
"Hai, Sayang! Aku pulang," Sapa Neeta yang baru tiba di apartemen Allegra. Sejak menikah, Neeta memang memaksa Allegra agar mereka tinggal di apartemen saja. Hanya sesekali Neeta dan Allegra menginap di rumah Mami Rachel dan Papi Sean.
"Ya!" Jawab Allegra tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi.
"Kau terlihat murung. Kenapa? Apa kau merindukanku?" Goda Neeta yang tiba-tiba sudah naik ke atas pangkuan Allegra dengan kaki berada di sisi kanan dan kiri tubuh Allegra. Neeta juga sudah melingkarkan kedua lengannya ke leher Allegra dan mulai menciumi suaminya itu dengan agresif.
"Neeta, hentikan!" Sentak Allegra seraya menahan bibir Neeta yang hendak mencecap bibirnya.
"Kenapa? Kau tidak rindu padaku?" Tanya Neeta menatap tak mengerti pada Allegra.
"Aku sedang lelah! Pekerjaan di kantor banyak!" Jawab Allegra tegas.
"Tidak biasanya!" Gumam Neeta masih heran.
Allegra melepas lengan Neeta yang masih bergelayut di lehernya,lalu pria itu juga menurunkan Neeta dari pangkuannya.
"Alle," panggil Neeta masih dengan nada merayu.
"Aku mau tidur!" Jawab Allegra malas, seraya bangkit berdiri, lalu meninggalkan Neeta yang hanya mendengus di atas sofa. Neeta meraih remote televisi, lalu mematikan layar tujuh puluh lima inchi di hadapannya.
"Apa Allegra punya wanita simpanan?" Neeta mulai bergumam dan bertanya pada dirinya sendiri.
Wanita itu tak membuang waktu lagi, dan segera bangkit dari sofa lalu menyusul Allegra yang sudah menghilang ke dalam kamar. Allegra memang benar-benar sudah berbaring di atas ranjang seraya membelakangi pintu kamar. Neeta tidak tahu apa suaminya itu sudah tidur atau belum, tapi Neeta akan mencari tahu apa Allegra punya selingkuhan atau tidak.
"Alle, Sayang! Kau sudah tidur?" Panggil Neeta merayu seraya mulai membuka kancing gaunnya. Neeta berjalan pelan menuju ke arah ranjang masih sambil melucuti satu persatu bajunya.
"Alle!" Panggil Neeta lagi yang kini sudah berdiri di samping ranjang, tepat di belakang punggung Allegra yang hanya diam.
"Alle!" Neeta mengusap punggung Allegra, lalu menyusupkan tangannya ke bawah kaus suaminya tersebut, saat akhirnya Allegra melakukan pergerakan.
"Neeta! Sudah kubilang kalau aku-" Allegra tak melanjutkan kalimatnya karrna bibirnya tiba-tiba sudah dibungkam oleh bibir Neeta yang sensual.
Sial!
"Aku merindukanmu," bisik Neeta di sela-sela pagutannya bersama Allegra yang sama sekali tak melakukan penolakan. Allegra justru menyambut dan membalas cecapan demi cecapan Neeta yang begitu membuat terlena.
Tangan Neeta sudah bergerak cepat untuk meloloskan kaus Allegra, lalu wanita itu juga naik ke atas Allegra dan kembali memberikan pagutan panasnya pada sang suami.
Allegra sama sekali tak berkutik, saat Neeta melepaskan kancing celananya, lalu menggenggam milik Allegra yang sudah mengeras.
Sial!
Neeta tertawa kecil lalu lanjut melakukan bl*wjob pada milik Allegra yang tentu saja tak mampu ditolak oleh Allegra, sekalipun pria itu merasa kesal pada istrinya sekarang.
Kesal pada sikap Neeta yang tak kunjung mau hamil, hingga membuat Allegra terus-terusan dicecar oleh keluarga besarnya.
"Neeta! Sudah cukup!" Ucap Allegra sedikit terbata di tengah-tengah lenguhannya karena apa yang kini dilakukan Nerta benar-benar membuat Allegra bergairah.
"Neeta!" Suara Allegra tercekat.
"Diamlah dan biarkan aku menyelesaikan ini, Sayang! Kepalamu akan sakit jika menahannya begitu!" Kekeh Neeta sebelum lanjut melanjutkan kegiatannya untuk meng*lum milik Allegra.
Allegra akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan istri agresifnya itu menyelesaikan apapun yang ia lakukan.
"Aku ingin kau hamil, Neeta!" Ucap Allegra akhirnya setelah kul*man Neeta tadi membuatnya mencapai pelepasan.
Yeah! Allegra pria yang normal!
Neeta diam sejenak dengan permintaan Allegra, sebelum kemudian wanita itu malah tertawa kecil dan seolah sedang mengejek Allegra yang sudah sangat ingin menimang seorang bayi.
"Hamil?"
"Ya! Berhentilah minum pil kontrasepsi sialan itu agar kau bisa segera hamil! Mami dan Papi terus mendesakku untuk segera memberikan mereka cucu!" Sergah Allegra mengungkapkan semua uneg-unegnya selama ini.
"Begini!" Neeta meraih kaus Allegra yang tadi tersampir di kepala ranjang, lalu memakainya.
"Aku baru saja tanda tangan kontrak bersama sebuah perusahaan underwear dan aku akan menjadi model produk mereka dua tahun ke depan, Alle!" Neeta bercerita dengan mata yang berbinar-binar.
