
"Aarrgh! Sial!" Umpat Allegra seraya mengibaskan tangannya yang tak sengaja terkena tumpahan kopi panas dari cangkir kopi yang baru saja diantar oleh sekretarisnya.
Allegra buru-buru menyingkirkan semua berkas penting dari atas meja sebelum terkena tumpahan kopi. Allegra juga tudak tahu kenapa cangkir kopi itu bisa tiba-tiba pecah saat Allegra mengangkatnya padahal gerakan Allegra juga tak kasar.
Baru saja Allegra selesai membersihkan tumpahan kopi dari atas meja kerjanya, ponsel pria itu berdering nyaring. Rupanya Jasmine yang menelepon.
"Halo, Jasmine! Ada apa?" Sambut Allegra cepat.
"Bang! Kak Neeta pendarahan."
Laporan Jasmine langsung membuat Allegra membelalakkan kedua matanya.
"Bagaimana bisa? Sekarang Neeta dimana?" Cecar Allegra tak sabar seraya melesat ke arah pintu ruangannya.
"Jasmine juga tidak tahu! Tadi tiba-tiba Kak Neeta sudah terduduk di kamar mandi dan ada banyak darah yang keluar-"
"Aku ke rumah sakit sekarang!" Pungkas Allegra seraya menutup tekepon Jasmine, lalu pria itu menghampiri sang sekretaris dan minta semua jadwalnya hari ini dibatalkan. Allegra harus secepatnya ke rumah sakit dan memastikan kalau calon anaknya baik-baik saja!
Tidak!
Jangan pergi dulu, Sayang!
Dad bahkan belum menggendongmu!
****
Allegra langsung tertunduk lesu saat dokter mengatakan kalau calon bayi Allegra dan Neeta gagal diselamatkan. Neeta mengalami keguguran dan impian Allegra untuk segera menggendong bayi harus buyar dan terbang tertiup angin.
"Aaarggh!" Allegra menggeram frustasi dan meninju tembok di depannya demi meluapkan rasa kecewa serta penyesalannya.
"Alle!' Mami Rachel menghampiri Allegra dan merangkul putra sulungnya tersebut.
"Mungkin memang belum rezeki kamu dan Neeta!" Ujat Mami Rachel mencoba menghibur Allegra.
"Tapi Allegra sudah sangat menantikannya, Mi!"
"Tiga tahun Alle menunggu dan sekarang!" Allegra terlihat begitu frustasi.
"Kenapa Neeta tidak berhati-hati-"
"Bukan sepenuhnya salah Neeta!" Potong Mami Rachel cepat.
"Neeta juga pasti merasa kehilangan! Jangan memojokkan istrimu begitu!" Nasehat Mami Rachel selanjutnya pada Allegra yang masih begitu frustasi dan kecewa tentu saja.
"Jangan menyalahkan Neeta, oke! Tetap temani istrimu hingga pulih, lalu kalian bisa ikut program hamil lagi." Mami Rachel memberikan saran bijak yang hanya ditanggapi Allegra dengan anggukan samar. Allegra akhirnya duduk di samping Neeta, lalu menggenggam tangan istrinya itu sembari menunggu Neeta bangun.
Semoga Neeta tak menolak untuk hamil lagi setelah wanita ini pulih nanti. Atau kalau Neeta masih kekeh mengkonsumsi pil kontrasepsi, maka Allegra akan kembali bermain licik dan mengganti pil kontrasepsi Neeta dengan vitamin seperti sebelumnya.
****
Satu pekan berlalu,
Allegra sengaja pulang lebih awal karena ia ingin memberi kejutan untuk Neeta. Allegra membuka perlahan pintu kamar di apartemennya, agar Neeta tak menyadari kalau Allegra sudah pulang lebih awal. Samar-samar Allegra bisa mendengar Neeta yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Ya! Obatnya bekerja dengan sangat baik. Aku langsung meminumnya saat sampai di rumah, dan hanya berselang satu jam, janin itu sudah langsung keluar!"
"Aku akan memesannya lagi jika aku kebobolan. Boleh aku simpan nomormu?"
Allegra mematung sesaat mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Neeta pada seseorang di telepon entah siapa.
Meminumnya dan janin langsung keluar?
Apa itu artinya Neeta tidak keguguran kemarin tapi wanita itu memang sengaja menggugurkan kandungannya?
Neeta sengaja membunuh calon anak Allegra?
Dasar wanita keparat!
Allegra mendorong pintu kamar dengan kasar dan langsung menyergap masuk hingga Neeta terlihat kaget.
"Sayang, kau sudah pulang?" Sapa Neeta dengan raut wajah manis pada Allegra yang sudah dipenuhi amarah.
"Kau!" Allegra menuding ke arah Neeta.
"Kau sudah membunuh calon anakku!" Gertak Allegra lagi penuh emosi.
