
"Nona, kita mau kemana?" Tanya maid Sasha yang merasa bingung, karena tadi Sasha yang baru tiba di rumah sudah bersimbah airmata dan menyuruh asisten rumah tangganya tersebut untuk berkemas dengan cepat. Sasha seperti sedang terburu-buru dan tanpa penjelasan apapun, Sasha langsung mengajak asisten rumah tangganya itu untuk pergi naik tajsi ke terminal terdekat, lalu keduanya naik bus yang entah akan menuju kemana.
Semua pertanyaan yang dilontarkan oleh asisten rumah tangga Sasha tersebut tak ada satupun yang dijawab oleh Sasha. Wanita hamil itu hanya menangis tersedu sepanjang perjalanan, seolah sedang menanggung luka yang teramat berat.
"Nona!"
"Udah, pokoknya Mbak Lina ikut saja!" Jawab Sasha sesenggukan.
"Tapi Nona Sasha jangan menangis terus! Kasihan adek bayi yang di dalam," nasehat Mbak Lina berusaha menenangkan sang majikan yang terus saja sesenggukan. Sasha hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya di pubdak Mbak Lina yang sudah Sasha anggap sebagai saudarinya tersebut.
"Mbak bawa ponsel?" Tanya Sasha setelah sedikit lebih tenang.
"Bawa, Non!" Mbak Lina menunjukkan ponselnya pada Sasha.
"Mbak simpan dulu semua kontak keluarga Mbak Lina. Nanti begitu turun, Mbak ganti nomor, ya! Biar Ando nggak bisa melacak keberadaan kita!" Pesan Sasha yang terang saja langsung membuat Mbak Lina mengernyit bingung.
"Kenapa begitu, Non?"
"Udah pokoknya Mbak Lina nurut saja-"
"Aduh!" Sasha meringis saat wanita hamil itu merasakan sakit di perutnya.
"Non! Ada apa?"
"Nggak tahu, Mbak! Perut aku kontraksi tapi kenapa sakit sekali," Sasha berusaha menarik nafas panjang dan kembali meringis menahan rasa sakityang menjalar dari panggul lalu naik ke punggung dan ke perutnya.
"Sakit sekali, Mbak!" Ringis Sasha seraya menggigit bibir nawah dan menggenggam erat tangan Mbak Lina.
"Saya rasa Non Sasha mau melahirkan!"
"Saya kasih tahu pak sopir dulu, ya!" Mbak Lina bergegas menuju ke nagian depan bus untuk menemui kondektur bus. Tak berselang lama, mbak lona sudah kembali bersama kernet bus yang terlihat panik.
"Rumah sakitnya masih beberapa kilo lagi, Bu! Tahan dulu, ya!"
"Mana bisa tahan, Pak! Sudah mau melahirkan ini!" Gerutu Mbak Lina pada kernet bus.
"Iya lalu bagaimana? Masa mau melahirkan di dalam bus?"
"Suruh pak sopir lebih cepat, Pak!" Pinta Sasha masih sambil meringis. Mbak Lina segera membantu Sasha untuk berpindah ke kursi paling belakang, agar ibu hamil itu bisa berbaring.
"Sabar dulu, Adik bayi! Jangan lahir dulu di bus, ya!" Mbak Lina mengusap-usap perut Sasha dan berusaha membujuk bayi Sasha agar tak mendesak keluar. Setelah menunggu hampir lima belas menit,bus akhirnya berhenti di sebuah klinik bersalin yang berada di tepi jalan antar kota. Mbak Lina dan kernet bus segera membantu Sasha untuk turun dan masuk ke dalam klinik.
Melahirkan di sebuah klinik di kota asing bukanlah rencana Sasha sejak awal. Tapi inilah yang kini terjadi. Sasha tidak mau lagi bertemu dengan Ando yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya. Lalu Sasha juga tidak mungkin pulang ke rumah Mom dan Dad karena kondisi Mom Ghea yang sedang sakit. Sasha tidak mau Mom kandungnya itu semakin drop setelah tahu tentang hancurnya rumah tangga Sasha bersama Ando.
