Sasha & Allegra

Sasha & Allegra
HANCUR



"Sedang apa kau kesini malam-malam?" Gertak Marsya galak saat wanita itu membuka pintu dan ternyata ada Ando yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Aku mau bertemu anakku!" Jawab Ando tegas.


"Sudah kukatakan kalau Rafsya bukan anakmu!" Sergah Marsya yang hampir menutup pintu. Namun Ando dengan cepat mendorong pintu tersebut, lalu merangsek masuk.


"Jangan berbohong, Marsya! Aku punya hasil tes DNA dan Rafsya adalah anak kandungku!" Ando menunjukkan hasil tes DNA dirinya dan Rafsya pada Marsya yang langsung bergeming.


"Kau mau menyangkal bagaimana lagi sekarang?" Sergah Ando lagi yang langsung membuat Marsya menjatuhkan kepalanya di pelukan Ando.


"Kenapa kau merahasiakannya, Marsya?" Tanya Ando tak mengerti.


"Aku mencarimu waktu itu setelah aku tahu kalau aku mengandung anakmu. Tapi kau menghilang seolah ditelan bumi!" Jawab Marsya emosi.


"Aku memang tidak menetap di satu kota waktu itu karena pekerjaanku menuntutku untuk berpindah dari satu kota ke kota lain."


"Maaf karena sudah menelantarkan kau dan anak kita," ucap Ando lagi seraya menghapus airmata Marsya. Ando menatap lekat wajah Marsya saat kemudian hasratnya yang yadi sempat tertunda karena tidak bisa ia tuntaskan bersama Sasha kembali mengusik benaknya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kau mau menginap disini atau mau pulang?" Tanya Marsya yang langsung membuat Ando tertawa kecil.


"Aku boleh menginap?" Tanya Ando seraya mengekori Marsya yang sudah melangkah ke arah kamarnya.


"Ya! Tidurlah di kamar Rafsya!" Jawab Marsya seraya bersedekap.


"Tapi aku mau mengulang momen malam itu karena aku sama sekali tak mengingatnya." Ujar Ando yang sudah mendekat ke arah Marsya, lalu mengecup singkat bibir wanita itu. Marsya rerlihat kaget dan mengerjap tak percaya dengan sikap berani Ando.


"Kau juga merindukanku, kan?" Tebak Ando sok tahu.


Marsya hanya memutar bola matanya, lalu wanita itu masuk ke kamar, tanpa menutup kembali pintu kamarnya. Ando yang merasa diberikan lampu hijau, langsung menyusul masuk ke dalam kamar Marsya dan menutup pintu.


"Auw!" Pekikan Sasha membuyarkan lamunan Ando tentang apa yang terjadi di antara dirinya dan Marsya semalam.


"Ada apa, Sha?" Tanya Ando yang buru-buru menghampiri Sasha yang tadi sedang mengupas apel.


"Tanganku terkena pisau," lapor Sasha seraya menunjukkan jarinya yang berdarah akibat tergires pisau. Ando buru-buru membimbing Sadha untuk berdiri, lalu menyiramkan air dingin di jari Sasha yang berdarah.


"Aku ambil kotak P3K sebentar," ujar Ando yang dengan cepat mengambil kotak P3K di sudut ruang makan, lalu kembali membimbing Sasha untuk duduk dan mengobati jari istrinya tersebut.


"Seharusnya kau berhati-hati!" Nasehat Ando masih sambil mengobati jari Sasha.


"Iya!"


"Biasanya aku juga hati-hati!" Sergah Sasha membela diri.


"Sudah selesai!" Ujar Ando seraya membereskan kotak P3K. Suami Sasha itu lanjut memanggil maid untuk lanjut mengupaskan apel Sasha.


"Kau mau kemana?" Tanya Sasha pada Ando yang sudah beranjak.


"Ke kantor!"


"Tapi ini hari Sabtu!" Sasha melayangkan protes.


"Pekerjaanku menumpuk, Sha! Dannaku harus lembur hari ini. Nanti kita jalan-jalan setelah aku pulang!" Janji Ando pada Sasha yang hanya merengut.


"Jangan merengut begitu! Aku bekerja juga demi kamu dan calon anak kita, Sha!" Ujar Ando lagi mencoba memberikan pengertian pada Sasha.


"Iya, aku tahu!" Gumam Sasha lirih dan sedikit kesal. Tapi sepertinya Ando tak peduli dan pria itu sudah menghilang ke arah kamar untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


****


Bulan berganti.


Hari perkiraan lahir Sasha sudah semakin dekat dan perut Sasha juga sudah semakin membulat sempurna. Tapi Sasha bersyukur karena belakangan ini Ando mulai pengertian pada Sasha dan pria itu sudah tak lagi memaksa Sasha untuk melayaninya setiap malam. Hanya sesekali saja Ando meminta jatah, dan Ando juga tak sebarbar sebelumnya.


