
"Sudah dibilang untuk tidak terlalu banyak menggendong Claire!" Omel Mami Rachel saat Sasha menggendong Claire dari bouncher menuju ke halaman belakang.
"Sasha hanya mau membawa Claire duduk di halaman belakang, Mi!" Sergah Sasha mencari alasan.
"Kan ada stroller, Sha!" Mami Rachel tetap bersikeras dan sepertinya khawatir sekali pada kehamilan palsu Sasha.
Ya ampun!
"Ada apa ini, Mi?" Tanya Allegra yang ternyata sudah pulang dari kantor. Sasha melirik ke jam di tangan Allegra dan sedikit heran karena Allegra pulang dua jam lebih awal. Apa ada acara?
"Mami hanya mengingatkan Sasha yang ngeyel ini agar tak sering-sering menggendong Claire, Alle!"
"Claire kan sekarang semakin gemuk dan Sasha juga tengah hamil," Terang Mami Rachel yang langsung membuat Allegra merangkul dan mengusap perut Sasha.
"Jangan ngeyel, Mom Sasha!" Allegra masih mengelus-elus perut Sasha.
"Apa, sih? Masih kosong juga," bisik Sasha seraya menyikit perit Allegra.
"Kata siapa masih kosong? Sudah jadi ini di dalam. Setiap malam kan aku lembur dan rajin menebar benih," ujar Allegra ikut-ikutan berbisik juga. Namun jawaban Allegra hanya membuat Sasha mengulas senyum tipis sekaligus merasa bersalah.
Bagaimana bisa jadi kalau setiap malam Sasha selalu menelan pil kontrasepsi sebelum ia bercinta dengan Allegra?
"Tumben jam segini sudah pulang?" Sasha akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Aku kangen padamu dan pada Claire." Allegra mengecup bibir Sasha, sebelum kemudian pria itu menghampiri Claire yang berada di pangkuan Mami Rachel. Allegra langsung menggendong bayi tersebut dan mulai mengajaknya bercengkerama.
"Claire sudah mulai belajar merangkak," Mami Rachel memberikan info pada Allegra.
"Benarkah?" Allegra langsung mendudukkan Claire di atas rerumputan, lalu sedikit memancing bayi tersebut agar mulai bergerak ke arahnya.
"Kesini, Claire! Ayo, datang ke Daddy!" Pancing Allegra yang langsung membuat Claire tertawa lucu. Bayi itu lanjut melakukan bubbling dan mengulurkan tangannya ke arah Allegra.
"Kesini!" Pancing Allegra lagi.
Claire kembali tertawa dengan begitu menggemaskan.
"Ayo, Princess!"
Claire akhirnya mulai mengangkat bokong dan menapakkan tangannya ke rerumputan.
"Brrrrrrb!" Claire melakukan bubbling dan mulai merangkak ke arah Allegra. Namun baru satu gerakan bayi itu sudah berhenti dan kembali duduk.
"Ayo, sini! Kenapa berhenti?" Allegra mulai gemas sekarang.
"Kamu ajari merangkak, Alle! Jangan hanya disuruh-suruh begitu!" Decak Mami Rachel berkomentar.
"Ayo merangkak bersama Mom, Claire!" Sasha yang akhirnya turun tangan dan mengambil posisi merangkak di atas rumput, demi mengajari Claire.
"Ayo!" Sasha memberikan semangat pada Claire yang malah cekikikan karena melihat Sasha yang kini merangkak bolak-balik di depan Claire.
"Ayo, Claire!" Ajak Sasha lagi masih sambil merangkak, saat kemudian Mami Rachel tiba-tiba menghampiri Sasha.
"Sha, ini apa?" Tanya Mami Rachel seraya menunjuk ke bagian bawah dari dress yang Sasha kenakan siang ini. Dress berwarna biru muda itu menampakkan sebuah bercak merah kecoklatan di bagian bawah belakang.
"Seperti bercak darah, Mi," gumam Allegra setelah ikut memeriksa.