Biarlah sekarang Sasha menenangkan diri di kota asing ini bersama Mbak Lina dan putri kecilnya yang baru saja Sasha lahirkan. Sasha akan memulai hidup baru dan berusaha untuk membesarkan sang putri.
"Cantik, seperti Non Sasha!" Puji Mbak Lina seraya mengusap lembut pipi gembil bayi Sasha yang masih merah.
"Sudah menyiapkam nama, Non?" Tanya Mbak Lina lagi. Dan Sasha langsung mengangguk.
"Claire!"
"Claire Allesha!"
****
"Sha!" Ando membuka kasar pintu rumah dan langsung mendapati rumah yang kosong seolah tak berpenghuni.
"Sasha!" Panggil Ando yang ganti membuka pintu kamar. Namun Sasha juga tak ada di sana.
"Mbaak!" Ando ganti memanggil sang asisten rumah tangga. Namun sama sekali tak ada jawaban.
"Mbak! Mbak Lina!" Panggil Ando sekali lagi seraya membuka pintu kamar Mbak Lina. Namun kamar kosong dan gelap,menandakan kalau asisten rumah tangga Sasha dan Ando itu kuga tidak berada di rumah.
"Brengsek! Sasha kemana?" Ando menyugar rambutnya dengan frustasi, lalu berusaha menghubungi nomor Sasha.
Tidak tersambung!
Ando semakin frustasi saat cecaran kalimat dari Marsya kembali terngiang di benaknya.
"Dia... dia Sasha!"
"Sasha siapa? Jangan bilang kalau dia istrimu juga!"
"Iya, dia istriku!"
"Maaf karena aku tidak jujur! Tapi aku mencintaimu, Sya! Dan aku juga berniat menjelaskan pada Sasha tentang pernikahan kita." Ando memohon pada Marsya.
"Lalu jika Sasha keberatan? Seharusnya kau minta izin dulu pada Sasha sebelum menikahiku! Bukannya menikahiku dulu baru minta izin!"
"Keterlaluan kamu, Ando!"
"Kamu mau menjadikan aku perusak rumah tanggamu bersama Sasha!" Emosi Marsya sudah tan terkendali dan wanita itu memukul Ando dengan membabi buta.
"Aku tak bermaksud seperti itu! Aku hanya mau menjadi pria yang bertanggung jawab!" Sergah Ando mencari pembenaran.
"Aku tidak mau jadi pria brengsek yang menghamilimu, lalu seenaknya hidup bersama wanita lain-"
"Lalu kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Sasha? Wanita itu pasti hancur!"
"Sasha pasti mengerti, Marsya!"
"Aku akan pulang dan menjelaskan semuanya pada Sasha!"
"Aku mencintaimu dan juga mencintai Sasha! Aku akan adil pada kalian berdua!"
"Serakah kamu!" Maki Marsya kesal.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Ando frustasi.
"Pulang dan susul Sasha! Lalu ceraikan aku! Hubungan kita cukup sampai disini!"
"Tidak bisa begitu, Sya! Aku mencintaimu dan aku..."
"Aku butuh kamu!" Wajah Ando sudah memelas.
"Aku butuh kamu dan Sasha dan aku tak bisa memilih salah satu diantara kalian berdua-"
Plak!!
Tamparan keras Marsya langsung mendarat di pipi Ando.
"Pergi kau, Pria brengsek!" Usir Marsya selanjutnya pada Ando.
"Aku ayah kandung dari Rafsya, Marsya! Kau tidak bisa mengusirku-"
"Tentu saja aku bisa! Dasar pria baj*ngan serakah! Pergi sana! Pergi dari hidupku dan juga Rafsya!" Marsya mendorong Ando sekuat tenaga agar pria itu keluar dari kamar perawatan Rafsya. Marsya lalu membanting pintu dan memeluk sang putra sembari menangis tergugu.
"Aaarrrgh!" Ando berteriak frustasi karena pria itu tak dapat lagi menghubungi Sasha. Ando menatap pada foto pernikahannya bersama Sasha yang terpajang di ruang tamu, lalu pria itu memangis penuh sesal.
"Kau dimana, Sha?"
"Kau ada dimana?"
.
.
.
Di mana-mana hatiku senang.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.