Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
PERHATIAN



Allegra terkejut saat membuka lemari baju dan mendapati lemari tersebut kosong!


Apa?


Kemana perginya baju-baju Allegra?


Apa Sasha membuangnya?


"Sha!" Panggil Allegra seraya kembali menitup pintu lemarinya, lalu berjalan ke arah pintu kamar untuk mencari Sasha.


"Sha-"


"Apa? Mencari bajumu yang hilang?" Sahut Sasha yang sudah muncul dari pintu kamar seraya membawa baju Allegra di tangannya.


"Kau kemanakan baju-bajuku? Membuangnya?" Cecar Allegra penuh selidik.


"Ck! Aku bawa ke belakang agar diseterika oleh Mbak Lina!" Jawab Sasha seraya berdecak.


"Ini, untuk kau pakai!" Ujar Sasha lagi seraya menyodorkan baju yang tadi ia bawa pada Allegra.


"Pakaikan," pinta Allegra manja.


"Dasar sinting! Memangnya aku istrimu?" Sahut Sasha seraya bersungut.


"Aku tak keberatan kau menjadi istriku," ujar Allegra blak-blakan yang langsung membuat Sasha terdiam.


"Pakai sendiri! Aku akan menyiapkan makanan untukmu!" Ucap Sasha akhirnya setelah wanita itu mampu menguasai dirinya. Namun baru saja Sasha melanglah ke arah pintu kamar, Claire sudah kembali bangun dan menangis.


"Oweeek!"


"Claire menangis, Sha!" Lapor Allegra yang langsung membuat Sasha berdecak.


"Iya, aku tahu!" Sasha langsung naik ke atas ranjang tanpa peduli pada Allegra yang tak kunjung memakai bajunya. Sasha lanjut menyusui Claire dengan posisi berbaring miring, karena sepertinya Claire juga masih mengantuk.


"Tidak jadi menemaniku makan?" Tanya Allegra yang sudah ikut-ikutan naik ke atas ranjang dan kini berada di belakang Sasha. Aroma sabun langsung menguar dari tubuh Allegra yang akhirnya memakai kaus lengan pendek serta celana rumahan selutut yang tadi dibawa oleh Sasha.


"Tunggu Claire tidur dulu," jawab Sasha bergumam, namun tentu saja Allegra tetap bisa mendengarnya.


"Jangan ikutan tidur!" Ujar Allegra yang tangannya sudah kembali terulur dari balik punggung Sasha, lalu mengusap-usap pipi Claire yang bergerak-gerak pelan karena mulut mungil bayi itu yang masih aktif menghisap pay*dara Sasha.


Padahal Allegra sangat bisa mengusap pipi Claire dari sisi satunya, lalu kenapa pria itu malah berada di balik punggung Sasha?


"Full ASI, ya?" Tanya Allegra membuka obrolan.


"Ya! Harga sufor mahal," jawab Sasha sekenanya.


"ASI lebih mahal karena langsung dari sumbernya dan tidak dijual di toko," pendapat Allegra yang hanya membuat Sasha tersenyum simpul.


"Lalu kapan Claire sudah bisa diberikan bubur? Udianya kan sudah enam bulan," tanya Allegra lagi.


"Tepat enam bulannya baru lusa. Jadi mungkin lusa baru mulai MPASI," terang Sasha yang langsung membuat Allegra mengangguk. Tangan Allegra masih aktif mengusap pipi dan kadang kepala atau punggung Claire yang sudah mulai terlelap lagi.


"Besok kita belanja keperluan Claire, ya!" Ajak Allegra selanjutnya.


"Keperluan apa?" Tanya Sasha bingung.


"Box bayi, stroller, baju-baju Claire, lalu alat untuk MPASI-nya Claire juga."


Sasha tak kepikiran untuk membawa semua itu karrna ia pergi dengan terburu-buru waktu itu. Bahkan baju-baju Claire yang sudah Sasha siapkan juga tidak ada yang Sasha bawa. Jadilah saat Claire lahir, Sasha hanya membeli baju bayi seadanya dan dadakan. Dan Sasha tak membeli perlengkapan bayi lagi seperti stroller atau box bayi setelahnya, karena Sasha benar-benar harus berhemat.


"Sha!"


"Tidak usah beli box bayi," jawab Sasha dengan suara yang parau karrna menahan airmatanya yang mendadak ingin mendesak keluar. Claire sudah kembali terlelap dan sudah melepaskan pay*dara Sasha dari mulut mungilnya juga.


"Kau menangis?" Tanya Allegra saat Sasha bangun dan duduk. Allegra sudah ikut bangun dan memeriksa wajah Sasha untuk memastikan.


"Ada apa? Apa aku salah bicara?" Tanya Allegra bingung dan Sasha langsung menggeleng.


"Tadi katanya kau mau makan?" Sasha mengalihkan pembicaraan dan mengusap airmata yang menggenang di pelupuk matanya, lalu menghela nafas dalam-dalam.


"Ayo makan berdua!" Ajak Allegra seraya merangkul Sasha yang hanya mengangguk.


Allegra membenarkan selimut Claire sekali lagi sebelum ia dan Sasha keluar dari kamar dan selanjutnya menuju ke ruang makan.


"Mbak Lina mau makan lagi?" Tawar Allegra pada Mbak Lina yang masih sibuk menyetrika baju-bajunya.


"Tidak, Pak! Masih kenyang!" Jawab Mbak Lina menolak halus.


"Oh, yasudah! Nanti kalau lapar langsung makan saja, Mbak! Dan besok Mbak Lina tolong ke pasar dekat sini, ya! Untuk belanja keperluan dapur serta isi kulkas," pesan Allegra pada Mbak Lina.


"Iya, Pak!" Jawab Mbak Lina patuh.


Allegra lanjut menyusul Sasha yang sudah terlebih dahulu samlai di ruang makan, dan mengambilkan nasi untuk Allegra.


"Kenapa tidak menyewa asisten rumah tangga?" Tanya Sasha membuka obrolan.


"Itu, sudah ada Mbak Lina," jawab Allegra santai seraya meraih sepotong ayam goreng tepung dari dalam piring, lalu melahapnya.


"Maksudku sebelum aku dan Mbak Lina kesini." Sasha mengoreksi pertanyaannya.


"Kau tinggal sendiri disini sebelum aku datang. Sudah berapa lama?" Tanya Sasha lagi penuh selidik.


"Baru dua minggu." Jawab Allegra santai.


"Tapi kenapa kita tidak pernah bertemu sebelumnya, ya? Padahal kita berada di kota yang sama," ujar Allegra lagi bertanya-tanya.


"Mana aku tahu?" Sasha mengendikkan kedua bahunya seperti yang sering dilakukan oleh Allegra.


"Kau sibuk dengan pekerjaanmu mungkin," sambung Sasha lagi menerka-nerka.


"Benar juga!" Allegra tertawa kecil lalu lanjut menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Tak ada obrolan lagi setelah itu dan yang terdengar hanya denting peralatan makan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.