"Kamu pendarahan?" Tanya Mami Rachel yang langsung panik dan khawatir. Mami Rachel bahkan sudah membimbing Sasha untuk berdiri sembari berteriak memanggil Mbak Lina agar mengambil Claire.
"Alle! Kita harus ke rumah sakit!" Mami Rachel ganti berucap pada Allegra dengan nada tegas, karena putranya itu terlihat bingung dan melamun.
Bagaimana Allegra tidak merasa bingung,jika kehamilan Sasha saja hanya sandiwara selama ini.
Atau mungkinkah Sasha memang sudah hamil dan istri Allegra itu benar-benar sedang pendarahan sekarang?
"Alle! Kenapa kamu malah melamun?" Tegur Mami Rachel geram.
"Eh, iya, Mi! Bagaimana?"
"Ayo kita bawa Sasha je rumah sakit sebelum hal buruk terjadi pada calon cucu Mami-"
"Mi!" Sasha menyela kalimat Mami Rachel dan raut wajah wanita itu malah tak terlihat panik sama sekali.
"Ada apa? Perut kamu sakit?" Cecar Mami Rachel yang masih panik.
"Bukan," jawab Sasha cepat. Wanita itu meringis, lalu menatap sejenak pada Allegra seolah minta izin untuk membuat sebuah pengakuan. Tak ada respon dari Allegra!
"Sasha rasa, kita tidak perlu ke rumah sakit, Mi!" Sasha mengusap lembut lengan Mami Rachel.
"Tapi kamu pendarahan, Sha!"
"Sasha pendarahan?" Suara Papi Sean terdengar dari dalam rumah dan pria paruh baya itu langsung mendekat ke arah Sasha untuk memastikan. Pun dengan Jasmine yang turut mendengar keributan di halaman belakang. Gadus itu sudah ikut bergabung bersama anggota keluarga Kyler yang lain.
"Kak Sasha pendarahan?" Jasmine memeriksa bagian belakang dress biru Sasha.
"Bukan! Itu bukan pendarahan!" Sergah Sasha cepat seraya menatap bergantian pada semua anggota keluarga Kyler.
"Sebenarnya...." Sasha merasa ragu untuk membuat pengakuan. Tapi jika Mami Rachel dan Papi Sean memabwanya ke rumah sakit, semuanya malah akan bertambah runyam.
"Sasha hanya butuh-" Sasha belum menyelesaikan kalimatnya saat Alle tiba-tiba sudah merangkul pundaknya.
"Ayo ke rumah sakit untuk memastikan!" Ucap Allegra yang tanpa basa-basi langsung menggendong Sasha ala bridal.
"Alle, aku bisa jalan sendiri!" Cicit Sasha menprotes tindakan berlebihan Allegra.
"Dan aku tidak sedang hamil!" Ujar Sasha lagi berbisik pelan, agar anggota keluarga Kyler yang kini mengekor di belakang Allegra tak mendengarnya.
"Aku hanya sedang datang bulan, Alle!" Ucap Sasha sekali lagi berusaha memberitahu Allegra.
"Apa katamu?"
"Aku sedang datang bulan dan ini bukan pendarahan!"
"Aku hanya butuh pembalit dan tak perlu ke dokter," cicit Sasha lagi dengan nada lebih tegas. Allegra menghentikan langkahnya di dekat mobil, saat Papi Sean sudah membukakan pintu mobil agar Allegra bisa memasukkan Sasha ke dalam mobil.
"Kita akan ke dokter untuk memastikan. Firasatku mengatakan kalau kau sedang hamil sekarang!" Pungkas Allegra setelah pria itu diam sejenak. Sasha tak sempat protes atau berkutik karena Mami Rachel sudah ikut masuk ke mobil dan duduk di sampingnya.
"Sebaiknya kau berbaring agar kandunganmu baik-baik saja, Sha!" Mami Rachel membimbing Sasha agar berbaring, lalu mertua Sasha itu juga memangku kepala Sasha, bersamaan dengan mobil yang sudah melaju menuju ke rumah sakit.
Mati kau, Sasha!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.