untuk cadangan dan jaga-jaga," jawab Allegra seraya terkekeh.


"Biasanya lebih efektif kalau pagi, Mi," ujar Sasha merasa ragu saat Mami Rachel menyodorkan gelas plastik ke tangannya.


"Coba dulu sekarang juga tidak ada salahnya. Nanti kalau masih samar, besok pagi kita ulangi lagi," Usul Mami Rachel yang akhirnya diiyakan oleh Sasha.


Sasha segera masuk ke dalam kamar mandi membawa testpack dan gelas plastik tadi.


"Claire mau punya adik!" Ucap Allegra pada Claire yang tetap sibuk dengan botol susunya.


"Sudah mau punya adik!" Allegra kembali bersenandung penuh harap. Padahal hasilnya saja belum kelihatan.


Sasha sudah keluar lagi dari toilet seraya membawa testpack di tangannya.


"Bagaimana?" Tanya Mami Rachel tak sabar. Allegra tak ikut bertanya,namun suami Sasha itu terlihat menunggu dengan antusias.


"Dua garis!" Sasha menunjuk testpack dengan dua garis merah yang terlihat begitu jelas.


"Selamat!" Mami Rachel langsung memeluk Sasha dengan erat dan terlihat jelas kebahagiaan wanita paruh baya tersebut.


"Yeay! Claire mau punya adik! Bentar lagi punya teman main, ya!" Allegra meluapkan kebahagiaannya dengan menciumi Rachel, lalu lanjut mendekat dan merangkul Sasha dengan erat.


"Selamat!" Ucap Allegra mesra seraya mencium singkat bibir Sasha.


"Selamat untukmu juga, Dad Alle!" Jawab Sasha dengan mata yang dipenuhi binar kebahagiaan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.