Sasha masih mencoba menelepon Ando seraya berulang kali melihat jam yang tergantung di dinding. Padahal Sasha sudah berpesan pada Ando agar pulang lebih awal karena Sasha ada jadwal check up kandungan hari ini.


"Ando kemana, sih?" Gerutu Sasha karena teleponnya tak kunjung diangkat oleh Ando.


Panggilan telepon justru masuk dari Mom Ghea saat Sasha masih mencoba menelepon Ando.


"Halo, Mom!" Sambut Sasha cepat


"Bagaimana kabarmu, Sha?"


"Iya, jadi! Tapi mungkin nanti Mom ke sana sedikit mendadak. Mom sedikit kurang sehat-"


"Mom sakit?" Sergah Sasha memotong.


"Hanya kelelahan kata Ethan. Mungkin karena Mom terlalu banyak bermain bersama Lena dan Rena." Mom Ghea masih tertawa dari ujung telepon.


"Yaudah! Mom jaga kesehatan saja disana. Nati Sasha biar bicara pada Ando agar mencari pengasuh jika Sasha kerepotan." Saran Sasha pada sang Mom.


"Tapi tetap akan Mom usahakan untuk ke sana, Sha! Mom pasti mendampingi kamu saat melahirkan nanti."


"Iya, Mom! Semoga Mom cepat sehat!" Ucap Sasha penuh harap.


"Mom tutup dulu teleponnya, ya! Jangan lupa makan dan perbanyak istirahat. Segera kabari Mom jika sudah ada tanda-tanda!"


"Iya, Mom! Bye!" Pungkas Sasha yang kembali melemparkan pandangannya ke jam di ruang tengah. Sudah pukul lima lebih dan Ando masih belum pulang. Sasha menghela nafas, lalu mengirim pesan pada sang suami.


[Kau masih sibuk, ya? Aku akan ke rumah sakit duluan naik taksi dan kau bisa menyusul nanti. Aku tunggu di poli kandungan!] -Sasha-


[Aku mencintaimu] -Sasha-


Sasha mengambil tasnya, lalu bangkit dari sofa dan langsung berangkat ke rumah sakit naik taksi.


****


Sasha keluar dari poli kandungan dengan perasaan bahagia sekaligus perasaan sedih yang membaur menjadi satu. Sasha bahagia, karena calon putrinya dalam kondisi sangat baik dan berat badan juga sudah cukup. Namun Sasha juga sedih karena tadi dirinya tak ditemani Ando saat bertemu dengan dokter. Ini benar-benar kali pertama Sasha check up kandung tanpa ditemani Ando, dan kenapa harus di saat kandungan Sasha masuk trimester akhir?


Apa sebegitu pentingnya pekerjaan Ando hingga suami Sasha itu mengabaikan Sasha dan calon putrinya?


Sasha lanjut mengayunkan langkahnya menuju ke tempat pengambilan obat, saat ekor mata wanita hamil itu tak sengaja melihat wajah yang sejak tadi ia tunggu. Kedua mata Sasha sudah berbinar melihat Ando yang akhirnya datang. Namun sedetik kemudian, binar kebahagiaan itu langsung sirna, saat Sasha melihat seorang wanita yang menghampiri Ando, lalu langsung dipeluk mesra oleh Ando. Bahkan Ando juga terlihat mencium kening wanita itu.


Apa?


Siapa wanita itu?


Sasha bangkit berdiri dan berusaha menyusul langkah Ando serta wanita asing tadi yang menuju ke arah kamar perawatan. Sejuta pertanyaan masih memenuhi benak Sasha tentang siapa wanita yang kini bersama Ando tersebut.


"Ando!" Panggil Sasha setengah berteriak saat ia hampir mendekati suaminya tersebut. Ando langsung menoleh dan pria itu terlihat kaget melihat Sasha yang kini raut wajahnya dipenuhi amarah.


"Sasha?"


"Siapa wanita itu?" Tanya Sasha seraya menatap tajam pada Ando seolah menuntut jawaban.


"Dia..."


"Aku istrinya Ando! Maaf, kau siapa?"


Duarrr!


Jawaban Marsya benar-benar terdengar seperti petir di siang bolong yang menyambar hati Sasha, lalu membuatnya luluh lantak dan tak berbentuk lagi.


Sasha bahkan tak bisa lagi menggambarkan rasa sakit di hatinya atas kenyataan yang baru saja ia ketahui. Kenyataan bahwa sang suami yang selama ini berusaha Sasha cintai ternyata berkhianat di belakangnya.


"Baj*ngan kamu Ando!" Umpat Sasha sebelum kemudian wanita itu berbalik pergi seraya menghapus airmatanya yang sudah menganak sungai.


Tidak!


Jangan menangis, Sasha!


Jangan menangisi pria baj*ngan bernama Ando itu!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.