
Suasana hening untuk beberapa saat dan Allegra masih di posisinya semula. Duduk di sofa, bersandar dengan nyaman,lalu mendekap Claire yang sudah terlelap. Allegra juga ikut menejamkan matanya entah tidur atau entah hanya sekedar memejamkan mata.
Sasha segera mengambil Claire perlahan dari dekapan Allegra, saat kemudian kedua mata pria itu terbuka dan tangannya menyentak tangan Sasha.
"Claire sudah tidur, Alle! Pindahkan saja ke box!" Ujar Sasha yang langsung membuat Allegra menggeleng.
"Dia akan bangun jika kau memindahkannya." Allegra sok tahu.
"Tidak akan! Aku akan mengambilnya pelan-pelan!" Sergah Sasha keras kepala. Namun Allegra tetap menolak untuk memberikan Claire, dan pria itu masih mendekap bayi Claire dengan erat.
"Jangan mengganggunya dan jangan keras kepala! Dia putriku!" Klaim Allegra yang tentu saja langsung membuat Sasha berkacak pinggang serta menatap horor pada Allegra.
"Sejak kapan Claire menjadi putrimu?"
"Sejak dulu!" Jawab Allegra asal. Pria itu lanjut mengusap lembut punggung Claire, lalu menciun puncak kepala Claire dimana aroma khas bayi menguar dari sana.
"Jangan menggendong atau memangkunya terus seperti itu, Alle! Nanti Claire akan bau tangan dan minta digendong terus-"
"Maka aku akan menggendong dan memangku terus. Aku sama sekali tak keberatan!" Potong Allegra santai.
"Ck!" Sasha hanya mampu berdecak dan kehilangan kata-kata sekarang. Wanita itu akhirnya menyerah dan tak lagi berusaha untuk mengambil Claire dari pangkuan Allegra. Sasha sudah ikut duduk di samping Allegra yang betah sekali mendekap Claire.
"Kenapa kau tidak pulang, Sha? Semua orang mencemaskanmu," tanya Allegra akhirnya setelah keheningan beberapa saat di antara dirinya dan Sasha.
"Aku tidak mau membebani pikiran Mom," jawab Sasha lirih.
"Lalu kau pikir, dengan kau pergi dan menghilang seperti ini, pikiran Aunty Ghea tak terbebani? Mom dan keluargamu tak merasa khawatir?" Sergah Allegra yang tak paham dengan jalan pikiran Sasha.
"Di hari saat kau pergi, Aunty Ghea dan Uncle Alvin datang ke rumahmu untuk memberikan kejutan-"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Sela Sasha memotong cerita Allegra. Pria itu mengendikkan kedua bahunya, lalu kembali mengecup puncak kepala Claire.
"Ruby yang cerita pada Jasmine. Lalu Jasmine cerita kepadaku."
"Tapi Mom mengatakan padaku waktu itu kalau ia sedang sakit-" Sasha tak melanjutkan kalimatnya dan akhirnya sadar kalau mungkin keluarganya memang sedang menyiapkan kejutan untuk ulang tahun Sasha waktu itu.
Ya, hari dimana Claire lahir, adalah hari yang sama dengan tanggal ulang tahun Sasha. Kini ibu dan anak itu punya tanggal ulang tahun yang sama.
"Kenapa kau tidak pulang saja ke rumah orang tuamu, jika memang Ando menyakitimu, Sha?" Tanya Allegra lagi nyaris tanpa suara.
"Kenapa memaksa bertahan, jika memang kau tidak bahagia dengan pernikahanmu?" Tanya Allegra lagi menuntut jawaban dari Sasha.
"Aku juga baru tahu jika Ando mengkhianatiku, di hari saat aku pergi!" Ujar Sasha mencari alasan.
"Sikap Ando selalu manis di depanku dan pria itu sangat pandai menyimpan rahasia."
"Atau mungkin aku saja yang terlalu bodoh," lanjut Sasha seraya tersenyum kecut.
"Feeling seorang istri biasanya kuat," Allegra kembali mengendikkan bahu.
"Sepertinya itu tak berlaku kepadaku."
"Aku terlalu fokus pada kehamilanku dan aku pikir sukap manis Ando benar-benar tulus," tutur Sasha yang masih tak berhenti merutuki kebodohannya karena bisa dengan sangat mudah dikelabuhi oleh Ando.
"Atau mungkin selama ini kau memang tak mencintai pria itu dan hanya menjadikannya sebuah pelarian. Itulah makanya ikatan batin di antara kalian tidak terjalin dengan kuat," pendapat Allegra yang langsung menyentil hati Sasha.
"Apa maksudmu? Aku selalu berusaha mencintai Ando saat aku memutuskan untuk menerima pinangannya waktu itu!" Sergah Sasha menyanggah pendapat Allegra.
