Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
IDE ALLEGRA



"Menikahlah denganku, Shabrina Algheano Sanjaya!" Allegra mengulangi ucapannya dan kali ini pria itu menyebut nama Sasha dengan lengkap. Sasha hanya diam dan tak menjawab permintaan Allegra tersebut.


Bukan Sasha tak ingin menjawab. Tapi Sasha merasa bingung harus menjawab apa. Terakhir kali dirinya dan Allegra menjalin hubungan, keluarga besar mereka sudah terang-terangan menolak karena Sasha dan Allegra adalah sepupu satu buyut.


Padahal kalau ditelusur, hubungan darah mereka sebenarnya cukup jauh. Mungkin kalau Allegra adalah anak dari Uncle Galen yang jelas-jelas adalah abangnya Mom Ghea, alasan ini akan terdengar masuk akal. Tapi kan Allegra adalah anak dari Aunty Rachel yang statusnya hanya sepupu dari Mom Ghea.


Entahlah!


Ini benar-benar rumit dan membingungkan.


"Sha!" Tegur Allegra membuyarkan lamunan Sasha tentang hubungan sepupu satu buyut.


"Kenapa diam? Kau mau menikah denganku?" Pinta Allegra sekali lagi.


"Tidak semudah itu, Alle!" Jawab Sasha lirih.


"Kenapa memang? Kau mencintai pria lain?" Tanya Allegra yang raut wajahnya sudah berubah kecewa.


"Bukan itu!" Sergah Sasha cepat. Sasha mengusap-usap punggung Claire yang sudah terlelap di dadanya. Namun mulut mungil bayi itu masih belum berhenti menghisap ASI dari pay*dara Sasha.


"Lalu apa alasanmu?" Tanya Allegra menuntut jawaban.


"Apa kah masih harus bertanya? Hubungan kita akan ditentang oleh keluargamu dan keluargaku, Alle!"


"Kita sepupu!" Sergah Sasha emosi yang langsung membuat Allegra meletakkan telunjuknya di bibir Sasha.


"Pelankan suaramu atau Claire akan bangun nanti," ujar Allegra mengingatkan Sasha.


"Kita tidak bisa menikah!" Ulang Sasha dengan nada tegas.


"Tentu saja bisa! Kita akan menikah dan mendapatkan restu dari orang tuaku dan orang tuamu!" Jawab Allegra penuh keyakinan.


"Hanya perlu kesaksian sari Mbak Lina!" Sambung Allegra lagi yang langsung membuat Sasha mengerutkan kedua alisnya.


"Kesaksian apa maksudmu?" Tanya Sasha memicing curiga. Jangan sampai Allegra melakukan perbuatan nekat.


"Kesaksian kalau selama kita tinggal di rumah ini, kita selalu tidur di kamar yang sama."


"Satu kamar dan satu ranjang." Kalimat Allegra langsung membuat Sasha melotot horor pada pria itu.


"Iya, Mbak Lina mana tahu! Pria dan wanita berada di kamar yang sama pasti orang lain berpikirnya akan ke arah sana-"


"Alle, kau gila!" Sasha langsung memukul pundak Allegra demi meluapkan rasa kesalnya.


"Kita sudah sama-sama dewasa, Sha!" Ujar Allegra mencari pembenaran.


"Tetap saja! Aku tak akan melakukannya sebelum ada kata sah di antara kita!" Sergah Sasha seraya berdecak berulangkali. Bisa-bisanya Allegra punya ide sekonyol itu!


"Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk melakukannya? Aku kan bukan pemaksa," klaim Allegra yang lagi-lagi harus membuat Sasha memutar bola matanya.


"Keluar dan tidur sana di kamar lain! Tadi siang Mbak Lina sudah membersihkan kamar yang kosong itu!" Usir Sasha akhirnya pada Allegra.


"Aku tidak mau!" Jawab Allegra keras kepala.


"Aku mau disini, menemani Claire," sambung Allegra lagi seraya mengusap punggung Claire yang tertutup oleh selimut.


"Claire sudah berkeringat dan tidak demam lagi," lapor Allegra setelah pria itu memeriksa suhu tubuh Claire.


"Pakaikan baju kalau begitu!" Perintah Sasha pada Allegra.


Allegra segera mengambil Claire dari dekapan Sasha, dan Sasha dengan gerakan secepat kilat langsung menutupi tubuh setengah naked-nya memakai selimut.


"Gesit sekali!" Ledek Allegra sembari fokus memakaikan baju ke tubuh Claire yang matanya tetap terpejam.


"Agar kau tak mencuri kesempatan dalam kesempitan!" Jawab Sasha bersungut. Sasha lanjut membebatkan selimut ke tubuhnya, lalu wanita itu pergi ke kamar mandi untuk memakai piyamanya


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.