"Aku tidak akan bisa menjadi model pakaian dalam wanita jika kau menyuruhku untuk hamil sekarang! Kontrakku akan berantakan!" Sambung Neeta lagi menatap tak percaya pada Allegra.
"Akan aku bayar ganti ruginya!" Sergah Allegra meninggikan nada bicaranya.
"Ini bukan soal ganti rugi atau nilai kontrak! Tapi ini soal karierku yang akan semakin cemerlang!"
"Aku memulai karierku dari nol, Alle! Jadi aku tidak mau membuatnya sia-sia begitu saja! Aku harus mempertahankan bentuk tubuhku agar tetap ideal."
Wanita itu lalu turun dari ranjang dan membanting pintu kamar mandi, serta meninggalkan Allegra yang hanya bisa menggeram marah.
"Aku akan memaksamu untuk hamil kalau kau keras kepala!" Tekad Allegra dalam hati.
****
"Mom, jangan pergi!" Pinta Sasha dari masih tak mau melepaskan tangan Mom Ghea yang hendak beranjak.
Sudah satu bulan lebih sejak Sasha pulang dari rumah sakit, namun wanita itu seolah tak mau jauh dari Mom Ghea. Sasha selalu ingin tidur ditemani Mom Ghea dan enggan dekat-dekat dengan Ando yang kini terlihat mendengus kesal di ambang pintu kamar.
Mom Ghea juga terpaksa menginap di rumah Sasha dan Ando selama satu bulan terakhir dan membiarkan Dad Alvin pulang sendiri beberapa minggu yang lalu. Dad kandung Sasha itu mungkin kini sedang menggerutu kesepian karena istrinya yang tak kunjung pulang.
"Ando sudah pulang itu!" Mom Ghea mengendikkan dagunya ke arah Ando yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Mom akan menyiapkan makan malam dulu," lanjut Mom Ghea lagi meskipun sebenarnya sudah ada maid di rumah Ghea dan Ando. Namun wanita paruh baya itu tentu paham dengan situasi yang ada sekaligus memberikan kesempatan pada Ando yang mungkin ingin membelai calon anaknya.
"Masuklah, Ando!" Ujar Mom Ghea seraya menepuk punggung Ando, sebelum kemudian wanita paruh baya itu menghilang ke arah dapur.
Ando masuk ke kamar lalu menutup pintu perlahan.
"Aku masih harus bedrest!" Sasha memperingatkan Ando yang baru duduk di tepi tempat tidur.
"Aku hanya ingin mengusapnya," ujar Ando seraya mengusap perut Sasha yang terbalut selimut.
"Kau masih marah?" Tanya Ando yang langsung membuat Sasha memalingkan wajahnya.
"Aku harus melakukan apa agar kau tidak marah, Sha?" Tanya Ando memelas.
"Aku mau pulang ke rumah Mom! Sampai aku melahirkan!" Jawab Sasha yang langsung membuat Ando berhenti mengusap perut istrinya tersebut.
"Tapi kau tahu kalau pekerjaanku tidak bisa ditinggal, Sha!" Ando membeberkan sebuah alasan.
"Kau tidak usah ikut kalau begitu!" Sergah Sasha cepat.
"Kau mau kita berhubungan jarak jauh, begitu? Lalu kau mau meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang istri?" Tuduh Ando yang langsung membuat Sasha berdecak.
"Hanya sampai aku melahirkan! Toh dokter juga melarang kita berhubungan agar aku tak pendarahan lagi!" Sergah Sasha kembali mencari alasan.
"Kau pikir aku bodoh? Aku sudah bertanya pada dokter dan kata dokter kandunganmu sudah baik-baik saja! Kau bahkan sebetulnya sudah tak perlu bedrest tapi kau malah mengada-ada begini!"
"Kau mau menyiksaku sampai kapan?"
"Sampai kapan?" Bentak Ando yang langsung membuat Sasha sedikit ketakutan. Wanita itu bahkan sudah menitikkan airmata sekarang. Kehamilan benar-benar membuat Sasha amat sangat sensitif sekarang.
Ando segera menghela nafas, lalu mengusap lembut wajah Sasha seolah mengungkapkan penyesalannya.
"Maaf jika aku kasar barusan." Ucap Ando yang bukannya menenangkan Sasha, tapi justru membuat airmata istrinya itu menganak sungai.
"Aku hanya ingin pulang ke rumah mom," cicit Sasha seraya mengusap airmatanya sendiri. Ando lagi-lagi haris mendengus kesal sembari mengusap kasar wajahnya.
"Lakukan dulu kewajibanmu kalau begitu!" Ucap Ando akhirnya mengajukan syarat yang tentu saja langsung membuat Sasha menatap takut pada suaminya tersebut.
"Kau akan menyakitinya lagi." Sasha beringsut mundur dan menjauhi Ando.
"Aku akan pelan-pelan dan tak sebrutal sebelumnya!" Janji Ando yang tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Sasha. Namun tentu saja itu tetap tak membuat Sasha menjadi tenang.
"Aku janji, Sha!" Ando kembali memohon.
"Ini sudah satu bulan lebih!" Ando sudah naik ke atas tempat tidur dan semakin mendekat ke arah Sasha yang tak bisa lagi mundur.
"Please!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.