"Ando adalah pilihanku dan aku selalu berusaha menjadi ostri yang terbaik untuknya!"
"Setidaknya sampai aku sadar kalau itu adalah keputusan paling bodoh yang sudah aku ambil karena aku berusaha mencintai seorang pria brengsek yang akhirnya mengkhianatiku dan sama sekali tak peduli pada putri kandungnya!" Beber Sasha blak-blakan seolah sedang menumpahkan segala uneg-uneg di dalam hatinya selama enam bulan ini.
"Claire putriku! Jadi tak perlu menyebutnya sebagai putri dari pria brengsek bernama Ando itu!" Sergah Allegra meng-klaim.
Terserah saja!
Bahkan saat Claire belum lahir, Allegra juga sudah mengklaim Claire sebagai putrinya! Dasar gila!
"Jadi, kau masih berusaha mencintai Ando hingga detik ini?" Tanya Allegra dengan nada mencibir yang langsung membuat Sasha menyalak.
"Apa kau masih harus bertanya?"
Allegra tersenyum tipis dan sedikit membenarkan posisi Claire di dalam dekapannya. Bayi enam bulan itu masih terlelap dengan kepala yang menyandar di dada Allegra, seolah sedang mendengarkan detak jantung Allegra.
"Kau akan mendekap Claire seperti itu sampai kapan?" Tanya Sasha akhirnya memecah kebisuan.
"Sampai Claire tidak mau aku dekap lagi," jawab Allegra yang jarinya sudah ganti mengusap kepala Claire yang sudah mulai ditumbuhi oleh rambut meskipun masih tipis.
Suasana kembali hening, sampai suara ketukan dari luar pintu kamar perawatan, menyentak Sasha dan Allegra.
Sasha beranjak dari sofa dan membuka pintu. Rupanya dokter dan perawat yang membawa hasil test darah Claire.
"Batuknya karena alergi saja dan tak ada indikasi penyakit berat."
"Apa masih muntah-muntah?" Tanya dokter lagi yang langsung dijawab Sasha dengan gelengan kepala. Sementara Claire masih nyaman berada di dekapan Allegra yang sama sekali tak beranjak sejak tadi.
"Clairesysah bisa dibawa pulang kalau begitu. Tapi pastikan untuk selalu menjaga kebersihan kamarnya dan sebisa mungkin hindarkan dari paparan asap rokok serta polusi lain," nasehat dokter pada Sasha yang sudah ganti mengangguk.
"Baik, Dokter! Akan saya usahakan."
"Apa Claire sudah bisa diajak naik pesawat, Dok?" Tanya Allegra sebelum dokter keluar dari kamar perawatan.
"Sebaiknya jangan dulu, Pak! Karena kondisinya masih ringkih dan resikonya terlalu besar."
"Nanti kalau batuknya sudah membaik dan pulih,barulah Claire bisa diajak bepergian," jawab dokter memberikan penjelasan.
"Baik, Dokter! Terima kasih penjelasannya," ujar Allegra seraya mengulas senyum.
Dokter akhirnya berpamitan setelah tak ada lagi yang ditanyakan oleh Sasha maupun Allegra. Sasha kembali menghampiri Allegra yang masih betah mendekap Claire.
"Claire sudah boleh pulang," Sasha kembali mengingatkan Allegra.
"Ya! Nanti kita pulang ke rumah yang aku sewa sementara di kota ini." Jawab Allegra membuat keputusan sepihak.
"Aku punya tempat tinggal sendiri, Alle!" Sergah Sasha menolak.
"Dimana? Sudah memenuhi syarat seperti yang dikatakan dokter tadi? Bebas dari debu, asap, dan polusi?" Cecar Allegra yang langsung membuat Sasha kehilangan kata-kata.
Kontrakan yang disewa Sasha sama sekali tak memenuhi syarat kelayakan untuk Claire tinggal. Dan mungkin itu juga yang membuat Claire jatuh sakit.
Claire sudah mulai menggeliat di dalam dekapan Allegra, segera Allegra bangkit berdiri untuk menimangnya. Namun Claire tetap berontak hingva akhirnya bayi enam bulan itu mulai menangis.
"Mungkin dia haus." Sasha mengambil Claire dari gendongan Allegra dan sigap menyusui bayinya tersebut.
Benar saja, Claire langsung menyusu dengan lahap seolah bayi itu sudah sangat kelaparan.
"Aku akan mengurus administrasi dulu, dan jangan membawa Claire kabur dari sini!" Pesan Allegra sedikit menyindir Sasha. Pria itu sudah keluar dari kamar perawatan sebelum Sasha sempat menjawab.
Dasar Allegra menyebalkan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.