Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
APARTEMEN



"Feeling seorang istri biasanya kuat."


Sasha mengusap wajahnya sendiri, sebelum kemudian wanita itu memutuskan untuk keluar dari kamar dan menyusul Allegra ke apartemennya.


Ya, Sasha yakin Allegra pasti pergi ke apartemen untuk menemui Neeta seperti tadi yang pria itu katakan di telepon entah pada siapa.


"Sha! Mau kemana?" Tanya Mami Rachel yang melihat Sasha keluar seraya membawa tas di pundaknya.


"Ada keperluan sebentar, Mi!"


"Mami tahu Allegra kemana? Dia tak ada di kamar saat Sasha bangun tadi," tanya Sasha sedikit berbasa-basi pada Mami Rachel.


"Iya, tadi Allegra memang pergi pagi-pagi katanya ada keperluan di kantor. Dia juga mengatakan kalau kau masih tidur dan minta Mami untuk menyampaikan," jelas Mami Rachel yang langsung membuat Sasha mengangguk.


Keperluan di kantor?


Kenapa Allegra harus berbohong?


"Jadi, kau mau kemana? Ke rumah Mom kamu?" Tanya Mami Rachel lagi.


"Iya!" Jawab Sasha berdusta.


"Mom!"


"Mom!" Panggil Claire setaya menghampiri Sasha yang langsung berlutut dan hendak menggendong putrinya yang kini sudah bisa berjalan tersebut. Namun mami Rachel langsung mencegah dengan cepat.


"Jangan menggendong Claire dulu, Sha!" Ujar Mami Rachel mengingatkan Sasha pada kandungannya yang sudah masuk usia empat bulan.


"Iya, Mi! Sasha hanya memeluk Claire," ujar Sasha seraya memeluk Claire dan mendadak kedua mata Sasha terasa memanas.


Benarkah Allegra masih berhubungan dengan Neeta?


Benarkah Allegra selingkuh di belakang Sasha?


Tapi kenapa?


Sasha mendongakkan kepalanya demi menahan airmatanya agar tak jatuh. Wanita itu sudah selesai memeluk Claire dan langsung bangkit berdiri dengan cepat.


"Sasha pergi dulu, Mi!" Pamit Sasha akhirnya pada Mami Rachel.


"Hati-hati!" Pesan Mami Rachel yang hanya membuat Sasha mengangguk. Wanita hamil itu segera masuk ke mobil dan meluncur meninggalkan kediaman Kyler.


****


"Alle!" Sapa Neeta tak oercaya saat melihat Allegra yang berdiri di depan pintu apartemen dan baru selesai menekan bel.


"Ayo masuk!" Ajak Neeta dengan raut wajah berbinar. Wanita itu juga sudah meraih tangan Alle dan membimbingnya untuk masuk ke dalam apartemen.


"Aku yakin kau pasti akan pulang lagi kesini-"


"Kau sering datang kemari?" Tanya Allegra memotong kalimat Neeta. Allegra sedikit mundur untuk menjaga jarak dari Neeta. Namun Neeta yang mengetahui hal tersebut malah semakin mendekat ke arah Allegra dan bergelayut pada mantan suaminya tersebut.


Baiklah!


Allegra merasa kesal sekarang!


"Hanya kadang-kadang saat aku merindukanmu." Neeta berbicara dengan nada sensual seolah sedang menggoda Allegra.


"Aku pikir, kau mungkin akan pulang kesini sewaktu-waktu. Jadi aku selalu mempersiapkan diri agar siap menyambutmu saat kau pulang," lanjut Neeta lagi yang benar-benar membuat Allegra merasa illfeel. Allegra langsung berusaha menyingkirkan lengan Neeta yang masih bergelayut di lehernya, namun seperti biasa. Mantan istri Allegra ini benar-benar keras kepala.


Ck!


Seharusnya Allegra tak perlu menyetujui ide konyol Haezel ini!


"Kau merindukanku, Allegra sayang?" Tanya Neeta selanjutnya masih dengan nada menggoda.


Allegra tak mau menjawab dan hanya menipiskan bibirnya. Neeta lalu tanpa rasa malu langsung membuka kancing kemeja Allegra, namun tangan Allegra dengan cepat menepisnya.


"Neeta, aku dengar kau pemakai sekarang," Allegra mengalihkan pembicaraan dan ingin langsung pada inti.


"Itu hanya gosip murahan!" Jawab Neeta ketus.


"Benarkah? Padahal aku pikir kau benar-benar pemakai dan tahu informasi dimana mendapatkan barang itu." Allegra mengendikkan kedua bahunya.


"Kenapa mendadak kau ingin tahu info itu?" Neeta mengernyit curiga.


Allegra tak menjawab,dan pria itu malah mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah plastik kecil berisi bubuk warna putih. Allegra menggoyang-goyangkannya di depan wajah Neeta.