"Apa maksudmu, Alle?" Tanya Neeta pura-pura tak mengerti.
"Kau sengaja menggugurkan kandunganmu dan membunuh calon anakku, Neeta!"
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Allegra penuh emosi serta kekecewaan. Wajah pria itu bahkan sudah berubah merah padam sekarang.
"Aku tak melakukannya! Jangan menuduh begitu! Aku juga sedih karena-"
"Aku sudah mendengarkan semua obrolanmu di telepon tadi!" Allegra semakin menajamkan tatapannya pada Neeta.
"Kenapa kau membunuh anakku, Neeta?" Tanya Allegra berteriak istrinya tersebut.
"Karena aku sedang tidak ingin hamil!"
"Karierku sedang di puncak dan kau malah mengganti pil kontrasepsiku dengan obat lain hingga aku hamil!" Jawab Neeta yang akhirnya berkata jujur.
"Kau benar-benar keterlaluan, Neeta!"
"Kau itu seorang wanita! Lalu kenapa kau melakukan hal.keji itu pada darah dagingmu sendiri!" Cecar Allegra masih penuh emosi. Namun bukannya merasa bersalah, Neeta malah berdecih dengan angkuh.
"Janin itu juga belum tumbuh, Alle! Jadi tak perlu berlebihan begitu!"
"Lagipula, ini tubuhku dan ini rahimku! Jadi sudah menjadi hakku sepenuhnya untuk tetap mempertahankan atau menggugurkannya!"
"Kau tidak ada hak untuk ikut campur-"
Plak!
Allegra menampar pipi Neeta yang menudingnya dengan berani.Habis sudah kesabaran seorang Allegra!
"Keluar kau dari sini! Kita cerai mulai sekarang!" Ucap Allegra tegas yang langsung membuat Neeta membelalakkan kedua matanya?"
"Cerai?" Gumam wanita itu.
"Ya!" Jawab Allegra tegas dan lantang.
"Pergi jauh dari hidupku dan aku tak sudi lagi punya istri wanita pembunuh serta pembangkang sepertimu!"
"Kejar saja kariermu sana dan pergi jauh dari hidupku!" Usir Allegra tegas sera menyeret Neeta keluar dari apartemennya.
"Tapi Alle-"
Braak!
Allegra langsung menutup pintu apartemen dengan kasar dan menguncinya, serta mengganti kata sandi yang sudah diketahui oleh Neeta! Allegra menyandarkan punggungnya di balik pintu, lalu menyugar kasar rambutnya. Menyesali dirinya yang sudah menikah dengan wanita iblis bernama Janeeta itu!
"Maafkan Dad, Sayang!"
"Maafkan Dad!"
*****
"Usianya baru sepuluh minggu saat Neeta meminum.obat laknat itu danembunuhnya dengan keji," ucap Allegra dengan suara yang bergetar, setelah ia selesai bercerita pada Sasha yang kini ikut berkaca-kaca.
"Aku turut berduka, Alle!" Ucap Sasha lirih yang benar-benar yak menyangka jika ada wanita sekejam Neeta yang tega membunuh calon bayinya sendiri. Dimana jiwa keibuan Neeta?
"Seharusnya aku sudah menimangnya sekarang, andai-" Allegra menutup wajahnya dengan kefua tangan dan tak mampu melanjutkan kalimatnya. Terlihat sekali kalau pria itu benar-benar terluka serta kehilangan.
Ya, siapa juga yang tak terpukul jika berada di posisi Allegra.
"Oweeek!" Tangisan Claire dari dalam box perawatan, langsung membuat Allegra menghapus airmatanya dengan cepat. Pria itu bahkan sudah beranjak dan mendahului Sasha, lalu menggendong Claire dengan penuh sayang.
Allegra mendekap Claire di depan dadanya seolah Claire adalah putri kandungnya. Sebuah pemandangan yang lagi-lagi membuat Sasha meneteskan airmata karena Claire yang tangisnya langsung reda hanya karrna didekap oleh Allegra.
"Mungkin dia haus, Alle," ucap Sasha yang sudah berhas menguasai dirinya, lalu menghampiri Allegra dan Claire.
"Dia hanya ingin didekap," ucao Allegra pelan seraya menunjukkan Claire yang sudah kembali memejamkan matanya.
Allegra lalu membawa Claire duduk di sofa masih sambil mendekapnya dengan penuh sayang.
"Kau suka didekap Dad begini, hah?" Ucap Allegra lembut pada bayi Claire yang malah membuat hati Sasha mencelos.
Dad?
Allegra bukan dad kandung Claire. Tapi sikapnya pada Claire, sudah melebihi sikap seorang dad kandung.
Apakah ini artinya....
.
.
.
Yang naruh bawang siapa, sih?
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.