
"Ando, sudah!" Pinta Sasha saat Ando hendak melancarkan ronde kedua. Istri Ando itu bahkan sudah berulangkali menguap dan terlihat ogah-ogahan saat melayani Ando.
"Satu kali lagi!" Pinta Ando sedikit memaksa.
"Aku lelah dan mengantuk!" Sasha menguap sekali lagi.
"Aku tidur dulu dan nanti kita lanjutkan," lanjut Sasha sedikit bernegosiasi.
"Ck!" Ando berdecak frustasi. Hasrat Ando masih menggebu sekarang, tapi Sasha malah langsung menyusupkan kepalanya di dada Ando.
"Jangan marah begitu!" Bujuk Sadha seraya mengusap dada Ando. Tak butuh waktu lama, Sasha sudah langsung tertidur di dalam pelukan Ando.
Menyebalkan!
Ando sendiri tak bisa langsung tidur karena kepalanya sedikut pusing gara-gara menahan hasratnya yang masih ingin dilampiaskan. Mustahil juga Ando memperkosa Sasha sekarang, karena sensasinya akan berbeda. Ando meraih ponselnya di atas nakas yang mendadak berbunyi dan menandakan ada pesan masuk.
[Hasil tes DNA sudah keluar. Rafsya putra kandungmu!]
Ando mengulas senyum tipis dan pria itu beranjak perlahan dari atas ranjang, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai membersihkan diri, Ando segera berpakaian, lalu keluar dari kamar tanpa bersuara. Tak berselang lama, deru suara mobil Ando memecah keheningan malam yang sunyi dan terdengar semakin menjauh dari rumah.
Satu minggu sebelumnya...
"Ini adalah tuan rumah acara malam ini sekaligus klien baru kita, Pak Ando!" Ucap seorang rekan kerja Ando seraya menunjuk ke arah seorang wanita yang langsung membuat Ando kaget.
"Marsya!" Gumam Ando yang langsung mengenali wanita di depannya tersebut. Tentu saja Ando kenal karena Marsya adalah teman lama Ando dan pernah terjadi sesuatu di antara mereka dua tahun silam saat pertemuan terakhir Ando dan Marsya.
"Ando!" Marsya ikut bergumam kaget.
"Nona, tuan muda rewel dan mencari anda," bisik seirang maid yang menghampiri Marsya. Namun Ando bisa mendengar bisikan tersebut sekilas. Apa tuan muda yang dimaksud disini adalah putra Marsya?
"Bawa saja kemari!" Titah Marsya pada sang maid.
"Baik, Nona!" Ucap maid tadi sebelum berlalu meninggalkan Marsya.
"Pak Ando sudah krnal dengan bu Marsya?" Tanya rekan kerja yang mengenalkan Ando pada Marsya tadi.
"Kami teman lama!" Jawab Ando cepat.
"Syukurlah kalau begitu! Silahkan lanjut mengobrol, saya akan menemui tamu lain, Pak!" Pamit pria yang merupakan rekan kerja Ando tadi. Ando hanya mengangguk bersamaan dengan maid Marsya tadi yang sudah kembali bersama seorang balita yang Ando taksir berusia satu tahun lebih.
Apa itu anak Marsya?
"Dia putramu?" Tanya Ando setelah Marsya mengambil balita tadi dari gendongan sang maid.
"Ya!" Jawab Marsya cepat.
"Kau sudah menikah? Kenapa tidak mengundangku?" Tanya Ando lagi yang langsung membuat Marsya menatap tajam ke arah Ando.
"Aku belum menikah!" Jawab Marsya tegas.
Ando langsung diam saat kelebat bayangan dua tahun lalu melintas di kepalanya.
"Marsya! Apa yang terjadi semalam?" Tanya Ando yang baru bangun dan sudah mendapati dirinya tanpa sehelai bajupun berada di atas ranjang di sebuah kamar hotel.
"Kau mabuk. Jadi aku mengantarmu ke hotel!" Jawab Marsya yang raut wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Aku melakukan sesuatu kepadamu?" Tanya Ando lagi namub Marsya langsung menggeleng dengan cepat.
"Aku tidur di sofa semalam karena aku sudah ngantuk dan tidak mungkin mengemudi pulang!" Jawab Marsya yang terlihat gugup atau itu hanya perasaan Ando saja?
"Lalu kenapa aku tak memakai apa-apa?" Tanya Ando lagi.
"Mana aku tahu?" Marsya mengendikkan kedua bahunya.