"Oh astaga! Ternyata kau sekarang begitu nakal, Alle!" Neeta kembali bergelayut pada Allegra.


"Kau mau? Tapi ini barangku yang terakhir," Tawar Allegra pada Neeta yang sudah begitu tergoda.


"Aku akan membantumu untuk mendapatkannya lagi. Aku tahu dimana harus mendapatkannya." Neeta sudah mengambil bubuk putih yang Allegra tunjukkan tadi dan menghirupnya dengan rakus.


"Kau mau juga, Sayang?" Tawar Neeta seraya menyodorkan pada Allegra yang langsung refleks menjauh.


"Kau memang selalu pengertian, Alle!"


"Sudah dua hari aku tak bisa membelinya karena-" Neeta tak melanjutkan kalimatnya dan wanita itu mulai terlihat seperti orang mabuk.


Dasar gila!


"Karena kau tidak punya uang?" Tebak Allegra melanjutkan kalimat Neeta.


"Job sedang sepi dan semua orang seolah sudah bosan dengan tubuhku!" Raut wajah Neeta sudah berubah sendu.


"Tapi aku yakin kau tidak akan pernah bosan padaku, Alle!" Neeta kembali bergelayut pada Allegra masih sambil menghirup barang haram di tangannya tadi.


"Aku akan membeli dalam jumlah besar dan kau hanya perlu memberikan aku informasi." Allegra merayu Neeta sekali lagi. Dan Neeta yang sudah mabuk kepayang menyebutkan sebuah nama sekaligus info lengkap seorang bandar pada Allegra. Tentu saja semua informasi itu juga langsung didengar oleh seseorang yang sejak tadi tersambung di telepon melalui ponsel Allegra.


"Kau akan membelikan untukku juga, kan?" Tanya Neeta bersamaan dengan bel pintu depan yang berbunyi.


Cepat sekali Haezel datang!


"Siapa itu?" Tanya Neeta yang sudah benar-benar mabuk.


"Biar aku yang buka." Allegra menyingkirkan lengan Neeta dari lehernya, lalu pria itu bangkit berdiri untuk membuka pintu.


Namun alangkah terkejutnya Allegra saat pria itu mendapati Sasha yang kini berdiri di depan pintu dengan raut wajah marah sekaligus kecewa.


"Sasha! Kau sedang apa disini-" kalimat Allegra belum selesai saat Sasha sudah mendorong pria itu, lalu merangsek masuk.


Di sofa, Sasha langsung bisa melihat Neeta yang kini berbaring memakai baju seksinya serta menggeliat-geliat efek barang haram tadi.


Sial!


"Allegra Sayang, siapa yang datang?" Tanya Neeta dengan nada sensual yang langsung membuat airmata Sasha meluncur turun.


"Sasha, aku bisa menjelaskannya," Allegra dengan cepat merengkuh kedua pundak Sasha namun istrinya itu langsung menyentaknya.


"Aku pikir selama ini kau benar-benar tulus." Air mata Sasha sudah jatuh berlinang.


"Sasha, ini tak seperti yang kamu bayang-"


"Dasar baj*ngan!" Maki Sasha memotong kalimat Allegra.


Sasha langsung berlari ke arah pintu dan meninggalkan Allegra yang langsung berusaha untuk mengejarnya.


Dan tepat di pintu apartemen, Sasha menabrak Haezel yang baru datang.


"Sasha?"


Sapaan Haezel hanya diabaikan oleh Sasha yang langsung berlari ke arah lift.


"Sasha! Tunggu!" Panggil Allegra yang sudah berlari mengejar Sasha. Namun terlambat karena lift sudah bergerak turun


Dasar brengsek!


Tak berselang lama, terdengar jeritan Neeta dari dalam apartemen yang sepertinya menolak untuk digelandang oleh beberapa polisi yang tadi datang bersama Haezel.


"Lepaskan aku!"


"Aku bukan pemakai!"


"Allegra! Tolong aku" Neeta memanggil Allegra yang hanya menatap datar ke arah Neeta.


"Dia juga pemakai!"


"Tangkap dia!" Neeta kembali berteriak dan menunjuk-nunjuk pada Allegra. Namun tentu saja tak ada yang menghiraukan teriakan nona model itu.


"Kenapa Sasha ada disini?" Tanya Haezel yang sudah menghampiri Allegra. Raut wajah sepupu Sasha itu terlihat bingung.


"Sasha sudah salah paham-"


"Kau belum mengatakannya pada Sasha?" Sela Haezel menatap tak percaya pada Allegra.


"Aku hanya tidak mau Sasha berpikir macam-macam! Dia sedang hamil, Ezel!" Allegra mencari alasan.


"Ck! Ayo aku bantu menjelaskan pada istrimu!" Haezel menarik tangan Allegra, lalu mengajak pria itu naik lift dan tirun ke lantai bawah.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.