
"Aku menemukannya di tempat sampah tadi, sesaat setelah kau membuangnya," cerita Allegra yang langsung membuat Sasha menundukkan wajah dan hendak melepaskan diri dari dekapan Allegra. Namun rupanya Allegra langsung mencegah dan malah merapatkan dekapannya pada Sasha.
"Maaf," ucap Sasha lirih namun penuh rasa bersalah.
Ya, seharusnya Sasha terbuka dan jujur pada Allegra sejak awal. Sekarang mungkin Allegra sudah kecewa berat pada Sasha.
"Kenapa?" Tanya Allegra yang hanya satu kata.
Hanya satu kata dan sama sekali tak terdengar menghakimi. Allegra hanya ingin mendengar alasan Sasha.
"Aku takut," jawab Sasha lirih.
"Takut soal?" Allegra mengerutkan kedua alisnya. Tangan pria itu sudah terulur untuk meraih dan mengangkat dagu Sasha agar menatap ke arahnya.
"Aku takut kau akan berubah." Jawab Sasha seraya menatap sendu pada Allegra.
"Berubah bagaimana?" Tanya Allegra bingung.
"Iya berubah menjadi pemarah dan mungkin kau akan benci padaku. Lalu kau mungkin tak akan menyayangi Claire lagi karena kau akan menimang putramu sendiri. Dan semua keluargamu-" Kalimat Sasha tidak selesai karena Allegra tiba-tiba sudah menangkup wajah istrinya tersebut. Jelas sekali terlihat kalau Sasha dihantui oleh ketakutan-ketakutan yang tadi ia sebutkan.
"Claire putriku! Dan aku akan tetap menyayanginya sampai kapanpun, Sha!" Ucap Allegra bersungguh-sungguh masih sambil menangkup wajah Sasha.
"Bahkan nanti setelah kau memiliki anak kandungmu sendiri?" Tanya Sasha yang masih merasa ragu.
"Ya! Aku akan tetap menyayangi Claire dan tak akan membedakan Claire dengan adik-adiknya."
"Pun dengan semua keluargaku! Mereka semua juga menyayangi Claire!"
"Claire adalah cucu pertama di keluarga Kyler! Dia adalah princess di keluarga ini," ucap Allegra sungguh-sungguh yang langsung membuat kedua mata Sasha berkaca-kaca. Sasha langsung menghambur ke pelukan Allegra dan akhirnya merasa yakin kalau Allegra sungguh-sungguh menyayangi dirinya dan juga Claire.
"Itu saja kekhawatiranmu?" Tanya Allegra yang masih mengusap-usap kepala Sasha yang kini menyusup di dalam pelukannya.
"Ada satu hal lagi," Sasha menyeka airmatanya, lalu menarik nafas panjang sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
Ya, memang sebaiknya Sasha terbuka saja pada Allegra dan tak perlu lagi menyimpan kekhawatiran yang tidak perlu.
"Apa itu?" Tanya Allegra lembut.
"Kau tahu tentang hormon kehamilan, kan?" Sasha memulai dengan sebuah pertanyaan.
"Ya!"
"Pengalamanku saat hamil Claire, hormon kehamilan benar-benar membuat moodku menjadi kacau balau."
"Aku mengalami morning sickness yang parah, lalu aku juga berubah jadi cengeng dan manja. Dan aku menolak hubungan ranjang di trimester pertama."
"Lalu pria yang sebelumnya merasa tak terima dengan semua itu." Sasha menjeda penjabarannya sejenak dan menatap pada Allegra yang masih menyimak dengan sabar.
"Jadi apa kau nanti juga akan protes dan merasa tak terima jika aku hamil, lalu hormon kehamilan membuatku kacau balau?" Tanya Sasha to the point mengungkapkan ganjalan dalam hatinya.
"Secara teori, aku yang sudah membuatmu hamil, jadi aku juga harus menerima semua konsekuensi termasuk pengaruh hormon kehamilan tadi," sambung Allegra lagi seolah sedang menerangkan.
"Jika aku menolak untuk bercinta, apa kau akan mengkhianatiku dan berselingkuh di belakangku?" Tanya Sasha blak-blakan.
"Apa wajahku terlihat seperti seorang maniak *3**?" Allegra balik bertanya pada Sasha sembari menunjukkan raut wajah yang menggelikan. Sasha langsung tertawa dan mencubit gemas pipi Allegra.
"Aauw! Sakit, Sayang!" Allegra balas mencolek hidung Sasha dan wajah istri Allegra itu langsung bersemu merah.
"Tapi kita selalu bercinta setiap malam selama ini. Jika nanti tiba-tiba aku menolak dan kita tidak bercinta apa mood-mu akan tetap baik-baik saja?" Tanya Sasha mearsa khawatir.
"Mood-ku akan selalu baik asal aku melihat senyummu dan mendengar ocehan Claire setiap hari! Jadi tidak melulu soal *3** atau hubungan ranjang!"
"Kau dan Claire adalah segalanya!" Jawab Allegra bersungguh-sungguh seraya melekatkan keningnya dengan kening Sasha. Sebuah jawaban yang membuat hati Sasha terasa begitu menghangat. Cinta Allegra ternyata benar-benar tulus dan apa adanya. Suami Sasha ini tak pernah menuntut dan ia selalu membuat Sasha merasa begitu berharga.
Allegra sudah ganti meletakkan tangannya di atas kepala Sasha sekarang.
"Aku berjanji, jika nanti kau hamil, lalu kau mengalami morning sickness yang parah, maka aku akan selalu mendampingimu dan memelukmu agar kau merasa nyaman."
"Dan nanti saat kau mual atau muntah-muntah, aku akan mengusap punggungmu agar kau merasa lebih baik."
"Lalu saat kau ingin makan sesuatu di dinihari buta, aku akan mencarikannya sambil mengajak sopir dan security," ujar Allegra panjang lebar yang sukses membuat Sasha tergelak terutama di kalimat terakhir Allegra.
"Kau bisa memegang semua janjiku ini, Sha! Dan jika suatu hari aku mengingkarinya, silahkan kau lapor pada Mami, Papi, Mom, Dad, Abang Ethan, Jasmine, semua keluarga kita!"
"Dan mereka semua sudah pasti akan membelamu lalu memarahiku habis-habisan," janji Allegra panjang lebar yang kembali membuat Sasha tertawa kecil.
"Aku pegang janjimu," ujar Sasha seraya menggenggam tangan Allegra dan menciumnya berulang kali.
"Kita bisa membuang pil ini sekarang?" Tanya Allegra selanjutnya yang kembali menunjukkan pil kontrasepsi tadi pada Sasha.
"Buang saja!" Sasha mengambil pil kontrasepsi dari tangan Allegra lalu melemparkannya serampangan.
"Dan ayo membuat adik untuk Claire!" Lanjut Sasha yang sudah berguling untuk menindih Allegra. Tentu saja Allegra langsung dengan senang hati menyambut dan mencecap bibir Sasha.
Tak ada obrolan lagi!
Sasha dan Allegra langsung larut dalam pergelutan panas di atas ranjang yang bentuknya sudah tak karuan.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.