"Aku langsung tidur semalam dan kau masih berpakaian lengkap. Tapi saat pagi aku bangun tadi, kau sudah seperti itu! Aku pikir kau punya kelainan!" Kedua telunjuk Marsya membentuk tanda kutip. Tentu saja Ando ikut bingung sekarang.
"Aku harus pulang lalu ke kantor! Bye!" Pamit Marsya selanjutnya seraya mengayunkan langkahnya ke arah pintu.
"Marsya tunggu!" Panggil Ando lagi.
"Apa lagi?"
"Benar tidak terjadi sesuatu di antar kita semalam?" Tanya Ando memastikan lagi dan Marsya menggeleng sekali lagi.
"Tidak perlu berharap terjadi sesuatu!" Jawab Marsya sedikit ketus sebelum kemudian wanita itu pergi dari kamar Ando dan sedikit membanting pintu.
"Hai-"
"Rafsya!" Ujar Marsya memberitahu Ando nama putranya.
"Hai, Rafsya! Mau ikut Om?" Ando mengulurkan kedua tangannya pada Rafsya, dan balita satu tahun itu langsung menyambut serta tak menolak untuk digendong Ando.
"Apa dia anakku?" Tanya Ando sedikit berbisik pada Marsya karena kalau dilihat sekilas, wajah Rafsya memang mirip wajah Ando.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu? Tidak pernah terjadi apa-apadi antara kita!" Jawab Marsya ketus.
"Tapi perasaanku mengatakan kalau sudah terjadi apa-apa di antara kita malam itu!" Sergah Ando bersikeras. Marsya langsung berdecak.
"Katakan yang sejujurnya, Marsya!" Paksa Ando yang langsung membuang wajahnya.
"Rafsya bukan anakmu dan tak pernah terjadi sesuatu di antara kita!" Ucap Marsya tegas seraya mengambil Rafsya dari gendongan Ando,lalu membawa balita itu masuk ke dalam.
"Aku akan menyelidikinya kalau begitu!" Gumam Ando bertekad dalam hati.
Flashback off
****
Sasha terjaga saat jam di atas nakas menunjukkan pukul setengah enam pagi. Wanita hamil itu meraba-raba tempat tidur di sebelahnya untuk mencari keberadaan Ando.
Tapi kosong!
Ando tak ada di sebelah Sasha.
Apa suami Sasha itu sudah bangun? Tumben sekali.
Sasha akhirnya bangun dan bergegas membersihkan diri, sebelum kemudian wanita itu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Ando.
"Mbak! Apa Ando sudah bangun?" Tanya Sasha pada maid yang sedang menyapu rumah.
"Saya belum melihatnya, Nona! Tapi mobil Pak Ando tidak ada di garasi," lapor maid yang langsung membuat Sasha terkejut.
Ando pergi kemana pagi-pagi?
Disaat bersamaan, terdengar suara pintu depan yang dibuka dari luar. Ando terlihat masuk ke dalam rumah seraya membawa sebuah bungkusan yang sepertinya berisi makanan.
Ando dari mana?
"Hai, Sayang! Kau sudah bangun?" Wajah Ando terlihat berseri dan pria itu langsung menyapa Sasha, sekaligus mencium sekolas bibir Sasha yang masih terlihat bingung.
"Kau darimana, Ando?" Tanya Sasha penuh selidik.
"Mencarikanmu bubur ayam!" Jawab Ando seraya menunjukkan bungkusan makanan yang ia bawa.
"Kapan aku minta bubur ayam?" Tanya Sasha semakin bingung.
"Tadi sekitar jam empat pagi! Kamu maksa-maksa aku dan bilang kalau kamu mau makan bubur ayam!" Jawab Ando dengan raut wajah sangat meyakinkan. Sepertinya suami Sasha itu tidak sedang mengarang cerita.
"Masa, sih?" Sasha masih merasa sangsi.
"Tidak ingat pasti!" Ando mengusap gemas kepala Sasha yangasih terlihat bingung dan berpikir.
"Aku ngelindur apa, ya?" Tanya Sasha seraya menatap pada Ando yang kini mengendikkan kedua bahunya.
"Bisa jadi!"
"Sekarang kamu makan bubur ayamnya!" Titah Ando seraya merangkul Sasha, lalu mengajak istrinya itu untuk masuk ke ruang makan.
"Suapin, Sayang!" Pinta Sasha dengan nada manja pada Ando.
"Manja!" Sahut Ando gemas. Namun akhirnya pria itu tetap menyuapi Sasha dengan mesra.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.